Parenting

Kak Aio dari Ayo Dongeng Indonesia dan Ajakan Mendongeng Untuk Bunda

4

“Belum biasa, tak memiliki bahan, dan ketidakpercayaan diri” Jadi 3 alasan utama yang kerap disebut-sebut sebagai faktor penghambat, kenapa sampai sekarang bunda belum berani mendongeng pada anak di rumah.

Padahal tanpa harus dijelaskan, bunda pasti sudah tahu jika mendongeng jadi sarana yang baik untuk membentuk karakter dan mengasah otak kanan anak.

Mengingat banyaknya manfaat dari kegiatan ini, dalam beberapa tahun terakhir banyak pihak yang mengajak kita untuk melakukan aktivitas ini secara rutin bersama anak. Dan salah satunya adalah Ayo Dongeng Indonesia.

Mochamad Ariyo Faridh Zidni selaku founder Ayo Dongeng Indonesia, yang juga jadi salah satu bagian dari 10 pendongeng terbaik Indonesia. Meluncurkan website AyoID, Tepat pada 3 Desember 2011 lalu. Ayo Dongeng Indonesia sendiri, adalah komunitas sosial yang berkomitmen pada kampanye kegiatan mendongeng bagi anak di Indonesia untuk keceriaan, inspirasi, memotivasi dan pengembangan imajinasi.

Konon gerakan komunitas ini, tercetusnya atas permintaan beberapa peserta belajar mendongeng yang diadakan oleh Mochamad Ariyo Faridh Zidni, atau yang juga akrab disapa kak Aio. Mulai dari Guru, Pekerja Kantoran, Mahasiswa/i, Remaja, dan dari beragam profesi atau latar belakang lain yang menjadi peserta belajar mendongeng. Selain senang dengan dunia anak, dunia cerita (dongeng) dan ingin belajar dongeng, para pelajar dongeng ini ingin sekali mendongeng untuk berbagi cerita dan ceria ke anak-anak yang jauh dari indahnya dunia cerita.

1

Gerakan ini menjadi lebih dari sebuah ide, ketika keinginan bahwa siapapun dan semua orang bisa mendongeng untuk berbagi cerita, ceria dan imajinasi. Semua bisa dilakukan dengan niat baik tanpa harap apapun. 

Bahkan hingga kini, tercatat ada 4 kegiatan yang menjadi kegiatan utama di Ayo Dongeng Indonesia, mulai dari Pop-Up Storytelling (Dongeng Kejutan), Storytelling Class (Kelas Dongeng), Storytelling Campaign (Kampanye Dongeng), Storytelling Festival (Festival Dongeng).

Gerakan ini jadi kegiatan yang memiliki dampak cukup positif, baik kepada bunda yang selama ini sudah mendongeng untuk anak di rumah atau yang masih saja malu-malu dan berpikir bahwa dirinya tak bisa jadi pendongeng yang baik untuk anaknya.

Padahal, “Sebenarnya yang perlu diingat, mereka bisa. Tapi Asumsi mereka sendiri aja, mereka berpikir bahwa mereka itu nggak bisa. Nah tak bisa itu karena mereka membandingkan dirinya dengan pendongeng yang sudah jago, pendongeng yang sudah profesional”.

Kalimat itu adalah pernyataan dari Kak Aio, selaku salah satu pendiri Gerakan Ayo Dongeng Indonesia, yang kami temui disela-sela kegiatan mendongengnya di Perpustakaan Nasional, minggu lalu. Nah, berikut cuplikan obrolan singkat kami bersama dengan Kak Aio.

2

Sejak kapan Kak Aio mulai mendongeng dan apa yang Kak Aio dapatkan saat mendongeng?

Sudah lama sih, dari tahun 1999. Jadi dari zaman kuliah sampai sekarang. Kalau untuk pengalamannya banyak sih, setiap dongeng itu pengalamannya beda-beda. Jadi lebih banyak belajar, tentang budaya, terus tentang perkembangan anak juga. Jadi tahu, “oh si anak, cerita ternyata lebih cocok yang mana”, “Oh ternyata lebih dekat yang gini, oh ternyata caranya kaya gini”. Jadi sebenarnya ada banyak, dan itu belajar dengan sendiri. Dan akhirnya pengen belajar, gimana caranya untuk bisa begini dan semakin tahu ada banyak yang masih kurang.

