Parenting

Jangan Diam Kalau Anak Memukul Bunda Karena Kesal

baby-boy-child-1361766 (1)

Saat si kecil kesal, akan ada banyak ekspresi yang mungkin ia tunjukkan. Salah satu yang paling sering ditunjukkan adalah si kecil memukul ibunya sebagai ekspresi dari rasa kesalnya. Ironisnya, sang ibu pun justru diam saja memaklumi saat si kecil menunjukkan perlakuan yang demikian.

Bunda mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa masih banyak orangtua yang mendiamkan anak menunjukkan perilaku seperti memukul atau menarik rambut orangtuanya? Bahkan seperti tak ada tindakan tegas guna mengontrol tindakan si kecil. Sebagai orangtua, Bunda perlu tahu, diam dan tak memberitahu justru membuat anak tak mengerti bahwa perilakunya itu salah. Mendiamkan anak saat berperilaku kasar terutama saat mereka sedang merasa kesal justru mengajarkan si kecil kalau perilakunya tersebut diperbolehkan.

Si Kecil Berpotensi Jadi Pelaku Bully

Menurut psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI Jakarta, Endang Fourianalistyawati, anak akan menganggap bahwa ia boleh melakukan hal tersebut. Karena dari orangtualah anak-anak belajar mengenai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh masyarakat. Bila perilaku seperti ini dibiarkan, si kecil memiliki indikasi tumbuh jadi pribadi yang kasar, suka membully, bahkan jadi anak yang tak bisa diatur lho Bun.

Penting Bagi Orangtua untuk Mengajarkan Cara Mengelola Emosi yang Baik untuk Anak

Dalam masa tumbuh kembang, anak sewaktu-waktu bisa saja melakukan hal-hal yang sifatnya nakal, terutama bila emosinya sedang tersulut. Mungkin karena ia diganggu temannya, atau orang dewasa, atau saat keinginannya tidak dipenuhi oleh orangtuanya. Bila sedari kecil ia tak dibimbing caranya mengelola emosi dengan baik, maka tak menutup kemungkinan si kecil dapat bertindak semena-mena terhadap siapapun yang ada di sekitarnya, Bun. Untuk itu, orangtua harus lebih peka dalam urusan memahami emosi buah hati.

Perilaku Anak Adalah Hasil si Kecil Mencontoh Orangtuanya

Sebagai orangtua, seringkali kita lupa bahkan tak sadar bahwa perilaku yang kurang baik yang dilakukan si kecil sejatinya ditiru dari orangtuanya. Si kecil mungkin pernah melihat ayahnya memukul sang ibu, atau ibu yang memukul kakaknya, atau bahkan tindakan semena-mena terhadap asisten rumah tangga, perilaku tersebut kemudian terekam dalam benak si kecil dan menganggap apa yang dilihatnya adalah hal yang tak masalah untuk dilakukan.

Ingat lho Bun, seorang anak belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh orangtua dan lingkungannya. Menurut pakar psikologi perkembangan, Jean Piaget, jika orangtua dan lingkungan berperilaku negatif—baik secara langsung kepada anak maupun tidak—anak akan melakukan proses adaptasi terhadap sikap dan perilaku tersebut menjadi skema baru yang diakomodasi sebagai perilaku mereka. Karena itu, sebagai orangtua, kita pun perlu mengontrol diri terhadap perilaku kita sebagai orangtua namun juga tidak diam saja bila si kecil mulai melakukan perilaku yang semena-mena.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Saat Si Kecil Diam-diam Ketahuan Membatalkan Puasa, Lakukan Hal Ini Bun

adorable-blonde-blur-1912868 (1)

Saat si kecil terbangun lebih awal untuk sahur tentu membuat Bunda bangga. Artinya, ia mau belajar untuk berpuasa ya Bun. Tapi lucunya, kadang kala justru sebelum adzam maghrib berkumandang, Bunda tak sengaja mendapati si kecil makan atau minum sembunyi-sembunyi. Saat melihat si kecil berlaku demikian, kira-kira apa yang akan Bunda lakukan?

Untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun, berpuasa masih butuh latihan. Mereka masih beradaptasi dengan ibadah wajib yang harus mereka jalani di bulan Ramadan. Untuk itu, jangan menciptakan momen yang membuat si kecil jadi merasa ngeri ya Bun. Sebab kalau Bunda langsung melontarkan omelan, yang ada mereka justru tertekan dan jadi malas berpuasa lagi.

Nah, berikut ini hal-hal yang dapat Bunda lakukan saat si kecil ketahuan membatalkan puasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bunda Tak Perlu Reaktif

Si Kecil akan terkejut bila melihat respon Bunda yang reaktif saat ia ketahuan membatalkan puasa. Tak usah mengagetkan atau membuatnya merasa sangat bersalah, justru tunjukkan ekspresi yang tenang dan diskusikan mengenai puasa tanpa mengintimdasinya ya Bun. Dengan begini ia akan tetap tenang.

Diskusi dan Komunikasi Adalah Kunci

Cobalah tanyakan dulu pada si kecil, apa yang membuat ia tak kuat. Bantu ia menemukan masalahnya ya Bun. Misalkan saja, ia merasa tak kuat berpuasa lantaran tak sempat sahur karena sulit dibangunkan. Atau ia tak kuat puasa karena menurutnya terlalu lamaa menahan rasa lapar.

Tetap diskusikan apapun masalahnya ya Bun. Hal ini akan melatih kemampuan analisisnya. Setelah ia menemukan akar masalahnya, bantu ia menemukan solusi. Misalnya saja, tidur lebih awal agar bisa bangun saat jam sahur.

Berikan Respon Pada Sanggahannya

Saat diajak berdiskusi mengenai apa yang membuat ia tak kuat, bisa saja lho Bun ia mengeluarkan beberapa kalimat sanggahan yang menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya anak yang membatalkan puasanya diam-diam.

Bila anak berkata: “Tapi si A juga membatalkan puasa. Tadi aku lihat dia, makanya aku juga ikut membatalkan.”
Jawab dengan: “Barangkali cara dia berpuasa berbeda dengan cara kamu. Dia mungkin sudah bikin kesepakatan untuk bisa membatalkan puasa di jam itu untuk kemudian dilanjutkan lagi.”
Bila anak berkata: “Si B nggak puasa. Enak banget dia bisa minum es siang-siang gitu.”
Jawab dengan: “Tidak semua orang punya kewajiban puasa. Kalau di agama kita, memang ada perintah puasa di bulan Ramadan. Lagi pula, nanti kalau sudah buka puasa, kan, kamu juga bisa minum es.”

Kuncinya, respon yang tepat diperlukan saat si kecil mencoba memberi sanggahan. Tak usah emosi, tetap tenang ya Bun.

Beritahu Mengenai Konsekuensi Logis yang Akan Dihadapinya

Bila Bunda dan si kecil sebelumnya sudah membuat kesepakatan tentang puasa, maka ini waktunya untuk menjalankan aturan dan konsekuensinya. Kesepakatan bisa saja berisi tentang pada pukul berapa ia bisa membatalkan puasa dan pada pukul berapa ia harus melanjutkan.

Sementara itu, contoh konsekuensi yang bisa diambil misalnya, Bunda tidak jadi memasakkan apa yang dia inginkan untuk berbuka atau tidak jadi membelikan minuman kesukaannya. Konsekuensi tidak perlu berlebihan agar anak-anak tidak terbebani. Yang paling penting, konsekuensi itu harus ada kaitannya dengan tindakannya.

Dan Begini Caranya Agar Tak Terjadi Lagi ya Bun

Walaupun berpuasa untuk anak-anak sifatnya baru latihan, namun ia juga patut terus didorong agar bisa menjalankannya lebih baik. Untuk meminimalisir risikonya membatalkan puasa diam-diam. Untuk Bunda yang belum pernah membuat kesepakatan dengan si kecil, inilah saatnya.

