Kesehatan Ibu & Anak

Memberikan Bubur Pada Si Kecil Tak Sebaiknya Pakai Botol Susu, Bun

adult-baby-blur-1667578 (1)

Belum lama ini, seorang ibu di Malaysia mencuri perhatian para ibu lantaran memberi makan bubur pada anaknya dengan memberikan botol susu. Bubur tersebut dimasukkan ke dalam botol lalu pada bagian dot tersebut digunting supaya bayi lebih mudah menelan.

Di Malaysia, ternyata memberi makan bayi dengan botol susu merupakan praktik yang lumrah. Menurut mereka, cara tersebeut dipercaya dapat membuat bayi cepat kenyang serta tidur lebih pulas. Padahal Bun, memberikan makanan dengan botol susu sejatinya berisiko lho Bun.

Di Indonesia sendiri, praktik ini juga dilakukan beberapa ibu yang memberikan makan bayi dengan metode yang sama. Jika Bunda salah satunya, sebaiknya simak dulu mengapa cara ini sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Si Kecil Rentan Tersedak

Mengutip The Asian Parent, saat minum dari botol susu, biasanya bayi akan memiliki waktu bernapas untuk mempermudah proses menelan. Namun lantaran bubur berbeda dari susu, justru si kecil bisa saja tersedak di sela-sela ia menghisap. Selain itu, apabila bubur tidak bisa ditelan dengan baik oleh bayi, bubur tersebut justru berisiko besar masuk ke dalam paru-parunya.

Botol Susu Tak Akan Memberikan Stimulasi

Tahukah Bunda, perkembangan motorik si kecil tak sebatas menghisap dan menelan saaat ia menggunakan botol susu saat makan. Justru Di mana bayi akan belajar bagaimana cara menguyah, menggerakkan lidah, serta menelan makanan dengan lebih mudah. Kemampuan bayi akan jauh berkembang apabila Bunda memberikan MPASI dengan cara menyuapinya.

Dot Pada Botol Sejatinya Cepat Kotor

Bun, dot pada botol susu haruslah diganti setiap tiga bulan apalagi bila sering digunakan untuk memberi bubur untuk si kecil. Hal ini karena noda makanan akan tetap menempel pada botol apabila tidak dibersihkan secara teliti. Bekas noda yang menempel juga menjadikan makanan yang disimpan di sana lebih cepat basi dan menimbulkan masalah lambung pada bayi.

Risiko Alergi Sulit Diketahui

Memasuki masa MPASI, tubuh bayi biasanya mampu memilah makanan apa yang cocok untuknya. Ketika cara makan bayi sudah salah, maka reaksi bayi terhadap alergi juga akan sulit diketahui nih Bun. Untuk pilihan yang lebih aman, Bunda bisa menggunakan botol khusus untuk bubur bayi yang sudah dilengkapi dengan sendok. Meskipun begitu, menyuapi bayi makan dengan sendok merupakan pilihan yang lebih aman dan terbaik lho Bun.

Si Kecil Bisa Jadi Mogok Menyusu

Seiring berjalannya waktu, si kecil akan mampu merasakan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Apabila dia tidak menyukai rasa bubur, kemungkinan dia akan menolak minum susu di botol. Hal itu karena bubur dan susu diberikan pada bayi lewat alat makan yang sama, sehingga dia keliru dalam mengenali rasa keduanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kesalahan yang Umum Dilakukan Orangtua Saat Menyuapi Anak

baby-baby-eating-chair-973970 (4)

Proses memberikan makan pada si kecil seharusnya menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Hanya saja, sebagai orangtua, ada kalanya Bunda mengabaikan beberapa hal yang akhirnya justru merugikan si kecil. Baik kebiasaan maupun asupan makanan yang diberikan, bisa jadi pemicu si kecil jadi bermasalah dengan kebiasaan makannya kelak. Untuk itu, perhatikan lagi ya Bun apa-apa saja yang sebaiknya tak dilakukan saat menyuapi si kecil.

Anti Makan Berantakan

Saat menyuapi si kecil dan suapan tersebut luber kemana-mana, pasti Bunda segera mencari lap basah dan membersihkannya sesegera mungkin. Rasanya jangan sampai si kecil terlihat kotor karena sisa makanan yang berantakan ke sisi-sisi wajah atau bahkan bajunya. Padahal, kebiasaan ini justru sebaiknya dikurangi. Biarkan si kecil bereksplorasi dengan kondisi ‘kotor’ yang muncul saat ia makan. Ia akan belajar tentang apa yang dikonsumsinya dari situ.

