Parenting

Kenalkan Si Kecil dengan Rasa Tanggung Jawab demi Membentuk Karakternya Yuk, Bun!

pexels-photo-860536

Memupuk rasa tanggung jawab pada diri si kecil tentu sudah jadi tugas setiap orangtua ya, Bun. Bukan hanya soal tanggung jawab membersihkan mainan atau yang lainnya. Melainkan melatihnya memiliki karakter yang bertanggungjawab sehingga kelak ketika dewasa, ia bisa mandiri dan menjadi sosok yang independen. Kendati kelihatannya melatih rasa tanggung jawab itu sepertinya mudah, pada kenyataannya banyak orangtua yang mengabaikannya.

Alih-alih mau menyenangkan selalu buah hatinya, yang ada si kecil justru terus dimanja. Dan akhirnya, ia pun tumbuh jadi sosok yang manja dan sukar sekali diajak bertanggungjawab walau hanya soal membereskan mainannya. Jadi, jauh lebih baik mengenalkannya dengan rasa tanggung jawab sedini mungkin, ‘kan?

Ajarkan Mereka untuk Mengontrol Emosinya

pexels-photo-235554

Melatihnya mengontrol emosi adalah bagian dari membentuk rasa tanggung jawab dalam diri si kecil. Kelak saat besar, kalau pengendalian dirinya kurang, emosinya akan sukar stabil terutama kalau ia terjebak pada situasi atau konflik, sekalipun sebenarnya sepele.

Coba deh Bun, saat si kecil merengek, beri tahu kalau hal tersebut tak akan menolongnya di kemudian waktu. Dalam hal ini, Bunda memang harus sabar. Mengontrol emosi bukanlah sesuatu yang mudah, pun juga dengan melatih si kecil untuk melakukannya. Karena itu, dari Bundanya dulu harus mahir dalam hal mengendalikan diri dan emosi ya, Bun!

Sedari Dini, Kenalkan Juga dengan Perlengkapan P3K dan Peralatan Penunjang Keselamatan Lainnyapexels-photo-1097496

Agar si kecil akan tumbuh jadi pribadi yang mandiri nantinya, jangan sampai Bunda tak membekalinya dengan pengetahuan atau pengenalan mengenai hal-hal yang krusial dalam suasana genting. Sebut saja kotak P3K, sekalipun ada di rumah, sudahkah Bunda mengenalkan fungsi setiap perlengkapan tersebut padanya? Setidaknya luangkanlah sedikit waktu untuk membiarkannya memahami apa saja isi kotak P3K, fungsi perban, atau obat-obatan yang lain. Hal ini pasti berguna di kemudian hari. Akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk membantu sesama kalau ada yang butuh pertolongan darurat.

Dalam Hal Mengurus Rumah, Jangan Ragu untuk Libatkan Si Kecil

pexels-photo-1257110

Memiliki buah hati yang sedang dalam masa pertumbuhan biasanya sudah lumrah saat mendapati rumah tampak berantakan. Jangan dibawa pusing ya, Bun. Sebab situasi semacam ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran membentuk rasa tanggung jawab dalam diri si kecil.

Saat ia sudah mulai bosan dengan mainannya, ajaklah untuk menaruhnya ke tempatnya semula atau ke dalam wadah yang sudah Bunda sediakan. Atau saat ada jadwal membersihkan rumah secara menyeluruh, ajaklah ia juga agar dalam dirinya terlatih kebiasaan untuk bertanggungjawab menjaga kebersihan rumah. Selain membuat Bunda semakin dekat dengan si kecil, kebiasaan ini akan baik untuk karakternya nanti.

Sebagai Orangtua, Jangan Biasakan Menuruti Kemauannya dengan Cepat

pexels-photo-1288483

Ini penting. Jangan biasakan menuruti kemauan si kecil dengan segera ya, Bun. Latihlah ia agar belajar mendapatkan sesuatu yang dia mau dengan usaha, bukan dengan rengekan. Semakin Bunda memanjakannya dengan memberinya ini itu, ia akan semakin sedikit belajar perihal rasa tanggungjawab dalam mengusahakan sesuatu.

Kalau sejak kecil hal semacam ini ditanamkan dalam diri anak-anak, saat mereka besar, setidaknya mereka akan dibekali kemampuan untuk pandai menata keuangan. Percayalah Bun, mengajarkan hal yang baik tak akan jadi percuma.

Ajarkan Agar Si Kecil Punya Tanggung Jawab Menjaga Badannya dengan Mengajarkan Kebiasaan Makan yang Benar

pexels-photo-1001914

Saat ia masih kecil, memang Bunda yang bertanggungjawab mengurusi asupan makanan dan gizi yang masuk ke tubuhnya. Namun bila sudah besar, akankah dia sama pedulinya dengan Bunda perihal menjaga kesehatan? Belum tentu.