Evaluasilah kekuatan si kecil menjalankan puasa. Lalu buat kesepakatan yang berisi kapan ia boleh membatalkan. Yang penting lakukan pelan-pelan hingga ia terbiasa dan lebih kuat lagi. Itu akan lebih mudah. Kesepakatan ini dapat mengakomodir kebutuhan mereka dan membuatnya lebih bahagia menjalani puasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cara Atasi Si Kecil yang Hobinya Mogok Sekolah

candid-children-cute-1720188 (1)

Dilema yang sering dialami orangtua saat si kecil memasuki usia sekolah adalah problem mogok sekolah ya Bun. Ada saja alasan si kecil menolak untuk berangkat ke sekolah. Seakan ia tak pernah kehabisan akal untuk membuat Bunda memaklumi alasannya agar akhirnya ia tak perlu ke sekolah.

Sebagai orangtua, Bunda pun tak dianjurkan untuk memaksa si kecil. Tenang, tetap ada cara untuk membuatnya mau berangkat ke sekolah lho Bun. Menurut para psikolog, salah satu alasan si kecil menolak ke sekolah sejatinya karena ia belum merasa nyaman atau didera rasa cemas karena saat di sekolah, ia merasa jauh dari orangtuanya.

Bahkan, Anxiety Disorders Associaton of America mengatakan kalau masalah mogok sekolah ini biasa terjadi pada 5% – 28 % anak usia 5 – 6 tahun dan anak usia 10 – 11 tahun. Jika anak melakukan aksi mogok untuk datang ke sekolah, bebrapa kiat yang dapat Bunda lakukan.

Perhatikan Dulu Kondisi Anak Menjelang Tidur ya Bun

Sebelum tidur, usahakan si kecil bisa tertidur dalam keadaan bahagia ya Bun. Sebab kondisi mentalnya menjelang tidur akan berpengaruh ketika anak bangun pagi . Bila ia tidur dengan perasaan nyaman, maka ia pun tak akan mengalami kesulitan tidur dan bangun pun dengan perasaan bahagia juga.

Siasati dengan Membeli Perlengkapan Sekolah yang Disukainya

Trik selanjutnya yang dapat Bunda lakukan adalah mencari tahu karakter kesukaan si kecil ya Bun. Siasati dengan membelikannya pernak pernik kebutuhan sekolah sesuai karakter favorit si kecil. Misalnya pensil, tas, buku, atau bahkan sepatu dan kaos kaki yang akan dia kenakan sehingga anak pun bisa lebih termotivasi untuk berangkat ke sekolah.

Temani Ia Supaya Rasa Cemasnya Hilang

Bun, jauh dari orangtua sekalipun hanya pergi ke sekolah sering membuat si kecil cemas atau tidak nyaman. Untuk itu, pendampingan orangtua pun diperlukan. Tak apa lho Bun menemani si kecil sembari mengatakan padanya bahwa ia akan baik-baik saja. Si kecil pun butuh adaptasi dengan lingkungannya. Bila ia sudah merasa nyaman, pelan-pelan yakinkan ia bahwa Bunda akan menjemputnya saat pulang sekolah.

Katakan Betapa Nyamannya Berada di Sekolah Karena Banyak Aktivitas yang Bisa Ia Lakukan

Bun, anak merasa ogah-ogahan ke sekolah bisa jadi karena ia merasa tak menemukan tantangan baru di sekolah. Padahal, bila ia bersosialisasi dan bereksplorasi dengan banyak hal yang ada di sekitarnya saat sedang di sekolah. Maka ia pun akan merasa nyaman untuk datang ke sekolah. Karenanya, katakan padanya ya Bun bahwa di sekolah pun ia bisa melakukan banyak aktivitas menyenangkan bersama teman-teman dan gurunya.

Jangan Memarahi Bila Si Kecil Mogok Sekolah

Salah satu hal sangat penting untuk dilakukan adalah bagaimana respon Bunda saat mengetahui anak mogok sekolah. Kesal tentu saja boleh. Tapi tidak perlu sampai mengomel terus-terusa pada si kecil ya Bun. Sebab kalau Bunda terus mengomelinya, bukannya termotivasi untuk sekolah, si kecil justru akan merasa bahwa dirinya mendapat tekanan dari orangtuanya.

