Kesehatan Ibu & Anak

Kepada Bunda yang Hendak Memutuskan untuk Tak Menyusui si Kecil…

asi

Sebagian besar Bunda pasti paham kalau menyusui adalah proses yang alami dan menyenangkan untuk si kecil. Tahap ini dimulai saat si kecil sudah lahir. Kandungan kolostrum yang ada pada ASI sangat baik untuk kesehatan bayi. Tapi entah kenapa masih saja ada ibu yang enggan untuk menyusui.

Mungkin Bunda pernah menemukan tipikal ibu maupun calon ibu yang begini. Ada banyak alasan yang akhirnya membuat para calon ibu memutuskan untuk tak memberikan ASI-nya kelak. Padahal Bun, ada lho efek samping kalau sampai ASI-nya tak dikeluarkan untuk si kecil.

Meningkatkan Risiko Gangguan Pernafasan Pada Bayi

Bayi yang tak menerima ASI segera setelah lahir atau dalam jangka panjang maka bisa mengalami gangguan pernapasan, Bun. Hal ini akhirnya bisa menyebabkan bayi mengalami gejala asma pada si kecil atau penyakit pernafasan lain. Sebaliknya, kalau sejak kecil buah hati sudah mengasup ASI, maka gangguan ini bisa teratasi dan membuat tubuh bayi lebih sehat.

Hati-hati, Si Kecil pun Bisa Mengalami Sindrom Kematian Mendadak

Bayi yang  tak menerima ASI biasanya jadi sangat sangat lemah dan bisa mengalami risiko sindrom kematian mendadak. Sindrom ini bisa terjadi karena pengaruh kesehatan yang memburuk setelah dilahirkan dan tidak menerima kekuatan dari ASI. Bagaimanapun, ASI adalah zat yang bisa melindungi tubuh bayi setelah lahir dan membuat bayi bisa bertahan hidup. Meskipun bisa diberikan susu formula, tapi ASI jelas manfaatnya lebih kuat ya Bun.

Bahkan Bayi pun Bisa Mengalami Risiko bayi Terkena Diabetes

Bayi yang tidak menerima ASI sampai waktu lama kemungkinan juga bisa terkena penyakit diabetes tipe 2. Apalagi jika mengalami gestational diabetes saat hamil. Hal ini bisa terjadi lantaran kondisi tubuh bayi menghasilkan insulin lebih sedikit dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI sejak lahir atau ASI eksklusif.

Bahkan Anak yang Akhirnya Mengonsumsi Susu Formula jadi Berisiko Mengalami Obesitas

Ada banyak yang bisa diberikan sebagai pengganti ASI. Namun kondisi ini bisa memicu masalah lantaran kandungan gula dalam susu formula memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI yang mengandung gula alami. Apalagi dengan Bunda tidak memberikan ASI berarti bayi membutuhkan makanan pendamping ASI lebih cepat. Jadi mungkin saja sebelum bayi berusia 6 bulan sudah mendapatkan makanan tambahan selain susu.

Bagi Bundanya, Ada Pula Risiko Kanker Payudara Saat Pra Menopause

Bunda yang pernah melahirkan dan tidak pernah menyusui juga memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara saat pra menopause. Hal ini terjadi lantaran tak ada pelepasan hormon oksitosin seperti pada ibu menyusui. Dan risiko akan bertambah besar jika ibu sudah pernah melahirkan lebih dari dua kali tanpa pernah menyusui.

Dan Terakhir, Bisa Pula Depresi Setelah Melahirkan

Ibu yang tidak menyusui juga mungkin akan mengalami depresi setelah melahirkan. Begini Bun, kondisi baby blues bisa terjadi dengan cepat setelah ibu melahirkan dan tidak menyusui. Masalah ini bisa dipicu oleh kondisi perubahan hormon yang tidak seimbang setelah melahirkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bunda Patut Waspada, Ancaman Penyakit Mental pun Menghantui Anak-anak

kids sad

Bun, belum lama ini dunia baru saja memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Peringatan semacam ini perlu ada lantaran masalah kesehatan jiwa masih sering jadi salah satu masalah yang suka diabaikan. Di Indonesia misalnya, masih banyak yang suka salah arti. Penderita penyakit mental dianggap kerasukan roh jahat atau dituduh kurang memiliki iman. Stigma yang salah terhadap penyakit seolah-olah menjadi tindakan diskriminatif atau terkesan menyudutkan.

