Parenting

Ketika Anak Meminta Sesuatu dengan Memaksa dan Merengek, Sebaiknya Lakukan Hal ini

konsistensimendidikanak

Sebagai orang tua, kita tergerak oleh naluri untuk mencintai, memelihara, dan menyediakan apa yang anak-anak inginkan. Intinya, kita ingin membahagiakan mereka dan tentunya membuat kita disayangi oleh mereka.

Ketika anak memaksa dan merengek meminta sesuatu. Rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu.

Terkadang kita luluh atas permintaan anak dan mewujudkanya. Padahal sebaiknya  Jangan penuhi keinginan anak ketika dia merengek dan  tidak semua keinginan anak bisa kita wujudkan. Simak juga Ini 14 Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Mengabulkan Keinginan Anak.

selalumewujudkankeinginananak

Jika tak ingin mewujudkan keinginan anak, umumnya kita berusaha mengalihkan perhatian anak. Mungkin awalnya berhasil, tetap lama kelamaan anak sadar jika sedang dialihkan. Anak kemudia merengek lagi.

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten. Tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang berefikir demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang sama dengan kita.

Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak. Sekali kita konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah Konsisten dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

Lakukan Hal ini Ketika Anak Meminta Sesuatu dengan Memaksa dan Merengek

Ayah edy dalam dalam blognya  ayahkita.blogspot.co.id memberikan tipsnya: Ketika anak kita merengek stop semua aktivitas yang sedang kita lakukan; lalu

1. Dekati anak, pegang tangannya dan tatap matanya.

2. Katakan Sayang apa yang kamu inginkan, kalau kamu merengek bunda tidak tahu apa yang kamu mau.

3.  Jika dia tetap merengek, katakan pada oke kalau kamu tidak mau bicara, bunda akan carikan tempat yang tepat untuk mu merengek sampai kamu mau bicara.

4. Jika ia tetap merenget laksanakan janji kita bawa dia ketempat yang lapang dan sepi (agar tidak mengganggu orang) dan katakan padanya oke silahkan kami merengek disini. Sampai kamu mau bicara. Biarkan dia terus merengek jika pun itu memerlukan waktu lebih dari 30 menit.

5. Jika dia mulai mau bicara, dengarkan dengan seksama, dan jelaskan apakah yang ia minta itu bisa atau tidak kita penuhi.  Jangan berdalih, gunakan alasan yang logis dan masuk akal karena anak itu sangat logis dan cerdas.  Jika anda menggunakan alasan itu hanya akan membuatnya kembali merengek dan tidak percaya pada kita.

6.  Jika ternyata kita tidak bisa memenuhinya, tawarkan apa jalan keluarnya, dan sepakati bersama.

7.  Jika ia kembali merengek katakan padanya:  Oke silahkan kamu merengek lagi bunda akan tunggu kami sampai mau bicara baik-baik, tapi itu tidak akan merubah apapun.  Tapi jika kami bersikap baik mungkin bunda akan coba upayakan (solusi lainnya)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Membuat Jadwal untuk Anak, Jangan Pisahkan Waktu Bermain dan Belajar Ya Bunda

4-Ketika-Waktu-Bermain_-Ayah-dan-Bunda








Bunda pasti ingin si buah hati tumbuh jadi anak yang disiplin. Wajar jika kemudian berusaha menanamkan sikap disiplin tersebut sedari dini. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah dengan membuatkan jadwal untuknya. Kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan bermain, kapan waktunya belajar dan sejumlah jadwal lainnya.

Tentunya membuat jadwal semacam ini tak salah. Tapi tahukah Bunda, khusus untuk si buah hati yang masih usia dini seharusnya jadwal bermain dan belajarnya tidak dipisah.

Meski Belajar itu Penting, Rasa Bahagia Anak Jauh Lebih Penting

1-Meski-Belajar-Itu-Penting-namun-Rasa-Bahagia

Kenapa demikian? Menurut Dr. Sofia Hartati., M.Si Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sangatlah penting untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak, memperkenalkan anak pada banyak hal, dan juga memberikan asupan nutrisi yang baik dan lengkap.

Namun, Dr. Sofia Hartati menambahkan, perlu diingat walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting bagi anak di usia dini. Untuk itu, sebisa mungkin belajar anak dilakukan sambil bermain.

