Kesehatan Ibu & Anak

Kalau Kulit Leher Mulai Berkerut, Wajib Segera Diatasi ya Bun

pexels-photo-167704

Leher merupakan bagian yang paling mudah mengalami penuaan lho Bun. Ya, apalagi kalau Bunda jarang memperhatikan elastisitas kulit di area leher, tiba-tiba saja saat dicek ternyata sudah muncul gejala penuaan seperti leher yang mulai berkerut. Nyatanya, yang namanya leher berkerut itu tidak muncul secara tiba-tiba Bun. Penyebabnya mulai dari polusi, paparan sinar matahari berlebih, sampai soal pengaruh alkohol maupun asap rokok ya Bun.

pexels-photo-724659

Meski yang namanya penuaan memang tidak bisa dihindari, Bunda masih punya waktu untuk mengatasi gejala tersebut dengan cara menyamarkannya melalui perawatan yang pas. Nah, sebelum membahas soal area wajah, coba dulu yuk untuk lebih memperhatikan area kulit leher. Ini dia cara yang  bisa Bunda lakukan:

  1. Kalau ingin pergi keluar rumah di pagi atau siang hari, lindungi area leher Bunda dengan memakai scarf, pashmina, syal, atau baju bergaya turtle neck ya Bun. Sebisa mungkin batasi paparan sinar matahari demi melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB.
  2. Jika sedang berada di sekitar perokok, sebaiknya Bunda segera menyingkir atau cari tempat yang sekiranya tak bisa membuat kulit leher Bunda terpapar dari asap rokok. Tak hanya asap rokok, Bunda perlu mengurangi kontak dengan asap lainnya juga ya!
  3. Bangun pagi atau sekalipun di sore hari saat Bunda luang, sempatkan untuk melakukan stretching di area leher. Latihan semacam ini akan membantu mengencangkan kulit di area wajah lho
  4. Saat duduk, usahakan Bunda selalu menjaga postur agar kepala tetap tegak dan dagu naik ya Bun
  5. Ini penting, usahakanlah untuk minum setidaknya delapan gelas air setiap hari. Percayalah, hal ini berguna untuk membuat kulit Bunda tetap kencang.
  6. Saat Bunda tidur, usahakan jangan memakai bantal yang terlalu tinggi ya. Biarkan area leher rileks sehingga syaraf di area tersebut bisa mengalirkan darah dengan baik yang membuat Bunda ikut rileks.
  7. Untuk perawatan dari luar, Bunda bisa membuat masker irisan kentang dan balurkan di area leher untuk proses detoksifikasi sekaligus membersihkan pori-pori. Serta kalau ingin hasil lebih maksimal, konsultasikan ke dokter wajah agar mendapat krim anti kerut di area leher sebelum tidur. Selamat mencoba ya, Bun!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bolehkah Bayi Mendapatkan ASI dari Ibu yang Masih Merokok?

adult-art-baby-235243

Sebagai seorang ibu, tentu kita mendambakan kesehatan yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi ada kalanya kita pun masih menomorduakan urusan kesehatan. Padahal, di usia anak yang masih balita, kesehatan Bunda pun juga berpengaruh pada kesehatan buah hati. Contoh yang paling sering dijumpai salah satunya yaitu ketidakmampuan seorang ibu untuk menghentikan kebiasaan merokok kendati ia masih harus memberikan ASI pada buah hatinya.

ASI dari seorang ibu yang masih aktif merokok tentu tak akan memberikan proteki maksimal pada buah hati. Kendati demikian, ada baiknya untuk tidak berhenti memberikan ASI lho Bun. Ini karena menyusui memberikan banyak kekebalan, yang membantu bayi melawan penyakit, dan bahkan dapat membantu menangkal beberapa efek dari asap rokok.

Bahkan bayi yang mendapat ASI akan memiliki kekebalan tubuh yang baik sehingga dapat membantu melindungi bayi saat memerangi penyakit. ASI yang diberikan oleh ibu perokok masih lebih baik dibandingkan dengan memberikan bayi susu formula.

Nah, bayi dengan orangtua yang merokok memiliki kemungkinan lebih rewel. Sementara, ibu yang merokok merokok kemungkinan kurang mampu mengatasi bayi kolik. Nah, ‘kolik’ adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut. Penyebab bayi kolik yaitu karena kadar hormon prolaktin yang lebih rendah. Bahkan produksi ASI nya pun jadi lebih rendah lantaran kekurangan prolaktin. Selain itu, ibu yang memiliki kebiasaan merokok bisa menambah potensi gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare pada bayi.

Selanjutnya, riset lain menyebutkan, bayi dengan ibu dan juga ayah yang merokok, memiliki potensi tujuh kali lebih besar untuk meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Lalu, anak-anak dari orangtua merokok tercatat memiliki rekor kunjungan ke dokter, 2-3 lebih banyak dibanding anak dengan orangtua tak merokok.

