Hiburan Anak

Menggemaskan Bak Boneka, 15 Potret Salma Anak Atiqah yang Membuat Bunda Ingin Segera Punya Anak Sepertinya

Cover Salma

Sejak kecil Salma sudah dibiasakan untuk membaca buku. Bahkan menundukpun, dirinya tetap terlihat cukup menggemaskan dengan telunjuk di mulut.

Sumber : https://www.instagram.com/atiqahhasiholan/

Sumber : https://www.instagram.com/atiqahhasiholan/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ajak Si Kecil Mau Merawat dan Mencintai Giginya yuk, Bun!

girl-rabbit-friendship-love-160933

Sebagai orangtua, Bunda pasti tak mau si kecil mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Tumbuh kembangnya harus berjalan dengan baik. Termasuk urusan menjaga kesehatan. Makanan yang diasupnya harus bergizi seimbang, kebutuhan ASI-nya pun harus terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, mengasuh si kecil bukan hanya soal membesarkannya lho, Bun. Ada hal-hal lain berupa pembelajaran yang harus Bunda ajarkan padanya. Salah satunya perkara merawat gigi.

Mengenalkan cara hidup higienis pun bisa dilakukan dengan membiasakan si kecil untuk rutin menyikat gigi dan mencuci tangan. Hanya saja, banyak ibu muda yang sering melewatkan sikat gigi dengan alasan gigi si kecil masih cukup bersih. Padahal, yang namanya kuman pasti tak terlihat oleh mata ‘kan, Bun? Di lain sisi, menjaga kesehatan gigi ternyata bisa dimulai dari Bunda yang peduli perihal asupan makanannya.

Kenalkan Menu Makanan Sehat dan Ajak Si Kecil Suka dengan Sayuran

pexels-photo-1073776

Peneliti Duke University mengatakan, konsumsi junk food ternyata bisa jadi penyebab kesehatan gigi pada si kecil jadi menurun. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang terbiasa tidak rajin menyikat gigi, mengonsumsi permen, soda, dan karbohidrat dalam jumlah yang tidak dibatasi akan membuat giginya cepat rusak. Karenanya, penting sekali mengubah gaya hidup semacam ini. Bunda tak mau ‘kan, gigi si kecil rusak karena Bunda kurang telaten mengajari cara hidup sehat padanya? Mulai dari sekarang, dibanding mengajaknya makan makanan cepat saji, lebih baik Bunda lebih rutin mengenalkan sayuran dan buah-buahan.

Jangan Biarkan Si Kecil Merasa Tertekan dalam Kesehariannya

pexels-photo-1118429

Bila si kecil tertekan, hal ini akan membuatnya mengalami fase bruxism, atau lebih sering disebut ‘gertak gigi’. Peneliti mengungkapkan, anak-anak yang lebih sering menggertakkan gigi justru lebih sukar bersosialisasi saat di sekolah. Penyebabnya mungkin beragam dan Bunda tak menyadarinya. Keseringan gertak gigi bisa memicu kerusakan pada giginya, lho. Untuk itu, sebisa mungkin ciptakan suasana yang nyaman ya, Bun. Biarkan si kecil memiliki waktu tidur yang teratur dan nyaman. Jangan lupa, seringlah berinteraksi dengannya supaya Bunda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si kecil.

Berikan Minuman yang Cukup Padanya Setiap Hari

girl-rabbit-friendship-love-160933

Jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi, Bun! Sebab yang namanya dehidrasi bisa jadi pemicu masalah kebersihan mulut pada si kecil. Kuman akan mudah berdatangan dan bukan tak mungkin nantinya mulut dan gigi si kecil yang jadi korbannya. Untuk itu, demi mencegah agar hal semacam ini tak terjadi, ajaklah si kecil rutin menyikat gigi dan jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi. Buatlah jadwal atau pengingat rutin yang bisa Bunda pakai untuk mengingatkan jam minum si kecil setiap harinya.

Jangan Membuatnya Takut pada Dokter Gigi seperti Anak Kecil Kebanyakan

pexels-photo-122101

Jangan membuat si kecil merasa takut dengan dokter gigi, Bun! Justru yang baik adalah membuatnya selalu mau dan nyaman kalau diajak periksa gigi secara rutin. Dengan melunakkan hati si kecil, hal ini akan lebih membantu Bunda untuk urusan menjaga kesehatan mulut dan gigi, bukan? Untuk itu, berhentilah menakut-nakuti kalau dokter gigi itu galak.

Ajaklah Si Kecil Menyikat Gigi secara Rutin

pexels-photo-298611

Carilah tips yang tepat agar membuat aktivitas menyikat gigi itu menyenangkan. Mungkin dengan memilih sikat gigi yang lucu sesuai karakter kesukaannya, menceritakan cerita favoritnya selama menyikat gigi, atau mungkin biasakan menyikat gigi dengan anggota keluarga lainnya. Saat mereka merasa nyaman dan melihat sikat gigi sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan, maka mereka pun akan terbiasa lho, Bun. Bahkan tidurnya akan jauh lebih nyenyak setelah menyikat gigi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Terbiasa Bilang ‘Hati-hati’ ke Anak Justru Bisa Mengekang Kebebasan Si Kecil Lho, Bun

pexels-photo-1089077

“Mainnya jangan jauh-jauh ya Nak. Hati-hati.”