Untuk itu, tak usah khawatir atau takut kotor, justru biarkan si kecil makan sendiri saat usianya sudah cukup mampu untuk memegang sendok sendiri. Di masa-masa eksplorasi, berikan varian menu yang semakin beragam. Sembari mengajarinya tentang makanan, Bunda juga bisa mengajarinya untuk belajar bersih-bersih sendiri setelah makan.

Proses Menyuapi yang Terlalu Lama

Banyak sekali orangtua yang memilih untuk memanjakan buah hati mereka dengan selalu menyuapinya saat makan. Padahal, Bunda disarankan melatih si kecil untuk makan sendiri sejak usia 8-9. Baru kemudian di usia 12 bulan, ia sudah benar-benar memilih untuk makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Jangan takut si kecil justru tak mau makan, bersabarlah dalam membimbingnya dan biarkan si kecil berproses.

Memilih Makanan yang Terlalu Sehat untuknya

Orangtua selalu terperangkap pada pemikiran bahwa bayi dan anak-anak harus diberikan makanan terbaik dan menyehatkan. Di lain sisi, tren makanan sehat pun semakin berkembang, dan menekankan bahwa golongan makanan sehat adalah buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

Padahal makanan tersebut rendah lemak dan lebih cocok untuk orang dewasa yang tengah menjalankan diet sehat. Untuk itu, lebih bijaklah untuk urusan memberikan makanan pada si kecil ya Bun. Di usianya, mereka membutuhkan asupan lemak untuk tumbuh kembangnya.

Membiarkan Si Kecil Menggigit Makanan atau Mengonsumsi Minuman orang Dewasa

Mungkin Bunda sama sekali tak sadar ada beberapa kebiasaan orang dewasa yang justru membahayakan si kecil. Misalnya membiarkan ia menyeruput sedikit kopi atau atau memberikannya sepotong brownies. Padahal, ada bahaya yang mengintai. Kafein, soda, yang mungkin terkandung dalam minuman, akan mengancam kesehatannya.

Serta makanan manis akan membahayakan kesehatan giginya. Bahkan kalau si kecil sudah terlanjur menyukai rasanya, tak menutup kemungkinan ia akan meminta makanan itu lagi. Untuk itu, lebih berhati-hati ya Bun saat memberikan makanan atau snack pada si kecil. Di usianya, tak semua makanan disarankan untuk dikonsumsi. Terutama yang tinggi gula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mainan Anak

Di AS, Mainan Forky Ditarik dari Pasaran Lantaran Dinilai Tak Aman

forky

Karakter baru Forky dalam film Toy Story 4 menuai polemik baru di kehidupan nyata. Terbaru, Disney telah mengeluarkan imbauan penarikan secara sukarela mainan Forky dengan alasan masalah keamanan. Bahkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Disney melaporkan bila bagian mata Forky dapat terlepas dan menuai risiko tertelan pada anak di bawah umur tiga tahun.

Dilansir dari Aceshowbiz, Rabu, 10 Juli 2019 perusahaan akan mengembalikan dana secara penuh kepada pelanggan yang mengembalikan mainan tersebut.

“Kami mendukung pengembalian penuh mainan Forky. Tidak ada ada yang lebih penting dibanding keselamatan konsumen kami,” ujar Disney dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Twitter pada Senin, 8 Juli. “Silakan hubungi 866-537-7649 atau kembalikan barang tersebut ke toko Disney / Disney Parks Amerika Utara.”

Mainan Forky memang dijual di Toko Disney, Disney Theme Parks, shopdisney.com dan melalui toko Disney di Amazon Marketplace dari April hingga Juni dengan harga sekitar US$20 atau Rp 281 ribu. Sekitar 80.650 mainan telah terjual di AS dan Kanada. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan karena belum ada cedera yang dilaporkan.

Dalam film Toy Story 4, Forky berjuang dengan krisis percaya diri setelah Bonnie menciptakannya dari sampah. Tubuh Forky terbuat dari senpu atau sendok garpu dan ditambahkan aksesoris lain sehingga membuatnya menjadi mainan yang utuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top