Parenting

Jangan Langsung Memarahinya Bun, Begini Cara Menangani Perilaku Agresif Pada Anak

ben-white-124388

Seringkali para orangtua dibingungkan dengan perilaku agresif anak. Rasanya hampir semua cara yang dilakukannya selalu salah, atau tidak juga bisa menghentikan perilaku agresif anak. Jika sudah begini, maka memarahi anak adalah solusi yang seringkali diambil oleh para orangtua.

Padahal cara tersebut kuranglah tepat untuk menangani perilaku agresif anak. Memang sekilas anak akan menurut dan diam, namun bukan tidak mungkin dalam hatinya masih ada ganjalan-ganjalan yang dia sendiri tidak berani untuk mengungkapkannya. Dan jika ini terus dibiarkan, bisa saja akan menyebabkan hal-hal yang kurang baik. Nah, bagi Bunda yang sedang bingung menghadapi perilaku agresif si kecil, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa Bunda lakukan untuk menanganinya.

Mulai Dengan Mencari Tahu Penyebab Perilaku Agresif Anak Bun

Langkah pertama yang harus Bunda lakukan saat melihat anak berperilaku agresif adalah mencari tahu apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Tahapan ini sangat penting dilakukan, agar Bunda tidak salah mengambil keputusan. Bunda tidak boleh terburu-buru memarahi anak karena itu bisa membuatnya ketakutan. Bunda harus mendekati anak, kemudian dengarkan keluhan dan ceritanya. Ingat, disini Bunda tidak boleh menghakiminya lebih dulu. Biarkan dia menceritakan isi hatinya, dan tanggapi sesuai dengan porsi usianya.

Bunda Juga Harus Bersikap Sabar, Agar Bisa Menjad Contoh Bagi Buah Hati

Perlu Bunda ketahui bahwa anak memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Jika orang-orang di sekitarnya memiliki tingkat emosi yang tinggi, maka sangat mungkin anak pun akan cenderung berprilaku agresif. Hal itu karena dia akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Untuk itu, Bunda perlu menampilkan perilaku-perilaku positif. Selain hal itu baik untuk diri Bunda sendiri, memberikan contoh perilaku positif juga akan sangat baik untuk perkembangan buah hati.

Yakinkan Anak Bahwa Bunda Begitu Menyayanginya

Langkah selanjutnya yang harus Bunda lakukan saat anak berperilaku agresif adalah yakinkan dirinya bahwa Bunda merupakan orangtua yang baik dan selalu menyayanginya. Ini sangatlah penting untuk Bunda lakukan karena bukan tidak mungkin perilaku agresif yang ditunjukannya adalah karena kurangnya perhatian yang Bunda berikan.

Bagaimana Pun Bunda Tetap Harus Bersikap Tenang

Memang Bun, bersikap tenang merupakan hal yang cukup sulit karena biasanya emosi orangtua sudah ikut terpancing saat anak bersikap agresif. Namun cara ini tidak menyelesaikan masalah, justru biasanya akan semakin menambah keruh masalah yang ada. Perilaku agresif anak belum tentu mereda tapi Bunda sendiri sudah hilang kesabaran.

Untuk itu, usahakan bersikap tenang saat menghadapi anak yang berperilaku agresif. Mungkin Bunda marah dan jengkel, bahkan kalau perilaku agresif itu dilakukan di depan banyak orang, bisa membuat Bunda merasa tak enak. Namun, demi kebaikan Bunda dan juga si kecil, maka bersikaplah tenang saat menghadapinya.

Jika Anak Bertingkah Agresif Saat Di Sekolah, Ada Baiknya Orangtua Dan Guru Sepakat Untuk Memberi Hukuman Yang Mendidik

Jika perilaku agresif anak terjadi di sekolah, guru dapat memberikan hukuman yang sesuai dengan kesalahan yang telah diperbuat anak. Hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah antara orangtua dan guru sudah sama-sama memahami bahwa hukuman tersebut bukan untuk menakut-nakuti anak, tapi mendidik anak dan kebaikannya. Hal ini sangat penting agar tidak ada salah paham antara orangtua dengan guru.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Kalau Harus Makan Mie Instan, Pilih Yang Seperti Ini

asian-food-close-up-cooked-2093410

Mie instan menjadi salah satu primadona di dunia kuliner. Makanan ini dikenal punya aroma yang menggoda dan rasa yang bikin ketagihan. Bahkan berdasarkan data dari World Instan Noodles Association, Indonesia merupakan negara nomor dua terbesar yang mengonsumsi mie instan paling banyak.

