Kesehatan Ibu & Anak

Karena Pria Juga Punya Jam Biologis Maka Punya Anak Harus Direncanakan

adults-blur-couple-347023

Selama ini masyarakat beranggapan bila kemampuan memiliki anak berkaitan dan kesuburan perempuan berkaitan dengan usia perempuan ya Bun. Maka bila semakin bertambah usia perempuan, semakin kecil juga kemungkinannya memiliki anak. Laman Independent sendiri menyebutkan, penurunan kesuburan pada perempuan terjadi saat usia mereka mencapai 35 hingga 40 tahun. Artinya, ada banyak risiko yang mungkin mengancam kesehatan dan keselamatan. Di lain sisi, lantaran perspektif ini, jadi banyak yang memahami bila laki-laki memiliki keistimewaan yakni kesuburannya tak terpengaruh dengan pertambahan usia. Ya, ada anggapan bahwa laki-laki dapat menjadi ayah kapan saja. Faktanya, ada sebuah hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ternyata laki-laki juga memiliki jam biologis.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Sains Maturitas, kesuburan laki-laki pun terancam saat usia mereka menginjak 35 tahun. Sekalipun di usia tersebut laki-laki tetap dapat memproduksi sel sperma, namun terjadi penurunan kualitas. Bahkan di usia 40, para peneliti menyarankan agar laki-laki melakukan sterilisasi.

Gloria Bachmann, seorang praktisi dari Women’s Health Institute di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School mengatakan, banyak laki-laki yang tak menyadari dampak dari penurunan kualitas sperma di usia 35. Faktanya, antara kualitas sperma, usia ayah, dan kelahiran bayi memiliki keterkaitan lho Bun. Bila si bayi lahir dengan usia ayah yang masih kurang dari 35 tahun, pertumbuhannnya akan jauh lebih sehat.

Mengapa Hal Tersebut Dapat Terjadi?

merangkai kata romantis untuk suami

Bachman mengatakan, semakin bertambahnya usia ayah, maka semakin besar risiko masalah infertilitas yang akan dihadapi sang ayah. Sama halnya dengan anggota tubuh lain, otot misalnya, seiring bertambahnya usia, maka biasanya kekuatan, fleksibilitas, bahkan massa otot tersebut pun akan berkurang.

Bahkan penelitian terbaru dari The Journal Biological Psychiatry menemukan hubungan antara usia lanjut orang tua dengan penyakit skizofrenia pada anak. Tanda-tanda kemunculan skizofrenia bahkan ditemukan lebih dini pada anak yang lahir dari ayah dengan usia yang lebih tua. Tanda ini muncul pada anak sebelum usia sang anak menginjak 18 tahun. Penyebabnya adalah kelainan gen atau mutasi genetik lho Bun.

Pasien-pasien anak dengan gangguan skizofrenia dalam penelitian tersebut memiliki orang tua yang sehat, juga riwayat keluarga tanpa ganguan mental. Namun diduga mutasi gen terjadi karena ayah pasien berusia lanjut.

“Setiap 10 tahun penundaan usia menjadi orang tua, maka risiko kemunculan tanda skizofrenia pada anak meningkat sekitar 30 persen”, terang ketua penelitian, Shi-Heng Wang dari China Medical University di Taichung dalam sebuah pernyataan. Menariknya, usia sang Bunda justru tidak berdampak pada proses kelainan ini.

Pertambahan Usia Ayah Memicu Terjadinya Mutasi Genetik pada Sperma

baby-boy-child-1361766 (1)

Mutasi gen memang terjadi di sperma, namun risiko kelainan lainnya juga dapat terjadi pada anak dari ayah yang berusia di atas 35 tahun. Kemungkinan terkenanya gangguan spektrum autisme pada anak meningkat menjadi 5,75 persen dari ayah berusia 40 tahun atau lebih, dibandingkan dengan anak yang lahir dari ayah dibawah usia 30 tahun.

Risiko lainnya yang akan dihadapi sang anak adalah ancaman hiperaktivitas (ADHD), psikosis, bipolar, percobaan bunuh diri, serta penggunaan narkoba memiliki keterkaitan dengan usia orang tua yang lebih tua.

Ketahanan fisiknya juga akan menurun sehingga berisiko mengalami leukemia limfoblastik akut (kanker yang disebabkan oleh sel darah putih yang berproduksi tidak normal) di usia anak – juga ancaman kanker lainnya di kemudian hari, seperti kanker payudara dan kanker prostat.

Selama masa kehamilan, Bunda dengan ayah yang berusia mendekati 35 tahun berisiko mengalami diabetes gestational, preeklampsia, bahkan bayi lahir prematur. Hal ini dikuatkan dengan temuan dari Universitas Stanford yang mengungkap dari 40,5 juta kelahiran dari orang tua dengan usia di atas 35 tahun antara tahun 2007 hingga 2016 berpotensi sebabkan risiko lebih tinggi pada bayi lahir dengan berat badan rendah, kejang dan bahaya pada kelahiran lainnya.

