Kesehatan Ibu & Anak

Jangan Asal Ikut Tren Bun! Kenali Kekurangan Lotus Birth Sebelum Memutuskan Bersalin dengan Metode Ini

pexels-photo-266011

Ada berbagai jenis metode persalinan yang populer, salah satunya yaitu lotus birth. Bunda perlu tahu, dalam metode lotus birth, persalinan berjalan seperti pada umumnya. Namun yang berbeda dan khas adalah tali pusar bayi tidak akan langsung dipotong. Yup, tali pusar justru dibiarkan menempel pada tubuh bayi sampai nanti terlepas dengan sendirinya.

Proses ini membuat sebagian ibu meyakini kalau inilah proses persalinan yang sesungguhnya. Padahal, menurut para pakar, ternyata metode ini pun juga memiliki kekurangan loh.

Risiko Infeksi

Royal College of Obstetricians and Gynecologists menyebutkan bahwa setelah terpisah dari tubuh Bunda, plasenta tidak lagi memiliki sirkulasi darah dan bisa dikatakan sebagai jaringan mati. Sementara, membiarkan jaringan mati ini terlalu lama berada di dekat bayi justru dapat meningkatkan risiko infeksi. Kenapa? Ini karena jaringan yang mati memiliki kandungan bakteri yang akan tumbuh semakin banyak.

Pakar kebidanan Michael Cackovic, MD membenarkan kalau bakteri tersebut dapat membahayakan nyawa bayi. Bakteri bisa tumbuh dan berkembang menjadi berbagai jenis infeksi, yang tentunya akan berbahaya karena bayi baru lahir tidak memiliki sistem imun tubuh yang cukup kuat.

Memicu Ketidaknyamanan

Kondisi ‘membawa’ plasenta saat mengurus bayi di hari-hari pertamanya tentu juga akan menimbulkan ketidaknyamanan. Selain harus dijaga kondisinya, membiarkan plasenta dalam kondisi yang tidak bersih dan kering juga bisa membuat risiko pertumbuhan bakterinya semakin besar.

Termasuk saat misalnya Bunda hendak menjemur bayi, membawa plasenta juga tentu akan membuat semua proses ini menjadi terasa lebih merepotkan lho Bun. Tapi jika Bunda tetap ingin melakukan persalinan dengan metode ini, menjaga kebersihannya pun menjadi tindakan utama yang paling penting.

Sistem Imun Bayi Belum Sempurna

Saat baru dilahirkan, bayi berada dalam tahap yang sangat rapuh dan rentan terhadap penyakit. Semua karena sistem kekebalan tubuhnya masih belum berkembang sempurna. Kalau Bunda justru membiarkan plasenta dan tali pusar tetap menempel di tubuh bayi, maka mikroorganisme yang ada lingkungan sekitar bisa menyerang jaringan mati dan ikut menempel. Akibatnya, bakteri dan kuman pun berkembang biak dan berisiko turut menyerang bayi.

Di lain sisi, menggosok plasenta dengan garam atau minyak esensial demi memastikan kondisinya tetap segar dan sehat ternyata tidak terlalu memberikan efek karena sirkulasi darah memang sudah terhenti dan sudah tidak ada proses kehidupan lagi dalam plasenta tersebut.

Orangtua Masih Suka Salah Kaprah

American College of Obstetricians and Gynecologists menjelaskan bahwa menunda pemotongan tali pusar selama 30-60 detik pasca bayi dilahirkan memang memberi manfaat bagi bayi. Salah satunya dapat meningkatkan pasokan hemoglobin dan cadangan zat besi untuk si Kecil. Komponen darah penting ini dapat memberikan efek positif bagi tumbuh kembang bayi di hari-hari pertamanya.

Pada bayi prematur, tindakan ini bahkan dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.

Namun demikian, salah kaprah jika penundaan ini dilakukan sampai menunggu tali pusar mengering dan lepas dengan sendirinya. Melakukan hal ini tidak terlalu bermanfaat karena sirkulasi darah sudah terhenti maksimal beberapa menit setelah bayi dilahirkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bolehkah Bayi Mendapatkan ASI dari Ibu yang Masih Merokok?

adult-art-baby-235243

Sebagai seorang ibu, tentu kita mendambakan kesehatan yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi ada kalanya kita pun masih menomorduakan urusan kesehatan. Padahal, di usia anak yang masih balita, kesehatan Bunda pun juga berpengaruh pada kesehatan buah hati. Contoh yang paling sering dijumpai salah satunya yaitu ketidakmampuan seorang ibu untuk menghentikan kebiasaan merokok kendati ia masih harus memberikan ASI pada buah hatinya.

