Parenting

Jangan Anggap Sepele Dehidrasi Pada Anak. Ini Tanda-tanda Dehidrasi Yang Wajib Bunda Ketahui!

child weak

Dehidrasi merupakan istilah yang cukup populer dalam dunia kesehatan. Sebuah kondisi dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Penyebabnya ada banyak, seperti kurang minum atau cairan, terlalu banyak buang air kecil, berkeringat secara berlebihan, sampai karena penyakit tertentu seperti diare dan muntah-muntah.

Dehidrasi bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Bahkan, bayi dan anak-anak dianggap sebagai kelompok yang rawan terkena dehidrasi. Hal ini terjadi karena bayi dan anak-anak adalah kelompok yang paling sering terkena muntah-muntah dan diare sehingga cairan yang dikeluarkannya pun akan semakin banyak.

Selain muntah dan diare, kondisi yang sering membuat anak terkena dehidrasi adalah demam. Tapi sayangnya hal itu sering tidak disadari oleh si kecil. Belum mampunya anak untuk mengambil minum sendiri adalah faktor yang paling sering membuatnya terkena dehidrasi. Selain itu, anak-anak cenderung mengabaikan rasa haus, untuk itulah orangtua seharusnya lebih peka terhadap tanda-tanda dehidrasi yang dialami bayi atau anak. Lalu apa saja tanda-tanda dehidrasi pada bayi dan anak? berikut ulasannya.

Frekuensi Buang Air Kecil Yang Berkurang

Sebagai orangtua, anda tentunya tahu seberapa sering anak anda buang air kecil. Untuk mempermudah, anda dapat menghitung jumlah popok atau celana yang dihasilkannya. Jika celana bekas ompolnya berkurang setengah atau lebih, maka anak telah mengalami kondisi dehidrasi yang cukup gawat. Masalahnya bagaimana jika yang digunakan adalah popok basah atau pospak? Jika ini yang menjadi masalahnya, maka anda dapat mengecek celana anak setiap 2 atau 3 jam sekali. Anak yang tidak buang air kecil dalam waktu 5–6 jam adalah tanda bahwa dia telah mengalami dehidrasi berat.

Warna Air Seni Pekat Atau Keruh

Anda juga dapat mengamati warna air seni si kecil. Semakin pekat atau keruh warna air kencingnya, maka tingkat dehidrasi yang dialaminya semakin parah. Hal itu terjadi karena ginjal sebagai penyaring racun di dalam tubuh akan bekerja lebih keras sehingga menghasilkan warna urin yang pekat.

Anak Terlihat Lesu Dan Mengantuk

Tanda lain yang bisa anda jadikan patokan bahwa anak telah mengalami dehidrasi adalah kondisi si kecil yang terlihat lesu dan mengantuk. Hal itu terjadi karena dehidrasi membuat sistem metabolisme yang ada di dalam tubuh terganggu sehingga mengakibatkan kondisi lesu dan mengantuk. Jika hal itu terjadi, anda harus menjaga agar kesadaran anak jangan sampai hilang. Sebab si kecil sampai hilang kesadaran bisa berakibat fatal.

Menangis Tanpa Keluar Air Mata

Selain melalui air seni, cairan juga dikeluarkan melalui air mata. Perhatikan anak anda ketika sedang menangis. Apakah dia menangis sambil mengeluarkan air mata atau tidak? Jika tidak, lalu apakah matanya kering atau lembab? Mata yang kering, apa lagi tanpa adanya air mata adalah sebuah tanda dehidrasi. Waspada Bunda!

Pada Bayi Ubun-ubun Menjadi Cekung

Cekungnya ubun-ubun pada bayi atau disebut juga dengan fontanel adalah tanda bahwa dia telah mengalami dehidrasi. Jika hal ini terjadi segera bawa si kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik. Biasanya dokter anak akan memeriksa ubun-ubunnya untuk melengkapi diagnosanya.

Elastisitas Kulit Yang Berkurang Merupakan Tanda Bahwa Si Kecil Mengalami Dehidrasi

Elastisitas kulit atau skin turgor adalah tanda lain ketika seorang mengalami dehidrasi. Kulit yang tercukupi kebutuhan cairannya akan cenderung lebih elastis. Untuk mengujinya cukup mudah. Cubitlah punggung tangan anak anda, lalu perhatikan berapa lama kulit tersebut akan kembali pada bentuknya yang semula. Jika kurang dari 2 detik kulit sudah kembali lagi maka anak anda tidak mengalami dehidrasi. 2 detik adalah tanda bahwa dia mengalami dehidrasi ringan, dan diatas 2 detik adalah tanda anak mengalami dehidrasi berat.

Lantas Bagaimana Cara Mengatasi Dehidrasi Pada Anak?

Saat anak mengalai dehidrasi, Anda dapat memberikan ASI atau cairan elektrolit. Sedangkan untuk bayi dibawah 6 bulan, pemberian ASI sudah cukup untuk menggantikan cairannya yang hilang. Hindari pemberian air mineral atau cairan elektrolit yang tidak disarankan oleh dokter. Jika anak muntah atau menolak saat diberi cairan, maka segera bawa si kecil ke dokter.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top