Parenting

Mengetahui Penyebab Anak Susah Makan dan Cari Jalan Keluarnya dengan Cara Ini Bun

Feeding

Punya balita yang mulai susah makan jadi tantangan tersendiri bagi para Bunda. Sebagai orangtua, tentu Bunda maunya melihat anak begitu lahap saat makan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tenang Bun, tak usah dibawa stress dulu. Yuk hadapi anak yang susah makan dengan kiat-kiat ini supaya Bunda tak kewalahan.

Tak Usah Panik, Apalagi Memaksa Si Kecil untuk Makan

Bagaimanapun, Bunda harus menghadapi situasi semacam ini dengan santai. Terpenting, jangan sampai memaksakan kehendak Bunda pada buah hati hanya demi dia mau makan. Ada alasan tersendiri lho kenapa Bunda tak dianjurkan untuk memaksa si kecil agar mau makan. Kenapa? Salah satunya karena anak bisa stress lho Bun kalau dipaksa makan oleh Bundanya.

Anak Susah Makan Bisa Disebabkan Karena Adanya Penyakit yang Dideritanya Lho Bun

Sebagai orangtua, Bunda pun dituntut peka pada kondisi buah hati. Sebab bisa saja saat si kecil merasa tak enak badan, ia tak mengerti cara memberitahu orangtuanya, untuk itu, Bunda pun perlu mengenali gejalanya. Di lain sisi, anak susah makan juga bisa muncul karena ada penyakit yang diderita si anak. Ini dia beberapa jenis penyakit yang membuat anak susah makan.

Trik Lain Agar Si Kecil Mau Makan, Cobalah Membuat Kreasi yang Menarik ya Bun

Untuk mengatasi masalah susah makan pada si kecil, atau si kecil yang suka pilih-pilih makanan, siasati saja dengan mencari varian makan yang sekiranya akan disukai si kecil. Yuk lirik dulu menu-menu menarik yang dapat Bunda coba saat berkreasi membuat makanan untuk buah hati.

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bunda yang Sedang Hamil, Ketika Tidur Usahakan Miring Ke Kiri Ya

pexels-photo-1464822

Selama kehamilan Bunda mungkin dilanda kecemasan karena khawatir terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan karena kesalahan perilaku. Karena itu kemudian Bunda berlaku sangat berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.

Setelah si kecil lahir, bukan berarti perasaan langsung lega begitu saja. Bunda lagi-lagi merasa cemas melakukan kekeliruan dalam merawat si kecil. Semua hal itu wajar dan tak perlu panik ya Bunda.

Sebab semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Namun kebanyakan dari kita tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menangani bayi yang baru lahir. Karena itu Bunda dilanda kecemasan soal hal ini.

Nah mari coba menenangkan diri ya Bunda, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi dasar penting yang wajib bunda kuasai dalam hal merawat bayi yang baru lahir. Dengan melakukannya sesuai petunjuk, si kecil akan baik-baik saja dan Bunda akan membantunya dalam perkembangannya di kemudian hari kelak.

Selama Tali Pusat Belum Puput, Harus Dirawat Ya Bunda

newborn-1399193_640

Tali pusat jadi bagian penting dari bayi ketika dalam kandungan karena organ ini menjadi sumber makanan dan mengalirkan oksigen dari Bunda. Setelah bayi lahir, tali pusat yang tadinya jadi penghubung oksigen dari bunda pada bayi akan dipotong sekitar 2 sampai 3 cm. Sisa tali pusat nantinya akan puput dengan sendirinya.

Meski akan puput secara alami, ada hal penting yang harus Bunda perhatikan ketika menanganinya. Gusti Ayu Puspita Devi S.Keb, seorang Bidan yang sudah mengedukasi lebih dari 1.000 bayi menuturkan bahwa selama tali pusat belum puput, bunda disarankan untuk tetap memastikan tali pusat tetap bersih dan kering. Sebisa mungkin mandikan bayi dengan washlap atau spons. Hindari pula memandikan bayi ke dalam bak mandi yang airnya penuh, agar tali pusat tidak terendam air.

Sebab hal ini akan mengakibatkan tali pusat basah dan lembap, yang tidak baik untuk kesehatan si Bayi. Hindari pula untuk membersihkan tali pusat dengan sabun atau cairan antiseptik lainnya. Seusai mandi, keringkan tali pusat dengan kain bersih dan balut dengan kain kasa yang steril.

