Parenting

Kenapa Harus Membentak Bila Masih Sanggup Menasehati?

pexels-photo-1438511

Saat marah, ada kalanya orangtua tak bisa menghindari untuk tak membentak anak. Akhirnya banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana caranya demi mencegah hal tersebut tak terjadi lagi. Apalagi, orangtua pasti pernah merasa sangat marah sampai seolah-olah murka akibat ulah buah hatinya. Belum lagi, usaha dalam mengendalikan amarah bukanlah hal yang mudah lho Bun.

Sebagai orangtua muda, teknik mengendalikan emosi jadi tantangan tersendiri. Namun ingat lagi Bun, kenapa Bunda harus membentak bila kita masih sanggup menasehati? Di lain sisi, kunci mengendalikan amarah sebenarnya tetap bisa kita lakukan. Akan tetapi, bila Bunda tak punya perencanaan atau strategi yang matang dalam mengatasi amarah, alih-alih menasehati, yang ada Bunda mungkin akan kian emosi.

Walaupun kami percaya, hanya segelintir orangtua yang terbiasa membentak anak. Sementara yang lain tentu masih berusaha mengatasi kebiasaan buruk ini. Lalu mesti bagaimana? Jika Bunda benar-benar ingin bisa berhenti membentak saat memarahi anak, tak peduli seberapa marah pun Anda, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yang disarankan oleh Lifehacker.

Tinggalkan ‘Area Konflik’ Sejenak ya Bun

Biasanya anak-anak senang bikin ‘ulah’ bila sedang di rumah. Hal-hal seperti mengacak-acak mainan, corat coret tembok atau bidang kosong sudah jadi pemandangan lumrah bagi bunda. Bila hal ini sedang terjadi dan merasa emosi sudah mulai meluap, mintalah pasangan untuk mengambil alih.

Ya, Bunda perlu meninggalkan sejenak lokasi kejadian yang bisa disebut ‘area konflik’, hal ini bukan berarti Bunda melimpahkan masalah pada pasangan, melainkan mencari cara untuk mengontrol diri. Dengan pergi ke tempat yang lebih tenang sejenak, biasanya kepala mereka jadi lebih dingin.

Ketika situasi sebaliknya terjadi, jangan segan untuk segera mengambil alih masalah, ketika melihat terlebih bila pasangan mulai kewalahan.

Tak Apa, Biarkan Si Kecil Tahu Bundanya Sedang marah

Saat marah, alih-alih membentak, tarik napas panjang dan bilang pada anak, “Bunda sedang marah sekarang.” Ada tipikal anak yang mudah mengerti, sehingga saat Bunda mengatakan demikian, ia akan berhenti sejenak dari aktivitasnya.

Tapi seringnya, mereka akan melawan balik dan bilang, “Aku juga marah,” atau, “Tidak, bunda tak boleh marah.” (argumen ini biasanya dilontarkan oleh anak-anak yang lebih kecil). Namun apapun reaksi mereka, setidaknya hal ini sudah bisa menjalin komunikasi.

Setelahnya, Bunda bisa meninggalkan buah hati sejenak dan berikan waktu padanya untuk menenangkan diri. Atau Bunda bisa menggendong anak atau memangkunya dan bilang, “Coba kita sekarang diam dulu sebentar sampai tenang.” 

Sumitha Bhandakar, pendiri komunitas afineparent.com, menerapkan trik ini yang ia dapat dari buku Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting. Berdasarkan pengalamannya, trik ini sukses membuat putrinya yang baru berusia 5 tahun jadi tenang usai mengamuk.

Jadikan Alasan Berkegiatan Lain Sebagai ‘Batas Waktu’ Konflik Antara Bunda dan Buah Hati

Belajarlah memberikan nasehat daripada marah-marah pada anak. Salah satu nasehat yang perlu Bunda lakukan, biarkan anak mengerti mengenai ‘batas waktu’ konflik antara Bunda dengan si kecil. Begini misalnya,

“Bunda sangat marah sekarang, jadi bunda akan mencuci piring dan mencoba menenangkan diri. Nanti pas bunda selesai, bunda tidak akan marah lagi.”

Ucapan ini biasanya akan memicu rengekan atau tangisan si kecil yang tak mau marah pada Bundanya. Setelahnya, jangan meninggalkan anak begitu saja ya Bun. Tapi jelaskan bahwa Bunda tak marah padanya dibarengi dengan ‘batasan waktu’ seperti ini misalnya, “Bunda tidak marah sama kamu, ibu masih sayang kamu. Tapi kamu enggak selesai-selesai makannya dari tadi, dan sekarang sudah malam sekali.”

