Parenting

Jika Anak Anda Pemalu, Melatihnya Agar Lebih Percaya Diri Akan Lebih Bijak Dibanding Memaksanya Bersosialisasi Bun!

baby-girl-shy-emotions-160477

Memiliki buah hati yang kelak bisa tumbuh menjadi sosok bahagia, percaya diri, penuh empati dan unggul dalam bidang yang digeluti rasanya menjadi harapan dari setiap orangtua. Untuk menumbuhkan hal-hal itu dalam dirinya, memang ada proses yang harus Bunda lalui. Bahkan Bunda punya peran dan tanggung jawab besar di dalamnya. Terutama dalam menumbuhkan rasa percaya diri. Penting sekali melatih si kecil agar rasa percaya dirinya mulai terasah sejak dini.

Tapi bagaimana jika si kecil justru sering menolak untuk berbicara dengan orang baru atau sulit bergaul? Bukan tak mungkin jika buah hati Bunda memang dianugerahi sifat pemalu. Di luar sana, beberapa orangtua memang cenderung khawatir bahwa sifat pemalu anak dapat menghalangi perkembangan dan kehidupan sosialnya.

Tenang, Bunda tak perlu khawatir. Ada baiknya justru orangtualah yang menyadari lebih dahulu jika rasa malu bukanlah hal negatif. Sifat tersebut hanya bagian dari kepribadian anak, dan sebagai orang tua harus belajar untuk menerima kondisi buah hati. Bunda bisa terapkan lima hal berikut demi membantu menumbuhkan rasa percaya diri.

pexels-photo-286625 (1)

Bangunlah Komunikasi Sebaik Mungkin dengan Si Kecil, Ajarkan Bahwa Bunda pun Teman Cerita Terbaik yang Bisa Diandalkannya

Komunikasi adalah hal paling efektif  yang harus dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan buah hati Bunda. Di usianya, bisa jadi si kecil mungkin sedang bingung dan memiliki banyak pertanyaan yang ingin diutarakannya. Hanya saja, tidak semua anak-anak mampu mengekspresikan pertanyaannya secara spontan. Jika demikian, tak ada salahnya Bunda yang lebih aktif bertanya mengenai hal-hal sekecil apa pun padanya.

Bunda perlu tahu, diusianya kadang ada tipikal anak yang merasa tak aman dan terintimidasi karena ia sadar dirinya masih kecil. Berkomunikasi dengan orangtua sangat dianjurkan karena dapat membantu membangun kepercayaan dalam dirinya. Jika buah hati Bunda sudah merasa nyaman dengan orangtuanya, dia pasti tak sungkan memberitahu Bunda tentang apa pun yang dirasakannya.

pexels-photo-301977

Bunda Tak Perlu Memarahinya Kalaupun Ia Kelewat Malu dan Enggan Berbaur dengan Teman-teman Seusianya, Akan Lebih Baik Jika Bunda Sering Mengajaknya Ke Kelompok Bermain

Berperan sebagai seorang ibu berarti Bunda harus siap dengan berbagai situasi yang mungkin diluar ekspetasi. Termasuk ketika menghadapi seorang anak yang cenderung pemalu. Bunda tak perlu memarahinya hanya karena ia terlihat ‘kuper’. Hindari melontarkan gertakan dan mengatakan jika dia anak yang pemalu. Justru sebaiknya biarkan dia melakukan apa pun yang disukainya. Toh ada kalanya si kecil akan merasa bosan karena ia terlalu lama jauh dari lingkup sosialnya.

Di lain sisi, keberadaan kelompok bermain dapat Bunda jadikan solusi mengatasi rasa minder si kecil terhadap teman-teman sebayanya. Suasana di kelompok bermain yang kondusif dan dinamis untuk anak seusia buah hati Bunda akan memancing rasa penasarannya untuk ikut bersosialisasi. Yuk Bun, mulailah ajak si kecil ke kelompok bermain!

pexels-photo-386003 (1)

Tanamkan Pola Pikir yang Optimistis sekaligus Pancing Si Kecil Untuk Mulai Memikirkan Tentang Cita-citanya

Melatih rasa percaya diri pada si kecil bisa dengan banyak cara ya Bun. Salah satunya dengan melatihnya untuk memikirkan ingin jadi apa dirinya kelak. Ya, Bunda perlu ajarkan tentang cita-cita. Jika sejak dini ia memiliki figur cita-cita yang menurutnya menarik, Bunda bisa mengarahkan agar si kecil harus menjadi pribadi yang optimistis dan berani menepis rasa minder yang akan menghantuinya. Pada usia golden age, biarkan si kecil berimajinasi dengan cita-citanya. Bunda cukup berikan penjelasan positif tentang sebuah profesi yang mungkin menarik hatinya. Misalnya ia ingin menjadi seorang dokter, ceritakan jika dokter adalah sosok yang sangat baik dan menolong orang banyak. Dengan demikian rasa optimistis dalam diri si kecil pun akan muncul karena ia yakin suatu saat dapat menjadi seorang dokter seperti yang diceritakan oleh Bunda.