Dari banyak kesempatan, kira-kira ada pengalaman yang paling berkesan tidak?

3

Kata orang sih berkesan, tapi setiap kegiatan sih pasti beda-beda. Paling yang berkesan, dulu waktu mendongeng ke rumah sakit, itu berkesan banget sih. Karena sekali cerita, tapi buat mereka itu terlihat menyenangkan banget, padahal ceritanya sederhana banget. Dan itu jadi pengalaman mendongeng yang paling berkesan banget, salah satunya. Dan semuanya menyenangkan.

Tapi ada sebagian orang yang tidak bisa bercerita, kalau begini kita harus bagaimana kak?

Sebenarnya, gerakan kita itu lebih mengkampanyekan kalau semua orang itu bisa bercerita. Karena bercerita itu mudah, mudah banget. Semudah bercerita ke sahabat atau teman dekat, cuma sebagian orang masih takut. Nggak berani nyoba.

Karena di Festival-festival yang kita bikin, itu yang mendongeng juga orang-orang biasa. Bukan yang setiap hari berprofesi mendongeng. Mereka itu ibu rumah tangga, ibu bekerja, sesederhana itu.

Lalu apa tips sederhana, untuk orangtua yang masih belum berani mendongeng untuk anaknya?

4

Tips nomor satu, jangan membanding-bandingin, karena setiap orang itu berbeda, setiap orang punya cara bercerita yang juga beda. Dan bercerita itu bisa disampaikan dengan cara sederhana, ya cerita, cerita aja. Yang jelas tujuannya adalah, mau cerita sama anak, mau lebih dekat dengan anak, udah itu pasti bisa deh.

Karena anak juga nggak akan nolak kalau orangtuanya mau bercerita kaya apa. Itu yang harus perlu dipahami. Sebenarnya tak perlu dilatih, asal sering dilakukan nanti orangtua akan tahu. “Oh ternyata bercerita itu seperti ini, oh ternyata anak tuh dengerin kok kalau gue bercerita begini” udah kaya gitu aja. Tapi kalau memang ingin menjadi pendongeng yang tampil diacara besar, ya itu memang perlu dilatih. Tapi kalau untuk mendongeng buat anak dirumah, cukup dilakukan saja.

Dan Menurut Kak Aio sendiri, dari sekian banyak manfaat dongeng apa yang paling berpengaruh pada tumbuh kembang anak?

Sebenarnya ada banyak banget, mulai dari masalah vocabulary, masalah kedekatan, masalah perkembangan emosi, pengembangan karakter anak, yang semuanya bisa disampaikan lewat cerita dan bisa dipelajari bersama. Dan dampaknya positif semuanya, dan akan menjadi negatif ketika orangtua tidak melakukan.

Mendongeng kerap Diidentikkan dengan Ibu, tapi menurut Kak Aio sendiri manakah yang lebih baik, didongengin ibu saja atau kedua orangtuanya?

Sebaiknya anak harus mendengarkan cerita dari kedua orangtuanya, yakni ibu dan ayahnya, dan itu harus. Kalau misalnya, selama ini kebanyakan ibu-ibu, itu artinya yang masih dominan menjalankan peran untuk mengurus anaknya berarti ibunya. Nah, itu yang harus dibicarakan, didalam keluarganya. Nah ini anak tanggung jawab siapa? Karena kan anak itu tanggung jawab berdua. Dan yang melakukan cerita itu ya berarti dua-duanya, sebab anak harus dapat dekat dengan kedua orang tuanya, dan salah satu caranya lewat cerita.

Tapi adakah hal yang membedakan antara cerita yang dilakukan oleh Ibu atau Bapak, dalam hal mendongeng diruamah?

6

Sebenarnya nggak, sebagian besar sama saja. Kan ada yang bercerita sambil membacakan dengan buku dan ada yang langsung tanpa baca. Sebenarnya semuanya bisa melakukan, dan dua-duanya memang harus melakukan. Karena itu penting buat anak-anaknya juga, karena memang biasanya kecenderungan orangtua yang bapak itu lebih senang bercerita secara langsung, dan ibu itu dengan buku.