Setidaknya penduduk Indonesia mengonsumsi 12,54 miliar porsi mi instan di sepanjang 2018. Angka ini melampaui Jepang yakni 5,66 miliar porsi, dan India 5,42 miliar porsi. Kendati ada mitos bahwa mie instan bukanlah makanan yang menyehatkan, hal tersebut tak mempengaruhi minat orang Indonesia untuk mengonsumsinya.

Tapi tahukah Bunda, menurut para pakar, sejatinya mie instan bisa dijadikan makanan sehat selama bahan bakunya pun sehat, Bun. Salah satu jenis mie instan yang dianjurkan yaitu yang memakai bahan baku konnyaku.

Mie instan memang umumnya memakai tepung beras atau tepung terigu. Sementara untuk mie instan dengan bahan baku konnyaku, biasanya mengandung 97 persen air sehingga kadar kalorinya jauh lebih rendah, Bun. Di lain sisi, kandungan konnyaku sudah dikenal baik untuk tubuh. Bahkan membantu mengontrol gula darah, menurunkan berat badan, hingga mengurangi kolesterol.

Mengutip dari sejumlah media, Co-Founder The Fit Company, Bambang Reguna Bukit mengatakan, bahan baku konnyaku ini bisa sebagai pengganti karbohidrat. Karena tingkat kalorinya rendah, berkisar 60 – 150 kkal, sementara mi instan biasa menyimpan sekitar 350 – 500 kkal.

“Konnyaku mempunyai tingkat kalori yang sangat rendah dan sering digunakan sebagai pengganti karbohidrat oleh pelaku diet ketogenic,” katanya.

Lantas Bagaimana Cara Memasak Mie Instan yang Benar?

Healthy-food chef Nova Eugenia menyarankan, saat merebus mie instan, maka nanti air rebusan pertama sebaiknya dibuang.

“Kalau mi instan yang biasa airnya kan keruh, ada tepungnya gitu kan, saya lebih saranin dibuang ya. Kalau saya lihat, warnanya keruh jadi agak ngeri,” kata Nova.

Selain itu, usahakan tak usah memasak mie instan terlalu lama. Sebab bila teksturnya mengembang, justru jadi kurang sedap untuk dimakan. Nah, agar lebih enak juga, untuk mi rebus, Bunda bisa tambahkan susu low fat atau full fat sebagai tambahan gizinya. Dan lebih baik lagi, beri tambahan sayur, daging, dan telur. Dengan tambahan kandungan yang kaya nutrisi, tubuh pun mengasup serat dan vitamin. Tapi yang terpenting, konsumsi mi jangan berlebihan ya, Bunda. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu pastinya enggak baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Gengsi Menggendong Bayi, Ada Banyak Manfaatnya Loh Bun

adult-child-daughter-1683975

Bun, saat si kecil belum bisa berjalan, tentu Bunda akan terus menggendongnya agar ia beranjak dari tempat tidur ya Bun. Gendongan pun jadi peralatan yang tak boleh terlupa. Momen menggendong bayi, sekalipun terkadang terasa melelahkan, ternyata membawa manfaat yang beragam lho Bun.

Tak perlu ragu dengan sebutan ‘nanti si kecil bau tangan’, karena sebenarnya bayi pun bisa tak rewel saat tak sedang digendong. Nyatanya, momen menggendong pun menciptakan banyak interaksi.

Menciptakan Ikatan antara Ibu dan Anak

Ya, dengan menggendong si kecil, keintiman antara Bunda dan si kecil semakin erat. Bunda tentu mendambakan bisa akrab dengan si kecil sejak ia bayi sampai dewasa nanti, bukan? Karenanya, jangan sungkan atau ragu untuk menggendong si kecil saat ia masih membutuhkan dekapan Bunda.

Aktivitas ini secara langsung membuat ibu dan anak banyak berinteraksi berdua, terjadi skin to skin contact, dan tercipta rasa aman serta nyaman. Menggendong bayi pun membuat Bunda jadi lebih perhatian.

Posisi bayi yang berada di pelukan ibu yang dekat dengan pandangan, menjadikan Anda lebih dapat memerhatikan gerak-geriknya. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat. Misalnya ketika dia sedang lapar, maka Anda akan segera mengetahui bahwa ia memang sedang lapar dan segera menyusuinya atau memberikannya susu.