Selanjutnya bunda juga perlu memastikan pemasangan popok. Pastikan jika tali pusat tak akan terkena air seni dan tinja untuk menghindari infeksi pada tali pusat. Jangan pula menarik tali pusat dengan paksa, karena ini bisa menyebabkan pendarahan pada pusat. Biarkan ia kering dan puput dengan sendirinya, dengan memastikan tali pusat tetap bersih dan tidak basah.

Bayi Boleh Dipijat Dari Usia 0, Tapi…

Mother massaging her child's foot, shallow focus

Faktanya pemijatan pada bayi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir, dari usia 0 hingga 3 tahun. Namun alangkah lebih baik, jika dilakukan pada masa 6 atau 7 bulan kehidupannya. Dengan catatan, si kecil sedang dalam kondisi baik dan stabil dari segi medis.

Bunda bisa memberikan sentuhan-sentuhan lembut untuk memijatnya. Bunda juga boleh melakukannya dengan penyertaan komunikasi secara verbal kepada dirinya sebagai bentuk cinta kasih. Hal ini akan jadi salah satu cara untuk meningkatkan bonding antara bunda dan bayi.

Stimulasi ini akan jadi pengaruh baik yang akan mendukung tumbuh kembang si kecil. Mulai dari meningkatkan sistem imunitas tubuh, membantu bayi belajar rileksasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur miliknya.

Bayi Boleh Dimandikan, Tapi Jangan Terlalu Sering

279228-P5UI7Z-794

Tak ada patokan pasti, sebaiknya berapa kali bayi dimandikan dalam sehari. Ada yang 2 kali sehari, dan ada pula yang 1 kali sehari. Atau pagi hari dimandikan, sorenya cukup diseka saja.

Namun yang utama beberapa ahli pun menganjurkan untuk memandikan bayi 2 hingga 3 kali per minggu. Dan frekuensinya bisa ditingkatkan, seiring bertambahnya usia.

Caranya? Setidaknya ada 3 cara yang biasa digunakan oleh beberapa perawat, untuk memandikan bayi yang baru saja lahir. Pertama dengan memakai washlap dan diusapkan ke Bayi. Kedua memandikan bayi dengan dicelupkan ke bak mandi. Sedangkan ketiga memandikan bayi dengan dibedong menggunakan selimut. Bunda boleh memilih. Kira-kira cara mana yang paling sesuai untuk bunda lakukan pada si kecil sesuai dengan kebutuhan.

Meski tata cara memandikannya berbeda, hal lain yang perlu dilakukan dalam proses memandikan hampir serupa untuk ketiga tekniknya. Diawali dengan membersihkan area mata dari dalam keluar, mulut, dan membersihkan wajah bayi hingga ke kepala sampai ujung kakinya. Selanjutnya, bunda boleh mengeringkan bayi dengan menggunakan handuk berbahan lembut.

Hal Lain yang Juga Perlu Bunda Perhatikan Adalah Tata Cara Mengganti Popok yang Sesuai Anjuran

pexels-photo-1556706

Sekilas kegiatan ini mungkin terlihat sepele, karena dalam bayangan bunda mungkin mengganti popok hanyalah membuka dan memasang pakaian bawah pada tubunya si kecil saja. Tapi, untuk mengganti popok pada bayi baru lahir beda loh bun.

Karena setidaknya ada beberapa hal yang bunda perlu siapkan, mulai dari matras pelapis, popok yang bersih, wadah berisi air hangat, kapas untuk membersihkan bokong bayi dan baby cream.

Mulailah dengan meletakkan si kecil di atas matras dengan memastikan posisinya aman. Lepaskan popok yang ia kenakan, lalu bersihkan bagian pinggang kebawah menggunakan kapas yang dibasahi dengan air hangat dari depan ke belakang. Keringkan bagian lipatan bokongnya dengan handuk bersih dan oleskan baby cream.

Selanjutnya, pasang popok yang bersih dengan posisi menutupi bokong dan tubuh bagian depan dengan baik, lalu ikat tali popok dengan tidak terlalu longgar tapi juga tidak terlalu kencang.

Jika Masih Dirasa Kurang, Bunda Juga Boleh Belajar Tentang Cara Perawatan Bayi yang Baru Lahir Lainnya dari Para Ahli di Bidangnya

pexels-photo-789786

Menjadi orangtua baru atau kembali merawat bayi yang baru lahir, memang bukanlah sebuah tugas mudah. Tapi bukan berarti juga, bunda tak bisa melakoninya. Beruntungnya, kini kita ada pada masa yang bisa dengan mudah mempelajari banyak hal hanya dengan telepon genggam saja. Termasuk tata cara perawatan si kecil yang baru saja lahir.

