Kesehatan Ibu & Anak

Keterlambatan Si Kecil dalam Berjalan Tak Selalu Berarti Buruk

rsz_ismail-taibi-408252

Kemampuan si kecil dalam berjalan jadi salah satu indikasi dari tumbuh kembangnya. Namun bagaimana jika ternyata dia masih belum bisa berjalan saat anak-anak seusianya sudah berjalan?

Sebagai orangtua kita tentu menginginkan buah hati bisa berkembang dengan baik. Namun faktanya, perkembangan motorik khususnya kemampuan berjalan usia normal anak dapat berjalan sebenarnya berbeda-beda, mulai dari usia 9 hingga 18 bulan Bunda.

Brenda Nixon, seorang ahli parenting, pada salah satu jurnalnya pernah berkata bahwa “Jika seorang bayi belum bisa berjalan pada akhir usia 18 bulan, bisa jadi karena beberapa alasan, seperti: kurangnya kesempatan dan latihan, genetik, atau temperamen.”

Nah, agar Bunda tak terlalu khawatir, mari kita pahami masalah tersebut mulai dari sini!

Bunda Bisa Memulainya Dengan Kembali Mengingat Bagaimana Tumbuh Kembang Si Kecil Sejak Terlahir Ke Dunia

rsz_daniela-rey-357038

Setiap anak hadir dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangannya. Ini akan jadi sesuatu yang sangat wajar tentunya. Tapi sebagai orangtua, Bunda tak perlu terlalu cemas. Keresahan ini bisa kita atasi dengan pelan-pelan mencari solusi.

Coba ingat dulu, berapa usianya ketika anak sudah mampu duduk dengan tegak. Jika ternyata dulu si kecil juga mengalami keterlambatan motorik dalam kemampuan untuk duduk, hal ini tentu akan berpengaruh pada kemampuannya untuk berjalan.

Hal lain yang kerap mempengaruhinya, mungkin dikarenakan anak fokus mengembangkan diri pada kemampuan lain. Seperti kemampuan berbicara, mendengar, dan memerhatikan sekelilingnya.

Kemungkinan Si Kecil Memang Ada Kelainan Untuk Beberapa Penyakit Tertentu

rsz_1feliphe-schiarolli-420093

Beberapa anak lahir dengan cara yang tak biasa. Katakanlah si kecil mungkin lahir secara caesar dan prematur. Tak hanya pada masa awal kelahirannya saja, hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Coba Bunda ingat-ingat dulu apa saja hal-hal yang pernah si kecil derita. Seperti beberapa penyakit tertentu, hingga kelainan lain yang memang jadi salah satu penyebab tumbuh kembangnya menjadi tidak normal.

Dimana kelainan tersebut mempengaruhi kemampuan otot kakinya untuk menopang tubuhnya saat berdiri dan berjalan. Bunda hanya perlu paham apa yang sedang dialami si kecil, untuk kemudian bisa memberinya penanganan yang tepat.

Tapi Lingkungan Eksternal Juga Bisa Jadi Salah Satu Pemicunya

rsz_janko-ferlic-153521

Suatu kali si kecil sudah pernah menunjukkan kemampuannya untuk bisa berdiri dan kemudian berjalan. Tanpa disadari dia terjatuh hingga membuatnya terluka. Selain membuatnya merasakan sakit, kejadian tersebut kadang menimbulkan trauma baginya. Sehingga pada masa tertentu anak pun jadi belum ingin melakukan hal yang sama lagi.

Tak berhenti disitu saja, pemicu yang datang dari lingkungan bisa terjadi saat Bunda mengandungnya. Nutrisi dan kebutuhan gizi yang tak terpenuhi saat masa kehamilan, jadi salah satu hal yang berpengaruh pada kemampuan berjalannya.