Sebagai orangtua pasti Bunda sering berpesan demikian. Terutama kalau si kecil minta izin pergi bermain bersama teman-temannya. Tapi coba ingat lagi, sepertinya frasa ‘hati-hati’ tak hanya diucapkan saat si kecil di luar pengawasan Bunda. Bahkan kalau mungkin Bunda berada di dekatnya, sering lho terucap lagi kata ‘hati-hati’ itu. Mungkin sebagai orangtua, Bunda hanya takut si kecil kenapa-napa. Sampai-sampai saat buah hati Bunda sedang berlarian, main bersama teman, atau belajar menggunting kertas, reaksi pertama Bunda adalah menegaskan kata “Hati-hati ya, Nak.”

Bun, sebagai protektor bagi buah hatinya, justru ada baiknya untuk belajar mengurangi melontarkan kalimat hati-hati. Bukannya melarang, hanya saja kalau terlalu sering diucapkan kepada si kecil, dampaknya pun tak terlalu baik lho Bun, salah satunya ya si kecil jadi merasa tertekan dan dikekang.

Memberi Peringatan ‘Hati-hati’ pada Si Kecil Ternyata Bukan Kebiasaan yang Terlalu Baik

pexels-photo-69100

Sejak anak masih kecil, belum bisa bicara bahkan berjalan, semua aktivitasnya tentu dalam pengawasan orangtuanya. Tapi saat ketika bayi itu beranjak jadi anak-anak, Bunda perlu sadari kalau setiap anak yang tumbuh pun butuh kebebasan lho, Bun. Lantaran aktivitasnya bertambah, orangtua pun jadi tak bisa terus-terusan memantau aktivitas si kecil.

Tapi, bukan berarti orangtua jadi tak bisa apa-apa. Memberikan pesan atau nasehat perihal mana yang baik dan benar, jauh lebih baik dibanding menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau melontarkan peringatan. Cukup katakan saja misalnya kalau jalan di sebelah kiri. Atau kalau ada di jalan raya, jangan berlarian. Kalau memang perlu menyebrang, carilah zebra cross.

Ucapan ‘Hati-hati’ Jangan Hanya Diucapkan Tanpa Makna

pexels-photo-122101

Memang selalu ada alasan kenapa orangtua meminta anaknya untuk berhati-hati. Sejak masih kecil, baik dari kita maupun saat kita sudah jadi orangtua, nasehat semacam itu sudah sering terdengar. Orangtua tak ingin anaknya celaka atau terjebak di situasi yang berbahaya. Untuk itu, demi menciptakan suasana yang aman, banyak orangtua yang akhirnya memilih untuk membatasi gerak-gerik si kecil. Dan pada akhirnya, kata ‘hati-hati’ pun jadi sering terlontar.

Sebab ya Begitu, Kalau Terlalu Sering, Ungkapan ini Malah Kehilangan Arti

pexels-photo-424441

Tapi Bunda sering tak sadar, apa yang Bunda ungkapkan, apalagi soal kata ‘hati-hati’, mungkin si kecil mengiyakan atau mengangguk saat Bunda mengucapkan hal tersebut. Hanya saja, tak menutup kemungkinan kalau si kecil sebenarnya belum terlalu paham makna kata tersebut.

“Hati-hati yang seperti apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus berhati-hati? Apa jangan-jangan setiap benda di sekitarku memang berbahaya?” Mungkin kalimat tersebut yang akan digumamkan anak Bunda. Mereka terbiasa menerima peringatan ‘hati-hati’ tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut soal makna kata tersebut. Bahkan karena terlalu sering mendengar peringatan tersebut, yang ada si kecil jadi tumbuh jadi anak yang takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa ada risiko yang menghantui sehingga lebih memilih untuk mengamati saja dan tidak berani mencobanya.

Untuk Itu, Cobalah untuk Membimbing dan Mendampinginya, Bukan Memperingatkannya

pexels-photo-1089077

Menjadi orangtua yang bisa membimbing dan mendampingi itu menyenangkan lho, Bun. Bunda akan membuat si kecil nyaman dalam melakukan hal apa pun. Mereka jadi tak punya ketakutan tertentu hanya karena memikirkan peringatan orangtuanya yang seringkali berlebihan. Untuk itu, saat memiliki buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan, belajar jadi orangtua yang bijak akan jauh lebih baik dibanding mendikte dan melarang si kecil melakukan ini-itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kenalkan Si Kecil dengan Rasa Tanggung Jawab demi Membentuk Karakternya Yuk, Bun!

pexels-photo-860536

Memupuk rasa tanggung jawab pada diri si kecil tentu sudah jadi tugas setiap orangtua ya, Bun. Bukan hanya soal tanggung jawab membersihkan mainan atau yang lainnya. Melainkan melatihnya memiliki karakter yang bertanggungjawab sehingga kelak ketika dewasa, ia bisa mandiri dan menjadi sosok yang independen. Kendati kelihatannya melatih rasa tanggung jawab itu sepertinya mudah, pada kenyataannya banyak orangtua yang mengabaikannya.

