Kesehatan Ibu & Anak

Kalau Mau Lahiran Normal, yang Penting Bunda Mau Olahraga dan Periksa ke Dokter Kandungan Secara Rutin

woman-pregnant-pier-belly-54634 (1)

Kalau disuruh memilih, pasti kebanyakan ibu akan memilih untuk lahiran normal kan Bun? Sakitnya yang katanya ‘hanya sekali’ yaitu ketika melahirkan, membuat kita sebagai ibu sepertinya enggan untuk kompromi dengan rasa nyeri setelah operasi—bila harus melahirkan secara Caesar. Tapi tahukah Bunda, penyebab seorang ibu harus melahirkan Caesar tentu berkaitan dengan kesiapan fisik dan mentalnya. Nah, supaya makin siap, ada lho Bun semacam trik tertentu yang bisa Bunda lakukan demi mengusahakan lahiran secara normal.

Pilih Dokter Kandungan yang Tepat untuk Bunda

pexels-photo-1145997

Sadar tak sadar keberadaan dokter kandungan ternyata bisa mempengaruhi proses persalinan lho Bun. Kalau Bunda ingin persalinan yang normal, maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memilih dokter kandungan yang pro dengan persalinan alami dan lebih jarang menjalani persalinan Caesar dalam praktiknya. Bunda perlu mencari dokter yang punya visi yang sama. Katakan pada dokter dari awal jika Bunda menginginkan persalinan normal, dengan begitu ia akan terus memantau kondisi dan kesehatan kehamilan Bunda serta mengusahakan agar Anda bisa melahirkan normal, dengan tetap menyesuaikan kemampuan tubuh Anda.

Bunda Juga Bisa Ikuti Kelas Kehamilan

pexels-photo-1103242

Kenapa? Sebab saat Bunda mengikuti kelas kehamilan, banyak yang bisa Bunda ketahui terkait persiapan persalinan dan pengasuhan bayi saat lahir nanti. Yang jelas setiap hal itu Bunda dapatkan secara lebih jelas dan mendalam. Mulai dari tips menjaga kesehatan selama hamil, cara mempersiapkan tubuh menjelang persalinan agar bisa lahir normal, latihan pernapasan untuk menghadapi persalinan normal, hingga berbagi pengalaman dan masalah kehamilan.  Bahkan Bunda pun akan dibantu meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi proses persalinan.

Bunda Perlu Banyak Membaca Buku Serta Rutin Cek ke Dokter Kandungan ya Bun

woman-pregnant-pier-belly-54634 (1)

Yup! Selain ikut kelas kehamilan, Bunda juga perlu membaca banyak buku tentang persiapan persalinan secara normal. Atau kalau memang Bunda perlu interaksi, ikuti saja grup atau komunitas sesama ibu yang pernah atau sedang berjuang melahirkan secara normal.

Selanjutnya, Bunda tak boleh abai soal rutin cek ke dokter kandungan. Kondisi kehamilan harus dipantau secara rutin agar bisa menghindari masalah-masalah kehamilan yang bisa membahayakan, sehingga bisa mengurangi risiko persalinan caesar.

Kalau Bisa dan Memungkinkan, Hindari Induksi ya Bun

pexels-photo-69097 (1)

Jika Bunda tak memiliki kondisi tertentu yang memerlukan induksi persalinan, maka sebisa mingkin hindarilah induki ya Bun. Beberapa penelitian percaya bahwa ibu yang mendapatkan induksi persalinan berisiko lebih besar mengalami persalinan caesar darurat.

Terpenting, Olahraga yang Cukup ya Bun

pexels-photo-1253592

Olahraga rutin selama kehamilan dapat membantu tubuh Bunda aktif, sehingga secara tidak langsung bisa mengurangi risiko persalinan caesar. Di lain sisi, fungsi olahraga juga bisa membantu mempersiapkan tubuh menghadapi persalinan normal lebih mudah lho Bun. Selain itu, tetap penuhi nutrisi yang diperlukan selama hamil agar kesehatan Bunda tetap terjaga dan terhindar dari berbagai penyakit.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kiat Agar Si Kecil Berani Tidur Sendiri

bed-child-cute-101523

Bun, saat si kecil sudah bertambah besar, akan ada tantangan baru yang akan Bunda hadapi. Salah satunya urusan tidur. Umumnya, anak-anak terbiasa tidur bersama orangtuanya sejak bayi. Hal ini yang kemudian akan membuat tantangan baru bagi orangtuanya lantaran si kecil tak mau tidur di kamar yang terpisah dari orangtuanya. Padahal, anak yang berani tidur sendiri akan jauh lebih mandiri lho Bun.

Tenang, ada caranya supaya si kecil berani dan mau tidur sendiri. Tapi Bunda perlu ingat, tentu akan ada yang namanya proses penyesuaian, dan memang butuh kesabaran ekstra. Karena mungkin bagi si kecil, proses ini tidaklah mudah dan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama hingga berbulan-bulan sampai anak benar-benar terbiasa tidur sendiri. Untuk itu, Bunda dan pasangan juga harus menyiapkan diri dengan kesabaran dan berbagai trik agar anak mau tidur di kamar yang terpisah.