Atau Untuk Saat Ini Dirinya Mungkin Masih Lebih Merasa Nyaman Jika Tetap Tengkurap

rsz_daniela-rey-357045

Keinginan si kecil sebenarnya jadi salah satu faktor yang paling berpengaruh untuk kemampuan berjalannya. Karena biar bagaimana pun, usaha dari luar akan menjadi tak efektif jika ternyata si kecil masih belum ingin berdiri dan berjalan. Tentu semuanya akan sia-sia saja.

Kadang kala, ada sosok anak yang nampaknya lebih suka berbaring, atau merangkak untuk menggerakkan tubuhnya. Karena dia hanya akan bangkit dan berdiri, jika dirasa sudah cukup kuat untuk menopang tubuhnya.

Tak ada yang bisa kita lakukan selain, tetap memberinya semangat dan pengertian untuk berjalan. Dan jangan lupa untuk tetap memberikan buah hati makanan serta nutrisi yang akan membantu tumbuh kembangnya.

Dan Sebagai Orangtua, Kita Jadi Pihak Yang Paling Bertanggung Jawab Untuk Menanganinya

pexels-photo-235243

Barangkali syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarafnya belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik belum terbentuk dengan sempurna. Meski teman sesuainya sudah mampu berjalan dan berlari, Bunda tak boleh menjadikan anak lain sebagai acuan. Karena setiap anak tentu berbeda. Wajar memang jika akan hal tersebut membuat kita khawatir dan was-was. Tapi tak perlu takut secara berlebihan.

Justru Bunda harus tetap mengawasi tumbuh kembanganya. Memberinya nutrisi yang cukup dengan porsi yang memang dia butuhkan. Sembari mulai mengajarinya untuk kembali berdiri dan melangkahkan kakinya.

Meski Begitu Biarkan Buah Hati Tumbuh Sesuai Dengan Keinginannya Ya Bun!

rsz_thiago-cerqueira-191866

Jangan dipakasa, dia akan berjalan jika sudah waktunya!

Meski kata-kata ini terdengar sangat pasrah, bukan berarti kita tak akan berusaha. Tapi cara terbaik untuk melatihnya memang dengan memberinya kebebasan memilih. Kapan anak akan mulai berdiri dan berjalan.

Ingat, dia hanyalah anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Bisa jadi menurutnya, berjalan bukanlah kewajiban. Disini peran kita sebagai orangtua dibutuhkan. Tetap berikan dirinya pengertian untuk hal-hal yang memang seharusnya dilakukanya.

Jika Bunda sudah tahu, apa yang memang menyebabkan si kecil delayed walking. Tentu tahu apa penanganan yang memang seharusnya dilakukan. Tetap berada di sampingnya untuk memberi dukungan dan stimulasi lewat makanan dan nutrisi. Bantu pula dia untuk menghilangkan keraguannya. Tetap Semangat Bunda!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Agar Anak Makin Nyaman Belajar, Siapkan Gadget Ini Saat Dia Kembali Masuk Sekolah Bun

child-1822471_640

Libur telah tiba. Anak-anak pun antusias menikmati liburan. Untuk sejenak mereka tak lagi menjalani rutinitas belajar di sekolah. Bunda tentu juga telah menyiapkan agenda seru agar liburan terasa menyenangkan bukan? Meski begitu, sebaiknya Bunda pun meluangkan waktu untuk menyiapkan gadget-gadget yang akan kembali dibutuhkan si kecil begitu liburan usai.

Keberadaan gadget tersebut tidak bisa dianggap remeh, sebab bisa digunakan untuk memantau keberadaan buah hati dan juga digunakan anak untuk menunjang proses pembelajarannya. Lalu apa sajakah gadget-gadget yang dibutuhkan anak?

Jam Tangan Pintar Untuk Memantau Keberadaan Anak

Keamanan anak menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan orangtua. Apa lagi baru-baru ini banyak berita adanya penculikan terhadap anak sekolah. Hal itu membuat orangtua semakin khawatir dan cemas akan keberadaan anak-anaknya. Maka akan lebih baik jika orangtua bisa memberikan jam tangan yang memiliki fitur untuk mengetahui lokasi anak. Dengan demikian Bunda pun bisa lebih tenang.

