Parenting

Menjadi Orang Tua Tegas, Tidak Harus dengan Membentak. 1ni 9 Solusi Agar Tidak Membentak Anak

berteriakpadaanak

Ada saat-saat pengasuhan dimana kita merasa marah karena tingkah laku atau kejadian yang diakibatkan oleh anak-anak. Bisa jadi, saat itu adalah detik-detik terakhir kita seharusnya berangkat atau detik-detik kita merasakan lelah yang tidak tertahankan. Ketika amarah kita memuncak, terkadang kita menjadi tidak sadar telah meninggikan suara dan akhirnya membentak anak kita.

Padahal sebenarnya, Jika memang ingin menjadi orang tua tegas, tidak harus dengan marah-marah dan membentak. Tegas bisa dilakukan dengan mengingatkan tanpa harus marah. Tetap menahan diri untuk tetap tenang itu mudah, asal kita mau memulainya.

berteriakpadaanak

Bagaimanakah caranya?

1. Ubah Cara Pandang Anda dan cobalah untuk melihat siapa dia seutuhnya

Jika anak Anda masih kecil, cobalah untuk melihat siapa dia seutuhnya. Ia adalah manusia kecil yang sedang melatih  kemampuannya untuk bergerak dan mengeksplorasi dengan rasa ingin tahu yang besar akan dunia menarik di sekitarnya. Ingat bahwa manusia kecil ini belum memahami bahwa tindakannya bisa mempengaruhi orang lain. Ia juga belum mampu mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga akan bertindak seperti apa yang dia inginkan. Dia juga belum memahami konsep waktu, jadi belum mengenal arti kata sabar.

Jika Anda memiliki anak yang beranjak remaja, cobalah untuk melihat mengapa mereka dapat berperilaku seperti itu. Mungkin mereka telah belajar bahwa melakukan hal yang menyebalkan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan? Pastikan anak Anda mendapatkan perhatian untuk semua perilaku positif yang ia tunjukan.

2. Menjauh Sebentar dari Masalah, situasi akan  jauh lebih baik karena masalah dapat diatasi tanpa teriakan Anda

Cobalah bekerja sama dengan pasangan untuk mengambil alih posisi Anda. Saat itu, Anda akan mendapatkan kesempatan untuk keluar ruangan selama beberapa menit. Dengan melakukan hal itu, situasi akan  jauh lebih baik karena masalah dapat diatasi tanpa teriakan Anda. Lakukan hal yang sama ketika pasangan Anda membutuhkannya.

3. Jangan takut mengatakan apa yang Anda rasakan.Beritahu Mereka bahwa anda marah

Jangan takut mengatakan apa yang Anda rasakan, seperti “Ibu benar-benar marah sekarang, Nak.” Kadang-kadang, hal ini dapat menghentikan perilaku yang tidak Anda sukai. Pada saat itu Anda membuka komunikasi dua arah. Anda bisa juga meninggalkannya setelah itu untuk memberikan beberapa waktu menenangkan diri bagi Anda berdua.

4. Menentukan Batas Waktu Kemarahan, trik ini banyak yang berhasil diterapkan orang tua

DampakMarah

Hal yang paling menakutkan tentang marah adalah bahwa tidak ada batas yang jelas kapan hal itu akan berakhir dan situasi kembali normal. Cobalah lakukan kegiatan rutin Anda sesaat setelah marah, namun tanpa sedikitpun berbicara. Kemudian, sapa ia kembali dan katakan bahwa Anda lelah untuk marah. Mungkin pada awalnya ia tidak terima, namun Anak anda memiliki anugrah yaitu perasaan cinta kepada orang tuanya. Dan tahukah Anda, trik ini banyak yang berhasil diterapkan orang tua.

5. Bayangkan Ada Orang Lain Yang Menonton Ketika Anda Membentak Anak

Pernahkan anda melihat orang tua yang Membentak anaknya di depan umum? Bagaimanakah pemandangan itu menurut Anda? Bagaimana jika Anda adalah orang tua yang Membentak anak Anda di depan banyak orang? Bagaimana perasaan Anda? Ya, pasti jawabannya: Saya sangat malu. Maka dari itu, cobalah untuk tidak melakukannya dengan mengingat hal itu. Karena sebenarnya bukan hanya Anda yang malu, melainkan anak-anak Anda juga.