Menariknya, untuk urusan hal terbaik dan perawatan bayi baru lahir, bunda bisa menengok beberapa video yang disajikan oleh JOHNSON’S® . Menjadi, standar dunia dalam perawatan kulit bayi selama lebih dari 125 tahun ini, kali ini JOHNSON’S® menghadirkan 125 video edukasi yang mencakup hal-hal yang “Terbaik Untuk Bayi”, dan salah satunya bagiannya adalah “Perawatan Bayi Baru Lahir” yang bisa bunda lihat disini.

Informasi yang disajikan tersebut bekerja sama dengan beberapa tenaga ahli kesehatan yang ahli di bidangnya masing-masing. Video-video ini ditujukan oleh JOHNSON’S® sebagai bentuk apresiasi kepada para ibu di seluruh Indonesia.

Bagaimana bunda? Yuk, belajar bersama-sama agar lebih paham tata cara perawatan bayi baru lahir yang benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Pikirkan Dulu Kondisi Kakek Nenek Sebelum Menitipkan Si Kecil Pada Mereka ya Bun

pexels-photo-167300

Di Indonesia, budaya menitipkan anak pada orangtua sudah dianggap hal yang lazim. Bahkan terjadi secara turun menurun. Faktor pemicu bayi atau balita yang akhirnya dititipkan pada kakek neneknya salah satunya karena alasan pekerjaan orangtua sang bayi. Misalnya ibu mereka yang bekerja sebagai pegawai kantoran, umumnya pasti hanya diberi cuti maksimal tiga bulan. Setelahnya, ibu wajib masuk kerja lagi seperti sedia kala. Sementara jika salah satu orangtua saja yang bekerja, keuangan keluarga terancam tak stabil. Biaya untuk mempekerjakan pengasuh pun cukup besar. Untuk itu, salah satu alternatif yang dipilih para orangtua muda adalah menitipkan buah hati mereka pada orangtuanya. Padahal Bun, hal ini masih jadi sesuatu yang dilematis dan perlu pertimbangan yang kuat sebelum akhirnya memutuskan melimpahkan ‘separuh’ tanggung jawab pengasuhan kepada kakek nenek si kecil.

Di Usianya yang Tak Lagi Muda, Tubuh Orangtua Bunda Sejatinya Sudah Tak Didesain Lagi untuk Mengasuh

Menurut psikolog klinis, Elizabeth Santosa, atau yang akrab disapa Lizzie saat ditemui SayangiAnak.com, para orangtua muda sering lupa bahwa usia orangtuanya alias kakek dan nenek sang cucu sudah tak selaras lagi dengan anak yang masih balita. Perbedaan usia yang terlalu jauh akhirnya membuat pola asuh yang dimiliki oleh kakek dan nenek sering tak sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak kecil saat ini. Ditambah lagi, fisik kakek dan nenek sejatinya sudah tak lagi didesain untuk mengejar cucu. Mereka tak lagi sekuat Bunda dan Ayah yang mungkin masih berumur 20 atau 30 tahun. Lizzie menyarankan, kalau Bunda sesekali hendak menitipkan buah hati di rumah kakek atau nenek, maka yang terbaik adalah menyediakan pengasuh khusus untuk anak.

Biarkan kakek dan nenek hanya bertugas sebagai pengawas bagi si pengasuh. Tugas lain, seperti memandikan, menyuapi, dan mengejar-ngejar anak yang sejatinya tugas Bunda sebagai orangtua, bisa digantikan sementara oleh pengasuh. Terpenting, pengasuh pun harus bisa membawa diri dan beradaptasi. Jangan sampai keberadaan pengasuh, kakek dan nenek, justru menciptakan konflik baru.

Atau bila Bunda memang sudah memiliki pengasuh, namun ada momen dimana pengasuh sakit atau mudik, carilah jalan tengah yang tak merepotkan kakek dan nenek. Misalnya, mencari infal (pengasuh pengganti), atau Bunda mengambil cuti, atau setidaknya, siapkan semua meninggalkan ia bersama kakek/nenek. Jadi, jangan sampai menyusahkan mereka, baik secara fisik maupun finansial ya Bun.

