Parenting

Karena Nama Adalah Doa, Sudahkah Bunda Memberikan Nama Terbaik untuk Si Kecil?

pregnant

Memberi nama pada si kecil tak bisa sembarangan. Tak sekedar alat untuk memanggilnya, tapi juga jadi hadiah dari orangtua untuk si kecil yang akan dipakai seumur hidupnya. Karenanya, sebagai  orangtua kita pasti ingin memberi nama yang terbaik kan, Bun? Hanya saja, masih ada beberapa orangtua yang kurang mempertimbangkan saat memilih nama.

Pada akhirnya, nama yang diberikan pun nantinya justru menyulitkan si kecil. Seperti pemberian nama yang terlalu panjang, biasanya hal yang akan menyulitkan Si Kecil saat ia besar nanti, ia akan mengalami masalah pada penulisan akta kelahiran, menulis nama lengkap di lembar ujian sekolah, atau saat hendak membuat KTP hingga pembuatan ijazah.

Untuk itu, pertimbangkanlah hal-hal ini sebelum memilih nama untuk si kecil.

Hindari Menamai Bayi dengan Nama yang Terkesan Melawan Jenis Kelaminnya

Mengutip dari penelitian yang dilansir dari Popmama, banyak anak laki-laki yang diberi nama oleh orangtuanya yang mengindikasikan nama anak perempuan atau sebaliknya. Kalau hal ini terjadi, nantinya saat si kecil sudah dewasa, ia akan sering menghadapi masalah perilaku dengan anak-anak satu gendernya yang memiliki nama yang lebih maskulin atau feminis.

Di lain sisi, nama yang dianggap tak lazim secara gender pun bisa memicu anak jadi bulan-bulanan temannya dan bisa jadi korban bully. Karenanya, orangtua memang harus lebih berhati-hati.

Hindari Menulis Nama yang Sulit Ditulis dan Diucapkan

Sebelum memutuskan menyematkan nama untuk si kecil, pastikan ejaan dan pengucapan namanya mudah untuk dilafalkan dan diingat. Sebab kalau si kecil justru kesulitan mengucapkan nama atau sukar menuliskan namanya, justru hal itu bisa jadi pemicu kesalahan penulisan di akta kelahiran, ijazah, salah panggil, atau kesulitan-kesulitan lain yang bersifat administratif. Karenanya yuk Bun cari nama yang mudah dieja dan penulisannya pun tidak rumit, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari bagi Si Kecil.

Tidak Memberi Nama yang Sesuai Rencana Sejatinya Tak Masalah Lho Bun

Tak sedikit orang yang sudah punya rencana memberikan nama anak jauh-jauh sebelum si kecil lahir, bahkan sebelum ia menikah dan belum tahu kapan ia akan hamil.

Memiliki nama favorit untuk Si Kecil lahir kelak memang sah-sah saja. Namun, ketika bayi sudah lahir dan nama yang direncanakan dirasa tidak cocok, maka Bunda sebaiknya jangan memaksakan keinginan memberikan nama tersebut.

Hal penting yang tak boleh Bunda lewatkan adalah sebelum memberikan nama untuk si kecil, sebaiknya diskusikan lebih dulu dengan pasangan untuk memberikan nama terbaik untuk si kecil. Jadi, jika nama untuk Si Kecil yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dirasa kurang klik, maka jangan dipaksakan ya bun.

Kalau Nama Tersebut Sudah Sering Dipakai, Coba Cari Ide Nama Baru yang Lebih Menarik

Bagaimana pun memberikan sebuah nama untuk si kecil haruslah mengandung unsur yang istimewa. Tapi kalau nama yang Bunda berikan adalah nama yang sudah sering dipakai orang banyak, rasanya terlalu biasa untuk hal yang spesial untuk si kecil. Jadi, lebih baik memilihkan nama untuk si kecil dengan nama yang belum atau jarang dipakai orang lain, agar si kecil merasa lebih spesial dan berbeda dari orang lain

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Tak Apa Bila Sekali Waktu Bunda Menangis di Depan Anak

kids

Sebagai orangtua, ada kalanya kita dilanda rasa kesal, marah, atau bahkan ingin menangis. Ya Bun, namanya juga manusia. Tapi ada lho orangtua yang berprinsip tak mau memperlihatkan air mata di depan anaknya. Alih-alih meluapkan emosi secara alami, Bunda biasanya terburu-buru menyeka air mata agar tak terlihat oleh anak. Padahal sejatinya menunjukkan emosi atau keadaan Bunda di depan anak itu normal lho Bun.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Ya Bun, hal ini membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami. Pemicu orangtua tiba-tiba menangis biasanya karena mungkin saat merespon kematian anggota keluarga besar. Untuk hal semacam ini, maka biarkan anak tahu emosi orangtuanya. Apalagi bila ia juga mengenal dekat sosok yang telah berpulang. Dengan menunjukkan emosi yang sama, anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik. Nah Bun, hal sama juga dirasakan oleh anak-anak, mereka yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Untuk itu, pastikan Bunda pun memberikan informasi yang cukup guna membantu mereka memahami bahwa tak ada alasan untuk takut atau bingung. Bunda dapat bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis. Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan,

“Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya. Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top