pexels-photo-168866

Biarkan Si Kecil Berani Melakukan Banyak Hal Mandiri. Kalaupun Ia Gagal, Dorong Terus Agar Ia Yakin Bisa Melakukan Hal Tersebut

Melatih kemandirian pada si kecil ternyata membuatnya mampu mengatasi rasa minder atau malu yang muncul pada dirinya. Bunda hanya perlu memberinya kepercayaan jika buah hati anda memang mampu melakukan hal tersebut. Ketika seorang anak percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar ia akan bisa melakukannya. Namun jika ia gagal, jangan sampai ia menyerah. Bunda harus memberinya dorongan agar ia mau mencoba berulang kali karena sejak awal telah yakin bisa.

Hal-hal mandiri seperti mengikat tali sepatu sendiri, membereskan mainannya sendiri, belajar naik sepeda, berani ikut lomba, wajib dicoba oleh si kecil. Biarkan si kecil beradaptasi dengan situasi yang dihadapinya. Setiap anak yang percaya diri nantinya akan merasa nyaman dengan diri mereka dan menunjukkan sikap ‘aku bisa’.

Sesekali Berikan Pujian Padanya atas Keberaniannya Melakukan Sesuatu, Dengan Demikian Ia Akan Tertantang Untuk Melakukan Hal Baru

Sah-sah saja jika Bunda ingin memujinya. Terlebih jika ia mampu menyelesaikan sebuah ‘misi’ yang Bunda berikan padanya. Sekalipun si kecil awalnya pemalu, jika ia merasa berhasil dengan misi tersebut, akan ada rasa bangga yang muncul dalam dirinya. Ditambah dengan pujian yang Bunda berikan, hal itu akan membuat masalah minder atau rasa malu yang timbul sebelumnya perlahan tergantikan oleh optimisme yang merangsang munculnya rasa percaya diri.


Parenting

Membangun Kembali Budaya Menulis

ab5558b7445aa9a9

Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak dahulu kala. Mulai dari menulis di atas batu, kulit binatang, hingga penemuan kertas oleh Ts’ai Lun di Tiongkok pada tahun 105 Masehi. Berbagai sejarah besar diwariskan ke generasi selanjutnya melalui tulisan. Di Indonesia sendiri, Bung Karno bahkan kita kenal sebagai sosok proklamator yang gemar menulis dan memakai tulisan-tulisannya untuk membangkitkan semangat revolusi rakyat Indonesia pada awal kemerdekaan.

Sejarah menulis yang kian panjang, seharusnya menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki budaya menulis dan menghasilkan generasi berkompetensi tinggi. Sebab, menulis memiliki kaitan yang erat terhadap kompetensi.

Menulis dan Kompetensi

Sebuah contoh kasus tentang eratnya kaitan menulis dengan kompetensi bisa kita pelajari dari murid-murid di New Dorp High School, sekolah menengah umum yang terkenal di Staten Island, New York City, Amerika Serikat.

New Dorp High School memiliki pamor sebagai salah satu SMA dengan tingkat prestasi paling rendah secara nasional. Setelah melalui berbagai observasi dan eksperimen, diketahui bahwa masalah yang paling mendasar adalah keterampilan menulis siswa New Dorp yang amat rendah, sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami pelajaran dan mengambil kesimpulan dari apa yang dipelajari. Terlebih, karena banyak siswa berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak mendapatkan pembelajaran menulis yang berkualitas sejak dini. Akibatnya, kemampuan komprehensi dan analisis mereka juga rendah.

New Dorp akhirnya memakai pendekatan menulis dari Metode Hochman yang diterapkan secara intensif dalam kurikulum sekolah. Hasilnya prestasi siswa New Dorp meningkat drastis, disertai pelonjakan angka kelulusan dari 67% di tahun 2009 ke 89% di tahun 2011.

Apa yang terjadi di New Dorp dapat menjadi bahan kajian kita terhadap pendidikan di Indonesia. Mengingat saat ini Indonesia masih berada di urutan bawah perihal kompetensi. Setidaknya menurut laporan The Programme for International Student Assessment (PISA) dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), di mana kompetensi siswa-siswi Indonesia disebutkan masih berada di peringkat ke-60 dari 72 negara.

Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, juga berharap agar kompetensi siswa-siswi Indonesia bisa naik di antara negara-negara lain. Oleh sebab itu Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 dibuat mengikuti standar internasional, yaitu PISA.

Target Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut dapat didukung salah satunya dengan menumbuhkan kembali budaya menulis di Indonesia.