Mengenalkan Tentang Dunia Pada Si Kecil

Saat si kecil dalam gendongan Bunda, maka ia pun akan melihat apa yang dilihat Bundanya. Si kecil sigap untuk berinteraksi dengan lingkugan. Ya, dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitar dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi, seperti tersenyum, tertawa, dan mengernyitkan dahi, misalnya.

Si Kecil Jadi Merasa Aman dan Nyaman

Bun, aktivitas menggendong akan membuat Bunda dan si kecil beraktivitas bersama. Bayi akan mendengar suara Bunda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia juga turut merasakan emosi Bunda dan yakin jika Bunda akan memberikannya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.

Bunda Membantu Meningkatkan Perkembangan Otak Bayi

Tak banyak Bunda yang tahu, faktanya, sering menggendong bayi dapat membantu perkembangan otaknya lho, Bun. Ketika bayi digendong, saraf-saraf yang berada pada otaknya akan terhubung satu sama lain karena perasaan senang, aman, dan nyaman.

Serta Mencegah Post Partum Blues

Lebih jauh lagi, saat Bunda sering menggendong si kecil yang baru lahir, hal ini akan mencegah ibu mengalami post partum blues, yaitu masalah kesehatan mental umum yang biasanya terjadi pada wanita setelah melahirkan.

Hal ini dikarenakan menggendong bayi membuat ibu dan bayi melakukan skin to skin. Kontak kulit antara kedunya dapat membantu mengeluarkan hormon oksitosin atau hormon cinta pada ibu, yang akhirnya bisa mempengaruhi keadaan fisik dan psikologisnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Supaya Si Kecil Tak Dehidrasi Saat Puasa

boy-child-drinking-1210005

Sebagai orang dewasa, mungkin kita sudah mengerti aturan dan tata cara berpuasa. Sementara itu, menjelaskan makna dan cara berpuasa pada anak-anak tak semudah kelihatannya lho Bun. Anak-anak pun belum diwajibkan menjalankan ibadah ini. Kendati demikian, orang tua boleh mulai memperkenalkan ibadah puasa kepada anak sejak dini.

Pengenalan tersebut dapat Bunda lakukan secara bertahap. Mula-mula ajak anak berpuasa selama beberapa jam, jika sudah dapat melakukannya dengan baik, tingkatkan menjadi setengah hari, hingga akhirnya dia dapat berpuasa seharian penuh. Salah satu hal yang patut Bunda perhatikan adalah asupan cairannya. Bukan tak mungkin si kecil bisa saja mengalami dehidrasi.

Tetap menjalankan aktivitas normal sambil berpuasa, juga akan berpengaruh terhadap hilangnya cairan dalam tubuh anak. Untuk itu, yuk Bun cegah dehidrasi pada anak saat berpuasa:

Dorong Si Kecil Agar Mau Mengonsumsi Delapan Gelas

Setiap orang perlu minum sekitar delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Nah karena saat berpuasa kita tak boleh minum, maka tuntun si kecil untuk mengganti kesempatan minum delapan gelas per hari saat berbuka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur.

Bunda Dapat Menyajikan Buah-buahan dan Kandungan Air Tinggi untuk Dikonsumsi Si Kecil

Sajikan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti melon, semangka, dan pir sangat cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Buah-buahan yang mengandung banyak air akan membantu si kecil agar tetap terhindar dari dehidrasi sepanjang hari. Selain itu, buah-buahan ini juga kaya nutrisi untuk membantu tumbuh kembang anak.

Sediakan Susu guna Memenuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisinya

Bun, susu kaya akan kandungan elektrolit, kalsium, dan protein, serta karbohidrat. Untuk tubuh agar terhindar dari dehidrasi, lebih baik berikan susu pada si kecil dibanding mengonsumsi suplemen. Di samping itu, varian susu yang mulai banyak rasanya akan membuat si kecil lebih tertarik untuk meminumnya lho Bun.

Bunda Bisa Mengakali dengan Memberikan Rasa Pada Air Putih yang Disajikan pada Anak

Air putih memang tidak memiliki rasa. Ini dapat membuat motivasi anak untuk minum cukup air berkurang. Untuk menyiasatinya, tambahkan rasa alami pada air putih tersebut. Disarankan untuk menambahkan perasan jeruk atau madu pada air mineral, agar si kecil lebih tertarik untuk meminumnya. Jangan menambahkan gula pada air minum tersebut, hal ini guna mencegah si kecil jadi mengonsumsi gula berlebih.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top