Bekali Anak Dengan Handphone, Namun Sebaiknya Bunda Tidak Memberinya Smartphone

Menurut seorang psikolog anak dan remaja, anak yang berusia 10 tahun sudah boleh dibekali dengan gadget. Maka dari itulah, kita sebagai orangtua bisa memberikan gadget pada anak ketika dia duduk di bangku sekolah dasar sesuai kebutuhannya. Karena kebutuhan akan gadget masih sebatas untuk mengetahui keberadaan anak dan melakukan komunikasi dengan Bunda, maka memberinya smartphone sebenarnya belum terlalu dibutuhkan.

Komputer atau Laptop Juga Tak Kalah Penting. Lengkapi Juga Dengan Printer ya Bun!

Dizaman sekarang ini, anak yang duduk dibangku sekolah dasar sudah membutuhkan laptop atau komputer untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Maka, orangtua sebaiknya memberikan komputer atau laptop untuk anak mengerjakan tugas sekolahnya. Namun dengan catatan, jangan diletakan di kamar anak, melainkan letakanlah di ruang keluarga atau kamar Bunda. Dengan demikian Bunda bisa mengecek apa saja yang telah diakses oleh anak saat berselancar di dunia maya.

Bunda sebaiknya juga menyiapkan printer demi kelancaran anak mengerjakan tugass. Sebab banyak tugas yang harus dikerjakan dengan komputer kemudian dicetak. Sebagai contoh saja, ketika anak memiliki PR untuk membuat silsilah keluarga dan diminta mengumpulkannya dalam bentuk hard copy, maka tentu harus dicetak dengan menggunakan printer.

Sebaiknya Bunda pun Menyediakan Koneksi Internet atau Modem

Sekarang ini sudah zamannya serba online, maka koneksi internet juga sangat diperlukan oleh anak. Namun meski demikian, kita sebagai orangtua harus benar-benar ketat memantau kondisi anak saat dia mulai mengoperasikan internet, sebab jika dibiarkan akan sangat berbahaya. Selain itu, jika kita tidak memantaunya, dikhawatirkan anak akan membuka hal-hal yang tidak mendidik. Misalnya membuka game atau mengakses tayangan yang tidak layak untuk anak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak perlu dibekali dengan gadget, tetapi kita sebagai orangtua wajib untuk memantau penggunaannya. Hal itu dimaksudkan supaya anak-anak kita tak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya sampai kecanduan gadget atau game online hingga tak mau belajar. Oleh karena itu peran aktif orangtua untuk mengontrol anak dalam hal penggunaan gadget sangat dibutuhkan

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Benarkah Kopi Dapat Mencegah Step Pada Anak?

pexels-photo (1)

Ketika orangtua sedang minum kopi, biasanya mereka akan memberikan satu atau dua sendok kepada anaknya yang masih balita. Para orangtua zaman dulu sangat percaya, dengan memberikan minum kopi maka akan  menghindarkan anak dari step atau kejang-kejang. Kebiasaan memberikan minum kopi kepada anak, nampaknya memang sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat kita. Lalu bagaimana sebenarnya?

Anggapan Jika Memberikan Kopi Dapat Menghindarkan Anak Dari Step Ternyata Hanya Mitos, Bahkan Malah Membahayakan Anak

Padahal sejauh ini ternyata kabar tersebut masih mitos dan belum pernah ada penelitian yang bisa membuktikan anggapan tersebut, ungkap Dr. Rifan Fauzie, SpA. Lebih mengkhawatirkan lagi, ada beberapa orangtua justru memberikan anaknya kopi pada saat anak tersebut mengalami kejang, lanjutnya. Dr. Rifan mengungkapkan jika kondisi tersebut sangatlah berbahaya, karena ketika sedang kejang, kemampuan menelan anak akan terganggu.

