Kesehatan Ibu & Anak

Lima Kebiasaan Salah Kaprah yang Harus Bunda Hentikan Jika si Kecil Sedang Demam

pexels-photo-701014 (2)

Bun, saat si kecil mengalami gejala penyakit baik pilek maupun demam, hal itu biasanya sama-sama membuat tubuh jadi tidak karuan. Meski biasanya gejala pilek dan demam bisa mudah ditangani dengan beli obat di apotek, ternyata ada beberapa kebiasaan yang justru memperparah gejala pilek dan demam si kecil. Coba yuk Bun, cek dulu apakah ada salah satunya yang sudah jadi kebiasaan Bunda. Kalau memang ada, maka sebaiknya dihentikan ya Bun.

Bunda Membiarkan Demamnya Begitu Saja

Ya, kesalahan yang paling umum dilakukan adalah membiarkan gejala pilek atau demam tanpa ditangani atau diobati. Mungkin Bunda berpikir positif bahwa si kecil tidak sakit dan akan baik-baik saja. Padahal, kalau semakin dibiarkan, gejala pilek atau demam justru semakin parah lho Bun. Dengan menganggap remeh demam yang dialami si kecil, ada potensi virusnya justru semakin menyebar di dalam sel tubuh. Akibatnya, kekebalan tubuh si kecil pun kian menurun.

Minum Antibiotik pun Tak Akan Membawa Pengaruh yang Signifikan

Penyakit seperti batuk, pilek, atau demam biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Jika Bunda memilih memberikan antibiotik pada si kecil, maka sebaiknya Bunda perlu tahu, minum antibiotik hanya akan membuat bakteri dalam tubuh menjadi resisten. Artinya, jika si kecil terkena infeksi bakteri lagi di kemudian hari dan mengatasinya dengan antibiotik, maka khasiat obat menjadi tidak berfungsi. Gejala pilek dan demam pun akan semakin parah dan tak kunjung sembuh.

Mengonsumsi Vitamin C Dosis Tinggi bahkan Tanpa Resep Dokter

Banyak orang percaya jika vitamin C dinilai mampu melawan segala penyakit mulai dari pilek hingga kanker. Padahal, penelitian terbaru mencatat jika konsumsi vitamin C tidak terbukti menurunkan gejala pilek maupun demam dalam waktu singkat.

Mengonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi justru memunculkan penyakit lain, salah satunya diare. Dalam beberapa kondisi bahkan dapat meningkatkan penyerapan hingga toksisitas zat besi. Karenanya, bila si kecil demam, sebaiknya Bunda perhatikan lagi ya dosis vitamin C yang dikonsumsi si kecil.

Kurang Minum dan Kurang Tidur Pun Akan Memperlambat Penyembuhan

Setiap kali si kecil sakit, maka ia memerlukan banyak cairan tubuh. Ini karena cairan berguna untuk membantu mencairkan lendir yang tersumbat di hidung sehingga virus-virus yang terperangkap dapat keluar melalui ingus. Semakin si kecil kurang asupan minum, maka gejala pilek dan demamnya akan kian meradang. Selain dengan air putih, Bunda bisa memenuhi kebutuhan cairan si kecil dengan minum jus yang diencerkan, teh panas, atau sup kaldu yang dapat membantu melegakan gejala pilek dan demam.

Di lain sisi, cukupkan kebutuhan waktu tidur si kecil ya Bun. Tidur yang cukup dapat membantu tubuh melawan infeksi yang mungkin membuat Bunda sakit. Kendati terdengar klise, percayalah, cara ini dapat membantu mempercepat kesembuhan dari pilek dan demam yang si kecil alami.

Sebuah studi menunjukkan bahwa tidur kurang dari 7 jam setiap malam dapat meningkatkan risiko terkena flu hingga tiga kali lipat. Sementara jika pilek dan demam sering membuat si kecil terbangun di tengah malam, Bunda dapat menyiasatinya dengan tidur lebih awal atau tidur siang yang cukup.

Dan Si Kecil Masih Terpapar Asap Rokok di Lingkungannya

Bila si kecil sedang terkena pilek dan demam namun terus kena paparan asap rokok, maka sebaiknya Bunda atasi masalah ini. Terpapar asap rokok saat tubuh sehat saja dapat merusak paru-paru, apalagi bila dilanjutkan saat terkena pilek atau demam.

Saat si kecil tak sengaja menghirup asap rokok, zat-zat berbahaya dalam rokok akan masuk ke dalam tubuh dan perlahan merusak paru-paru. Akibatnya, sel-sel paru akan semakin sulit untuk melawan infeksi sehingga ia akan menjadi sering batuk. Untuk itu, usahakan lingkungan tempat si kecil beraktivitas harus selalu bebas asap rokok.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bila Menyapih Dirasa Susah, Mungkin Metodenya Ada yang Salah Bunda

adorable-baby-black-and-white-2015884

Bun, kegiatan menyapih untuk Bunda tentu menjadi momen yang berat. Terlebih bagi para Bunda yang baru pertama memiliki anak. Belum lagi proses menyapih pun sangat menguras fisik, pikiran, hingga emosi. Momen seperti tak tega pada buah hati, akhirnya membuat Bunda kian mengulur waktu proses menyapih si kecil.

