Kesehatan Ibu & Anak

Jangan Sembarangan Beri Izin Tamu untuk Cium Bayi yang Baru Lahir ya Bun, Ini Bahayanya…

julie-johnson-692218-unsplash

Melihat bayi mungil yang sedang tertidur memang membuat perasaan tenang dan bahagia. Sebagai orang dewasa, sering sekali rasa gemas muncul sehingga membuat kita ingin langsung mencium bayi kecil tersebut. Terutama saat sedang berkunjung atau menengok bayi yang baru lahir. Padahal Bun, sebagai orang dewasa, kita dianjurkan untuk sebisa mungkin hindari sembarangan mencium bayi baru lahir ya, Bun.

Di media sosial misalnya, sudah banyak dilakukan kampanye #dontkissthebabies untuk memperingatkan orang dewasa agar tak sembarangan mencium bayi baru lahir. Hal ini karena NSW Health menyebutkan anak-anak terutama bayi baru lahir memiliki risiko tinggi mengalami penyakit infeksi karena sistem imunnya belum terbentuk sempurna. Apalagi bayi prematur dan bayi yang sedang sakit, risikonya kena penyakit infeksi lebih tinggi.

Bahkan mengutip dari The Going Home menyebutkan sistem imun bayi umumnya baru terbentuk saat usia satu bulan. Karenanya, orangtua harus berhati-hati kalau ada tamu yang menjenguk dan hendak mencium si kecil. Terpenting, pastikan si tamu sudah mencuci tangannya dengan air dan sabun sebelum menyentuh bayi.

“Orang dewasa yang dalam kondisi tidak fit juga dianjurkan untuk tak mendekati si kecil dan  asal mencium bayi baru lahir. Sebaiknya orang tua pun menghindari mengajak anak ke tempat ramai,” ujar The Going Home.

Dampak orang dewasa yang sembarangan mencium bayi baru lahir bahkan dirasakan seorang ibu bernama Brianna Nichols. Ia mengunggah foto bayinya yang sulit bernapas karena mengalami infeksi pernapasan. Brianna mengungkapkan, jangan sembarangan membiarkan orang lain mencium si kecil dan pastikan orang dewasa yang hendak kontak dengan bayi mencuci tangan lebih dulu.

“Pastikan juga mereka sehat. Orang tua perlu tahu bahaya RSV (Respiratory Syncytial Virus), infeksi pernapasan yang bisa berakibat fatal pada bayi. Kita semua senang dengan bayi tapi ketika batuk atau pilek tolong jangan mendekat,” tutur Brianna seperti dikutip dari Haibunda.com.

Pada orang dewasa, RSV terlihat seperti batuk dan pilek ringan. Namun pada bayi kondisi ini bisa membuatnya susah bernapas. dr Meta Hanindita SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan sebisa mungkin hindari mencium bayi saat menjenguknya. Sembarangan mencium bayi pun bisa turut menularkan penyakit berbahaya lain seperti infeksi mononukleosis, herpes, hingga flu Singapura.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Menatap Bayi Berlama-lama Membawa Manfaat Baik untuk Orang Dewasa

adorable-adult-baby-1588081

Bun, siapa yang tak gemas kala melihat ekspresi bayi beserta tingkah dan keluguannya. Saat ia tersenyum, tertawa, sampai mengedipkan mata, pasti orang dewasa luluh dibuatnya. Ya Bun, ternyata ada banyak manfaat besar yang didapat dengan menatap mata si kecil.

Hal ini diketahui dari studi yang berjudul berjudul Speaker Gaze Increases Information Coupling Between Infant and Adult Brains. Riset yang diterbitkan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) itu menyebutkan, kontak mata antara orang dewasa dan bayi akan membuat gelombang otak kedua belah pihak saling tersinkronisasi. Akibatnya, dengan menatap mata si bayi, kita dapat membuka kualitas komunikasi yang lebih baik dengan bayi itu.

Hal ini diakui oleh Victoria Leong, pemimpin penelitian tersebut, sinkronisasi ini dapat membuat sinyal-sinyal mengalir lebih mudah di antara dua otak.

“Mekanisme ini dapat mempersiapkan orang tua dan bayi untuk berkomunikasi, dengan menyinkronkan kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan, yang juga akan membuat pembelajaran menjadi lebih efektif,” ujar Leong yang berasal dari Departemen Psikologi University of Cambridge. Nah, bersama dengan timnya, Victoria melakukan dua kali eksperimen dan riset yang melibatkan orang dewasa dan bayi.

Pertama, para bayi diberikan tontonan video berisi orang dewasa yang sedang menyanyikan lagu anak-anak sambil menatap ke depan dan sambil menoleh atau berpaling. Nah, saat menonton video tersebut, kepala bayi dipasangi alat pemindai untuk mengukur aktivitas dalam syaraf otaknya. Menariknya, tak hanya si bayi, aktivitas otak orang dewasa yang menyanyi di dalam video itu pun sebelumnya sudah dipindai dan direkam.

Nah, hasil temuan yang didapat yaitu gelombang otak bayi dan orang dewasa ternyata akan saat tatapan orang dewasa dalam video bertemu dengan tatapan si bayi.

Kemudian pada eksperimen kedua, orang dewasa yang tadi ada di dalam video didudukkan langsung di dekat 19 bayi yang berbeda. Baik kepala bayi maupun orang dewasa sama-sama dipakaikan alat pemindai otak. Hasilnya kembali sama lho Bun. Yaitu saat tatapan antara orang dewasa dan bayi saling bertemu, aktivitas otak mereka menjadi selaras. Sementara saat mata salah satu dari mereka berpaling sehingga tatapan mereka tak lagi bertemu, aktivitas otak mereka menjadi tak lagi selaras.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top