ASI dari seorang ibu yang masih aktif merokok tentu tak akan memberikan proteki maksimal pada buah hati. Kendati demikian, ada baiknya untuk tidak berhenti memberikan ASI lho Bun. Ini karena menyusui memberikan banyak kekebalan, yang membantu bayi melawan penyakit, dan bahkan dapat membantu menangkal beberapa efek dari asap rokok.

Bahkan bayi yang mendapat ASI akan memiliki kekebalan tubuh yang baik sehingga dapat membantu melindungi bayi saat memerangi penyakit. ASI yang diberikan oleh ibu perokok masih lebih baik dibandingkan dengan memberikan bayi susu formula.

Nah, bayi dengan orangtua yang merokok memiliki kemungkinan lebih rewel. Sementara, ibu yang merokok merokok kemungkinan kurang mampu mengatasi bayi kolik. Nah, ‘kolik’ adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut. Penyebab bayi kolik yaitu karena kadar hormon prolaktin yang lebih rendah. Bahkan produksi ASI nya pun jadi lebih rendah lantaran kekurangan prolaktin. Selain itu, ibu yang memiliki kebiasaan merokok bisa menambah potensi gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare pada bayi.

Selanjutnya, riset lain menyebutkan, bayi dengan ibu dan juga ayah yang merokok, memiliki potensi tujuh kali lebih besar untuk meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Lalu, anak-anak dari orangtua merokok tercatat memiliki rekor kunjungan ke dokter, 2-3 lebih banyak dibanding anak dengan orangtua tak merokok.

Biasanya keluhan yang umum muncul adalah infeksi pernafasan, atau penyakit terkait alergi. Selain itu, anak-anak yang terpapar asap pasif di rumah memiliki kadar HDL rendah. HDL adalah kolesterol baik yang membantu melindungi manusia dari penyakit arteri koroner.

Sebuah studi lain menemukan, anak yang tumbuh di rumah di mana kedua orangtuanya merokok, dapat melipatgandakan risiko anak terkena kanker paru-paru di kemudian hari. Lalu, apa pengaruh rokok terhadap ASI? Sebuah riset menunjukkan, ibu dengan kebiasaan merokok cenderung menyapih anaknya lebih awal. Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan, ibu merokok memiliki tingkat produktivitas ASI yang terus menurun. Sejalan dengan yang telah disebutkan di atas, tingkat prolaktin pada ibu yang merokok menjadi lebih rendah. Padahal, hormon ini diperlukan untuk produksi ASI.

Seperti dikutip dari kompas.com, studi yang dilakukan di tahun 2004, menunjukkan bahwa ibu merokok yang tinggal di daerah dengan kekurangan yodium ringan sampai sedang memiliki lebih sedikit yodium dalam ASI. Padahal yodium diperlukan untuk fungsi tiroid bayi. Karenanya, ibu menyusui yang merokok disarankan untuk mempertimbangkan pemakaian suplemen yodium.

Demi kesehatan si anak, pilihan untuk mencoba mengurangi banyaknya rokok yang dikonsumsi menjadi langkah yang baik untuk dilakukan ya Bun. Semakin sedikit merokok, maka hal itu pun akan memperkecil kemungkinan munculnya risiko. Sebaliknya, risiko akan terus membesar bila si ibu bisa merokok apalagi hingga 20 batang per hari.

Dengan berbagai risiko dari merokok dan hubungannya dengan bayi, maka ibu sangat disarankan untuk berhenti merokok. Namun jika hal tersebut masih sulit dilakukan, jangan berhenti menyusui selama ASI masih terus diproduksi. Selain itu jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi, apalagi menyusui sambil merokok. Menyusui sambil merokok meningkatkan risiko bayi terpapar asap rokok dan risiko tersundut.

Merokoklah segera setelah rampung memberikan ASI. Buatlah rentang waktu selebar mungkin antara merokok dan menyusui. Dibutuhkan 95 menit setelah merokok untuk menghilangkan separuh dari pengaruh nikotin yang melakat pada tubuh di ibu. Kalau memang Bunda masih belum bisa lepas dari rokok.

Tapi, sebagai orang tua, sebaiknya mengutamakan kesehatan dan kepentingan anak dibanding kenyamanan pribadi. Bagaimana pun, berhenti merokok akan jauh lebih baik bagi kondisi ibu dan bayi Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Begini Caranya Memenuhi Asupan Nutrisi Saat Bunda Hamil Bayi Kembar

pexels-photo-396133

Bunda sedang mengandung anak kembar? Seturut kondisi ini, Bunda pasti akan akan mengalami kenaikan berat badan serta membutuhkan asupan nutrisi lebih dibanding ibu yang mengandung anak tunggal. Untuk itu, Bunda memerlukan nutrisi berupa asam folat, kalsium, zat besi, karbohidrat, serta zat penting lainnya.