Karenanya, Perlu Sekali Perencanaan Keluarga

kids count money

Bun, keputusan memiliki anak dan waktunya merupakan hal yang kompleks. Meski jumlah ancaman ini tidak besar, tapi tetap penting untuk dipertimbangkan bagi para calon orang tua untuk tahu kapan mau merencanakan sebuah keluarga, terlebih usia calon orang tua di dunia makin lebih tua.

Ada baiknya Bunda berdiskusi dahulu dengan ayah lantaran memang sudah tahu risiko yang akan dibawa dari usia orangtua yang tua. pria seharusnya tidak lagi beranggapan untuk menunda punya anak, tapi menyadari risiko yang akan timbul seiring bertambahnya usia ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Saat Si Kecil Diam-diam Ketahuan Membatalkan Puasa, Lakukan Hal Ini Bun

adorable-blonde-blur-1912868 (1)

Saat si kecil terbangun lebih awal untuk sahur tentu membuat Bunda bangga. Artinya, ia mau belajar untuk berpuasa ya Bun. Tapi lucunya, kadang kala justru sebelum adzam maghrib berkumandang, Bunda tak sengaja mendapati si kecil makan atau minum sembunyi-sembunyi. Saat melihat si kecil berlaku demikian, kira-kira apa yang akan Bunda lakukan?

Untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun, berpuasa masih butuh latihan. Mereka masih beradaptasi dengan ibadah wajib yang harus mereka jalani di bulan Ramadan. Untuk itu, jangan menciptakan momen yang membuat si kecil jadi merasa ngeri ya Bun. Sebab kalau Bunda langsung melontarkan omelan, yang ada mereka justru tertekan dan jadi malas berpuasa lagi.

Nah, berikut ini hal-hal yang dapat Bunda lakukan saat si kecil ketahuan membatalkan puasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bunda Tak Perlu Reaktif

Si Kecil akan terkejut bila melihat respon Bunda yang reaktif saat ia ketahuan membatalkan puasa. Tak usah mengagetkan atau membuatnya merasa sangat bersalah, justru tunjukkan ekspresi yang tenang dan diskusikan mengenai puasa tanpa mengintimdasinya ya Bun. Dengan begini ia akan tetap tenang.

Diskusi dan Komunikasi Adalah Kunci

Cobalah tanyakan dulu pada si kecil, apa yang membuat ia tak kuat. Bantu ia menemukan masalahnya ya Bun. Misalkan saja, ia merasa tak kuat berpuasa lantaran tak sempat sahur karena sulit dibangunkan. Atau ia tak kuat puasa karena menurutnya terlalu lamaa menahan rasa lapar.

Tetap diskusikan apapun masalahnya ya Bun. Hal ini akan melatih kemampuan analisisnya. Setelah ia menemukan akar masalahnya, bantu ia menemukan solusi. Misalnya saja, tidur lebih awal agar bisa bangun saat jam sahur.

Berikan Respon Pada Sanggahannya

Saat diajak berdiskusi mengenai apa yang membuat ia tak kuat, bisa saja lho Bun ia mengeluarkan beberapa kalimat sanggahan yang menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya anak yang membatalkan puasanya diam-diam.

Bila anak berkata: “Tapi si A juga membatalkan puasa. Tadi aku lihat dia, makanya aku juga ikut membatalkan.”
Jawab dengan: “Barangkali cara dia berpuasa berbeda dengan cara kamu. Dia mungkin sudah bikin kesepakatan untuk bisa membatalkan puasa di jam itu untuk kemudian dilanjutkan lagi.”
Bila anak berkata: “Si B nggak puasa. Enak banget dia bisa minum es siang-siang gitu.”
Jawab dengan: “Tidak semua orang punya kewajiban puasa. Kalau di agama kita, memang ada perintah puasa di bulan Ramadan. Lagi pula, nanti kalau sudah buka puasa, kan, kamu juga bisa minum es.”

Kuncinya, respon yang tepat diperlukan saat si kecil mencoba memberi sanggahan. Tak usah emosi, tetap tenang ya Bun.

Beritahu Mengenai Konsekuensi Logis yang Akan Dihadapinya

Bila Bunda dan si kecil sebelumnya sudah membuat kesepakatan tentang puasa, maka ini waktunya untuk menjalankan aturan dan konsekuensinya. Kesepakatan bisa saja berisi tentang pada pukul berapa ia bisa membatalkan puasa dan pada pukul berapa ia harus melanjutkan.