Salah satu cerita menarik tentang belajar sambil bermain ini dialami sendiri oleh Albert Einstein. Salah satu peristiwa yang menginspirasinya terjadi ketika dia berusia 4 tahun dan ayahnya memberinya alat kompas untuk dimainkan. Einstein selama berjam-jam bermain dengan memutar-mutar kompas tersebut sambil penasaran kenapa jarumnya selalu menunjuk ke arah utara. Rasa penasaran dan kagumnya inilah yang dibawa Einstein hingga dewasa dan membuatnya menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.

Jika Bunda Menjadikan Satu Waktu Bermain dan Belajar, Minat Belajar Anak Bisa Meningkat

3-Jika-Bunda-Memisahkan-Waktu-Bermain-dan-Belajar

Berbeda dengan kita yang dewasa, si kecil justru akan lebih bisa konsentrasi jika waktu belajar dan bermainnya dijadikan satu. Beberapa penelitian menyebutkan soal ini. Salah satu yang sering menyuarakannya adalah Nancy Carlsson Paige, profesor bidang pendidikan dari Lesley University di Cambridge.

Menurutnya emosi anak akan lebih cepat berkembang jika ia tidak dikhususkan waktunya untuk belajar dan dibiarkan lebih banyak bermain. Dengan menjadikan satu waktu belajar dan bermain anak tidak akan mudah stres dan minat belajar dan konsentrasinya akan terus meningkat ketika ia dewasa kelak.

Pilih Permainan yang Mendukung Metode Belajar Sambil Bermain ini ya Bunda

5-Pilih-Permainan-yang-Mendukung-Metode-Belajar-

Nah, untuk mewujudkan pola bermain sambil belajar tentunya dibutuhkan perangkat dan mainan yang bisa mendukung hal tersebut. Permainan itu harus memberikan pengalaman yang menyenangkan sambil membantu si kecil belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge Indonesia ini menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Serunya lagi, permainan yang ada pada Kodomo Challenge akan melibatkan peran Bunda sebagai teman bermain bersama si kecil.

Keterlibatan Bunda dalam permainan si kecil ini penting. Menurut hasil penelitian Kathy Hirsh-Pasek and Roberta Michnick Golinkoff, peneliti pendidikan anak usia dini sekaligus pengarang buku best seller Becoming Brilliant: What Science Tells us About Raising Successful Children, keinginan anak untuk bermain meningkat jika ada orang dewasa yang ikut bermain bersamanya. Nah, sejalan dengan hal tersebut permainan yang ada di Program Edukasi Kodomo Challenge ini akan secara aktif melibatkan Ayah atau Bunda untuk ikut bermain bersama buah hati

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar Free Trial Kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari Free Trial Kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket Free Trial Kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan Free Trial Kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk, Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmati quality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Sebetulnya Bagaimana Memilih Mainan Yang Tepat Untuk Si Buah Hati?

1-Sebetulnya-Bagaimana-Memilih







Fitri ibu muda dengan anak usia 1 tahun. Ia sangat antusias karena baru saja membelanjakan sejumlah uangnya untuk membeli mainan untuk anaknya. Namun sesampainya di rumah ia pun harus gigit jari menerima kenyataan, si kecil enggan bermain dengan mainan yang sudah dibeli.

Tentu banyak ayah dan bunda yang mengalami keluhan serupa. Sudah banyak beli mainan, si kecil malah tak mau memainkannya. Sebaliknya mainan yang akhirnya diminati si kecil, tak jarang bikin kita khawatir apakah mainan tersebut sudah aman untuknya.

Kekhawatiran ini kerap terjadi karena ayah dan bunda belum memahami apa saja yang sebetulnya dibutuhkan si kecil. Lantas apa yang harus dilakukan ketika memilih mainan?

Luangkan Waktu untuk Membaca Aturan Penggunaan Mainan Anak

2-Luangkan-Waktu-untuk-Membaca-Aturan

Mainan yang baik untuk si kecil selalu disertai dengan aturan penggunaan. Tapi coba jujur, berapa banyak dari Ayah Bunda yang tak membaca aturan-aturan ini? Padahal ini langkah pertama terpenting yang harus dipahami sebelum memberikan mainan untuk anak.