Biasanya, anak sudah bisa mulai disapih di usia empat tahun dua bulan. Bagi Bunda yang sedang kebingungan mencari cara menyapih yang tepat, berikut ini ada metode yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Tapi yang terpenting menurutnya, anak tidak boleh dipaksa terlalu keras untuk disapih, dan Bunda juga harus siap. Jika Bunda masih belum tega, maka tandanya Bunda belum siap

Pastikan Bunda Melakukan Proses Tersebut Secara Perlahan dan Bertahap

Cara pertama yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan mengurangi frekuensi menyusu anak. Misalnya, jika biasanya si kecil akan menyusu setiap 2 atau 3 jam sekali. Cobalah memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam. Cara ini mungkin akan sulit di awal, yang penting Bunda harus konsisten. Prinsipnya, jangan menawarkan dan jangan mengomelinya juga Bun saat ia masih kesulitan melepaskan kebiasaan menyusu dari payudara Bunda. Intinya, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Pastikan Komunikasi dengan Anak Berjalan Dua Arah

Apapun cara yang Bunda terapkan saat proses menyapih, yang penting jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan dengan si anak ya Bun. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.

Alihkan Perhatian Si Kecil Semampu Bunda

Menyapih si kecil butuh skill dan keteguhan dari Bunda. Salah satunya keahlian mengalihkan perhatian si kecil. Misalnya, ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara.

Bila ia mengeluhh haus, Bunda bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang Bunda berikan lewat gelas. Atau, Bunda juga bisa memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Satu hal yang penting, hindari penggunaan dot ya Bu.

Bunda Juga bisa Melibatkan Ayah Dalam Proses Ini ya 

Bun, jangan lupa untuk melibatkan ayah dalam proses bonding dengan buah hatinya. Selama ini si kecil mungkin bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak.  Di momen semacam inilah ayah bisa membantu mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.

Dan yang Paling Penting, Usahakan Kondisi Si Kecil Memang Sudah Siap untuk Disapih

Yang terpenting, hindari proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Bunda juga sebaiknya tunda dulu proses menyapih.  Jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

Memang kita akan menemukan banyak sekali dilema dan pertimbangan matang saat hendak menyapih anak, namun bila saatnya sudah tepat dan metode Bunda pun diterima anak, maka si kecil akan mengerti bahwa memang saat itulah yang tepat untuk tak lagi menyusu dari Bundanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Mari Belajar Dari Kasus Balita di Bangkok yang Diberi Gawai Setiap Hari Sejak Usia Dua Tahun

eyes

Kejadian mengerikan harus dialami seorang balita berusia 4 tahun di Bangkok, Thailand lantaran ia harus menjalani operasi mata di usia yang sangat muda. Hal ini dipicu karena kebiasaan buruknya yakni bermain ponsel. Sang ayah, Dachar Nuysticker Chuayduang membagikan kronologi musibah yang menimpa putrinya di Facebook. Dachar mengaku melakukan sebuah kesalahan ketika ia mengenalkan putrinya pada ponsel dan iPad saat usianya baru 2 tahun.

Gadis kecil itu akhirnya kecanduan bermain gawai. Bahkan ia akan kesal dan menjerit bila tak diberi izin main ponsel. Agar putrinya tak lagi menjerit dan menangis, akhirnya Dachar membiarkannya menggunakan perangkat seluler. Bahkan saat Dachar sibuk bekerja, ia tampak memberikan gawai ke anaknya agar tak rewel. Ironisnya, hal ini membuat penglihatan sang anak makin lama semakin memburuk.

Setelah melakukan pemeriksaan, ia diharuskan menggunakan kacamata. Namun masalahnya tak berhenti disitu, yang terjadi justru penglihatannya terus menurun. Dokter mengatakan dia harus menjalani operasi mata untuk memulihkan penglihatannya, jika tidak matanya bisa buta.

Menurut hasil diagnosis dokter, balita tersebut menderita mata malas dengan satu mata miring atau juling, salah satu komplikasi paling serius dari miopi dan astigmatisme. Jika kondisi ini terus berlangsung, mata anak itu tidak akan bisa pulih.

Para peneliti di Korea Selatan mengungkapkan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet beresiko besar mengalami mata juling sementara. Selain durasi pemakaian yang terlalu sering, jarak yang terlalu dekat dengan mata kemungkinan menjadi penyebab gangguan juling atau mata yang tidak searah.

Balita tersebut pun mau tak mau harus melewati operasi mata. Kini tugas orangtuanya adalah membatasi waktu anaknya untuk tak bermain gaway atau menonton layar televisi lantaran cahaya yang dipancarkan perangkat ini pun akan mempengaruhi matanya.

Bunda perlu belajar dari kasus ini dimana anak kecil sebaiknya jangan dulu dikenalkan pada gawai di usianya yang terlalu dini. Lebih jauh lagi, penyakit mata malas terjadi ketika salah satu mata tidak berkembang dengan benar, misalnya salah satu mata rabun jauh dan yang lainnya tidak. Hal ini membuat otak kebingungan karena menerima dua visual yang membingungkan yakni gambar yang buram dan jelas. Pada akhirnya, otak pun jadi bekerja ekstra dan memilih gambar yang lebih jelas dan menghiraukan visual yang kabur.