Mulailah Pelan-pelan, Si Kecil dan Bunda Perlu Sama-sama Belajar

Sebaiknya Bunda pun juga harus mempersiapkan si kecil untuk belajar tidur sendiri dari jauh-jauh hari supaya ia pun tak kaget. Satu hal yang penting, tak usah menakut-nakuti anak dengan cerita yang seram atau ancaman agar ia mau tidur sendiri sebagai senjata untuk mendisiplinkan anaka.

Di lain sisi, Bunda justru harus menyiasati supaya anak merasa antusias dengan kamar barunya. Libatkan anak dalam menata kamar tidurnya mulai dari warna cat, pilihan sprei, dan berbagai perabot kamar lainnya. Di lain sisi, berikan juga “pancingan” lain semisal kebebasan anak untuk membangun istana boneka sendiri atau membuat hiasan sesuka hatinya.

Yang penting cobalah untuk membimbing si kecil agar dapat membangun pengalaman yang menyenangkan di kamar barunya ya Bun.

Jelaskan dan Berikan Pengertian Padanya Tentang Perubahan yang Terjadi

Si kecil yang menolak untuk tidur sendiri biasanya karena ia tak mengerti bahwa ada perubahan yang terjadi dan butuh penyesuaian untuk hal itu. Karenanya, berikan pengertian padanya sampai ia mengerti bahwa waktu tidur sendiri adalah kebiasaan setiap orang saat mereka beranjak dewasa.

Dengan memberikan pengertian, Bunda pun membuka komunikasi dan ia pun semakin mengerti bahwa tak selamanya kebiasaannya di masa kecil bisa terus dilakukan bersama orang dewasa.

Jadikan Kamar Baru Sebagai Kejutan dan Hias dengan Ornamen yang Ia Suka

Supaya si kecil mau tidur di kamarnya sendiri, ia harus merasa aman dan nyaman dalam kamarnya. Maka, aturlah agar kamar anak terasa hidup tapi cukup tenteram untuk beristirahat. Siapkan boneka-boneka, bantal, dan guling supaya anak merasa aman dan tenang saat tidur. Biarkan juga si kecil menyimpan mainan kesukaan atau buku bacaan yang ia inginkan di dalam kamar supaya timbul rasa memiliki dan anak cepat betah di kamar barunya.

Atur Waktu Tidur Anak dengan Baik supaya Ia Memiliki Jam Tidur yang Teratur

Si kecil akan susah tidur kalau jam biologisnya berantakan. Untuk itu, Bunda harus memastikan bahwa anak tidur pada waktunya. Jangan memaksanya untuk tidur terlalu cepat, tapi usahakan agar anak tidak tidur melampaui jam tidurnya.

Jika anak sulit terlelap di malam hari, Bunda bisa memotong atau memajukan jam tidur siangnya. Pastikan juga si kecil sudah kenyang dan sudah ke kamar mandi sebelum tidur agar dia tidak menjadikan hal-hal ini sebagai alibi untuk keluar dari kamarnya di malam hari.

Dan Selalu Hargai Usaha Si Kecil ya Bun

Supaya anak lebih semangat untuk belajar tidur sendiri, Bunda bisa memberikan imbalan setelah ia berhasil tidur sendiri di kamarnya. Pastikan imbalan tersebut bersifat sederhana dan tidak terlalu berlebihan namun membuat anak merasa senang saat menerimanya.

Bunda dapat memberikan ciuman, pujian, dan ucapan terima kasih di pagi hari. Bunda pun dapat menghidangkan menu sarapan favoritnya sebagai bentuk apresiasi. Jika usahanya dihargai, maka si kecil pun semakin terpacu untuk belajar tidur sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tasya Kamila-Randi Bachtiar Mulai Rasakan Repotnya Mengurus Buah Hati

tasya

Tasya Kamila dan sang suami, Randi Bachtiar baru saja menggelar akikah untuk anak pertama mereka, Arrasya Wardhana Bachtiar. Mereka juga menceritakan kesehariannya setelah tujuh hari menjadi orangtua. Randi mengaku efek yang dirasa pasca menjadi ayah tentu saja kurang tidur.

“Makin kurang tidur, sahur, salat. Pas baru mau tidur sudah nangis lagi. Pagi kita ngejemur bayi, jadi bangun lagi penuh tantangan,” ujarnya seperti dikutip dari detik.com, Senin (20/5).

Tasya pun tak menampik tantangan yang dihadapi Randi. Sebagai ibu baru, ia juga mengungkapkan sulitnya menyusui sang buah hati.

“Menyusui challenge buat aku, ada aja drama mengasihi. Kita jalani dengan ikhlas dan semangat melalui asi. Senang lihat anaknya kenyang ASI walau lecet luka,” tuturnya. Tasya Kamila dan Randi Bachtiar juga sudah membagi tugas untuk membantu mengurus anaknya. Dan Randi mengaku awalnya agak kerepotan saat menggantikan popok anaknya.