Menurut dokter yang berpraktek di RSAB Harapan Kita ini, kopi yang diberikan ketika anak sedang kejang tidak akan masuk ke dalam pencernaan atau ke lambung, tetapi akan masuk ke dalam paru-paru. Nantinya kopi tersebut akan menimbulkan reaksi yang bisa mengakibatkan peradangan di paru-paru.

Memberikan Kopi Pada Anak Balita Justru Mendatangkan Lebih Banyak Efek Samping Ketimbang Manfaatnya Bun

Kopi yang telah dikonsumsi ternyata bisa merangsang sistem simpatik. Oleh karena itu, orang dewasa yang mengkonsumsi kopi akan mengalami jantung berdetak lebih cepat atau menyebabkan diare jika minum kopi berlebihan. Tentu hal itu juga berlaku pada anak balita yang telah diberi kopi meski jumlahnya tidak banyak atau sangat sedikit. Menurut Dr. Rifan, pada intinya memberikan kopi pada anak balita justru akan lebih banyak efek sampingnya jika dibandingkan dengan manfaatnya.

Untuk Mengatasi Anak Kejang, Bunda Harus Menurunkan Demamnya

Salah satu cara yang tepat untuk mengatasi anak kejang adalah dengan menurunkan demamnya, misalnya dengan cara mengompresnya menggunakan air hangat, memberikan minum yang banyak atau obat penurun demam. Oleh karena itulah sangat penting bagi para orangtua untuk memiliki termometer di rumahnya. Sehingga kenaikan suhu badannya bisa segera diketahui. Jika sudah mencapai suhu 37-38°C segeralah memberinya pertolongan.

Saat Anak Kejang, Usahakan Memindahkannya Ke Tempat Tidur Untuk Meminimalisir Resiko Terbentur Benda Keras

Jika si kecil terdapat riwayat  kejang pada demam sebelumnya, maka disarankan untuk menurunkan temperaturnya. Jika sudah mengalami kejang, maka Bunda juga harus cepat tanggap terhadap kondisi tempat kejadian demi meminimalisir resiko anak terbentur benda keras. Saat si kecil mengalami kejang pada saat bermain atau berada di lantai, maka berikanlah pengamanan bagi anak, misalnya dengan meletakan bantal atau sesuatu yang empuk di sekitarnya dan jika memungkinkan pindahkan anak ke tempat tidur.

Jadi Bun, Memberi Balita Kopi Bukanlah Upaya Tepat Untuk Mencegah Terjadinya Step Atau Kejang

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa memberi kopi bukanlah upaya yang tepat untuk mencegah terjadinya step atau kejang pada anak-anak balita. Hingga saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan khasiat dari kopi untuk pencegahan step atau kejang. Jadi daripada memberinya kopi, akan lebih baik bila Bunda berupaya agar demam anak bisa turun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Dear Calon Ibu; Begini Ciri Tempat Tidur yang Aman dan Nyaman untuk Bayi!

pexels-photo-266061

Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Termasuk dalam hal memilihkan tempat tidur untuk bayi. Apa lagi sebagian besar bayi memang akan menghabiskan waktunya di atas tempat tidur.

Dengan demikian, maka Bunda pun harus memilih tempat tidur yang aman dan nyaman untuk bayi. Mengingat bayi yang baru lahir bisa tidur selama 16-20 jam dalam sehari. Lantas bagaimana kriteria tempat tidur yang aman dan nyaman untuk bayi? Simak ulasan di bawah ini Bun!

Pilih Tempat Tidur Dengan Jarak Antar Bilah Kurang Dari 6 Cm Agar Kepala Bayi Tak Terselip Di Antara Bilah

Saat memilih tempat tidur untuk bayi Bunda juga harus memperhatikan keamanan bayi. Salah satunya dengan memperhatikan jarak antar bilah. Tentu akan sangat berbahaya bila kepala bayi terselip di antara bilah tempat tidurnya. Oleh karena itu, sebaiknya Bunda mengantisapasi hal itu dengan memilih tempat tidur yang jarak antar bilahnya kurang dari 6 cm.