Kondisi ini, bila dibiarkan tanpa penanganan, maka bisa memperbesar peluang si kecil mengalami kerusakan mata permanen saat usianya memasuki 6-10 tahun. Parahnya, kondisi ini pun dapat menyebabkan kebutaan pada mata malas karena otak mengabaikan rangsangan yang dikirim dari bagian mata tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Begini Cara Tepat Saat Meghadapi Anak yang Cerewet

beautiful-child-childhood-1805843

Sebagian orangtua merasa senang apabila anaknya aktif berbicara. Namun ada pula yang pusing ketika sang buah hati terus-terusan berbicara. Satu pertanyaan belum selesai dijawab oleh Bunda, tapi sudah muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Sampai akhirnya Bunda dibuat kewalahan karena munculnya banyak pertanyaan dari si kecil.

Lantas, bagaimana cara menghadapi anak yang cerewet agar tak bertanya ‘kenapa’ terus menerus? Ini dia tipsnya, Bun:

Tetap Dengarkan Setiap Perkataannya Sepenuh Hati

Bun, saat si kecil terus bicara, rasanya memang menjengkelkan. Tapi jangan sampai Bunda mendiamkannya. Ketika si kecil mulai banyak bicara, ketahuilah bahwa hal tersebut merupakan kemampuan intelektual dari anak tersebut.

Karenanya, luangkan waktu sejenak dan posisikan diri Bunda sejajar dengannya, lalu tatap mata anak dan dengarkan ia berbicara dengan sepenuh hati. Jangan lupa, tunjukkan ketertarikan Bunda dengan segala celoteh atau pertanyaan kecil yang dilontarkan pada Bunda.

Saat si anak merasa didengarkan oleh orangtuanya, maka kemungkinan besarmereka tumbuh besar akan berbicara hal-hal apa saja yang mereka hadapi.

Hargai Si Kecil dan Tak Perlu Membatasi Pembicaraannya

Di usianya, anak senang berbagi hal-hal apa pun dan perasaannya dengan Bunda.Lalu ia akan mulai mendekati dan menanyakan apa saja yang ingin diketahuinya. Bila sudah demikian, maka sebaiknya jangan pernah menyuruh si kecil berhenti bicara. Karena ia malah akan menjauhkan diri dan dapat menyembunyikan apa pun dari orangtuanya.

Sebab kalau bunda justru merasa kesal lantaran ia terlalu cerewet, bisa jadi hal ini memunculkan trauma pada anak sehingga ia enggan bercerita kembali. Oleh karenanya hargai setiap cerita atau pertanyaan yang dilontarkan anak. Dengan menghargai pertanyaan anak, mereka akan memupuk rasa percaya dirinya.

Tak Perlu Emosi ya Bun, Tetaplah Bersikap Tenang

Seiring dengan usianya, anak-anak jadi terlalu aktif berbicara sampai tak kenal tempat dan waktu. Di momen seperti inilah Bunda mulai kehilangan kesabaran dan rentan membentak. Alih-alih anak terus mengoceh, orangtua dapat memberikan pengertian dengan penuh kesabaran. Jangan terpancing emosi hanya karena ia terus berbicara. Usahakan tidak memarahi apalagi membentaknya untuk diam. Selalu sikapi tumbuh kembangnya dengan tenang dan tersenyum ya, Bun.

Bila Si Anak Memiliki Banyak Pertanyaan, Jawablah Sebisa Bunda

Seringkali orangtua akan menerima banyak pertanyaan ‘kenapa’ dari si kecil. Percayalah, mereka tak akan berhenti sebelum akhirnya mendapatkan jawaban dari Bunda. Hal ini lantaran mereka semakin ingin tahu banyak hal. Karenanya, orangtua pun perlu menanggapi dan menjawab setiap kali ia bertanya-tanya. Bunda bisa menjawab dengan tegas dan detail menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti.

Dan Jangan Lupa untuk Selalu Melatih Si Kecil Agar Tetap Tenang Sejenak

Saat si anak terus berbicara dan enggan berhenti, latih si kecil untuk mengendalikan diri agar ia bisa tenang sejenak terutama bila Bunda dan ia sedang berada tempat umum. Latihlah ia agar tenang selama 15 menit secara bertahap dan konsisten.

Namun apabila ketika berada di tempat umum seperti tempat ibadah, Bunda dapat menepuk punggungnya atau memberi kode dengan menaruh jari telunjuk ke bibir agar diam sejenak sewaktu ia terus menginterupsi pembicaraan orang.

Ya, anak yanng gemar bicara rentan menyela saat ada orang dewasa yang tengah berdialog. Hal tersebut tentu tidak baik, Bun. Dengan cara ini, maka bisa dijadikan sebuah larangan untuknya agar mereka tidak berbicara tanpa tahu tempat maupun waktu lagi dan anak pun terbiasa memiliki waktu-waktu tenang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top