Tapi itu dua-duanya penting, nggak ada harusan “Oh ibu cuma bisa yang ini” itu nggak ada. Kalau pakai alat peraga, itu memang akan membantu anak cepat memperhatikan, tapi kadang juga akan buat cepat bosan. Kalau nggak baik dipakainya. Dan hal yang lebih perlu diperhatikan sebenarnya, lebih ke ceritanya. Tipsnya sih, dapat cerita yang lebih cocok pada anaknya. Ceritanya tuh cerita apa, usianya, usia berapa.

Mengingat sudah banyak anak yang bermain pada ranah digital, bagaimana Kak Aio menilai aktivitas dongeng sekarang?

Sebenarnya yang gue lihat, malah makin banyak sih orangtua yang mendongeng. Soalnya kalau ditanya ke teman-teman penerbit, kita ke toko buku aja itu sekarang, buku dongeng makin banyak, makin beragam. Dari konsepnya makin banyak, beraneka ragam dan ceritanya pun makin bagus-bagus sekarang. Dan lebih banyak orangtua yang lebih aware dan sadar kalau kegiatan mendongeng itu nggak hanya kebutuhan untuk anaknya saja, tapi juga pada orangtuanya. Makanya setiap kali kita bikin kegiatan dongeng itu, juga udah semakin banyak yang ikut dengar dongeng, yang ikut mau belajar dongengnya.

Walau sampai sekarang kita masih campaign kalau, mendongeng itu mudah, jangan disamakan sama pendongeng-pendongeng profesional yang udah pada jago. Kegiatan kita mau lebih mensederhanakan dongeng itu.

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Terbiasa Bilang ‘Hati-hati’ ke Anak Justru Bisa Mengekang Kebebasan Si Kecil Lho, Bun

pexels-photo-1089077

“Mainnya jangan jauh-jauh ya Nak. Hati-hati.”

Sebagai orangtua pasti Bunda sering berpesan demikian. Terutama kalau si kecil minta izin pergi bermain bersama teman-temannya. Tapi coba ingat lagi, sepertinya frasa ‘hati-hati’ tak hanya diucapkan saat si kecil di luar pengawasan Bunda. Bahkan kalau mungkin Bunda berada di dekatnya, sering lho terucap lagi kata ‘hati-hati’ itu. Mungkin sebagai orangtua, Bunda hanya takut si kecil kenapa-napa. Sampai-sampai saat buah hati Bunda sedang berlarian, main bersama teman, atau belajar menggunting kertas, reaksi pertama Bunda adalah menegaskan kata “Hati-hati ya, Nak.”

Bun, sebagai protektor bagi buah hatinya, justru ada baiknya untuk belajar mengurangi melontarkan kalimat hati-hati. Bukannya melarang, hanya saja kalau terlalu sering diucapkan kepada si kecil, dampaknya pun tak terlalu baik lho Bun, salah satunya ya si kecil jadi merasa tertekan dan dikekang.

Memberi Peringatan ‘Hati-hati’ pada Si Kecil Ternyata Bukan Kebiasaan yang Terlalu Baik

pexels-photo-69100

Sejak anak masih kecil, belum bisa bicara bahkan berjalan, semua aktivitasnya tentu dalam pengawasan orangtuanya. Tapi saat ketika bayi itu beranjak jadi anak-anak, Bunda perlu sadari kalau setiap anak yang tumbuh pun butuh kebebasan lho, Bun. Lantaran aktivitasnya bertambah, orangtua pun jadi tak bisa terus-terusan memantau aktivitas si kecil.

Tapi, bukan berarti orangtua jadi tak bisa apa-apa. Memberikan pesan atau nasehat perihal mana yang baik dan benar, jauh lebih baik dibanding menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau melontarkan peringatan. Cukup katakan saja misalnya kalau jalan di sebelah kiri. Atau kalau ada di jalan raya, jangan berlarian. Kalau memang perlu menyebrang, carilah zebra cross.

Ucapan ‘Hati-hati’ Jangan Hanya Diucapkan Tanpa Makna

pexels-photo-122101

Memang selalu ada alasan kenapa orangtua meminta anaknya untuk berhati-hati. Sejak masih kecil, baik dari kita maupun saat kita sudah jadi orangtua, nasehat semacam itu sudah sering terdengar. Orangtua tak ingin anaknya celaka atau terjebak di situasi yang berbahaya. Untuk itu, demi menciptakan suasana yang aman, banyak orangtua yang akhirnya memilih untuk membatasi gerak-gerik si kecil. Dan pada akhirnya, kata ‘hati-hati’ pun jadi sering terlontar.