Awalnya anak mungkin akan terus merengek karena keinginannya tidak terkabul. Tapi, biasanya setelah itu mereka akan diam dan melakukan apa yang Bunda minta. Setelah semuanya selesai, jangan lupa untuk memeluk anak untuk memastikan dia tahu semuanya baik-baik saja.

Bereskan Mood Bunda dengan Memakai Perspektif Bunda Saat Dulu Masih Kanak-kanak

Seringkali menenangkan diri adalah dengan menempatkan segalanya pada perspektif yang benar. Sebelum Bunda hilang sabar karena si kecil yang sukar dinasehati, ada baiknya Bunda berpikir lagi. Bukankah demikian adanya anak-anak yang sedang tumbuh?

Mereka begitu aktif dan enggan dikekang. Dulu, saat Bunda masih kecil pun pasti melakukan hal serupa. Tentu Bunda pun ingin terus bermain, kan. Memang begitulah anak-anak. Jadi, tidak ada gunanya marah-marah. Tarik napas panjang, dan pikirkan cara lain agar dia mau melakukan apa yang Bunda mau. Pelan-pelan, berikan nasehat yang bisa diingat dan diterapkan si kecil.

Bunda Juga Bisa Menggunakan Cerita yang Ada untuk Menghadapi Anak yang Tantrum 

Kebanyakan anak-anak suka sekali mendengar cerita. Sebagai orangtua, kemampuan bercerita sebenarnya perlu diasah orangtua setelah anak mereka lahir adalah, bagaimana mengarang cerita yang baik. Kenapa? Karena cerita bisa Bunda gunakan sebagai “senjata” saat menghadapi anak yang tantrum dan tidak mau mendengarkan Bunda.

Begini misalnya: Anggap saja tokoh kesukaan anak adalah Mickey Mouse. Jadi ketika anak sedang tidak mau tidur siang, tak peduli bagaimana pun Anda membujuknya. Lalu mulailah dengan mengatakan,

“Kamu tahu enggak apa yang terjadi pada Upin dan Ipin waktu mereka enggak mau tidur siang?”

Pancing anak untuk naik ke kasur, dan lanjutkan cerita saat kondisinya sudah berbaring. Saat cerita usai, biasanya anak juga sudah hanyut ke alam mimpi. Lakukan hal yang sama untuk kasus-kasus lain, seperti ketika anak tidak mau makan, tidak mau menggosok gigi, dan lain-lain yuk Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Gengsi Menggendong Bayi, Ada Banyak Manfaatnya Loh Bun

adult-child-daughter-1683975

Bun, saat si kecil belum bisa berjalan, tentu Bunda akan terus menggendongnya agar ia beranjak dari tempat tidur ya Bun. Gendongan pun jadi peralatan yang tak boleh terlupa. Momen menggendong bayi, sekalipun terkadang terasa melelahkan, ternyata membawa manfaat yang beragam lho Bun.

Tak perlu ragu dengan sebutan ‘nanti si kecil bau tangan’, karena sebenarnya bayi pun bisa tak rewel saat tak sedang digendong. Nyatanya, momen menggendong pun menciptakan banyak interaksi.

Menciptakan Ikatan antara Ibu dan Anak

Ya, dengan menggendong si kecil, keintiman antara Bunda dan si kecil semakin erat. Bunda tentu mendambakan bisa akrab dengan si kecil sejak ia bayi sampai dewasa nanti, bukan? Karenanya, jangan sungkan atau ragu untuk menggendong si kecil saat ia masih membutuhkan dekapan Bunda.

Aktivitas ini secara langsung membuat ibu dan anak banyak berinteraksi berdua, terjadi skin to skin contact, dan tercipta rasa aman serta nyaman. Menggendong bayi pun membuat Bunda jadi lebih perhatian.

Posisi bayi yang berada di pelukan ibu yang dekat dengan pandangan, menjadikan Anda lebih dapat memerhatikan gerak-geriknya. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat. Misalnya ketika dia sedang lapar, maka Anda akan segera mengetahui bahwa ia memang sedang lapar dan segera menyusuinya atau memberikannya susu.

Mengenalkan Tentang Dunia Pada Si Kecil

Saat si kecil dalam gendongan Bunda, maka ia pun akan melihat apa yang dilihat Bundanya. Si kecil sigap untuk berinteraksi dengan lingkugan. Ya, dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitar dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi, seperti tersenyum, tertawa, dan mengernyitkan dahi, misalnya.

