Parenting

Kebiasaan Buruk Orangtua yang Tidak Disadari, Ternyata Bisa Picu Obesitas Pada Anak

pexels-photo-973970 (1)

Masalah obesitas sejatinya cukup mengkhawatirkan lho Bun. Bahkan dalam sebuah laporan, disebutkan kalau obesitas pada anak akan membawa dampak yang kurang baik terhadap masa depannya. Diberitakan The Sun, sebuah studi yang dilakukan oleh Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH), mengungkapkan 4 dari 5 anak yang obesitas, akan tetap mengalami kelebihan berat badan selama masa hidupnya. Dengan kondisi itu, memungkinkan mereka rentan terhadap serangan sejumlah penyakit.

Sayangnya, dibalik risiko yang mungkin saja dialami, tanpa sadar banyak orangtua yang sejatinya berkontribusi besar menggiring buah hati mereka mengalami obesitas. Setidaknya ada beberapa kebiasaan buruk orangtua yang masih berlanjut sampai hari ini tapi mereka tak sadar hal itu memicu obesitas pada buah hatinya.

Terlalu Banyak Mengonsumsi Krim

Rick mengatakan, sekarang ini banyak anak yang tak memiliki. Dirinya juga menjelaskan bahwa dewasa ini banyak anak memiliki makanan yang kurang bervariasi, dan didominasi oleh makanan yang mengandung krim. “Kita sekarang berada di dunia krim saat ini,” kata dia.

Membiarkan Buah Hati Terlalu Banyak Ngemil

“Saya seorang pendukung menjaga kadar gula darah tetap stabil dengan mengemil, tapi anak-anak terlalu banyak ngemil. Mereka pulang dari sekolah dan makan kudapan, lalu mereka makan malam dan makan kudapan lagi sesudahnya,” kata Rick.

Ia mengatakan, sekarang ini banyak anak-anak yang mengonsumsi makanan ringan dengan jumlah kalori melebihi 300 kalori. Porsi ini berlebihan lho Bun. Dia menjelaskan bahwa banyak kaum muda mengunyah makanan ringan yang mengandung antara 200—300 kalori, baik sebelum dan sesudah makan malam mereka.

Terbiasa Melewatkan Sarapan

Dengan keluarga yang menjalani kehidupan yang semakin sibuk, kadang-kadang sulit untuk menyempatkan waktu sarapan. Di sisi lain, tidak jarang sebagian anak mengonsumsi biskuit atau sereal gula tinggi sebagai pengganti sarapan.

Padahal, menurut Rick, mengonsumsi makanan degan kandungan gula tinggi membuat metabolisme mereka menjadi sangat lambat, atau bisa menghasilkan lonjakan gula yang memberi dampak negatif pada tingkah lakunya. Karenanya Bun, sebagai orangtua, lebih baik tetap pertahankan kebiasaan sarapan sekaligus merekomendasikan makanan seperti bubur, telur atau smoothie berbasis tanaman sebagai pilihan untuk sarapan.

Orangtua Enggan Menyiapkan Makanan yang Lebih Variatif untuk Menu Makan Malam

Rick mengingatkan bahwa memberi makan anak-anak dengan menu yang sama setiap malam hanya akan membuatnya cepat bosan dan akhirnya membuat orangtua mengambil jalan pintas yaitu memesan menu makanan cepat saji. Pada akhirnya, buah hati pun jadi lebih sering mengonsumsi makanan tersebut karena orangtua malas menyiapkan menu sehat untuk anak-anaknya terutama di malam hari.

Anak-anak Dibiarkan Terlalu Banyak Makan Daging

Rick juga memperingatkan kalau sejatinya tubuh tidak dirancang secara fisiologis untuk selalu mengonsumsi daging. Justru tubuh manusia, termasuk anak-anak dirancang untuk selalu mengonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi.

Kalau buah hati justru lebih sering mengonsumsi daging, peluang obesitas pun semakin besar karena kadar protein nabati yang diasup si kecil untuk tubuhnya pun pada akhirnya hanya dalam jumlah yang sangat sedikit, Bun.

Orangtua Membiarkan Buah Hati Menonton Televisi atau Melihat Gawai Secara Terus Menerus

 Terbiasa menonton televisi atau menatap layar gawai akhirnya membuat aktivitas buah hati jadi berkurang. Ia pun jadi lebih sering duduk atau tiduran. Kurangnya aktivitas ini membuatnya berisiko tinggi mengalami obesitas lho kawan.

Sebagai orangtua, karenanya lebih baik memasang batasan tertentu terutama urusan menonton televisi atau menatap gawai. Cara Bunda memasang batasan pun juga harus dengan contoh nyata. Misalnya, di depan buah hati, Bunda benar-benar mengurangi intensitas membuka ponsel. Dengan begitu, buah hati pun akan meniru jejak Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top