Sebagian mainan menuliskan peraturan ini di kemasan luarnya. Karena itu sebelum terburu-buru membuka kemasannya pastikan dulu kita sudah membaca segala peraturan ini. Sebab bukan tak mungkin tulisan yang terdapat dalam aturan ini, raib begitu kita menyobek kemasannya.

Untuk si Buah Hati yang Masih Kecil, Perhatikan Betul Ukuran Mainannya ya Bunda

3-Untuk-Si-Buah-Hati

Untuk Bunda yang memiliki bayi dengan usia di bawah 2 tahun dan ingin memberikan mainan, salah satu hal yang harus Bunda perhatikan adalah ukuran dari mainan tersebut. Pilihlah mainan dengan ukuran yang sedikit lebih besar, paling tidak memiliki diameter 3 cm dan panjang 6 cm agar mainan tersebut tidak tertelan oleh si kecil.

Bentuk mainan juga tidak boleh diabaikan ya Bun! Untuk itu Bunda pun perlu menghindari mainan berbentuk koin, kelereng, ataupun bola-bolaan yang terlalu kecil. Jenis mainan seperti ini rawan untuk dimasukkan ke dalam mulut. Tak hanya karena kuman yang masuk ke mulut, jenis mainan seperti ini akan sangat membahayakan si kecil jika sampai tertelan.

Sesuaikan Mainan dengan Usia Anak agar Ia Berminat Memainkannya

4-Sesuaikan-Mainan-dengan-Usia-Anak

Perlu Bunda tahu bahwa anak terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, termasuk perkembangan otak, motorik, dan sensor-sensor lainnya. Hal inilah yang dijadikan sebagai dasar untuk menentukan apakah mainan tersebut sesuai dengan usia buah hati atau tidak.

Keliru memilih mainan, bisa jadi anak akan enggan memainkannya karena tak sesuai dengan kemampuan dan perkembangannya. Contoh misalnya ketika usia anak memasuki 3 hingga 6 bulan, maka kemampuan yang sedang dikembangkannya adalah keterampilan menggenggam dan menggigit. Untuk itu, jenis mainan yang tepat untuk anak di usia ini adalah mainan yang bisa digenggam dan digigit.

Sementara saat menginjak usia 12 bulan hingga 2 tahun, kemampuannya untuk bergerak lebih banyak, tengah diasahnya. Saat itu anak sudah bisa berjalan sendiri sehingga secara otomatis jenis mainan yang digunakannya pun akan semakin rumit.

Untuk itu, anak dengan usia tersebut membutuhkan jenis mainan seperti gambar-gambar yang berwarna-warni, balok, bongkar pasang, boneka, air, dan juga mainan yang dapat ditarik dan didorong. Jenis-jenis mainan seperti ini akan merangsang kemampuan motorik anak agar dapat berjalan dengan baik.

Tentunya Akan Sangat Baik jika Mainan Anak Bisa Sekaligus sebagai Materi Belajar Mereka

5-Tentunya-Akan-Sangat-Baik-Jika-Mainan

Nah, pastinya akan sangat maksimal seandainya mainan anak bisa juga berfungsi sebagai materi belajar mereka. Namun, perlu juga diingat bahwa walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting di masa anak-anak. Untuk itu, sebisa mungkin pilih mainan yang bisa memberikan pengalaman menyenangkan sambil membantunya belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Memulai pembelajaran lewat media yang disukai akan memicu ketertarikan anak terhadap program dan kurikulum Kodomo Challenge, sehingga menghasilkan pengalaman yang menyenangkan.

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan free trial kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar free trial kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD, serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari free trial kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket free trial kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan free trial kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmatiquality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Terkesan Sepele, Namun 5 Kesalahan Dalam Mendidik Anak Ini Bisa Berakibat Buruk Untuk Buah Hati Bun

pexels-photo-532508

Anak adalah amanah dari Tuhan yang wajib kita jaga. Mendidik anak dengan sebaik-baiknya adalah salah satu wujud untuk menjalankan amanah tersebut. Dan langkah awal untuk mendidik anak dengan baik harus dimulai dari keluarga. Sebab keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak. Sebelum anak mengenal para tetangganya, teman-teman yang ada di sekitar rumahnya, dan bangku sekolah, anak lebih dulu dididik oleh keluarganya. Untuk itulah keluarga ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik anak.