Nah, demi mengantisipasi situasi dimana si kecil tak terlalu peduli dengan kesehatan tubuhnya, mulai sekarang Bunda biasakan untuk mengajaknya mengonsumsi makanan yang sehat-sehat. Penting juga mengenalkan junk food serta dampaknya, dibanding mereka tahu dari sumber lain, justru akan lebih baik kalau  Bunda pun turut mengedukasi mengenai makanan yang dikonsumsinya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Kalau Harus Makan Mie Instan, Pilih Yang Seperti Ini

asian-food-close-up-cooked-2093410

Mie instan menjadi salah satu primadona di dunia kuliner. Makanan ini dikenal punya aroma yang menggoda dan rasa yang bikin ketagihan. Bahkan berdasarkan data dari World Instan Noodles Association, Indonesia merupakan negara nomor dua terbesar yang mengonsumsi mie instan paling banyak.

Setidaknya penduduk Indonesia mengonsumsi 12,54 miliar porsi mi instan di sepanjang 2018. Angka ini melampaui Jepang yakni 5,66 miliar porsi, dan India 5,42 miliar porsi. Kendati ada mitos bahwa mie instan bukanlah makanan yang menyehatkan, hal tersebut tak mempengaruhi minat orang Indonesia untuk mengonsumsinya.

Tapi tahukah Bunda, menurut para pakar, sejatinya mie instan bisa dijadikan makanan sehat selama bahan bakunya pun sehat, Bun. Salah satu jenis mie instan yang dianjurkan yaitu yang memakai bahan baku konnyaku.

Mie instan memang umumnya memakai tepung beras atau tepung terigu. Sementara untuk mie instan dengan bahan baku konnyaku, biasanya mengandung 97 persen air sehingga kadar kalorinya jauh lebih rendah, Bun. Di lain sisi, kandungan konnyaku sudah dikenal baik untuk tubuh. Bahkan membantu mengontrol gula darah, menurunkan berat badan, hingga mengurangi kolesterol.

Mengutip dari sejumlah media, Co-Founder The Fit Company, Bambang Reguna Bukit mengatakan, bahan baku konnyaku ini bisa sebagai pengganti karbohidrat. Karena tingkat kalorinya rendah, berkisar 60 – 150 kkal, sementara mi instan biasa menyimpan sekitar 350 – 500 kkal.

“Konnyaku mempunyai tingkat kalori yang sangat rendah dan sering digunakan sebagai pengganti karbohidrat oleh pelaku diet ketogenic,” katanya.

Lantas Bagaimana Cara Memasak Mie Instan yang Benar?

Healthy-food chef Nova Eugenia menyarankan, saat merebus mie instan, maka nanti air rebusan pertama sebaiknya dibuang.

“Kalau mi instan yang biasa airnya kan keruh, ada tepungnya gitu kan, saya lebih saranin dibuang ya. Kalau saya lihat, warnanya keruh jadi agak ngeri,” kata Nova.

Selain itu, usahakan tak usah memasak mie instan terlalu lama. Sebab bila teksturnya mengembang, justru jadi kurang sedap untuk dimakan. Nah, agar lebih enak juga, untuk mi rebus, Bunda bisa tambahkan susu low fat atau full fat sebagai tambahan gizinya. Dan lebih baik lagi, beri tambahan sayur, daging, dan telur. Dengan tambahan kandungan yang kaya nutrisi, tubuh pun mengasup serat dan vitamin. Tapi yang terpenting, konsumsi mi jangan berlebihan ya, Bunda. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu pastinya enggak baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Gengsi Menggendong Bayi, Ada Banyak Manfaatnya Loh Bun

adult-child-daughter-1683975

Bun, saat si kecil belum bisa berjalan, tentu Bunda akan terus menggendongnya agar ia beranjak dari tempat tidur ya Bun. Gendongan pun jadi peralatan yang tak boleh terlupa. Momen menggendong bayi, sekalipun terkadang terasa melelahkan, ternyata membawa manfaat yang beragam lho Bun.

Tak perlu ragu dengan sebutan ‘nanti si kecil bau tangan’, karena sebenarnya bayi pun bisa tak rewel saat tak sedang digendong. Nyatanya, momen menggendong pun menciptakan banyak interaksi.

Menciptakan Ikatan antara Ibu dan Anak

Ya, dengan menggendong si kecil, keintiman antara Bunda dan si kecil semakin erat. Bunda tentu mendambakan bisa akrab dengan si kecil sejak ia bayi sampai dewasa nanti, bukan? Karenanya, jangan sungkan atau ragu untuk menggendong si kecil saat ia masih membutuhkan dekapan Bunda.

Aktivitas ini secara langsung membuat ibu dan anak banyak berinteraksi berdua, terjadi skin to skin contact, dan tercipta rasa aman serta nyaman. Menggendong bayi pun membuat Bunda jadi lebih perhatian.

