Parenting

Kenali Ciri Generasi Digital Native

Generasi Digital Native

Era digital melahirkan generasi digital native. Generasi digital native adalah mereka yang lahir pada jaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital pada usia dini. Dalam konteks Indonesia, mereka yang lahir setelah tahun 1990-an sudah bisa disebut sebagai awal generasi digital native, tapi bila ingin dikatakan sebagai sebuah generasi, mereka yang lahir setelah tahun 2000.

Siapkah orang tua menghadapi generasi Digital Native? di artikel sebelumnya Siapkah Orang Tua Menghadapi Generasi Digital Native? Lantas Seperti apa ciri-ciri generasi digital natif.com?

Seperti di kutif dari blog takita, berikut beberapa ciri-ciri Generasi Digital Native :
Generasi Digital Native

Kebebasan, Menolak Terkekang

Generasi Digital Native hidup dalam kebebasan digital. Dalam kehidupan nyata, mereka pun cenderung menuntut rentang kebebasan yang lebih. Ketika sekolah dan rumah dikuasai oleh orang dewasa, generasi digital native memilih berinteraksi di media sosial sebagai ruang-ruang baru yang mereka kuasai.

Bermain, Bukan Hanya Bekerja

Anak-anak generasi digital native menjalani hidup dengan semangat bermain. Tidak ada kesulitan, yang ada adalah tantangan yang ingin mereka atasi untuk menyelesaikan permainan. Dalam bekerja pun, mereka tetap menggunakan logika bermain sehingga cenderung menolak pekerjaan rutin yang tanpa makna.

Ekspresif, Tidak Hanya Reseptif

Generasi digital native senang mengekspresikan diri. Dalam dunia digital, mereka bisa hadir dan diakui sebagai individu. Hampir semua hal kesukaan diekspresikan melalui media sosial. Mereka enggan melakukan perjumpaan yang menempatkan mereka hanya sebagai reseptif, menerima mentah-mentah ekspresi dari generasi sebelumnya.

Cepat, Enggan Menunggu

Sebagai dunia digital yang ukurannya adalah kecepatan, generasi digital native pun ingin menjalani kehidupan dengan cepat. Ketika ada keadaan yang memaksa mereka untuk menunggu maka akan beralih pada kegiatan lain seperti mendengarkan musik, bermain games dan lainnya.

Mencari, Bukan Menunggu Instruksi

Mereka tidak suka diajari. Mereka lebih memilih belajar dengan mencari sendiri konten di dunia digital. Mereka gunakan mesin pencari. Mereka cari video tutorial di youtube dan belajar sendiri.

Unggah, Bukan Hanya Unduh

Perkembangan teknologi web 2.0 memungkinkan siapapun buat mengunggah konten. Dampaknya, generasi digital native bukan hanya mengungguh tapi juga mengunggah konten. Mereka merasa tidak eksis bila tidak mengunggah konten di internet.

Interaktif, Bukan Hanya Komunikasi Searah

Mereka cenderung menolak komunikasi searah dalam bentuk apapun, offline maupun online. Mereka senang bila bisa mengkustomisasi sebuah konten sesuai dengan selera mereka.

Berkolaborasi, Tak Hanya Berkompetisi

Dunia digital mendorong orang untuk berbagi dan berkolaborasi. Sebuah karya bisa diciptaulang oleh banyak orang sesuai kreativitas masing-masing. Begitu pula karakter generasi digital native yang suka berkontribusi sesuai kemampuan dalam sebuah aktivitas bersama.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Sebaiknya Batasi Penggunaan Gadget untuk Anak di Rumah | Sayangi Anak

  2. Pingback: Permainan Anak Tradisional | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Sebaiknya Batasi Penggunaan Gadget untuk Anak di Rumah | Sayangi Anak

  2. Pingback: Permainan Anak Tradisional | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Siapkah Orang Tua Menghadapi Generasi Digital Native?

generasi digital

Tak bisa dipungkiri bahwa pengkembangan digital di Indonesia saat ini cukup maju. Perkembangan internet dan smartphone termasuk kedalam perkembangan yang cukup pesat di Indonesia. Orang Indonesia mulai sadar dan mengikuti perkembangan teknologi ini.

generasi digitalEra Digital ini cukup cepat diadaptasi oleh generasi muda. Banyak anak muda yang sangat terbiasa dengan dunia digital utamanya internet dan smartphone. Sedangkan terkadang orang tua terkadang tak begitu meperdulikan perkembangan ini dengan alasan tak punya waktu, gaptek dan sejenisnya.

Era digital melahirkan generasi digital native, generasi anak-anak kita. Siapakah generasi digital native?

Generasi digital native adalah mereka yang lahir pada jaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital pada usia dini. Dalam konteks Indonesia, mereka yang lahir setelah tahun 1990-an sudah bisa disebut sebagai awal generasi digital native, tapi bila ingin dikatakan sebagai sebuah generasi, mereka yang lahir setelah tahun 2000. Merekalah penduduk asli dari sebuah dunia yang disebut dunia digital.

Sementara, kita dan orang tua saat ini adalah bagian dari generasi yang berbeda dengan generasi anak-anak kita. Kita adalah generasi digital immigrant. Generasi yang lebih akrab dengan koran, radio, televisi, komputer personal dan telepon genggam. Kita mengenal peralatan digital pada saat sudah beranjak remaja atau dewasa. Sehingga wajar bila kita merasakan hambatan psikologi dalam mengenal dan menggunakan menggunakan peralatan digital.

Tantangan bagi orang tua adalah memahami karakteristik anak sebagai generasi digital native sehingga kita bisa mengoptimalkan tumbuhkembangnya potensi anak. Mari kita pelajari karakteristik generasi digital native. Asumsi dasarnya, generasi digital native menganggap dunia digital adalah dunia yang sesungguhnya. Bagi mereka, hidup ibarat berenang di lautan kode (program komputer), bisa kesana kemari dengan bebas sesuai kegemarannya.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Sebaiknya Batasi Penggunaan Gadget untuk Anak di Rumah | Sayangi Anak

  2. Pingback: Permainan Anak Tradisional | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top