Namun tidak sedikit orangtua yang melalaikan kewajiban mendidik anak. Malah ada beberapa orangtua yang justru memberikan contoh yang kurang baik dalam mendidik anaknya. Dan ketika anak-anak mereka sudah menjadi seorang dewasa yang memiliki perilaku kurang baik, barulah sibuk menyalahkan sana-sini. Untuk itu sebelum terlanjur, inilah beberapa cara salah mendidik anak yang perlu diketahui oleh para orangtua.

Menakut-nakuti Anak Hanya Akan Membuatnya Tumbuh Menjadi Sosok Penakut

Menangis merupakan aktivitas yang sepertinya tidak bisa dilepaskan dari anak-anak. Maka tak heran, jika setiap harinya anak menangis beberapa kali. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai orangtua, Bunda dapat menghentikan tangisannya. Namun tidak seharusnya pula dengan cara menakut-nakuti. Beberapa orangtua menggunakan hantu, suara angin, gelap, dan lain sebagainya untuk menakut-nakuti anak. Akibatnya anak pun akan menjadi seorang yang penakut. Dia akan takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti.

Mendidik Anak Hingga Membuatnya Kelewat Berani Juga Tak Tepat Bun

Memang menjadikan anak sebagai seorang penakut adalah hal yang salah. Namun mendidiknya menjadi anak yang terlalu berani pun juga salah. Anak yang terlalu berani akan menjadi seorang yang congkak dan sombong. Untuk itu, didiklah anak sesuai dengan porsinya. Misalnya Bunda boleh menjelaskan anak untuk takut terhadap binatang buas, takut berbohong, takut membolos, berani berbuat baik, dan menyampaikan kebenaran. Namun jangan didik anak unuk kelewat berani tanpa memperhitungkan resikonya ya Bun.

Bunda Mungkin Sangat Sayang Pada Si Kecil, Tapi Menuruti Semua Permintaannya Justru Akan Berpengaruh Buruk Padanya

Karena besarnya rasa sayang orangtua kepada anaknya ,membuat apa pun yang diinginkan oleh anak selalu dipenuh. Ini adalah cara yang salah. Cara mendidik yang demikian akan membuat anak menjadi seorang yang manja. Hal itu terjadi karena semua keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtuanya. Selain itu, cara ini pun bisa menjadikan anak pemboros dan nantinya tidak dapat mengatur keuangan dengan baik.

Untuk itu, penuhilah keinginan anak sesuai dengan kebutuhannya Bun. Belum tentu apa yang diminta oleh anak adalah sesuatu yang dibutuhkannya saat itu. Sebagai orangtua, Bunda tentu bisa bisa mengetahui mana yang menjadi kebutuhan anak atau sekedar keinginannya saja.

Menggunakan Kekerasan Untuk Mendidik Anak Bukanlah Hal Yang Patut Dilakukan

Ternyata mendidik anak dengan kekerasan bisa berpengaruh buruk kepada kejiwaan anak. Mendidik anak dengan tegas memang diperlukan. Namun mendidik anak dengan tegas dan mendidik anak dengan kekerasan adalah dua hal yang jauh berbeda. Sebisa mungkin Bunda harus menghindari mendidik anak dengan kekerasan, apa lagi jika Bunda melakukan kekerasan tersebut sebagai pelampiasan amarah saja.

Kurang Memberikan Kasih Sayang Pada Buah Hati Dan Membuatnya Tak Nyaman Berada Di Rumah

Beberapa orangtua memiliki anggapan bahwa yang dibutuhkan oleh anak adalah uang jajan yang banyak, hp, baju yang bagus, kendaraan, dan hal-hal yang berhubungan dengan materi lainnya. Padahal selain materi, anak-anak juga membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya. Jika anak-anak kurang mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, maka mereka kemungkinan akan mencari kasih sayang di luar rumahnya. Akibatnya mereka pun terjerumus dalam pergaulan bebas, obat-obatan terlarang, dan hal-hal buruk lainnya. Untuk itu, berikan kasih sayang kepada anak-anak agar mereka merasa nyaman saat berada di rumah.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top