Ujung-ujungnya, akan timbul perasaan bahwa datang ke sekolah hanya ia lakukan karena ingin membuat orangtuanya bahagia dan senang, bukan karena dorongan dari dalam dirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Menyusui Si Kecil di Malam Hari Bawa Banyak Manfaat Lho

adult-art-baby-235243 (1)

Pasca melahirkan, jam tidur Bunda tentu berubah dan jadi lebih sulit tidur di malam hari. Hal ini lantaran Bunda harus menyesuaikan jadwal menyusui bayi baru lahir yang biasanya dilakukan Bunda pada malam hari. Ya Bun, bayi baru lahir umumnya menyusui setiap 1,5 hingga 2,5 jam baik siang maupun malam. Karenanya, jangan heran bila si kecil akan merengek setiap malam ya Bun. Ini tanda alami kalau ia sedang ingin menyusu.

Menjadi ibu memang butuh pengorbanan. Bayangkan, meskipun didera rasa ngantuk dan tubuh terasa lelah, Bunda tetap harus memberikan ASI untuk bayi. Bunda harus meluangkan waktu untuk mengikuti jadwal menyusui bayi baru lahir yang terbentuk secara alami dari si bayi. Di lain sisi, aktivitas menyusui setiap malam ternyata membawa banyak manfaat lho Bun. Berikut ini adalah beberapa fakta yang Bunda perlu tahu dari aktivitas menyusui bayi baru lahir di malam hari.

Aktivitas Menyusui Ternyata Lebih Banyak Dilakukan di Malam Hari

Dilansir dari situs bellybelly, menyusui bayi di malam hari merupakan bagian penting dari keseluruhan waktu menyusui selama 24 jam. Penelitian telah menunjukkan jika sebagian besar atau sekitar 64% bayi usia 1-6 bulan menyusui antara 1 hingga 3 kali di malam hari (dari jam 10 malam hingga 4 pagi). Lalu, sekitar 20% dari asupan selama 24 jam yang bayi terima, berasa dari pemberian ASI di malam hari. Maka dari itu, lawan kantuk Bunda agar si kecil mendapatkan asupan ASI yang cukup.

Membantu Si Kecil Tidur Lebih Teratur

Bayi memiliki ritme sirkadian atau jam tubuh internal, termasuk jam tidur, yang diatur oleh hormon. Saat bayi menyusu, di dalam ASI terdapat kandungan triptofan, yaitu asam amino yang digunakan oleh tubuh untuk membuat melatonin.

Melatonin adalah hormon yang membantu mengatur tidur. Dengan menyusui, dapat membantu mengembangkan ritme sirkadian bayi dan membantu mereka untuk tidur lebih nyenyak di malam hari, karena mendapatkan melatonin dari ASI.

Melindungi Bayi Dari SIDS

Salah satu alasan yang paling penting mengapa Bunda perlu menyusui si kecil di malam hari yakni untuk membantunya mengurangi risiko kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death Syndrom, Bun. Kematian mendadak atau SIDS memang rawan terjadi pada bayi baru lahir.

Bahkan menurut National Health and Medical Research Council, sebuah organisasi kesehatan terkemuka di Australia, menunjukkan jika tidak menyusui meningkatkan risiko SIDS sebesar 56%. Dengan menyusui di malam hari, sesuai dengan permintaan bayi, maka akan mengurangi risiko SIDS.

ASI Akan Mendukung Pertumbuhan Normal yang Alami

Bun, ASI ternyata mengandung zat yang bernama triptofan yang dibutuhkan bayi sebagai pendukung pertumbuhan secara normal. Di dalam tubuh, triptofan bertugas membantu produksi hormon serotonin yang diyakini bisa membantu kestabilan perasaan bayi. Untuk itu, bila si kecil menyusu ASI secara teratur di pagi, siang, dan malam, pertumbuhannya akan semakin baik.

Turut Menambah Berat Badan Bayi

Apabila bayi terlahir dengan berat badan yang kurang atau tubuh kecil, maka Bunda harus sering menyusuinya. Dengan begitu, berat badan dan pertumbuhan bayi dapat mencapai normal. Tips lainnya yang perlu Bunda terapkan adalah jika bayi terlelap di malam hari, tapi sudah sekitar 2 jam ia belum menyusu lagi, maka Bunda dapat membangunkan bayi untuk menyusu. Tidak masalah jika Bunda membangunkan bayi di malam hari untuk menyusu, karena justru itu yang harus Bunda lakukan agar bayi dapat tumbuh dengan baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top