 

Perbedaan Pola Asuh Tak Hanya Dirasakan Oleh Anak, Tapi Juga Bunda Sebagai Orangtua

Bun, perbedaan pola asuh antara generasi Bunda dan orangtua Bunda akan membawa dampak yang signifikan pada anak. Perbedaan ini pun yang akhirnya sering jadi pemicu Bunda dan orangtua jadi berselisih paham urusan mengasuh cucu. Kalau Bunda sudah terlanjur menitipkan buah hati pada neneknya, ada risiko yang memang harus dihadapi. Mungkin si kecil yang jadi gemar nonton sinetron, atau jadi hapal pemeran ftv, dan segala dampak yang mungkin tak pernah Bunda pikirkan sebelumnya.

Bagaimanapun, Bunda tak bisa langsung melarang kakek atau nenek si kecil untuk menonton tayangan yang memang mereka sukai di masa tua mereka.
“Barangkali menonton sinetron yang penuh drama menyedihkan, atau mendengarkan lagu dangdut, adalah hiburan yang dahulu tak pernah sempat mereka nikmati karena kesibukan mengurus Anda, anaknya. Masa, sih, di saat anak-anak mereka sekarang sudah mandiri dan berkeluarga, mereka masih juga dituntut mengurus cucu dan mengorbankan hal-hal yang disukai?” ujar Lizzie.

Boleh saja Bunda menyampaikan keberatan pada orangtua, tentu dengan mengatakan alasan sebenarnya bahwa efek sinetron tak baik bagi perkembangan anak. Tetapi, katakan dengan sopan, dan berikan solusi yang tidak merugikan siapa pun ya Bun.

Misal, “Ma, kalau ada cucu, nonton sinetronnya di kamar saja, ya. Atau, kalau ia lagi tidur siang.” Jika tak berhasil juga, pilihannya hanya dua: Berhenti menitipkan anak kepada kakek dan neneknya, atau Bunda harus menerima konsekuensinya.

Tapi Bun, kalau pada akhirnya Bunda harus mengambil keputusan untuk menitipkan buah hati pada kakek dan neneknya, asalkan Bunda sudah mempertimbangkan hal-hal ini…

1. Kondisi Fisik Kakek Nenek Si Kecil Masih Memungkinkan

Kegiatan mengaruh anak bukanlah hal yang mudah lho, karenanya pastikan Anda hanya menitipkan Si Kecil jika kondisi fisik orang tua atau mertua Bunda memungkinkan. Selain itu, Bunda juga harus memikirkan kesibukan orang tua dan mertua Bunda. Jangan sampai kegiatan mereka harus dikorbankan. Hal yang paling penting adalah tanyakan kesediaan mereka untuk menjaga Si Kecil. Pastikan bahwa mereka tidak keberatan untuk menjaga cucunya hingga Anda pulang kantor.

2. Kebutuhan Si Kecil Bisa Tetap Terpenuhi

Pastikan semua kebutuhan anak selama dititipkan pada kakek dan nenek sudah tercukupi. Antara lain: makanan, susu, obat-obatan, dan mainan. Ketidaksiapan Bunda justru akan merepotkan orang tua, karena harus menyediakan kebutuhan Si Kecil. Bila perlu, tetap gunakan jasa pengasuh, sehingga tugas dan orang tua Bunda hanya mengawasi.

3. Bunda dan Ayah Sebagai Orangtua Sudah Menyepakati Pola Asuh yang Diinginkan

Pola asuh yang diterapkan oleh Anda dan orang tua atau mertua bisa jadi berbeda. Untuk itu, Bunda bisa membicarakannya baik-baik dengan mereka. Jelaskan dan sepakati pola asuh seperti apa yang diinginkan. Persoalan yang sering muncul adalah kakek dan nenek terlalu memanjakan Si Kecil karena rasa sayang yang berlimpah. Karenanya, komunikasikan batasan-batasan yang harus diterapkan tanpa menyinggung perasaan mereka ya Bun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Pakai Cara Ini Supaya Si Kecil Akrab dengan Kakek-Neneknya, Bun

pexels-photo-302083

Saat Bunda dan Ayah sedang didera berbagai kesibukan beruntun, biasanya si kecil pun mau tak mau harus dititipkan sejenak pada kakek dan nenek mereka supaya tetap ada orang dewasa yang mengawasi segala aktivitas si kecil.