Tiga Manfaat Utama Menulis Tangan Dibandingkan Gawai

Menurut berbagai studi, menulis setidaknya memiliki tiga manfaat utama, yaitu meningkatkan kecerdasan, kreativitas, dan daya ingat.

Seorang psikolog dari Indiana University, Karin James, mengemukakan bahwa menulis dapat meningkatkan daya ingat. Alasannya, menulis memerlukan pola pikir, pengamatan, dan introspeksi. Menulis juga dapat meningkatkan kecerdasan, karena melatih cara berpikir kritis, sistematis, dan terstruktur. Selain itu menulis juga mendukung tumbuhnya kreativitas, karena melatih daya imajinasi dan mengasah kemampuan menyelesaikan masalah.

Saat menulis di atas kertas, ada lima keterampilan kunci yang kita pelajari. Mulai dari penguasaan huruf, kesadaran fonemik, kosa kata, kefasihan, serta komprehensi. Kelimanya akan berkembang secara bertahap dan terintegrasi jika budaya menulis mulai tumbuh sejak usia dini.

Menulis di Kertas Lebih Baik Dibanding Mengetik di Gawai

Kehadiran internet dan perkembangan gawai yang pesat saat ini membuat anak-anak cenderung lebih akrab menulis di atas gawai dibandingkan kertas. Lembaga riset Childwise yang berbasis di Inggris mengungkapkan bahwa anak masa kini rata-rata menghabiskan waktu 6,5 jam per hari untuk beraktivitas dengan gawainya.

Padahal, menurut sejumlah penelitian internasional, salah satunya yang dimuat di jurnal Psychological Science, menulis di atas kertas, lebih meningkatkan kualitas belajar dibandingkan menggunakan laptop.

Psikolog Karin James juga menungkapkan bahwa hasil magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan perbedaan pada otak anak ketika mengetik dan menulis. Otak anak yang mengetik pada gawai tidak dapat mengenali perbedaan antara huruf dan bentuk, namun otak anak-anak yang menulis dapat mengenalinya.

Psikolog dari Princeton dan Universitas California, Los Angeles, Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer, juga menyebutkan bahwa siswa yang mencatat atau menulis kembali pengalamannya di buku, menunjukkan pemahaman lebih mendalam dan dapat mengingat lebih baik.

Tak heran jika banyak pakar psikologi dan pemerhati anak yang gencar mengampanyekan pembatasan penggunaan gawai pada anak. Hal ini tentunya perlu didukung pula agar budaya menulis dapat tumbuh dari masa anak-anak tanpa terganggu oleh penggunaan gawai yang terlalu sering.

 

Ditulis Oleh: Martin Jimi, Consumer Domestic Business Head Sinar Dunia, APP Sinar Mas


Hiburan Anak

4 Manfaat Bacakan Dongeng Anak Sebelum Tidur!

Bunda, pasti sudah sering mendengar tentang manfaat baik membacakan dongeng bagi perkembangan  anak . Tapi, sudah tahukah Bunda, bahwa kebiasaan yang kerap kali disepelekan ini ternyata berdampak besar bagi tumbuh kembang anak, baik dari segi kecerdasan intelektual maupun emosional? Tidak percaya? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Meningkatkan imajinasi anak

Menurut peneitian yang dilakukan oleh Efnie -psikolog anak- anak  berusia 3 – 7 tahun cenderung memiliki dunia mereka sendiri. Nah, dengan terbiasa membacakan dongeng pengantar tidur setiap malam, Bunda secara tidak langsung telah menstimulus perkembangan daya imajinasi yang positif dan efektif pada buah hati. Tentu saja ini akan membuat sang anak lebih aktif dan efektif dalam mengkritisi hal-hal di sekitarnya karena daya visualisasi otaknya telah dilatih sejak dini melalui penggambaran tokoh hingga kejadian di dunia dongeng. 

2. Kemampuan verbal anak pun jadi bisa berkembang optimal

Bunda, dengan rutin membacakan dongeng anak tentu saja ini sangat bagus untuk meningkatnya perbendaharaan kata si kecil sehingga ia bisa berkomunikasi dengan lebih baik.  Terlebih lagi bagi Bunda yang mempunyai anak belum lancar berbicara. Mendongeng setiap malam terbukti dapat menstimulus otak anak untuk merespon setiap unit wicara yang digunakan, mulai dari intonasi, struktur kalimat, hingga makna pragmatis tuturan.

3. Membentuk karakter anak

Pada buku dongeng, biasanya terselip budi pekerti dan nilai moral yang dapat dijadikan contoh. Jadi tak ada salahnya menyempatkan diri untuk membacakan dongeng setiap malam hari. Kenapa? Menurut Efnie, nilai positif yang diterapkan secara sukarela bersifat lebih efektif dibandingkan dengan nilai yang dipaksakan. Dengan menyimak dongeng yang Bunda bacakan, buah hati dapat berpikir secara mandiri dalam memutuskan mana perilaku yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hebat bukan Bun?