“Aku senang gantiin popok, agak jijik awalnya, tapi ya dijalanin saja,” katanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

tak terasa si kecil sudah setahun, ini perkembangan bayi 12 bulan

perkembangan bayi 12 bulan

Akhirnya, si kecil genap berusia satu tahun! Tak disangka, sudah 365 hari terlewati menyaksikan tumbuh kembang dan kelucuan si kecil ya Bun. Banyak kejadian penting yang menandai pertumbuhannya. Sebagai orangtua, tentu Bunda bangga melihatnya di hari ini. Kesukaran yang dialami sepanjang mengasuh si kecil, sirna begitu saja melihatnya tumbuh sehat dan semakin pintar.

Ya Bun, satu tahun pertama memang menjadi momen penting bagi perkembangan bayi. Berbagai kejadian penting menandai pertumbuhan anak yang sangat pesat di usia ini mulai dari perkembangan motorik hingga kemampuan berbahasa anak.

Perkembangan Bayi 12 Bulan Umumnya Ditandai Dengan Hal-hal Berikut Ini:

Perkembangan Kognitifnya Ditandai dengan Kemampuannya Melempar Mainan

Pada usia satu tahun, si kecil sudah memiliki kemampuan berpikir, belajar, mengingat perilaku orang atau kejadian di lingkungannya. Anak juga mulai memahami simbol dan mulai meniru, mereka juga mulai memhami hubungan antar peristiwa dan sebab-akibat. Misalnya, ketika Bunda menekan saklar kemudian lampu menyala. Mereka akan penasaran dengan hal-hal semacam itu. Dalam aktivitas sehari-hari, mereka tak hanya piawai melempar, tapi juga menyusun balok dan mengenali warna-warna mainannya lho Bun.

Si Kecil Akan Bertindak Sedikit Menyebalkan Lho Bun

Karena sudah mengerti perintah, si kecil juga mulai memahami cara membantah. Tak usah kesal ya Bun, justru menurut John Sargent, MD, profesor psikiatri anak di Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat, ini adalah salah satu cara anak untuk menunjukkan self-autonomy. Bunda hanya perlu bersabar, ingat saja bahwa anak sedang belajar untuk membuat keputusan, dan sudah sewajarnya Bunda mendukung tugas belajarnya itu. Lakukan kiat menghindari anak berkata tidak ya Bun.

Selain membantah, ada kemungkinan si kecil juga semakin rentan tantrum. Dalam buku Children Are People Too, Dr. Sharon Fried Buchalter mengatakan ada 2 jenis tantrum, yaitu tantrum aktif (protes dan sosial) dan tantrum pasif (merengek dan tidak kooperatif). Setiap tantrum butuh penanganan yang berbeda nih Bun.

Perkembangan Bahasanya Semakin Meningkat diikuti dengan Ketertarikannya dengan Intonasi Suara

Bila sebelumnya si kecil hanya mampu mengucapkan satu kata, kini ia mulai mengucapkan dua suku kata guna mewakili pemikirannya. Misalnya, ‘dadah Mama’, atau ‘mau lagi’. Selain itu mereka juga giat menyanyi dan menari sebab di usianya ini, kemampuan motorik dan sensorinya sedang aktif, Bun.

Tak hanya itu saja, anak juga akan mulai penasaran dengan intonasi suara. Misalnya ketika Bunda bermain cilukba dengan intonasi pelan kemudian meninggi, tak jarang ia akan memberi reaksi senang. Pada usia satu tahun ia memang tertarik dengan permainan intonasi suara.

Untuk Itu, Penting untuk Bunda Tahu Nutrisi Apa yang Ia Butuhkan

Nah, di usia satu tahun, si kecil tentu sudah bisa mengunyah makanan padat, seperti nasi, daging, telur, ayam, brokoli, labu siam, mie, roti, apel, melon, semangka, dan lainnya. Bahkan ia pun juga sudah bisa makan sendiri.

Bunda perlu tahu, anak di usia ini perlu kalori sebanyak 1000 sampai 1400 kalori per hari. Mereka pun perlu makan sebanyak tiga kali per hari ditambah dua sampai tiga kali camilan agar kebutuhan kalori tersebut tercapai. Kalori ini bisa didapat dari sayuran, buah-buahan, makanan sumber karbohidrat, makanan sumber protein hewani dan nabati, serta susu.

Dan Mari Ajari Si Kecil Makan dengan Benar ya Bun

Di usia 12 bulan, varian makanan yang dikonsumsi si kecil semakin beragam. Menariknya, Bunda justru disarankan mendorong anak mencoba berbagai macam rasa dan tekstur makanan sehingga lidah anak tidak asing dengan makanan tertentu. Hal ini dapat mencegah anak dari kebiasaan pilih-pilih makanan.

Bunda dapat membiarkan si kecil memilih dan menggenggam sendiri makanannya. Jika si kecil terbiasa, kelak di usia sekitar 15-18 bulan, ia pun semakin terlatih untuk makan sendiri. Bunda perlu membiasakan hal ini ya sebab makan sendiri dapat melatih koordinasi antara mata, tangan, dan mulut anak. Hal ini juga dapat melatih kemandirian anak.

baca artikel terkait di perkembangan bayi 1 bulan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top