6. Bantu Anak Anda Jelaskan Perasaan Mereka

Sebelum emosi Anda memuncak karena anak Anda bertingkah, cari tahulah apa yang menyebabkannya. Salah satu alasan terbesar anak berperilaku demikian hanya karena mereka belum belajar bagaimana cara menunjukkan perasaan mereka dengan cara yang lebih baik. Sebagai orang tua, kita harus mengajarkan anak-anak bagaimana cara mengekspresikan diri dengan memvalidasi perasaan mereka tanpa memvalidasi perilaku mereka. Misalnya, pada saat anak Anda mencoba untuk memukul temannya karena menginjak istana pasirnya di pantai, jangan berteriak “Jangan pukul!” Sebaliknya, berjalanlah ke putri Anda dan jelaskan mengapa memukul itu buruk. Katakanlah, “Ina, Ibu mengerti bahwa kamu marah karena temamu menghancurkan istanamu. Tidak apa-apa jika kamu marah, tetapi beritahu temanmu kalau kamu marah karena istanamu hancur.” Memang hal ini memerlukan usaha yang keras, tapi akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

7. Cobalah cari mainan Anda untuk menangani amarah melalui benda

Beberapa psikolog terkadang memberikan saran untuk menangani amarah melalui benda. Benda-benda tersebut adalah mainan yang bisa menurunkan level stres anda Pilihlah benda seperti bola yang diremas, bentuk-bentuk geometris, atau buku mewarnai untuk  orang dewasa yang saat ini banyak beredar. Ya, cobalah cari satu yang merupakan gaya Anda dan bisa membuat anda tenang dan fokus pada masalah.

8. Alih-alih marah pada anak, cobalah untuk mengajaknya bermain atau bercanda

Memang tidak semua orang mudah melakukan hal ini, tapi tentu latihan bisa membuat seseorang mahir menggunakannya. Ketika Anda berhasil melakukannya, Anda akan terkagum-kagum dengan hasilnya yang cukup mengagumkan. Alih-alih marah pada anak, cobalah untuk mengajaknya bermain atau bercanda.

. Cobalah menjauh sebentar dari masalah dan dekatkan diri dengan Tuhan

Sebagai orang yang beragama, Anda memiliki cara sendiri untuk melakukannya. Cobalah menjauh sebentar dari masalah dan dekatkan diri dengan Tuhan. Mintalah pertolongan untuk menyelesaikan hal ini. Dengan melakukannya, bisa jadi Anda akan mendapatkan waktu pribadi untuk menenangkan hati dan mendapatkan kedamaian diri pada satu waktu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Setiap Anak Terlahir Berbeda, Maka Mendidiknya Pun Perlu Cara Unik

panadol anak

“Semua orang itu pintar. Tapi kalau kamu menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya si ikan akan menganggap dirinya bodoh”

Mungkin tak satu dua kali kita membaca atau mendengar kalimat tersebut. Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Kemampuan, keinginan dan mimpi setiap anak tentulah tak serupa. Memaksanya “sama” dengan orang lain sementara kemampuannya berbeda, ibarat menyuruh seekor ikan yang paling pandai berenang untuk memanjat pohon.

Namun meski sudah sering mendengar istilah serupa itu, tak sedikit dari kita yang melulu membandingkan anak kita dengan anak lainnya. Beberapa bahkan baru bangga sebagai orang tua jika si anak bisa melakukan hal melebihi yang bisa dilakukan oleh anak lainnya. Jika tak sama maka anak belum lah berhasil dan kita sebagai orang tua masih gagal.

Lantas bagaimana agar tak terjebak dengan kondisi pemikiran seperti itu?

Setiap Anak Berkembang Dengan Fasenya Masing-Masing, Karena Itu Bersabarlah

Dari sisi kesehatan dan medis memang ada fase perkembangan anak. Namun yang sering kita lupa bahwa daftar tersebut adalah patokan yang tidak kaku. Karena masing-masing anak tentunya punya fase perkembangannya sendiri.

Jangan lantas panik apalagi memarahi seandainya anak belum lancar membaca sementara kawannya sudah. Jangan pula panik terburu-buru jika jumlah gigi si kecil belum nampak sebanyak temannya. Kuncinya adalah kesabaran. Bisa jadi anak kita unggul di beberapa bidang perkembangan, dan sedikit tertinggal di area perkembangan yang lain. Tidak lekas jalan tapi lekas bicara misalnya. Atau sebaliknya.

Sayangnya orang tua yang tak sabaran sering kali akhirnya hanya melihat area-area yang anaknya tertinggal tanpa perduli area yang anaknya unggul. Padahal memaksakan sesuatu kepada anak, tentunya akan membuatnya tak nyaman. Dan bukan tak mungkin malah akan menghambat perkembangannya yang lain bukan?

Setiap Anak Akan Menghadapi Jenis Dan Tingkat Kesulitannya Masing-Masing, Karena Itu Berhentilah Membandingkan

Sebagai mana kelebihan yang berbeda-beda, masing-masing anak juga akan punya tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Kita tak bisa memaksakannya sama seperti anak lainnya. Coba kembalikan ke diri kita yang sudah dewasa, apakah kita nyaman jika diminta menyamai atlit rekor atlit lari misalnya. Atau bagaimana perasaan kita jika diminta bekerja di belakang meja sementara kita orang yang senang keluar. Tentunya tidak akan nyaman bukan?