Di lain sisi, Bunda juga perlu sadar kalau kalau penyakit mental tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja, namun juga bisa juga dirasakan anak-anak. Sebagai orangtua, Bunda pun harus bisa mengetahui tanda-tanda si anak mulai mengalami penyakit mental.

Si Kecil Mengalami Perubahan Perilaku

Terkadang perubahan perilaku seringkali terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Untuk mengidentifikasinya, bunda hanya perlu peka terhadap aktivitas sehari-hari si Anak. Perubahan perilaku pada anak bisa terlihat saat dirinya berada di dalam rumah.

Misalnya, si anak biasanya patuh terhadap perintah bunda, seiring berjalannya waktu dirinya lebih cenderung menentang atau mulai berperilaku kasar. Kondisi ini akan memicu hubungan orangtua dan anak kurang harmonis di dalam rumah.

Perubahan perilaku ini bisa saja menandakan kalau dirinya sedang mengalami masalah. Tak jarang permasalahan yang terjadi pada si kecil justru dipendam sendiri bahkan belum bisa diselesaikan, sehingga  ia mudah frustasi bahkan berujung depresi.

Ia Pun Juga Rentan Mengalami Perubahan Mood yang Tak Stabil

Kalau Bunda perhatikan, perubahan mood pada anak-anak cenderung berubah secara mendadak dan konstan. Ketidakstabilan ini perlu dicurigai lho Bun, apalagi saat ia belum bisa memposisikan mood dirinya sendiri di situasi yang tepat.

Si kecil bisa tiba-tiba menangis, berteriak atau bahkan merasa takut secara berlebihan tanpa alasan. Hal seperti ini tidak bisa dianggap remeh karena akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehariannya.  Bun, ketidakstabilan perubahan mood dan emosi pada anak perlu diperhatikan karena ini bisa jadi tanda apakah dirinya memiliki gejala depresi atau kelainan bipolar.

Ada Perubahan pada Si Kecil yang Terlihat dari Gejala Fisik

Bunda perlu tahu, ada tanda-tanda fisik yang diberitahukan oleh tubuh bukan hanya untuk sakit fisik saja, namun juga karena penyakit mental. Penyakit mental yang terjadi pada anak-anak bisa menyebabkan sakit kepala apalagi kalau permasalahan hidupnya belum bisa terselesaikan.

Si kecil yang menderita penyakit mental juga lebih mudah terkena berbagai penyakit semisal flu, demam atau sakit perut. Bahkan aktivitas keseharian si kecil juga akan terganggu karena dirinya memiliki kesulitan untuk bernapas hingga merasa detak jantung yang berdebar cepat.

Hal ini bisa terjadi karena ada rasa cemas sedang dirasakan olehnya.  Bahkan di beberapa kasus, kondisi kesehatan si kecil bisa dianggap serius saat ia berusaha melukai dirinya sendiri dengan benda tajam atau usaha percobaan bunuh diri lho Bun.

Dan Berat Badan Si Kecil Tiba-tiba Menurun

Penurunan berat badan yang begitu drastis pada anak-anak tidak bisa dianggap remeh ya, Bun. Bisa saja penurunan berat badan ini dikarenakan si kecil sedang mengalami banyak masalah dan dirinya belum bisa menyelesaikannya dengan baik.

Perlu disadari kalau penurunan berat badan pada si kecil bisa terjadi karena dua hal, terkena penyakit fisik atau sedang mengalami masalah mental. Sebagai orangtua, Bunda harus peka terhadap penurunan berat badan ini karena dapat menyebabkan efek negatif yang serius untuk si kecil.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Harus Ekstra Sabar ya Menghadapi Si Kecil yang Sering Terbangun di Malam Hari

paint

Saat si kecil sudah menginjak usia satu tahun, mungkin sebagian orangtua mengira kalau masa-masa begadang akan segera berakhir. Padahal tidak selalu demikian, masih ada tantangan yang harus Bunda atasi dimana balita akan susah tertidur lelap dan masih suka bangun pada dini hari lho Bun.