Alih-alih mau menyenangkan selalu buah hatinya, yang ada si kecil justru terus dimanja. Dan akhirnya, ia pun tumbuh jadi sosok yang manja dan sukar sekali diajak bertanggungjawab walau hanya soal membereskan mainannya. Jadi, jauh lebih baik mengenalkannya dengan rasa tanggung jawab sedini mungkin, ‘kan?

Ajarkan Mereka untuk Mengontrol Emosinya

pexels-photo-235554

Melatihnya mengontrol emosi adalah bagian dari membentuk rasa tanggung jawab dalam diri si kecil. Kelak saat besar, kalau pengendalian dirinya kurang, emosinya akan sukar stabil terutama kalau ia terjebak pada situasi atau konflik, sekalipun sebenarnya sepele.

Coba deh Bun, saat si kecil merengek, beri tahu kalau hal tersebut tak akan menolongnya di kemudian waktu. Dalam hal ini, Bunda memang harus sabar. Mengontrol emosi bukanlah sesuatu yang mudah, pun juga dengan melatih si kecil untuk melakukannya. Karena itu, dari Bundanya dulu harus mahir dalam hal mengendalikan diri dan emosi ya, Bun!

Sedari Dini, Kenalkan Juga dengan Perlengkapan P3K dan Peralatan Penunjang Keselamatan Lainnyapexels-photo-1097496

Agar si kecil akan tumbuh jadi pribadi yang mandiri nantinya, jangan sampai Bunda tak membekalinya dengan pengetahuan atau pengenalan mengenai hal-hal yang krusial dalam suasana genting. Sebut saja kotak P3K, sekalipun ada di rumah, sudahkah Bunda mengenalkan fungsi setiap perlengkapan tersebut padanya? Setidaknya luangkanlah sedikit waktu untuk membiarkannya memahami apa saja isi kotak P3K, fungsi perban, atau obat-obatan yang lain. Hal ini pasti berguna di kemudian hari. Akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk membantu sesama kalau ada yang butuh pertolongan darurat.

Dalam Hal Mengurus Rumah, Jangan Ragu untuk Libatkan Si Kecil

pexels-photo-1257110

Memiliki buah hati yang sedang dalam masa pertumbuhan biasanya sudah lumrah saat mendapati rumah tampak berantakan. Jangan dibawa pusing ya, Bun. Sebab situasi semacam ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran membentuk rasa tanggung jawab dalam diri si kecil.

Saat ia sudah mulai bosan dengan mainannya, ajaklah untuk menaruhnya ke tempatnya semula atau ke dalam wadah yang sudah Bunda sediakan. Atau saat ada jadwal membersihkan rumah secara menyeluruh, ajaklah ia juga agar dalam dirinya terlatih kebiasaan untuk bertanggungjawab menjaga kebersihan rumah. Selain membuat Bunda semakin dekat dengan si kecil, kebiasaan ini akan baik untuk karakternya nanti.

Sebagai Orangtua, Jangan Biasakan Menuruti Kemauannya dengan Cepat

pexels-photo-1288483

Ini penting. Jangan biasakan menuruti kemauan si kecil dengan segera ya, Bun. Latihlah ia agar belajar mendapatkan sesuatu yang dia mau dengan usaha, bukan dengan rengekan. Semakin Bunda memanjakannya dengan memberinya ini itu, ia akan semakin sedikit belajar perihal rasa tanggungjawab dalam mengusahakan sesuatu.

Kalau sejak kecil hal semacam ini ditanamkan dalam diri anak-anak, saat mereka besar, setidaknya mereka akan dibekali kemampuan untuk pandai menata keuangan. Percayalah Bun, mengajarkan hal yang baik tak akan jadi percuma.

Ajarkan Agar Si Kecil Punya Tanggung Jawab Menjaga Badannya dengan Mengajarkan Kebiasaan Makan yang Benar

pexels-photo-1001914

Saat ia masih kecil, memang Bunda yang bertanggungjawab mengurusi asupan makanan dan gizi yang masuk ke tubuhnya. Namun bila sudah besar, akankah dia sama pedulinya dengan Bunda perihal menjaga kesehatan? Belum tentu.

Nah, demi mengantisipasi situasi dimana si kecil tak terlalu peduli dengan kesehatan tubuhnya, mulai sekarang Bunda biasakan untuk mengajaknya mengonsumsi makanan yang sehat-sehat. Penting juga mengenalkan junk food serta dampaknya, dibanding mereka tahu dari sumber lain, justru akan lebih baik kalau  Bunda pun turut mengedukasi mengenai makanan yang dikonsumsinya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top