Demikian juga dengan anak. Jadi kalau anak tak semudah itu makan sayur atau tak mau minum susu, kita tak boleh lantas mengatakan bahwa kawannya yang lain bisa menghabiskan sayur dan susu dengan segera. Atau kalau si anak masih takut bermain air, tentunya kitalah yang harus pintar mengajaknya bermain tanpa perlu mengatakannya penakut, dan sejenisnya.

Setiap Anak Punya Keinginan Yang Berbeda, Karena Itu Dengarkanlah

Cara termudah untuk membuat anak kecewa dan minder adalah dengan mentertawakan dan menganggap remeh ide dan mimpi-mimpi ajaibnya. Banyak dari kita yang dengan mudahnya mengatakan “itu tidak mungkin” ketika anak sedang bercerita.

Padahal, coba misalnya bayangkan jika dulu kita diceritakan bahwa memesan makanan dan transportasi tinggal tekan handphone yang pintar dengan petanya. Tentunya 10-20 tahun lalu ide dan impian itu terasa sangat aneh dan tidak mungkin.

Itulah yang terjadi pada anak-anak kita. Mereka sedang membangun mimpi-mimpinya yang bisa jadi sangat tak terbayangkan oleh kita. Karena itu cobalah untuk mendengarkannya. Misalnya, apa alasannya tak mau tidur. Perhatikan misalnya kenapa si kecil belum mau melepas jempolnya yang terus dihisap.

Anakmu Juga Unik? Coba Ceritakan Pengalaman Istimewamu Ketika Menganjarkannya Hal Baru, Biar Orang Lain Bisa Mendapat manfaatnya!

panadol anak

Tentu Bunda punya anak yang unik dan berbeda juga bukan? Pastinya punya pengalaman istimewa juga mengahadapi uniknya calon-calon pemimpin masa depan ini. Terkadang, ada saja tingkah Si Kecil yang membuat kita menggelengkan kepala. Maka itu sebagai seorang ibu, kita harus belajar dari satu sama lain untuk menghindari kesalahan dalam mengasuh anak.

Nah, coba ceritakan pengalaman Bunda ini, karena Panadol Anak sedang mengadakan kontes #TipsPanadolAnak. Kontes ini mengajak Bunda untuk mengirimkan tips dalam mengasuh anak yang tentunya harus kreatif, berguna, dan mampu menginspirasi Bunda lainnya!

Caranya?

1. Peserta wajib Peserta wajib follow akun social media dari Panadol Anak Indonesia di halaman Facebook (Panadol Ibu Peduli) ini.

2.Kemudian upload foto atau video beserta captionnya yang berkaitan dengan tips mengasuh anak sesuai tema mingguan yang telah ditetapkan berikut ini di akun facebook bunda masing-masing:

Minggu 1 (18 – 24 Juli): Tips Mengatasi Anak Susah Makan Sayur
Minggu 2 (25 – 31 Juli): Tips Mengatasi Anak Yang Takut Air
Minggu 3 (1 – 7 Agustus): Tips Mengatasi Sakit Kepala Pada Anak
Minggu 4 (8 – 14 Agustus): Tips Mengatasi Demam Pada Anak Setelah Imunisasi
Minggu 5 (15 – 21 Agustus): Tips Mengajari Anak Membaca
Minggu 6 (22 – 28 Agustus): Tips Mengatasi Anak Susah Minum Susu
Minggu 7 (29 Agustus – 4 September): Tips Mengatasi Demam Pada Anak Saat Flu
Minggu 8 (5 – 11 September): Tips Mengatasi Demam Saat Anak Tumbuh Gigi
Minggu 9 (12 – 18 September): Tips Membuat Anak Berhenti Melakukan Kebiasaan Menghisap Jempol
Minggu 10 (19 – 25 September): Tips Mengatasi Anak Yang Susah Tidur Siang

3. Jangan lupa posting photo dan  tips seting privasinya harus public

4. Tag ke social media Panadol Anak Indonesia dengan menggunakan hashtag #TipsPanadolAnak #TipsIbuPeduli #MakeNoMistake #KLNpanadol di caption Anda

5. #TipsPanadolAnak yang dikirim harus orisinal, kreatif dan inspiratif serta belum pernah dipublikasikan sebelumnya

Akan ada 5 pemenang yang mendapatkan hadiah menarik setiap minggunya dan 2 pemenang yang mendapatkan hadiah utama: Giant Keyboard dan Bip Bip Watch. #TipsPanadolAnak yang paling orisinal, kreatif dan menginspirasi berhak menjadi pemenang. Yuk berbagi tips mengasuh anak versi anda.

Untuk keterangan lengkapnya bisa dilihat di sini.

tips panadol anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top