Mereka tak hanya terbangun dan menangis sembari membangunkan orangtuanya, kadang justru ada balita yang sampai berteriak dan mengigau dengan suara yang keras.  Nah, demi mengantisipasi munculnya stress pada orangtua, Bunda ketahui dulu penyebab si kecil sukar tertidur lelap di malam hari.

Ia belum Bisa Beranjak dari Kebiasaannya Saat Bayi yaitu Saat Ingin Menyusu

Kalau si kecil masih menyusu, mungkin ia ingin melakukan hal tersebut di saat-saat larut seperti saat dirinya masih bayi. Bunda perlu tahu, menyusui di malam hari biasanya sedikit berkurang saat si batita semakin besar. Karenanya, saat si kecil mungkin sudah tak menyusu lagi, ia tetap ingin berada di dekat sang ibu dan terus ingin menempel di dada ibunya.

Bisa Jadi Ia Juga Lapar atau Haus di Malam Hari

Pertumbuhan balita sangat pesat lho Bun baik secara fisik maupun psikis. Kinerja otak mereka pun jauh lebih besar daripada orang dewasa. Yup Bun, otak balita membutuhkan glukosa dua kali lebih banyak daripada otak dewasa.

Untuk itu mereka cenderung sering bangun di malam hari dan merasa lapar karena secara kimiawi, tubuhnya memerintahkan untuk mengasup kembali sumber glukosa. Karenanya, lebih baik Bunda berikan makanan yang padat gizi saat makan malam dan susu sebelum tidur.

Jika mereka masih sering bangun tengah malam, berikan makanan kecil yang bergizi seperti yogurt dengan kandungan lemak penuh, alpukat, atau roti isi selai kacang. Jangan lupa, sikat kembali gigi mereka sebelum tidur lagi.

Atau Bisa Jadi Mereka Sedang Dalam Masa Tumbuh Gigi nih Bun

Banyak orang tua mengira bahwa problem tumbuh gigi pada anak akan berakhir saat ia memasuki usia satu tahun. Padahal, ada beberapa gigi seperti gigi taring dan—terutama—gigi geraham yang akan tumbuh setelah si kecil melewati usia satu tahun. Gejalanya mulai dari gusi kemerahan, bengkak dan rasa nyeri lainnya yang akhirnya memang membuat si anak kecil jadi susah tidur. Bagaimanapun, Bunda memang dituntut jadi ekstra sabar.

Bisa Jadi Si Kecil Justru Sedang Sering Merasakan Mimpi Buruk

Balita di atas 3 tahun sedang memiliki imajinasi berlebihan, sehingga apa yang terjadi selama seharian akan tertancap di otaknya. Entah itu tontonan di televisi, atau pembicaraan seru tentang monster, hantu dan semacamnya.

Hal semacam ini yang bisa memicu munculnya mimpi buruk dalam benak mereka, Bun. Di lain sisi, tidak ada yang bisa mencegah mimpi buruk, tetapi orang tua bisa mengurangi kemungkinan tersebut dengan tidak memberi tontonan atau membicarakan—apalagi menakut-nakuti—tentang monster, hantu dan ‘kawan-kawannya’.

Kalaupun ia terbangun karena mimpi buruk, Bunda bisa hibur si kecil dan mengatakan kalau makhluk menyeramkan yang ada dalam mimpinya itu tidak ada.

Lantaran hal ini, si kecil bisa saja bisa tertekan. Karenanya Bun, cobalah lebih sering untuk memberikan mereka ketenangan batin sepanjang hari dan yakinkan mereka bahwa kita selalu ada untuk mereka. Ciuman, pelukan dan ungkapan sayang punya kekuatan maha dahsyat untuk menghilangkan rasa gelisah.

Bun, memang untuk menjadi seorang ibu, banyak sekali waktu yang dikorbankan, tapi yakinlah bahwa setiap hal yang Bunda lakukan adalah bentuk sayang yang paling berharga untuk si kecil. Masa  kanak-kanak hanya sebentar, Bunda akan merindukan segala kesenangan dan kesusahannya saat si kecil beranjak dewasa.