Sementara itu, contoh konsekuensi yang bisa diambil misalnya, Bunda tidak jadi memasakkan apa yang dia inginkan untuk berbuka atau tidak jadi membelikan minuman kesukaannya. Konsekuensi tidak perlu berlebihan agar anak-anak tidak terbebani. Yang paling penting, konsekuensi itu harus ada kaitannya dengan tindakannya.

Dan Begini Caranya Agar Tak Terjadi Lagi ya Bun

Walaupun berpuasa untuk anak-anak sifatnya baru latihan, namun ia juga patut terus didorong agar bisa menjalankannya lebih baik. Untuk meminimalisir risikonya membatalkan puasa diam-diam. Untuk Bunda yang belum pernah membuat kesepakatan dengan si kecil, inilah saatnya.

Evaluasilah kekuatan si kecil menjalankan puasa. Lalu buat kesepakatan yang berisi kapan ia boleh membatalkan. Yang penting lakukan pelan-pelan hingga ia terbiasa dan lebih kuat lagi. Itu akan lebih mudah. Kesepakatan ini dapat mengakomodir kebutuhan mereka dan membuatnya lebih bahagia menjalani puasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cara Atasi Si Kecil yang Hobinya Mogok Sekolah

candid-children-cute-1720188 (1)

Dilema yang sering dialami orangtua saat si kecil memasuki usia sekolah adalah problem mogok sekolah ya Bun. Ada saja alasan si kecil menolak untuk berangkat ke sekolah. Seakan ia tak pernah kehabisan akal untuk membuat Bunda memaklumi alasannya agar akhirnya ia tak perlu ke sekolah.

Sebagai orangtua, Bunda pun tak dianjurkan untuk memaksa si kecil. Tenang, tetap ada cara untuk membuatnya mau berangkat ke sekolah lho Bun. Menurut para psikolog, salah satu alasan si kecil menolak ke sekolah sejatinya karena ia belum merasa nyaman atau didera rasa cemas karena saat di sekolah, ia merasa jauh dari orangtuanya.

Bahkan, Anxiety Disorders Associaton of America mengatakan kalau masalah mogok sekolah ini biasa terjadi pada 5% – 28 % anak usia 5 – 6 tahun dan anak usia 10 – 11 tahun. Jika anak melakukan aksi mogok untuk datang ke sekolah, bebrapa kiat yang dapat Bunda lakukan.

Perhatikan Dulu Kondisi Anak Menjelang Tidur ya Bun

Sebelum tidur, usahakan si kecil bisa tertidur dalam keadaan bahagia ya Bun. Sebab kondisi mentalnya menjelang tidur akan berpengaruh ketika anak bangun pagi . Bila ia tidur dengan perasaan nyaman, maka ia pun tak akan mengalami kesulitan tidur dan bangun pun dengan perasaan bahagia juga.

Siasati dengan Membeli Perlengkapan Sekolah yang Disukainya

Trik selanjutnya yang dapat Bunda lakukan adalah mencari tahu karakter kesukaan si kecil ya Bun. Siasati dengan membelikannya pernak pernik kebutuhan sekolah sesuai karakter favorit si kecil. Misalnya pensil, tas, buku, atau bahkan sepatu dan kaos kaki yang akan dia kenakan sehingga anak pun bisa lebih termotivasi untuk berangkat ke sekolah.

Temani Ia Supaya Rasa Cemasnya Hilang

Bun, jauh dari orangtua sekalipun hanya pergi ke sekolah sering membuat si kecil cemas atau tidak nyaman. Untuk itu, pendampingan orangtua pun diperlukan. Tak apa lho Bun menemani si kecil sembari mengatakan padanya bahwa ia akan baik-baik saja. Si kecil pun butuh adaptasi dengan lingkungannya. Bila ia sudah merasa nyaman, pelan-pelan yakinkan ia bahwa Bunda akan menjemputnya saat pulang sekolah.

Katakan Betapa Nyamannya Berada di Sekolah Karena Banyak Aktivitas yang Bisa Ia Lakukan

Bun, anak merasa ogah-ogahan ke sekolah bisa jadi karena ia merasa tak menemukan tantangan baru di sekolah. Padahal, bila ia bersosialisasi dan bereksplorasi dengan banyak hal yang ada di sekitarnya saat sedang di sekolah. Maka ia pun akan merasa nyaman untuk datang ke sekolah. Karenanya, katakan padanya ya Bun bahwa di sekolah pun ia bisa melakukan banyak aktivitas menyenangkan bersama teman-teman dan gurunya.

Jangan Memarahi Bila Si Kecil Mogok Sekolah

Salah satu hal sangat penting untuk dilakukan adalah bagaimana respon Bunda saat mengetahui anak mogok sekolah. Kesal tentu saja boleh. Tapi tidak perlu sampai mengomel terus-terusa pada si kecil ya Bun. Sebab kalau Bunda terus mengomelinya, bukannya termotivasi untuk sekolah, si kecil justru akan merasa bahwa dirinya mendapat tekanan dari orangtuanya.

