Hiburan Anak

Kurang Bijak Membawa Bayi ke Mal. Bayi Memiliki Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah

bayikemall

Di kota-kota besar, kebanyakan orang tua membawa bayi untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan ( mal). Padahal kurang kurang nijak membawa nayi ke mal. bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

bayikemallSeperti diungkapkan dr Meita Dhamayanti, SpA(K), MKes, seperti dikutif dari detikhealth.

“Rasanya kurang bijak jika membawa bayi yang terlalu kecil ke mal, karena diketahui negara kita masih banyak terdapat penyakit yang mudah menular melalui saluran udara.  Ada baiknya jika menghindarkan bayi masuk ke tempat yang ramai atau penuh dengan kerumunan orang. Karena bayi yang masih kecil memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah alias belum terlalu kuat.

Kapan bayi boleh diajak keluar rumah?

dr Meita menuturkan jika bayinya memang tidak memiliki risiko apapun, maka orangtua bisa membawa bayinya ke tempat keramaian setelah berusia 2 bulan. Saat bayi berusia 2 bulan, memorinya sudah ada dan juga sel-sel kekebalan tubuhnya sudah tumbuh meskipun belum optimal.

Meski pun bayi 2 bulan sudah mulai terbentuk kekebalan tubuhnya tapi  jangan terlalu sering atau lama membawa bayinya jalan-jalan.

Tidak disarankan bayi kecil diajak pergi

Akan tetapi jika tidak terlalu mendesak, sebaiknya jangan diajak bepergian. Mengapa tidak disarankan bayi kecil diajak pergi, ada beberapa alasan yang dikemukakan seperti dutulis tribunnews.com:

1. Bayi masih rentan

Perlu diingat, keadaan di luar rumah umumnya tidak “ramah” bagi bayi. Polusi dari asap rokok dan asap kendaraan serta kuman penyakit yang tersebar di mana-mana jelas tidak menguntungkannya. Ini disebabkan daya tahan tubuhnya masih sangat rendah, kekebalan tubuhnya pun belum terbentuk sempurna.

2. Kerepotan memberi ASI

Bayangkan seandainya si ibu sedang berada di tengah keramaian dan bayinya menangis karena kelaparan. Mau langsung membuka baju dan menyusui rasanya pasti tidak nyaman. Sementara mencari tempat khusus pun, tidak semua tempat umum/mal menyediakan fasilitas ini. Padahal semakin ditunda pemberian ASI, si bayi akan makin rewel. Maka itu, bayi kecil jangan diajak pergi.

3. BAK dan BAB yang relatif sering

Di usia bawah 6 bulan,  frekuensi BAK dan BAB bayi masih relatif sering, sekitar 10-12 kali sehari. Bahkan BAB sampai 10 kali sehari masih dalam batas toleransi. Makin sering minum ASI, BAB-nya pun makin sering. Seandainya mengajak bayi bepergian selama 3 jam saja, bisa bayangkan berapa kali harus mengganti popoknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Membuat Jadwal untuk Anak, Jangan Pisahkan Waktu Bermain dan Belajar Ya Bunda

4-Ketika-Waktu-Bermain_-Ayah-dan-Bunda

Bunda pasti ingin si buah hati tumbuh jadi anak yang disiplin. Wajar jika kemudian berusaha menanamkan sikap disiplin tersebut sedari dini. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah dengan membuatkan jadwal untuknya. Kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan bermain, kapan waktunya belajar dan sejumlah jadwal lainnya.

Tentunya membuat jadwal semacam ini tak salah. Tapi tahukah Bunda, khusus untuk si buah hati yang masih usia dini seharusnya jadwal bermain dan belajarnya tidak dipisah.

Meski Belajar itu Penting, Rasa Bahagia Anak Jauh Lebih Penting

1-Meski-Belajar-Itu-Penting-namun-Rasa-Bahagia

Kenapa demikian? Menurut Dr. Sofia Hartati., M.Si Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sangatlah penting untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak, memperkenalkan anak pada banyak hal, dan juga memberikan asupan nutrisi yang baik dan lengkap.

Namun, Dr. Sofia Hartati menambahkan, perlu diingat walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting bagi anak di usia dini. Untuk itu, sebisa mungkin belajar anak dilakukan sambil bermain.

Salah satu cerita menarik tentang belajar sambil bermain ini dialami sendiri oleh Albert Einstein. Salah satu peristiwa yang menginspirasinya terjadi ketika dia berusia 4 tahun dan ayahnya memberinya alat kompas untuk dimainkan. Einstein selama berjam-jam bermain dengan memutar-mutar kompas tersebut sambil penasaran kenapa jarumnya selalu menunjuk ke arah utara. Rasa penasaran dan kagumnya inilah yang dibawa Einstein hingga dewasa dan membuatnya menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.

Jika Bunda Menjadikan Satu Waktu Bermain dan Belajar, Minat Belajar Anak Bisa Meningkat

3-Jika-Bunda-Memisahkan-Waktu-Bermain-dan-Belajar

Berbeda dengan kita yang dewasa, si kecil justru akan lebih bisa konsentrasi jika waktu belajar dan bermainnya dijadikan satu. Beberapa penelitian menyebutkan soal ini. Salah satu yang sering menyuarakannya adalah Nancy Carlsson Paige, profesor bidang pendidikan dari Lesley University di Cambridge.

Menurutnya emosi anak akan lebih cepat berkembang jika ia tidak dikhususkan waktunya untuk belajar dan dibiarkan lebih banyak bermain. Dengan menjadikan satu waktu belajar dan bermain anak tidak akan mudah stres dan minat belajar dan konsentrasinya akan terus meningkat ketika ia dewasa kelak.

Pilih Permainan yang Mendukung Metode Belajar Sambil Bermain ini ya Bunda

5-Pilih-Permainan-yang-Mendukung-Metode-Belajar-

Nah, untuk mewujudkan pola bermain sambil belajar tentunya dibutuhkan perangkat dan mainan yang bisa mendukung hal tersebut. Permainan itu harus memberikan pengalaman yang menyenangkan sambil membantu si kecil belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge Indonesia ini menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Serunya lagi, permainan yang ada pada Kodomo Challenge akan melibatkan peran Bunda sebagai teman bermain bersama si kecil.

Keterlibatan Bunda dalam permainan si kecil ini penting. Menurut hasil penelitian Kathy Hirsh-Pasek and Roberta Michnick Golinkoff, peneliti pendidikan anak usia dini sekaligus pengarang buku best seller Becoming Brilliant: What Science Tells us About Raising Successful Children, keinginan anak untuk bermain meningkat jika ada orang dewasa yang ikut bermain bersamanya. Nah, sejalan dengan hal tersebut permainan yang ada di Program Edukasi Kodomo Challenge ini akan secara aktif melibatkan Ayah atau Bunda untuk ikut bermain bersama buah hati

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar Free Trial Kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari Free Trial Kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket Free Trial Kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan Free Trial Kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk, Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmati quality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top