Sebab ya Begitu, Kalau Terlalu Sering, Ungkapan ini Malah Kehilangan Arti

pexels-photo-424441

Tapi Bunda sering tak sadar, apa yang Bunda ungkapkan, apalagi soal kata ‘hati-hati’, mungkin si kecil mengiyakan atau mengangguk saat Bunda mengucapkan hal tersebut. Hanya saja, tak menutup kemungkinan kalau si kecil sebenarnya belum terlalu paham makna kata tersebut.

“Hati-hati yang seperti apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus berhati-hati? Apa jangan-jangan setiap benda di sekitarku memang berbahaya?” Mungkin kalimat tersebut yang akan digumamkan anak Bunda. Mereka terbiasa menerima peringatan ‘hati-hati’ tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut soal makna kata tersebut. Bahkan karena terlalu sering mendengar peringatan tersebut, yang ada si kecil jadi tumbuh jadi anak yang takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa ada risiko yang menghantui sehingga lebih memilih untuk mengamati saja dan tidak berani mencobanya.

Untuk Itu, Cobalah untuk Membimbing dan Mendampinginya, Bukan Memperingatkannya

pexels-photo-1089077

Menjadi orangtua yang bisa membimbing dan mendampingi itu menyenangkan lho, Bun. Bunda akan membuat si kecil nyaman dalam melakukan hal apa pun. Mereka jadi tak punya ketakutan tertentu hanya karena memikirkan peringatan orangtuanya yang seringkali berlebihan. Untuk itu, saat memiliki buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan, belajar jadi orangtua yang bijak akan jauh lebih baik dibanding mendikte dan melarang si kecil melakukan ini-itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Siapa Bilang Hidup Ibu yang Bekerja Tak Bisa Seimbang? Semua Bisa Asal Ada Dukungan

pexels-photo-1257110

Persoalan jadi ibu itu bukan hanya soal memberi ASI eksklusif ya, Bun. Pasca melahirkan, atau beberapa minggu sebelum melahirkan, Bunda mungkin menemukan masa-masa dimana gamang menentukan pilihan mau tetap bekerja atau di rumah saja. Sayangnya, tak semua ibu mempunyai pilihan untuk berada di rumah saja sembari fokus membesarkan buah hati mereka.

Yup! Terutama di kota besar, para ibu muda memutuskan untuk kembali bekerja selepas cuti beberapa bulan atau beberapa minggu. Alasan untuk tetap bekerja mungkin beragam ya Bun, tapi yang jadi poinnya, bukan berarti ibu yang bekerja sembari mengurus rumah tangga itu bukanlah ibu yang baik. Tak ada yang berhak memberi label berikut pada ibu manapun lho, Bun. Untuk persoalan ibu muda yang tetap bekerja sekalipun punya balita, hal itu sah-sah saja. Seorang ibu akan tetap jadi ibu yang baik bagi anak-anaknya asal Bunda mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Pastikan Dahulu Bunda Mendapatkan Babysitter atau Tempat Penitipan Balita yang Terpercaya

pexels-photo-806835

Ibu yang membesarkan bayi sembari bekerja diperhadapkan pada persoalan membagi waktu. Mulai dari bekerja, kemudian pulang, lalu mengurusi rumah tangga, terutama anaknya yang masih balita. Baru setelah itu ia baru bisa beristirahat. Jadwal yang  terlihat sangat padat, ‘kan Bun?

Untuk itu, kalau Bunda memang perlu bantuan atau tenaga orang lain dalam urusan mengurus rumah tangga atau menjaga si kecil, ya silahkan saja Bun. Kalau Bunda tinggal dengan orangtua atau mertua, mungkin Bunda akan menitipkannya pada mereka.

Tapi kalau memang tak memungkinkan, maka saatnya Bunda mencari tempat penitipan balita atau daycare. Bunda juga bisa mempercayakan pada jasa babysitter. Namun, Bunda harus selektif ya dalam urusan memilih babysitter, apalagi belum lama ini marak lho kejadian dimana babysitter minim pengalaman sehingga asal saja saat mengurus bayi.