Ujung-ujungnya, akan timbul perasaan bahwa datang ke sekolah hanya ia lakukan karena ingin membuat orangtuanya bahagia dan senang, bukan karena dorongan dari dalam dirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Menyusui Si Kecil di Malam Hari Bawa Banyak Manfaat Lho

adult-art-baby-235243 (1)

Pasca melahirkan, jam tidur Bunda tentu berubah dan jadi lebih sulit tidur di malam hari. Hal ini lantaran Bunda harus menyesuaikan jadwal menyusui bayi baru lahir yang biasanya dilakukan Bunda pada malam hari. Ya Bun, bayi baru lahir umumnya menyusui setiap 1,5 hingga 2,5 jam baik siang maupun malam. Karenanya, jangan heran bila si kecil akan merengek setiap malam ya Bun. Ini tanda alami kalau ia sedang ingin menyusu.

Menjadi ibu memang butuh pengorbanan. Bayangkan, meskipun didera rasa ngantuk dan tubuh terasa lelah, Bunda tetap harus memberikan ASI untuk bayi. Bunda harus meluangkan waktu untuk mengikuti jadwal menyusui bayi baru lahir yang terbentuk secara alami dari si bayi. Di lain sisi, aktivitas menyusui setiap malam ternyata membawa banyak manfaat lho Bun. Berikut ini adalah beberapa fakta yang Bunda perlu tahu dari aktivitas menyusui bayi baru lahir di malam hari.

Aktivitas Menyusui Ternyata Lebih Banyak Dilakukan di Malam Hari

Dilansir dari situs bellybelly, menyusui bayi di malam hari merupakan bagian penting dari keseluruhan waktu menyusui selama 24 jam. Penelitian telah menunjukkan jika sebagian besar atau sekitar 64% bayi usia 1-6 bulan menyusui antara 1 hingga 3 kali di malam hari (dari jam 10 malam hingga 4 pagi). Lalu, sekitar 20% dari asupan selama 24 jam yang bayi terima, berasa dari pemberian ASI di malam hari. Maka dari itu, lawan kantuk Bunda agar si kecil mendapatkan asupan ASI yang cukup.

Membantu Si Kecil Tidur Lebih Teratur

Bayi memiliki ritme sirkadian atau jam tubuh internal, termasuk jam tidur, yang diatur oleh hormon. Saat bayi menyusu, di dalam ASI terdapat kandungan triptofan, yaitu asam amino yang digunakan oleh tubuh untuk membuat melatonin.

Melatonin adalah hormon yang membantu mengatur tidur. Dengan menyusui, dapat membantu mengembangkan ritme sirkadian bayi dan membantu mereka untuk tidur lebih nyenyak di malam hari, karena mendapatkan melatonin dari ASI.

Melindungi Bayi Dari SIDS

Salah satu alasan yang paling penting mengapa Bunda perlu menyusui si kecil di malam hari yakni untuk membantunya mengurangi risiko kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death Syndrom, Bun. Kematian mendadak atau SIDS memang rawan terjadi pada bayi baru lahir.

Bahkan menurut National Health and Medical Research Council, sebuah organisasi kesehatan terkemuka di Australia, menunjukkan jika tidak menyusui meningkatkan risiko SIDS sebesar 56%. Dengan menyusui di malam hari, sesuai dengan permintaan bayi, maka akan mengurangi risiko SIDS.

ASI Akan Mendukung Pertumbuhan Normal yang Alami

Bun, ASI ternyata mengandung zat yang bernama triptofan yang dibutuhkan bayi sebagai pendukung pertumbuhan secara normal. Di dalam tubuh, triptofan bertugas membantu produksi hormon serotonin yang diyakini bisa membantu kestabilan perasaan bayi. Untuk itu, bila si kecil menyusu ASI secara teratur di pagi, siang, dan malam, pertumbuhannya akan semakin baik.

Turut Menambah Berat Badan Bayi

Apabila bayi terlahir dengan berat badan yang kurang atau tubuh kecil, maka Bunda harus sering menyusuinya. Dengan begitu, berat badan dan pertumbuhan bayi dapat mencapai normal. Tips lainnya yang perlu Bunda terapkan adalah jika bayi terlelap di malam hari, tapi sudah sekitar 2 jam ia belum menyusu lagi, maka Bunda dapat membangunkan bayi untuk menyusu. Tidak masalah jika Bunda membangunkan bayi di malam hari untuk menyusu, karena justru itu yang harus Bunda lakukan agar bayi dapat tumbuh dengan baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top