Si Kecil Jadi Merasa Aman dan Nyaman

Bun, aktivitas menggendong akan membuat Bunda dan si kecil beraktivitas bersama. Bayi akan mendengar suara Bunda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia juga turut merasakan emosi Bunda dan yakin jika Bunda akan memberikannya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.

Bunda Membantu Meningkatkan Perkembangan Otak Bayi

Tak banyak Bunda yang tahu, faktanya, sering menggendong bayi dapat membantu perkembangan otaknya lho, Bun. Ketika bayi digendong, saraf-saraf yang berada pada otaknya akan terhubung satu sama lain karena perasaan senang, aman, dan nyaman.

Serta Mencegah Post Partum Blues

Lebih jauh lagi, saat Bunda sering menggendong si kecil yang baru lahir, hal ini akan mencegah ibu mengalami post partum blues, yaitu masalah kesehatan mental umum yang biasanya terjadi pada wanita setelah melahirkan.

Hal ini dikarenakan menggendong bayi membuat ibu dan bayi melakukan skin to skin. Kontak kulit antara kedunya dapat membantu mengeluarkan hormon oksitosin atau hormon cinta pada ibu, yang akhirnya bisa mempengaruhi keadaan fisik dan psikologisnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Supaya Si Kecil Tak Dehidrasi Saat Puasa

boy-child-drinking-1210005

Sebagai orang dewasa, mungkin kita sudah mengerti aturan dan tata cara berpuasa. Sementara itu, menjelaskan makna dan cara berpuasa pada anak-anak tak semudah kelihatannya lho Bun. Anak-anak pun belum diwajibkan menjalankan ibadah ini. Kendati demikian, orang tua boleh mulai memperkenalkan ibadah puasa kepada anak sejak dini.

Pengenalan tersebut dapat Bunda lakukan secara bertahap. Mula-mula ajak anak berpuasa selama beberapa jam, jika sudah dapat melakukannya dengan baik, tingkatkan menjadi setengah hari, hingga akhirnya dia dapat berpuasa seharian penuh. Salah satu hal yang patut Bunda perhatikan adalah asupan cairannya. Bukan tak mungkin si kecil bisa saja mengalami dehidrasi.

Tetap menjalankan aktivitas normal sambil berpuasa, juga akan berpengaruh terhadap hilangnya cairan dalam tubuh anak. Untuk itu, yuk Bun cegah dehidrasi pada anak saat berpuasa:

Dorong Si Kecil Agar Mau Mengonsumsi Delapan Gelas

Setiap orang perlu minum sekitar delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Nah karena saat berpuasa kita tak boleh minum, maka tuntun si kecil untuk mengganti kesempatan minum delapan gelas per hari saat berbuka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur.

Bunda Dapat Menyajikan Buah-buahan dan Kandungan Air Tinggi untuk Dikonsumsi Si Kecil

Sajikan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti melon, semangka, dan pir sangat cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Buah-buahan yang mengandung banyak air akan membantu si kecil agar tetap terhindar dari dehidrasi sepanjang hari. Selain itu, buah-buahan ini juga kaya nutrisi untuk membantu tumbuh kembang anak.

Sediakan Susu guna Memenuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisinya

Bun, susu kaya akan kandungan elektrolit, kalsium, dan protein, serta karbohidrat. Untuk tubuh agar terhindar dari dehidrasi, lebih baik berikan susu pada si kecil dibanding mengonsumsi suplemen. Di samping itu, varian susu yang mulai banyak rasanya akan membuat si kecil lebih tertarik untuk meminumnya lho Bun.

Bunda Bisa Mengakali dengan Memberikan Rasa Pada Air Putih yang Disajikan pada Anak

Air putih memang tidak memiliki rasa. Ini dapat membuat motivasi anak untuk minum cukup air berkurang. Untuk menyiasatinya, tambahkan rasa alami pada air putih tersebut. Disarankan untuk menambahkan perasan jeruk atau madu pada air mineral, agar si kecil lebih tertarik untuk meminumnya. Jangan menambahkan gula pada air minum tersebut, hal ini guna mencegah si kecil jadi mengonsumsi gula berlebih.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Saat Si Kecil Diam-diam Ketahuan Membatalkan Puasa, Lakukan Hal Ini Bun

adorable-blonde-blur-1912868 (1)

Saat si kecil terbangun lebih awal untuk sahur tentu membuat Bunda bangga. Artinya, ia mau belajar untuk berpuasa ya Bun. Tapi lucunya, kadang kala justru sebelum adzam maghrib berkumandang, Bunda tak sengaja mendapati si kecil makan atau minum sembunyi-sembunyi. Saat melihat si kecil berlaku demikian, kira-kira apa yang akan Bunda lakukan?

Untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun, berpuasa masih butuh latihan. Mereka masih beradaptasi dengan ibadah wajib yang harus mereka jalani di bulan Ramadan. Untuk itu, jangan menciptakan momen yang membuat si kecil jadi merasa ngeri ya Bun. Sebab kalau Bunda langsung melontarkan omelan, yang ada mereka justru tertekan dan jadi malas berpuasa lagi.

Nah, berikut ini hal-hal yang dapat Bunda lakukan saat si kecil ketahuan membatalkan puasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bunda Tak Perlu Reaktif

Si Kecil akan terkejut bila melihat respon Bunda yang reaktif saat ia ketahuan membatalkan puasa. Tak usah mengagetkan atau membuatnya merasa sangat bersalah, justru tunjukkan ekspresi yang tenang dan diskusikan mengenai puasa tanpa mengintimdasinya ya Bun. Dengan begini ia akan tetap tenang.

Diskusi dan Komunikasi Adalah Kunci

Cobalah tanyakan dulu pada si kecil, apa yang membuat ia tak kuat. Bantu ia menemukan masalahnya ya Bun. Misalkan saja, ia merasa tak kuat berpuasa lantaran tak sempat sahur karena sulit dibangunkan. Atau ia tak kuat puasa karena menurutnya terlalu lamaa menahan rasa lapar.

Tetap diskusikan apapun masalahnya ya Bun. Hal ini akan melatih kemampuan analisisnya. Setelah ia menemukan akar masalahnya, bantu ia menemukan solusi. Misalnya saja, tidur lebih awal agar bisa bangun saat jam sahur.

Berikan Respon Pada Sanggahannya

Saat diajak berdiskusi mengenai apa yang membuat ia tak kuat, bisa saja lho Bun ia mengeluarkan beberapa kalimat sanggahan yang menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya anak yang membatalkan puasanya diam-diam.

Bila anak berkata: “Tapi si A juga membatalkan puasa. Tadi aku lihat dia, makanya aku juga ikut membatalkan.”
Jawab dengan: “Barangkali cara dia berpuasa berbeda dengan cara kamu. Dia mungkin sudah bikin kesepakatan untuk bisa membatalkan puasa di jam itu untuk kemudian dilanjutkan lagi.”
Bila anak berkata: “Si B nggak puasa. Enak banget dia bisa minum es siang-siang gitu.”
Jawab dengan: “Tidak semua orang punya kewajiban puasa. Kalau di agama kita, memang ada perintah puasa di bulan Ramadan. Lagi pula, nanti kalau sudah buka puasa, kan, kamu juga bisa minum es.”

Kuncinya, respon yang tepat diperlukan saat si kecil mencoba memberi sanggahan. Tak usah emosi, tetap tenang ya Bun.

Beritahu Mengenai Konsekuensi Logis yang Akan Dihadapinya

Bila Bunda dan si kecil sebelumnya sudah membuat kesepakatan tentang puasa, maka ini waktunya untuk menjalankan aturan dan konsekuensinya. Kesepakatan bisa saja berisi tentang pada pukul berapa ia bisa membatalkan puasa dan pada pukul berapa ia harus melanjutkan.

Sementara itu, contoh konsekuensi yang bisa diambil misalnya, Bunda tidak jadi memasakkan apa yang dia inginkan untuk berbuka atau tidak jadi membelikan minuman kesukaannya. Konsekuensi tidak perlu berlebihan agar anak-anak tidak terbebani. Yang paling penting, konsekuensi itu harus ada kaitannya dengan tindakannya.

Dan Begini Caranya Agar Tak Terjadi Lagi ya Bun

Walaupun berpuasa untuk anak-anak sifatnya baru latihan, namun ia juga patut terus didorong agar bisa menjalankannya lebih baik. Untuk meminimalisir risikonya membatalkan puasa diam-diam. Untuk Bunda yang belum pernah membuat kesepakatan dengan si kecil, inilah saatnya.

Evaluasilah kekuatan si kecil menjalankan puasa. Lalu buat kesepakatan yang berisi kapan ia boleh membatalkan. Yang penting lakukan pelan-pelan hingga ia terbiasa dan lebih kuat lagi. Itu akan lebih mudah. Kesepakatan ini dapat mengakomodir kebutuhan mereka dan membuatnya lebih bahagia menjalani puasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top