Cobalah Bangun Kerjasama dan Komunikasi dengan Atasan Bunda di Kantor

pexels-photo-131777

Kendati Bunda menyandang status sebagai working mom, bukan berarti Bunda tak bisa produktif saat di kantor. Saat sedang di kantor, jangan sampai Bunda tak berdiskusi dengan atasan ya Bun mengenai manajemen waktu yang berbeda seiring kehadiran si kecil. Siapa tahu kalau misalnya atasan Bunda memahami kondisi Bunda, akan ada keringanan atau waktu yang Bunda miliki jadi lebih fleksibel.

Terpenting, tunjukkan juga kalau Bunda memang masih sanggup melakoni tanggung jawab sebagai pegawai di tempat Bunda bekerja, sehingga saat Bunda memberitahu kondisi Bunda, hal tersebut akan jadi pertimbangan tersendiri bagi atasan.

Sebisa Mungkin Kurangi Aktivitas yang Membuat Bunda Terdistraksi dan Hanya Membuang-buang Waktu

pexels-photo

Waktu adalah hal yang berharga ya Bun. Apalagi untuk Bunda yang harus pintar-pintar bagi waktu seperti sekarang ini. Untuk itu, sebisa mungkin kurangilah aktivitas yang menurut Bunda hanya buang-buang waktu dan membuat pikiran terdistraksi.

Misalnya, kalau dulu Bunda mungkin aktif sekali di media sosial, mungkin sekarang intensitasnya harus dikurangi. Tak bisa dipungkiri, kebanyakan berselancar di internet umumnya membuat orang-orang lupa waktu lho, Bun. Nah, kalau Bunda sudah di rumah, cobalah untuk fokus memberi diri untuk keluarga dan anak-anak dibanding fokus dengan ponsel.

Membangun Kerjasama dengan Si Ayah Juga Jelas Perlu Lho, Bun!

pexels-photo-1196274

Kunci dari suasana rumah yang menyenangkan ya dimulai dari pernikahan yang membahagiakan. Untuk itu, jadikanlah pernikahan sebagai prioritas karena hal itu akan membuat Bunda dan ayah semakin kompak. Sekalipun Bunda sibuk, tetap berikan waktu untuk quality time bersama ayah ya, Bun!

Titipkan si kecil untuk beberapa saat. Nah, di momen semacam ini, gunakan peluang dan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan percakapan yang jujur dari dalam hati ya Bun. Demi membuat Bunda dan ayah semakin hangat dan sepakat dalam hal mengurus anak. Sebab kalau sampai relasi Bunda dan ayah justru merenggang, efeknya nanti ke psikologis Bunda, lho!

Saat Bunda Sedang di Rumah, Maksimalkanlah Waktu untuk Menciptakan Momen yang Berkesan dan Menyenangkan

pexels-photo-235554 (1)

Selelah apa pun, saat melihat canda tawa buah hati Bunda, rasanya pasti lega ‘kan, Bun? Sebagai ibu, kita tak bisa menampik bahwa yang kita inginkan tentu menciptakan momen yang selalu berkesan saat berada dengan si kecil. Nah, kalau Bunda sendiri punya waktu lowong saat akhir pekan, maka jangan ragu untuk memanfaatkannya dengan membuat aktivitas yang mungkin akan menyenangkan si kecil. Mulai dari aktivitas yang edukatif, atau sekadar piknik kecil-kecilan. Percayalah, hal semacam itu akan menyenangkan dan melegakan rindu si kecil setelah sepekan lamanya melihat Bundanya sibuk membagi waktu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Event and Komunitas

Bantu Dukung Masa Depan Anak yang Lebih Sehat, DANCOW Inspiring Mom Hadir Kembali

4

Menjadi ibu mengharuskan kita untuk terus belajar. Seolah tak ada habisnya, setiap hari ada saja hal-hal baru yang butuh kita pahami untuk menemani tumbuh kembang buah hati. Hal inilah yang memicu Dancow Advanced Excelnutri+, untuk bisa membantu dan lebih memahami bunda. Sehingga membuat sebuah gerbrakan yang diberi nama Dancow Inspiring Mom.