Biasanya keluhan yang umum muncul adalah infeksi pernafasan, atau penyakit terkait alergi. Selain itu, anak-anak yang terpapar asap pasif di rumah memiliki kadar HDL rendah. HDL adalah kolesterol baik yang membantu melindungi manusia dari penyakit arteri koroner.

Sebuah studi lain menemukan, anak yang tumbuh di rumah di mana kedua orangtuanya merokok, dapat melipatgandakan risiko anak terkena kanker paru-paru di kemudian hari. Lalu, apa pengaruh rokok terhadap ASI? Sebuah riset menunjukkan, ibu dengan kebiasaan merokok cenderung menyapih anaknya lebih awal. Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan, ibu merokok memiliki tingkat produktivitas ASI yang terus menurun. Sejalan dengan yang telah disebutkan di atas, tingkat prolaktin pada ibu yang merokok menjadi lebih rendah. Padahal, hormon ini diperlukan untuk produksi ASI.

Seperti dikutip dari kompas.com, studi yang dilakukan di tahun 2004, menunjukkan bahwa ibu merokok yang tinggal di daerah dengan kekurangan yodium ringan sampai sedang memiliki lebih sedikit yodium dalam ASI. Padahal yodium diperlukan untuk fungsi tiroid bayi. Karenanya, ibu menyusui yang merokok disarankan untuk mempertimbangkan pemakaian suplemen yodium.

Demi kesehatan si anak, pilihan untuk mencoba mengurangi banyaknya rokok yang dikonsumsi menjadi langkah yang baik untuk dilakukan ya Bun. Semakin sedikit merokok, maka hal itu pun akan memperkecil kemungkinan munculnya risiko. Sebaliknya, risiko akan terus membesar bila si ibu bisa merokok apalagi hingga 20 batang per hari.

Dengan berbagai risiko dari merokok dan hubungannya dengan bayi, maka ibu sangat disarankan untuk berhenti merokok. Namun jika hal tersebut masih sulit dilakukan, jangan berhenti menyusui selama ASI masih terus diproduksi. Selain itu jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi, apalagi menyusui sambil merokok. Menyusui sambil merokok meningkatkan risiko bayi terpapar asap rokok dan risiko tersundut.

Merokoklah segera setelah rampung memberikan ASI. Buatlah rentang waktu selebar mungkin antara merokok dan menyusui. Dibutuhkan 95 menit setelah merokok untuk menghilangkan separuh dari pengaruh nikotin yang melakat pada tubuh di ibu. Kalau memang Bunda masih belum bisa lepas dari rokok.

Tapi, sebagai orang tua, sebaiknya mengutamakan kesehatan dan kepentingan anak dibanding kenyamanan pribadi. Bagaimana pun, berhenti merokok akan jauh lebih baik bagi kondisi ibu dan bayi Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Membiarkan Si Kecil Terpapar Asap Rokok Sama dengan Melakukan Penganiayaan

ash-burning-cigar-70088

Kepada para orangtua, terutama yang masih jadi perokok aktif, ketahuilah, merokok dekat anak adalah penganiayaan terhadap anak. Begitulah ungkap Adam Goldstein, seorang dokter praktik sekaligus profesor dan direktur Tobacco Intervention Program di University of North Carolina, Amerika Serikat. Lebih lanjut lagi ia mengatakan, paparan terhadap asap rokok memicu kanker loh Bun.

Orangtua yang lalai atau sengaja mengabaikan hal ini bahkan dilakukan berulangkali dianggap melakukan penganiayaan terhadap anak. Mengutip dari Tempo.co, berdasarkan data per 2015 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 40 juta anak Indonesia merupakan perokok pasif lantaran tinggal bersama orangtua perokok atau dekat dengan orang dewasa yang merokok.

Bayangkan, satu batang rokok mengandung lebih dari 250 bahan kimia aktif yang bersifat karsinogenik alias penyebab kanker termasuk formaldehida, benzena, vinil klorida, arsenik, amonia, dan hidrogen sianida.

Belum lagi asap buangan rokok mengandung karbon monoksida lima kali lipat, tar dan nikotin tiga kali lipat, dan amonia hingga 46 kali lipat lebih banyak daripada asap yang dihirup langsung oleh perokok aktif. Ini artinya, peluang kanker bagi para perokok pasif bisa mencapai hingga 50 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang merokok.

Bunda pun perlu tahu, paru-paru anak tentunya lebih kecil dari paru-paru orang dewasa. Anak-anak juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Karenanya, anak-anak bisa menghirup lebih banyak zat-zat kimia berbahaya per berat tubuh mereka dibandingkan orang dewasa dalam waktu yang bersamaan.

Di lain sisi, sistem kekebalan tubuh anak-anak pun belum terbentuk dengan sempurna sehingga mereka lebih rentan terkena radang pernapasan. Bahkan bayi yang sering terpapar oleh asap rokok memiliki peluang yang tinggi terhadap risiko kematian akibat Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) daripada bayi yang tidak terpapar oleh asap rokok.