4. Membangun ikatan emosional

Tahukah Bunda, bahwa momen di mana Bunda membacakan dongeng untuk anak dapat menjadi hal yang terus diingat buah hati  hingga ia dewasa nanti? Fragmen-fragmen kenangan inilah yang membuat hubungan Bunda dengan si kecil semakin dekat, tanpa peduli seberapa dewasa ia kelak. Selain itu, emosi dan afeksi yang Bunda berikan setiap kali mengajak si kecil menyelami dunia khayalan akan turut membentuk kepribadian anak sehingga ia akan tumbuh menjadi pribadi penyayang.

Jadi, masih malas baca dongeng untuk anak?


Parenting

Orangtua Mengeluh Karena Anaknya Suka Memukul, Ini yang Perlu Orangtua Pahami

Tidak sedikit orangtua yang mengeluh karena anaknya suka memukul kalau marah atau keinginannya tidak dituruti. Hal ini memang sebaiknya jangan terus dibiarkan agar tidak berkelanjutan hingga dia dewasa.

Anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain.

Pada anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain. Mungkin Anda akan melihat anak usia satu tahun akan memukul orang lain sambil tertawa.

Perilaku agresif seperti ini dianggap normal karena bagian dari perkembangan anak. Untunglah, perilaku agresif ini hanya sementara.

anakmemukulorangtuatertawa

Namun kebiasaan anak yang suka memukul  bukan hal yang lucu sehingga anda merespons dengan tertawa

Meski demikian, jangan menganggap perilaku agresif ini sebagai hal yang lucu sehingga Anda merespons dengan tertawa. Sebab dari sini si kecil bisa belajar bahwa memukul bisa membuat Anda tertawa.

Tangan dan gigi merupakan alat sosial pertama mereka, jadi wajar jika mereka belajar bagaimana menggunakannya sebagai respons atas apa yang mereka rasakan. Mereka juga ingin tahu reaksi apa yang terjadi jika mereka menggunakan ‘peralatan’ itu.

Jadi sah-sah saja balita Anda menggunakan ‘peralatannya’ tapi tetap tugas orang tua untuk mengajarkan bagaimana cara terbaik menggunakan ‘peralatan’ itu.

Sebagai orang tua, kita harus mengajari bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima dan menujukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya

Meskipun ini bagian normal perkembangan balita usia 18-30 bulan, sebagai orang tua tentu Anda tidak boleh membiarkannya. Anak pun perlu belajar bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima. Perlu juga Anda tunjukkan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.

Hati-hati, Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok

Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok. Sebab dalam sekelompok anak sangat memungkinkan dua balita yang memperebutkan mainan, yang mana hal ini bisa meningkat jadi perkelahian fisik.

Jika anak-anak berinteraksi dengan orang banyak, seperti di penitipan, memukul dan menggigit menjadi keterampilan sosial serta bagian dari naluri kelangsungan hidup mereka

Ketika si kecil memukul Anda atau orang lain, jangan lantas balas memukulnya

Jika Anda balas memukul anak, secara tidak langsung itu menegaskan bahwa tidak apa-apa memukul orang lain. Dengan balas memukul anak sebagai upaya menghukum, pada akhirnya hanya akan mengembangkan rasa takut pada anak. Memberikan ‘pelajaran’ pada anak melalui ketakutannya tidak akan berhasil.

Pada balita yang memahami bahwa memukul merupakan upaya pertahanan diri, saat mereka memukul anak lain, ada baiknya jauhkan dia sejenak dari situasi itu. Lalu berilah penjelasan bahwa memukul itu tidak diperbolehkan karena bisa menyakiti orang lain.

Jangan lupa mintalah maaf atas nama anak Anda pada anak yang dipukul

Pastikan si kecil mendengar Anda sedang minta maaf, agar dia bisa menarik pelajaran tentang empati. Bila anak sudah stabil emosinya, ajaklah juga untuk meminta maaf langsung.

Jika ada orang tua anak tersebut di tempat itu, sampaikan juga permintaan maaf dan katakan bahwa Anda sedang berupaya mengatasi perilaku agresif pada si kecil.

Berikan Pengertian dan Ajarkan Kominikasi

Jika anak memukul karena berebut mainan dengan kakak atau adiknya, sampaikan pengertian padanya, bahwa untuk mendapatkan giliran bermain bukan dengan memukul. Anda bisa mengeset waktu agar setiap anak mendapat giliran bermain.

Yang tak kalah penting, ajari anak berkomunikasi dengan baik. Ketika anak lebih mampu mengatakan apa yang dia inginkan dan menyampaikan apa yang dia rasakan, maka mereka akan lebih mampu mengontrol perilaku agresifnya.

Most Share

To Top