Sebaiknya Hindari Tempat Tidur yang Bilahnya Bisa Dinaikan atau Diturunkan

Tempat tidur seperti ini sebaiknya Bunda hindari, karena terkadang bisa saja terjadi kesalahan ketika merakitnya dengan desain bilah yang semacam itu. Apabila salah dalam merakit, maka bayi bisa terjepit atau terjatuh pada saat sedang berpegangan pada bilah yang kurang kokoh.

Perhatikan Baut, Sekrup, Paku, dan Bahan-bahan Material Lainnya

Pastikan material tersebut terpasang dengan kencang supaya tempat tidur bayi bisa berdiri dengan kuat dan kokoh. Akan lebih baik jika Bunda rutin mengeceknya demi memastikan keamanan bayi. Sebab bukan tak mungkin jika pemasangan baut, sekrup, dan paku pada tempat bayi yang tidak sempurna bisa berakibat fatal pada buah hati.

Sangat Dianjurkan untuk Membeli Tempat Tidur yang Baru demi Kenyamanan dan Keamanannya

Perlu Bunda ketahui bahwa tempat tidur yang telah lama dibuat terkadang menggunakan cat yang mengandung bahan beracun, seperti halnya timah. Nah, untuk menghindari resiko tersebut, sebaiknya Bunda membeli tempat tidur yang baru. Apa lagi bayi dikenal suka menggerogoti benda-benda yang ada di dekatnya. Jangan sampai keputusan Bunda untuk tidak membeli tempat tidur baru, justru jadi berdampak fatal bagi buah hati!

Perhatikan Juga Matras Yang Akan Digunakan Bayi

Untuk tempat tidur bayi sebaiknya menggunakan matras yang didesain khusus. Beberapa produsen ada yang menjual tempat tidur tanpa diberi matras.Ketika Bunda memilih matras, maka pilihlah matras yang didesain khusus untuk bayi. Matras yang didesain untuk bayi pada umumnya sangat kuat, kokoh, serta keras untuk mencegah terjadinya SIDS (sudden infant death sydrome) atau sindrom kematian bayi mendadak, dan mampu menopang tulang punggung bayi. Tetapi hindari pula menggunakan matras yang terlalu empuk.

Sesuaikan Luas Matras dengan Ukuran Bayi

Sebaiknya Bunda juga memberikan matras yang sesuai dengan ukuran bayi, Dengan begitu si kecil akan merasa nyaman. Usahakan jangan sampai ada celah sedikit pun antara matras dengan bilah. Pastikan telah melepas plastik sebelum memasang matras ya Bun!

Barang-barang yang Lembut pun Sebaiknya Dihindari

Meski terlihat lucu dan menggemaskan, barang-barang yang lembut seperti boneka berbulu halus, selimut, sprai, dan bantal yang lembut sebaiknya dihindari  dengan tujuan untuk mencegah SIDS. Barang dengan tekstur lembut bisa menjadikan bayi sulit bernafas karena memiliki resiko menutupi wajah si kecil.

Setelah Itu, Sebaiknya Bunda Menidurkan Bayi Dalam Posisi Terlentang Untuk Mencegah Terjadinya SIDS

Mama, sebaiknya bayi tidur dalam posisi terlentang, hal itu untuk menghindari kesulitan bernafas yang bisa mengakibatkan SIDS. Untuk mencegah terjadinya SIDS pada bayi sebaiknya tempat tidur bayi diletakan di kamar Bunda. Sehingga sewaktu-waktu bayi menangis atau memerlukan pertolongan, Bunda bisa dengan cepat menanganinya.

Sebaiknya hindarilah meletakan tempat tidur bayi di dekat jendela, hal ini untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan, tertimpa besi yang menopang tirai misalnya. Selain itu penempatan tempat tidur di dekat jendela juga bisa membuat leher bayi terlilit tirai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top