Di lain sisi, pola makan selama mengandung bayi kembar juga perlu diperhatikan ya. Ini dia menu makanan yang wajib ada pada menu Bunda.

Kacang-kacangan

Kacang kaya vitamin dan omega-3 yang bisa memasok cukup kebutuhan nutrisi bagi si calon anak kembar. Selain itu, protein dalam kacang juga dapat memenuhi kebutuhan protein sehari-hari calon ibu.

Telur

Telur kaya sejumlah nutrisi seperti vitamin, protein dan mineral, dan ini sangat bermanfaat bagi kehamilan kembar. Bunda perlu tahu, satu porsi telur mengandung 347 kalori dan 31 gram protein, jumlah sebanyak ini tentu sangat berguna baik untuk ibu hamil maupun si janin kembar.

Yoghurt

Yoghurt mengandung banyak kalsium yang bisa membantu perkembangan tulang dan gigi bayi. Tidak hanya itu, kalsium dalam yoghurt juga berfungsi dalam menjaga kesehatan tulang punggung dan kaki ibu hamil, agar bisa menopang dua janin sekaligus.

Ikan

Ikan memiliki kandungan vitamin E yang wajib dikonsumsi oleh ibu hamil kembar. Vitamin E berfungsi mengalirkan oksigen ke janin. Perlu Anda ketahui, anak kembar membutuhkan suplai oksigen lebih banyak dibandingkan dengan kehamilan biasa.

Bayam

Bayam merupakan salah satu makanan yang mengandung nutrisi baik selama kehamilan kembar. Kandungan zat besi yang sangat tinggi, membantu dalam pengembangan sel darah merah bagi janin kembar. Selain itu bayam juga mengandung vitamin A, vitamin C dan kalsium yang juga baik untuk tumbuh kembang janin. Sebaliknya, kekurangan zat besi membuat ibu rentan mengalami anemia.

Selain Itu, Bunda Juga Perlu Memperhatikan Pola Makan Selama Kehamilan

Karena sedang hamil anak kembar, penting bagi Bunda memiliki energi yang cukup. Nah, energi yang cukup bisa didapat dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks yang sehat. Karbohidrat kompleks terkandung dalam makanan yang mengandung gandum seperti roti gandum, sereal gandum, oatmeal atau nasi merah.

Disarankan Bunda mengurangi konsumsi nasi putih yang memiliki kandungan gula tinggi dan memperbanyak konsumsi sumber karbohidrat kompleks.

Ya, Bunda perlu mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan D, mineral yang cukup serta kalsium. Bunda wajib mengonsumsi banyak sayuran terutama sayuran hijau kemudian konsumsi susu atau yoghurt yang tinggi kalsium. Makanan dengan kandungan serat tinggi bisa juga membantu mencegah konstipasi.

Terakhir, Jauhi Makanan yang Mengandung Lemak Jahat

Pola makan tak sehat memang sebaiknya ditinggalkan. Terlebih konsumsi lemak jahat sangat tidak baik untuk kesehatan Bunda dan si kembar di kandungan. Maka, hindari makanan yang mengandung lemak jahat dan kurangi konsumsi makanan berkadar gula tinggi, bahan pengawet dan bahan kimia lain.

Untuk memenuhi kebutuhan lemak, Bunda bisa mengonsumsi lemak sehat seperti minyak zaitun, minyak kelapa, dan minyak sayur. Selama kehamilan, usahakan untuk minum 10 gelas air putih per hari sebagai salah satu upaya detoksifikasi tubuh.

Namun, kurangi konsumsi air putih di atas jam 8 malam agar Bunda dapat tidur dengan nyenyak, tanpa harus terbangun untuk buang air kecil.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Karena Saudara Kembar Rentan Cemburu, Atasi dengan Cara Ini Ya Bun

children-girl-brothers-and-sisters-friendship-160504

Pertikaian kecil dengan saudara pasti ada. Terlebih antara dua anak kembar yang kemana-mana selalu bersama. Tapi Bun, saat si kecil mulai marah atau kesal bahkan sampai menunjukkan sikap yang kurang baik, berarti Bunda perlu turun tangan. Pertama, Bunda perlu ajak mereka untuk berbicara dan mengungkapkan kekesalannya pada diri anda. Latih keduanya untuk bisa mengevaluasi sikap masing-masing termasuk orangtuanya untuk kemudian diperbaiki.