Karenanya, nikmatilah setiap momen berharga baik suka dan duka bersama si kecil yuk Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Jika Tanda-tanda Ini Muncul, Biasanya Daya Tahan Tubuh Si Kecil Sedang Melemah Bun

anak sakit

Sebagai sistem alami yang punya peran penting untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Sistem imun buah hati, jelas harus diperhatikan terus ya bun supaya tubuhnya selalu sehat. Hanya saja, sebagai orangtua, kita tak selalu tahu kondisi sistem itu sedang dalam fungsinya yang baik-baik saja atau justru sistem kerjanya menurun sehingga membuat daya tahan tubuh si kecil jadi melemah.

Karenanya,yuk ketahui beberapa hal yang jadi tanda menurunnya kekebalan tubuh si kecil berikut!

Si Kecil Kelihatan Jadi Mudah Lelah

Bun, di rentang usia 2-6 tahun adalah usia terbaik anak untuk bermain. Normalnya, masa-masa ini memang menjadi waktu dimana si kecil sedang asyik-asyiknya menikmati setiap permainan yang ada. Saat asyik bermain, ia bahkan sering kali tak kenal waktu dan tak kenal lelah.

Nah, karenanya, kalau yang terjadi justru sebaliknya, yaitu si kecil yang sedikit-sedikit mengeluh lelah dan tak bisa menikmati waktu bermain, mungkin ini pertanda kalau daya tahan tubuhnya sedang menurun.

Ia Pun Jadi Lebih Sering Mengalami Infeksi

Tak hanya kelihatan mudah lelah, si kecil juga lebih rentan mengalami infeksi saat sistem imunnya menurun. Bentuk infeksi yang bisa terjadi pun beragam, baik berupa sariawan, radang gusi, diare, perut selalu terasa begah, hingga infeksi saluran kemih yang membuat si kecil mengeluh kesakitan setiap kali buang air kecil. Jadi, terus perhatikan daya tahan tubuh si kecil ya Bun.

Belum Lagi Flu, Demam, serta Sakit Tenggorokan yang Mendera

Flu, demam, serta sakit tenggorokan yang terjadi secara berulang-ulang dalam jangka waktu berdekatan juga jadi pertanda daya tahan tubuh anak sedang menurun. Menurut para ahli, di usia batita, dalam setahun maksimal si Kecil akan mengalami sembilan kali flu, Bun. Begitu pun dengan gejala ringan lain seperti demam maupun sakit tenggorokan. Karenanya, waspadalah bila gejala-gejala ini muncul lebih dari batas yang disebutkan, ya Bun!

Tubuhnya pun Jadi Lebih Sensitif dan Rentan Alergi

Di usianya yang masih balita, si kecil biasanya lebih reaktif dan sensitif terhadap debu, serbuk sari, dan perubahan suhu ketimbang biasanya. Bun, kalau begini kondisinya, bisa jadi ini adalah pertanda sistem imun di tubuhnya tidak mampu menangkal alergen (zat pemicu alergi) dengan baik. Bila sistem imun si Kecil lebih lemah lagi, reaksi alergi seperti mata memerah, hidung berair, atau muncul iritasi di kulit mungkin saja terjadi, Bun

Kalau Ada Luka, Biasanya Jadi Tak Kunjung Sembuh

Hal terakhir yang juga bisa jadi petunjuk bahwa sistem kekebalan tubuh si Kecil sedang melemah ialah luka di luar yang tak segera sembuh. Kenapa? Sebab, menutup kembali luka dan membentuk jaringan kulit baru adalah salah satu peran dari sel darah putih.

Dengan kata lain, bila luka tak kunjung sembuh, kemungkinan jumlah sel darah putih di tubuh si Kecil memang sedang sedikit. Padahal, sel darah putih ini merupakan salah satu komponen utama sistem kekebalan tubuh si kecil Bun.

Nah, sebaiknya kalau lima tanda ini sudah muncul, usahakan agar Bunda lebih banyak memberikan asupan bernutrisi pada si kecil dan ajak pula ia untuk lebih aktif bergerak, ya. Dua cara ini akan cukup membantu memperkuat ketahanan tubuh si kecil, Bun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top