Berhasil dilaksanakan dan mendapat respon baik dari para bunda pada batch pertamanya, pembekalan untuk batch kedua diadakan kembali. Jika pada batch pertamanya hanya ada 150 bunda yang dipilih dari 20 kota di seantero nusantara. Pada Batch II ini, sudah ada 200 orang bunda yang terpilih dari 40 kota yang akan mengikuti beragam edukasi pada 10 – 12 Agustus 2018 nanti.

4

Bertempat di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta Utara. Para bunda terpilih akan mengikuti beragam sesi edukasi mulai dari kelas parenting, kelas nutrisi termasuk pola makan sehat dan portion-plating, kelas financial management, kelas grooming, kelas literasi media sosial, kelas memasak hingga kelas komunikasi, serta malam apresiasi dan kunjungan ke pabrik Nestle di Karawang.

Pada media gathering yang diadakan di kawasan Jakarta Selatan kemarin, Kamis, 09 Agustus 2018. Onny Wulandari, selaku Senior Brand Executive DANCOW Advanced Excelnutri+ mengatakan bahwa, “DANCOW sangat mengerti bahwa tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, sehingga menjadi bunda merupakan sebuah anugerah sekaligus tantangan terbesar bagi seorang wanita. Untuk itu keberadaan dan dukungan dari sesama Bunda menjadi sebuah kebutuhan. Inilah yang melatarbelakangi kegiatan Arisan Inspirasi yang merupakan rangkaian dari program DANCOW Inspiring Mom”

P1070754

Bahkan konon, selama kurang lebih 4 bulan sejak Dancow Inspiring Mom digelar sudah ada lebih dari 600 lebih Arisan Inspirasi yang diselenggarakan di kota masing-masing para bunda yang menjadi Dancow Inspiring Mom di Batch I. Dan sampai akhir Agustus nanti, total ada 1.200 program Arisan Inspiratif yang sudah mereka terima, yang juga akan melibatkan 45.000 orang bunda di berbagai daerah. 

Arisan tersebut diadakan sebagai bentuk berbagi pada bunda-bunda yang ada disekitarnya oleh para bunda Dancow Inspiring Mom yang terpilih di batch I. Mulai dari kelompok-kelompok ibu di kelurahan, ibu-ibu pkk, arisan keluarga, teman-teman, hingga bunda-bunda lain yang mau turut serta.

3

Sejalan dengan itu, ahli nutrisi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menjelaskan, “Mengontrol porsi makanan melalui portion plating memang merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan asupan nutrisi yang dikonsumsi bagi Si Kecil untuk membentuk generasi sehat, cerdas dan percaya diri. Sesuai portion plating, sebaiknya makanan yang dikonsumsi oleh Si Kecil terdiri dari ½ piring berisi buah dan sayuran, ¼ piring berisi karbohidrat dan ¼ piring berisi protein. Penting sekali bagi para Bunda untuk mulai mengimplementasikanportion platingini dalam kesehariannya agar Si Kecil mendapatkan asupan nutrisi yang optimal.”

Hal-hal seperti inilah yang dibagikan oleh para bunda di kelas-kelas Arisan Inspiratif yang diadakan mereka.

P1070742

Nah, jika selama ini ternyata pemahaman bunda akan nutrisi yang dibutuhkan si kecil salah. Sudah seharusnya diperbaiki ya. Tak hanya menghadirkan para pakar dan ahli yang sudah kompeten di bidangnya masing-masing saja. Dancow Inspiring Mom Batch II, juga akan menghadirkan dau pubik figur yang juga di dapuk jadi Brans Ambassador Dancow, yakni Ussy Sulistiawaty dan Intan Nuraini.

Kedua bunda bijak ini, bercerita bahwa banyak sekali pengalaman yang juga mereka dapatkan selama pembekalan di batch pertama. Hal-hal yang tadinya salah diartikan kini lebih dipahami dengan benar. Hingga pada kesalahan-kesalahan dalam memahami nutrisi dan kebutuhan anak yang sesuai usianya, kini lebih mereka ketahui dengan baik. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Nah, untuk bunda yang penasaran bagaimana acara pembekalan Dancow Inspiring Mom Batch II, akan digelar. Serangkaian acara yang akan dilakukan mulai hari ini sampai, Minggu tanggal 12 Agustus 2018 besok, disiarkan secara lansgung pada facebook live Dancow. Jadi meski belum bisa ikut pada batch ini, bunda bisa melihatnya dari sosial media dulu ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top