Selisih paham biasanya bisa dipicu karena adanya rasa cemburu. Nah, sebagai orangtua, Bunda perlu bijak dalam menghindarkan kecemburuan antara si anak kembar agar mereka tetap merasa nyaman dengan keluarga dan lingkungannya. Seperti apa tipsnya? Ini dia Bun.

Hindari Memperlakukan Anak sebagai Individu yang Sama

Sekalipun si kembar punya paras yang sama, bahkan perawakan yang mirip, lantas tak berarti membuat keduanya harus terikat satu sama lain menjadi sebuah kesatuan dimana mereka tidak bisa terpisah. Bunda dan ayah perlu menyadari jika si kembar adalah dua pribadi berbeda yang harus dididik dan dibangun karakternya. Mereka pun perlu untuk bisa hidup mandiri dengan identitas diri mereka sendiri.

Sementara, kalau orangtuanya justru mengajarkan anak kembarnya untuk tetap terikat satu sama lain, maka yang terjadi adalah anak-anak akan saling tergantung dan sulit untuk bisa mandiri sedini mungkin. Misalnya, salah satu dari si kembar tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya sementara si kembar lainnya mengerjakan pekerjaan rumah dengan rapih, maka tidak sebaiknya ibu menghukum keduanya.

Kalau sampai Bunda melakukan hal itu, yang terjadi justru memicu kecemburuan pada si kembar yang menjalankan tugas, yang menganggap bahwa keadilan tidak bisa ditegakan dikeluarganya. Karenanya, kurangilah berpikir bahwa anak kembar harus selalu bersama dan menjadi kesatuan, sebaliknya mulailah mengembangkan minat dan bakat sesuai dengan keinginan si anak.

Pastikan Si Kembar Memiliki Ruang dan Kebebasan untuk Menamai Milik Mereka Masing-masing

Saat si kembar masih kecil, pasti Bunda sering sekali melihat keduanya berebut mainan bahkan sampai menggigit saudaranya. Sebagai orangtua yang baik, kita bisa memberitahu mereka sejak mereka masih dini bahwa barang tersebut adalah milik si A, bukanlah milik si B. Di usianya yang masih kecil,  tentu mereka kesulitan memahaminya. Tapi Bunda bisa mulai membuat perencanaan untuk mencegah dan menghindari perselisihan pada anak-anak.

Salah satu cara yang efektif yaitu dengan membuat identifikasi barang-barang mereka. Bunda bisa berdiskusi dengan keduanya dan membicarakan secara terbuka barang dan peralatan mana yang menjadi miliki si A dan si B.

Jadi ketika si A hendak meminjam atau menggunakan benda atau barang miliki si B, maka si A harus meminta izin terlebih dahulu pada si B. Dengan begini anak-anak akan paham betul mana yang menjadi haknya mana yang menjadi hak saudaranya. Selain mereka akan menjadi lebih akur, perselisihan antara saudara kembar akan juga bisa dihindari.

Tanamkan Nilai Kerja Sama, Bukanlah Kompetisi!

Hal yang satu ini memang gampang-gampang susah. Orangtua harus memberikan teladan yang baik dalam bekerja sama, bukan membentuk kompetisi meskipun mereka hidup berdampingan. Ketika ibu sedang memasak, ayah mereka akan mengawasi anak-anak atau sebaliknya.

Dengan begini, secara tidak langsung anak-anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Hal ini akan secara perlahan membentuk pemahaman dalam diri anak-anak bahwa bekerja sama adalah hal yang indah dan membuat mereka tentram sementara pekerjaan dan masalah bisa diselesaikan dengan lebih baik.

Orangtua Pun Harus Bijak, Tidak Pilih Kasih Antara Satu dengan yang Lain

Meskipun kelak ada kecenderungan lebih tertarik dengan kepribadian salah satu dari kedua anak kembar anda. Hal ini tidak sebaiknya ditunjukan lewat sikap Bunda kepada salah satunya. Sebaliknya, kontrol emosi anda dihadapan mereka. Upayakan segala hal yang membuat anda bisa bersikap netral pada mereka ya Bun.

Banyak orangtua yang masih salah kaprah dengan menunjukan sikap kasih sayang pada salah satu anak. Hal ini justru akan menumbuhkan kecemburuan pada salah satu anak kembar Bunda. Ketika rasa cemburu sudah tertanam dalam diri mereka, maka yang terjadi adalah perselisihan dan kompetisi. Sebaliknya, jika Bunda tahu solusi dan tips menghadapi segala sikap dan tindakan anak yang kurang baik, maka akan semakin mudah untuk kita mendisiplinkan mereka, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top