Namun kadang, ada tipikal anak kecil yang susah sekali mengakrabkan diri dengan kakek dan neneknya. Apalagi jika Bunda memang tak tinggal serumah dengan orangtua atau mertua. Jarak dan pertemuan yang mungkin baru beberapa kali membuat si kecil masih merasa sungkan untuk dekat dengan kakek dan neneknya. Disinilah peran Bunda dan ayah sangat diperlukan. Hubungan kuat antarkeluarga dapat mendukung perkembangan kecerdasan emosi si Kecil khususnya dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, Bun. Berikut tips mendekatkan si kecil dengan kakek dan neneknya, Bun.

 

Ajak Si Kecil Rutin Mengunjungi Rumah Kakek dan Neneknya

Jika Bunda memiliki waktu luang, sempatkan untuk mengajak si Kecil berkunjung langsung ke rumah kakek dan nenek ya. Terutama bila di akhir pekan. Jika memungkinkan, sesekali sediakan waktu untuk si Kecil menginap bersama kakek dan neneknya. Bunda perlu meyakini bahwa ikatan kekeluargaan akan lebih mudah terbentuk jika si Kecil sering berinteraksi langsung dengan sang kakek dan nenek. Untuk itu, sesuaikan waktu kunjungan dengan jadwal Bunda dengan kakek dan nenek. Setidaknya lakukan kunjungan paling tidak dua kali dalam sebulan ya Bun.

 

 

Buat Kegiatan yang Menyenangkan dengan Si Kecil ya Bun

Apakah sang kakek dan nenek memiliki hobi tertentu? Jika iya, coba libatkan si Kecil dalam hobi tersebut, Bun. Misalnya sang Nenek memiliki hobi masak, ajak si Kecil untuk membantu Neneknya ketika sedang memasak. Atau, jika sang Kakek suka berkebun, dorong si Kecil untuk mencoba berkebun sambil bermain di taman. Atau sebaliknya, ajak kakek dan nenek untuk mencoba hal yang ingin dilakukan oleh si Kecil saat itu. Dengan begitu, si Kecil dapat merasa diperhatikan dan dihargai. Tak hanya mendekatkan si kecil dengan kakek dan neneknya, kegiatan ini pun dapat mengasah kecerdasan emosi anak lho Bun.

 

Biasakan Rutin Berkomunikasi dengan Si Kecil

Sering kali kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari yang padat menjadi alasan untuk menunda berkunjung ke rumah kakek dan nenek. Demi mengatasi hal ini, Bunda bisa memanfaatkan teknologi dengan berkomunikasi via video call atau telepon jika si Kecil tidak dapat bertemu langsung dengan kakek dan neneknya.

Lakukan hal ini sesering mungkin dan biasakan si kecil meluangkan waktu untuk mengobrol dengan sang kakek dan nenek paling tidak dua kali dalam seminggu. Ini juga bisa menjadi cara paling efektif jika Kakek dan Nenek tinggal di luar kota lho Bun.

 

Ceritakan Soal Kakek Neneknya, Bila Perlu Pajang Foto Kakek dan Nenek di Rumah

Di malam menjelang tidur, selain menceritakan dongeng, Bunda bisa lho menyiasatinya dengan cerita lain seperti kisah hidup soal kakek dan nenek. Dengan begitu, si Kecil dapat lebih mengenal sosok Kakek dan Neneknya, Bun. Atau, supaya si kecil tak asing dengan figur dan wajah keduanya, pajang foto kakek dan neneknya di ruang keluarga atau kamar si Kecil.

Bagaimanapun, mendekatkan anak dengan keluarga ternyata tidak sesulit yang Bunda kira. Hanya dibutuhkan komitmen dari Bunda dan ayah untuk menciptakan momen kebersamaan si Kecil dengan kakek dan neneknya. Terlebih lagi jika si Kecil dan kakek dan nenek tinggal berjauhan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Agar Si Kecil Jadi Cerdas, Pastikan Ia Mendapat Lima Stimulus Ini Dari Bundanya

boys

Siapa sih yang tak ingin punya anak cerdas? Setiap Bunda pasti mengamini keinginan ini. Bahkan sejak dalam kandungan, Bunda berusaha memberi asupan nutrisi yang optimal agar perkembangan otak sang janin kian matang sehingga kelak ia bisa jadi anak yang cerdas. Urusan nutrisi memang tak kalah penting, namun seiring lahirnya buah hati, Bunda perlu memahami adanya stimulus berupa kegiatan yang perlu Bunda berikan demi merangsang kecerdasannya. Berikut stimulus yang dapat Bunda berikan pada si kecil.

