Parenting

Jangan Hanya Berikan Limpahan Kasih Sayang, Didik Si Anak Tunggal Agar Lebih Berkarakter ya Bun

affection-baby-babysitter-1116050

Sebagai orangtua milenial, banyak yang berpikir lebih baik memiliki satu anak saja. Sebab ada banyak pertimbangan kenapa akhirnya pasangan suami istri sepakat dengan keputusan ini. Salah satunya karena alasan ekonomi atau pendidikan.

Di lain sisi, jika Bunda adalah salah satu orangtua yang membesarkan anak tunggal, Bunda perlu tahu jika kelak psikologis anak tunggal akan berbeda dengan anak yang memilki saudara kandung. Belum lagi label yang sering mereka terima seperti anak manja, egois, bahkan sulit beradaptasi.

Di atas semua tantangan ini, Bunda perlu memastikan bahwa si kecil kelak akan tumbuh jadi pribadi yang baik. Lantas, bagaimana caranya mengasuh anak tunggal? Ini dia caranya, Bun.

Beri Kesempatan pada Dirinya untuk Bersosialisasi dengan Teman-temannya ya Bun

Si kecil perlu sosialisasi ya Bun. Biarkan ia memiliki keterampilan sosial seperti menunggu giliran atau bergabung dengan sekelompok teman yang mungkin menurutnya tak mudah lantaran mereka tak memiliki saudara yang bisa memberinya contoh.

Karenanya, penting bagi si kecil menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Melakukan kegiatan dengan teman-temannya akan membantunya berteman dengan mudah dan memahami konsep bersabar dan menunggu giliran seseorang.

Dukunglah Si Kecil Untuk Jadi Sosok yang Mandiri

Karena tak memiliki saudara untuk melatihnya bekerjasama, Bunda tak bisa serta merta melimpahkan banyak pekerjaan pada si kecil. Melakukan semua pekerjaan untuk anak justru membuat si anak jadi malas dan kian bergantung pada orangtuanya Bun. Untuk itu, dorong ia untuk mulai melakukan hal-hal yang baik sejak dini demi membuatnya kian mandiri. Biasakan si kecil untuk mau mandi, menyikat gigi, bahkan merapikan tempat tidur secara mandiri ya Bun.

Jangan Memaksanya untuk Jadi Sempurna

Bun, sekalipun ia harapan Bunda satu-satunya di keluarga, hindari menggantungkan semua harapan Bunda padanya. Justru berikan dukungan untuk setiap hal yang hendak diwujudkannya. Jangan memaksanya untuk jadi sempurna ya, Bun.

Menekannya untuk selalu sempurna akan membuatnya merasa kalau apapun yang ia berusaha berikan tak pernah membuat orangtuanya merasa cukup. Hargai setiap potensi yang dimiliki oleh setiap anak. Penting untuk diingat bahwa setiap anak memilki bakat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya ya Bun.

Tapi, Ada Kalanya Bunda dan Ayah Perlu untuk Bersikap Tegas

Sekalipun statusnya sebagai anak satu-satunya, sebenarnya tak baik lho jika selalu memenuhi segala keinginan anak. Ada waktunya untuk berkata iya dan tidak. Mungkin awalnya anak akan merajuk bila keinginannya tidak dipenuhi. Beri pemahaman sehingga anak mengerti mengapa Bunda perlu berkata tidak. Sikap tegas perlu dilakukan agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang manja dan egois.

Dan Selalu Ajarkan Ia untuk Berbagi

Sebagai anak tunggal, bisa saja ia tak mengerti cara untuk berbagi karena memang tak terbiasa. Mungkin karena tidak ada kakak atau adik yang bisa diajak berbagi. Untuk itu, penting bagi Bunda untuk terbiasa mengajarinya berbagi pada sekitarnya. Baik pada Bunda dan ayah maupun pada teman di sekolah. Percayalah, karakter ini perlu dibangun guna menghindari berkembangnya karakter egois pada buah hati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top