Parenting

Lima Aturan Mendidik anak Tunggal Agar Lebih Mandiri

pexels-photo-1438511

Anak tunggal alias anak satu-satunya identik dengan sifat manja, egois, dan sulit bersosialisasi. Mereka sering dianggap tidak bisa mandiri dan ingin menang sendiri. Padahal, semua itu tergantung pola asuh yang diberikan orang tua.

Jika orang tua tidak bisa mendidik anak tunggal, karakter negatif lah yang menguasai dirinya. Sebaliknya, bila mereka dididik dengan benar, justru akan terbentuk pribadi yang kreatif, ceria, bahkan berprestasi dan pandai bergaul.

Dengan pola didikan yang tepat, anak tunggal justru akan mudah mendapatkan banyak teman karena dia merasa sendirian. Nah, bila Bunda memiliki anak tunggal, terapkan prinsipp-prinsip berikut ini saat mendidik si anak tunggal supaya mereka bisa tumbuh jadi manusia yang mandiri dan disiplin.

Berikan Tanggung Jawab

Ya, memiliki anak tunggal tak lantas Bunda terus memanjakannya sepanjang waktu. Bunda pun harus memberikannya tugas supaya rasa tanggung jawabnya terbentuk ya Bun. Sebagai contoh, berikan si kecil tugas untuk menyiram bunga setiap sore. Ketika dia sudah menuntaskan pekerjaannya, berikan ucapan terima kasih. Begitu pun saat anak bersedia membereskan mainannya, ungkapkan apresiasi Anda.

Ajak Anak saat Silaturahmi ke Rumah Teman

Salah satu hal yang perlu dihindari jauh-jauh oleh si anak tunggal adalah menutup diri dari pergaulan atau pertemanan di sekitarnya. Sebagai orangtua, bila Bunda mulai melihat adanya indikasi semacam ini, cobalah mengajak anak ketika Bunda pergi ke rumah teman.

Ajarkan kepadanya tentang cara bersosialisasi dengan orang lain. Atau, Bunda juga bisa menjadwalkan kunjungan ke tempat yang berbeda setiap seminggu sekali. Dengan demikian, anak akan menjadi pribadi yang supel dan mudah beradaptasi.

Jangan Lupa, untuk Mulai Ajarkan Ia Tentang Berbagi dan Peduli pada Orang-orang yang Ada di Sekitarnya

Yang namanya mendidik anak tunggal tidaklah mudah. Tapi jangan sampai ia terbuai dengan segala fasilitas yang diberikan orangtuanya. Bagaimanapun, kelebihan anak tunggal adalah terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan tanpa harus berbagi.

Hal itulah yang membuat anak tunggal tumbuh menjadi pribadi egois. Tapi Bunda bisa mencegah kepribadian negatif tersebut agar tak muncul dengan mengajarkan peduli pada orang di sekitarnya. Misalnya, ketika ada pengamen, serahkan uangnya pada si kecil, biarkan dia yang memberikannya. Membiasakan si kecil untuk mengisi kotak sedekah di masjid juga bisa memicu empatinya.

Bijaklah Dalam Menuruti Kemauan si Kecil

Kebanyakan anak tunggal ingin kehendaknya selalu dituruti. Jika tidak, bisa-bisa mereka merajuk pada orang tuanya sampai mendapatkan sesuatu yang diminta. Biasanya, orang tua akan menuruti keinginan si anak karena takut kehilangan.

Namun, cara mendidik seperti ini tidak tepat. Nah, kalau Bunda mendidik anak tunggal dengan memanjakannya, dia akan menjadi pribadi yang lemah. Bunda dan ayah boleh menuruti keinginan anak ketika itu berhubungan dengan masa depannya. Misalnya, si anak ingin sekolah di SD favorit, saat inilah Bunda bisa mengikuti maunya. Pembentukan karakter bagi si anak tunggal sangatlah penting demi masa depannya. Karenanya, biarlah si kecil juga terbiasa mengeksplorasi kemampuannya.

Jangan sampai sebagai orangtua, Bunda cenderung protektif dan suka mengatur. Padahal, sikap seperti ini tidak baik untuk perkembangan anak tunggal. Justru, anak mengeksplorasi kemampuan dengan bermain bersama teman-temannya.

Selagi tindakannya positif, tak perlu mengeluarkan ultimatum. Izinkan dia melakukan hal-hal yang bermanfaat selama Bunda masih bisa mengawasinya secara wajar. Sikap orangtua yang terlalu mengekang akan membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan bergantung pada Bunda.

Dan Jadilah Teman dan Sahabat yang Baik untuk Si Kecil ya Bun

Lantaran tak memiliki saudara, mereka rentan didera perasaan kesepian. Biasanya, ketika memasuki usia 3 tahun, dia akan menyadari pentingnya kehadiran saudara kandung dalam hidupnya. Anak tunggal merasa hidup sendirian meskipun Bunda ada di sisinya.

Akibatnya, ketika dewasa, dia menutup diri dari lingkungannya. Nah, sebelum hal ini terlanjur, Bunda pun perlu mendidik dan berprinsip jika Bunda ini teman dan sahabat yang tepat untuk buah hati. Jadilah temannya yang pertama. Bermainlah bersama anak dan ajak berkomunikasi layaknya seorang teman. Dengan demikian, anak tidak lagi merasa sendirian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top