1. Dorong Si Kecil untuk Mau Belajar Musik

Bun, mendaftarkan si kecil pada kelas musik yang ia ikuti akan membuatnya paham bahwa setiap orang yang belajar pasti memiliki kesalahan dan kekurangan, termasuk dirinya sendiri. Dengan begitu ia akan belajar dan meningkatkan kemampuannya. Kepala Northwestern’s Auditory Neuroscience Laboratory, Nina Kraus menuturkan jika anak-anak yang belajar alat musik dinilai lebih fokus di kelas dan paling banyak mengerjakan tugas selama pelajaran berlangsung. Bahkan belajar musik bisa meningkatkan kemampuan berhitungnya karena ada ada kaitannya dengan pemahaman irama, ritme, dan juga skala saat anak belajar alat musik membantunya memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengerjakan pembagian, pecahan, dan mengenali pola.

2. Buat Si Kecil Merasa Bahagia Setiap Harinya ya Bun

Mengutip Huffington Post, Katie Hurley, seorang praktisi psikoterapi anak mengatakan, hal-hal seperti mendorong anak-anak makan tepat waktu, membiarkannya melakukan permainan yang mereka inginkan sejatinya bisa membuat hidup anak-anak jauh lebih bahagia. Yang terpenting, berilah kesempatan pada mereka untuk bisa membuat pilihan. Bahagia itu sederhana, terlebih jika sejak kecil ia terbiasa untuk menentukan pilihan berdasarkan intuisinya, ia pun akan tumbuh jadi seorang anak yang cerdas yang memiliki kontrol diri.

3. Pastikan Waktu Tidurnya Cukup

Anak kecil dianjurkan memiliki waktu tidur yang lebih panjang dibanding orang dewasa. Untuk itu, ajarkan si kecil tidur secara teratur dengan kebiasaan yang baik dan benar. Stimulus ini perlu dilakukan orang tua pada anaknya sejak kecil karena kebiasaan ini bisa jadi dibawa hingga dewasa nanti sehingga ia jadi lebih pandai mengatur waktu. Ketika tidurnya cukup, maka anak-anak siap menghadapi harinya dan ini membuat mereka lebih bersemangat, Karena itu buatlah tidur konsisten sebagai prioritas.

4. Memiliki Waktu Membaca Bersama Si Kecil

Bunda perlu tahu, kegiatan membaca merupakan pondasi awal untuk meningkatkan kecerdasan anak. Bunda perlu meluangkan waktu untuk membaca bersama anak karena disini peran orangtua justru sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca sang anak. Selain guru di sekolah tugas orang tualah di rumah untuk mengajarkan membaca kepada sang anak. Jadi jika kita menginginkan seorang anak yang cerdas, jangan tunda-tunda lagi untuk mengajarkan membaca kepada anak sedini mungkin ya Bun.

5. Penuhi Asupan Nutrisi yang Menyehatkan Dirinya

Bun, berikan makanan dengan nutrisi seimbang pada si kecil ya Bun. Makanan yang baik akan mencukupkan energi guna mendukung aktivitas si kecil, membantu pertumbuhannya, serta mendukung pertumbuhan otak si kecil. Untuk itu, yuk Bun dorong si kecil untuk membiasakan diri mengonsumsi makanan yang sehat sejak kecil agar kelak anak memiliki kebiasaan makan yang baik.

Selain makanan, susu formula pun diperlukan demi menstimulasi kecerdasan pada diri si kecil. Salah satu susu formula yang dianjurkan yaitu Enfagrow A+ yang mengandung Extra Advance Formula.

Screen Shot 2019-02-19 at 12.25.39 PM

Prada_S4_1200_Md_tilt (1)

Adanya Omega 3 & 6 tertinggi yang memang mendukung perkembangan otak dan menyehatkan sistem pencernaan si kecil. Nantinya detail mengenai produk Enfagrow A+ secara lengkap akan diulas di event A+ Expertrience, Bun.

Event menarik ini persembahan Enfagrow A+ untuk para ibu muda serta buah hati supaya Bunda dan si kecil mengenal lebih banyak lagi stimulus lewat acara ini. Yuk Bun, daftarkan diri Bunda dan buah hati dengan mengklik tautan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top