Berdasarkan data dari UNICEF pada tahun 2012, pneumonia yang disebabkan lantaran menghirup asap rokok menempati peringkat tertinggi kematian anak Indonesia, tercatat sebesar 14% atau sekitar 21 ribu anak yang jadi korbannya. Angka ini melebihi angka kematian akibat AIDS, malaria, dan TBC. Karenanya, Bunda perlu tahu pengaruh asap rokok bagi kesehatan buah hati Bunda. Sebab selain masalah di atas, asap rokok menyebabkan:

  1. Janin berisiko mengalami BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) saat dilahirkan. Ibu hamil yang menghirup asap rokok, atau yang merokok, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi kecil. Kondisi bayi yang mengalami BBLR berisiko tinggi terhadap berbagai macam isu kesehatan.
  2. Sejak di dalam kandungan, paru-paru bayi jadi lemah. Bayi yang terpapar bahkan menghirup asap rokok buangan semenjak lahir akan mengembangkan paru-paru yang lemah, dan bisa meningkatkan risiko berbagai macam penyakit pernapasan.
  3. Si kecil berisiko alami asma berat atau akut. Bahkan anak-anak yang tinggal seatap dengan orangtua perokok lebih rentan terhadap batuk, batuk berdahak, suara mengi, dan sesak napas dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang orangtuanya bukan perokok.
  4. Bahkan karena terlalu sering terpapar asap rokok dalam jangka waktu lama, hal ini bisa memicu kerusakan kognitif pada anak. Hal ini akan membuat kemampuan belajar anak menjadi lambat dan menurun. Kadar yang lebih tinggi dari paparan asap rokok juga terkait dengan kemampuan matematika dan penalaran visuospatial anak yang jauh di bawah rata-rata loh Bun.
  5. IQ anak pun rendah. Anak-anak yang ibunya perokok aktif (merokok 1 pak per hari selama kehamilan) menunjukkan hasil tes IQ rata-rata lebih rendah 2,87 poin daripada anak-anak normal dengan orangtua nonperokok.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Kalau Gabung ke Komunitas Justru Tak Membawa Manfaat Berarti, Mending Tak Usah Ikut Deh!

moms

Demi bertukar informasi dan mencari wadah mendapatkan support system, kadang para Bunda memilih gabung ke beberapa komunitas. Ya kan, Bun? Nah, sebelum bergabung dengan salah satu komunitas, coba pertimbangkan dahulu tiga hal ini yuk Bun!

Mengutip Haibunda.com, psikolog keluarga dan pernikahan Nadya Pramesrani dari Rumah Dandelion, menyarankan untuk mempertimbangkan dan menanyakan pada diri sendiri. Sudahkah Bunda memiliki tujuan pasti untuk bergabung dengan komunitas yang akan dituju? Adakah yang dicari dari komunitas tersebut? Kalau hanya iseng atau karena ikut-ikut teman, lebih baik pertimbangkan lagi ya Bun.

“Karena beranjak dari kebutuhan itu kita akan skrining komunitas yang ada. Misalnya pertama, ada komunitas ibu-ibu yang bisa memenuhi kebutuhan kita ya sudah gabung aja,” kata Nadya.

Pertimbangan selanjutnya, sebelum gabung ke komunitas tersebut, yakinkan diri, akankah Bunda menemukan kenyamanan bersama dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Seperti saat sekolah aja, Bun, kata Nadya biasanya kita berkelompok. Nah, perhatikan apakah lingkungan kelompok tersebut bikin nyaman.

Meskipun, kenyamanan relatif ya, berbeda-beda tiap orang. Nadya menyarankan, demi mengetahui nyaman atau tidaknya saat mencoba masuk ke komunitas ibu-ibu tersebut, lakukan interaksi ya Bun. Apakah kita merasa nyaman saat berbagi cerita kemudian dapat info yang dicari? Lalu apakah kita percaya dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Bila ada keterikatan tersebut bisa dibilang kita nyaman.

Terakhir, yaitu soal diversitas. Cobalah identifikasi keragaman yang ada di komunitas ibu-ibu tersebut. “Makin besar diversitas otomatis pengetahuan yang kita dapat lebih beragam,” tambah Nadya.

Komunitas ibu-ibu termasuk untuk ibu baru memang membantu kok, Bun. Komunitas ibu-ibu penting untuk media belajar. Khususnya untuk orangtua baru yang pasti menurut mereka sangatlah penting. Hal ini agar ibu-ibu tak hanya dapat pengetahuan dari baca aja tapi juga bisa berdiskusi secara langsung.

“Komunitas orang tua ini bagus banget dilakukan, kalau perlu ada kurikulum. Memang jadinya dia sekolah rutin dan dia dapat sesuatu yang baru entah cuma seminggu, dua minggu, atau sebulan sekali yang penting ada hal baru yang didapat tentang parenting dan itu dilakukan berdasar usia anak,” tambah Ratih seperti dikutip dari detikcom.

Jadi kalau sejauh ini Bunda tak menemukan hal-hal tersebut di komunitas yang Bunda ikuti, lebih baik tak usah memaksakan atau melanjutkan untuk terlibat atau berinteraksi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top