Posisi bayi yang berada di pelukan ibu yang dekat dengan pandangan, menjadikan Anda lebih dapat memerhatikan gerak-geriknya. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat. Misalnya ketika dia sedang lapar, maka Anda akan segera mengetahui bahwa ia memang sedang lapar dan segera menyusuinya atau memberikannya susu.

Mengenalkan Tentang Dunia Pada Si Kecil

Saat si kecil dalam gendongan Bunda, maka ia pun akan melihat apa yang dilihat Bundanya. Si kecil sigap untuk berinteraksi dengan lingkugan. Ya, dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitar dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi, seperti tersenyum, tertawa, dan mengernyitkan dahi, misalnya.

Si Kecil Jadi Merasa Aman dan Nyaman

Bun, aktivitas menggendong akan membuat Bunda dan si kecil beraktivitas bersama. Bayi akan mendengar suara Bunda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia juga turut merasakan emosi Bunda dan yakin jika Bunda akan memberikannya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.

Bunda Membantu Meningkatkan Perkembangan Otak Bayi

Tak banyak Bunda yang tahu, faktanya, sering menggendong bayi dapat membantu perkembangan otaknya lho, Bun. Ketika bayi digendong, saraf-saraf yang berada pada otaknya akan terhubung satu sama lain karena perasaan senang, aman, dan nyaman.

Serta Mencegah Post Partum Blues

Lebih jauh lagi, saat Bunda sering menggendong si kecil yang baru lahir, hal ini akan mencegah ibu mengalami post partum blues, yaitu masalah kesehatan mental umum yang biasanya terjadi pada wanita setelah melahirkan.

Hal ini dikarenakan menggendong bayi membuat ibu dan bayi melakukan skin to skin. Kontak kulit antara kedunya dapat membantu mengeluarkan hormon oksitosin atau hormon cinta pada ibu, yang akhirnya bisa mempengaruhi keadaan fisik dan psikologisnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Supaya Si Kecil Tak Dehidrasi Saat Puasa

boy-child-drinking-1210005

Sebagai orang dewasa, mungkin kita sudah mengerti aturan dan tata cara berpuasa. Sementara itu, menjelaskan makna dan cara berpuasa pada anak-anak tak semudah kelihatannya lho Bun. Anak-anak pun belum diwajibkan menjalankan ibadah ini. Kendati demikian, orang tua boleh mulai memperkenalkan ibadah puasa kepada anak sejak dini.

Pengenalan tersebut dapat Bunda lakukan secara bertahap. Mula-mula ajak anak berpuasa selama beberapa jam, jika sudah dapat melakukannya dengan baik, tingkatkan menjadi setengah hari, hingga akhirnya dia dapat berpuasa seharian penuh. Salah satu hal yang patut Bunda perhatikan adalah asupan cairannya. Bukan tak mungkin si kecil bisa saja mengalami dehidrasi.

Tetap menjalankan aktivitas normal sambil berpuasa, juga akan berpengaruh terhadap hilangnya cairan dalam tubuh anak. Untuk itu, yuk Bun cegah dehidrasi pada anak saat berpuasa:

Dorong Si Kecil Agar Mau Mengonsumsi Delapan Gelas

Setiap orang perlu minum sekitar delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Nah karena saat berpuasa kita tak boleh minum, maka tuntun si kecil untuk mengganti kesempatan minum delapan gelas per hari saat berbuka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur.

Bunda Dapat Menyajikan Buah-buahan dan Kandungan Air Tinggi untuk Dikonsumsi Si Kecil

Sajikan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti melon, semangka, dan pir sangat cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Buah-buahan yang mengandung banyak air akan membantu si kecil agar tetap terhindar dari dehidrasi sepanjang hari. Selain itu, buah-buahan ini juga kaya nutrisi untuk membantu tumbuh kembang anak.

Sediakan Susu guna Memenuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisinya

Bun, susu kaya akan kandungan elektrolit, kalsium, dan protein, serta karbohidrat. Untuk tubuh agar terhindar dari dehidrasi, lebih baik berikan susu pada si kecil dibanding mengonsumsi suplemen. Di samping itu, varian susu yang mulai banyak rasanya akan membuat si kecil lebih tertarik untuk meminumnya lho Bun.

Bunda Bisa Mengakali dengan Memberikan Rasa Pada Air Putih yang Disajikan pada Anak

Air putih memang tidak memiliki rasa. Ini dapat membuat motivasi anak untuk minum cukup air berkurang. Untuk menyiasatinya, tambahkan rasa alami pada air putih tersebut. Disarankan untuk menambahkan perasan jeruk atau madu pada air mineral, agar si kecil lebih tertarik untuk meminumnya. Jangan menambahkan gula pada air minum tersebut, hal ini guna mencegah si kecil jadi mengonsumsi gula berlebih.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top