Parenting

Ingin Punya Anak Secerdas Kirana? 7 Ilmu Parenting dari Retno Hening Ini Wajib Bunda Punya

Kira

Sesuai dengan bio dari laman akun instagram pribadinya. Retno Hening Palupi adalah seorang Ibu(agak) muda, Ibunya kirana dan rumaysaa. Ibu biasa yang masih suka pusing sama urusan rumah dan masi suka marah-marah. Yap, ibok sapaan akrab untuk Retno dari Kirana, baru saja melahirkan anak keduanya.

Kirana1

Pada setiap postingan yang ibunya kirimkan, Kirana memang selalu jadi pusat perhatian, berkat kecerdasan dan pola pikir yang kerap ia tunjukkan. Lagipula siapa sih yang tak berdelik gemas, lihat anak perempuan lucu yang tak pernah lupa untuk berujar “tolong” kala meminta bantuan, “meminta maaf” jika ia merasa salah, dan tak pernah lupa untuk berkata “terimakasih” untuk segala yang ia terima.

Demi menjawab banyaknya rasa penasaran, bagaimana Kirana bisa tumbuh sebaik dan secerdas itu. Ada beberapa gaya parenting yang sudah berhasil kami rangkum dari ibok Retno yang sebagian besar sudah dituliskan pada buku berjudul “Happy Little Soul”, yang memang berisi semua kesehariannya dalam hal mendidik dan membesarkan Kirana.

Merespon Apapun Bentuk Bahasa yang Kirana Sampaikan, Sedari Ia Masih Bayi

Belum jelas ngomomgnya hahaha ini kirana 20 bulan.

A post shared by retno hening palupi (@retnohening) on

Pada salah satu bagian dalam buku “Happy Little Soul”, tepatnya pada halaman 24, ada satu kalimat dari Retno yang membuat saya cukup terkesan yakni “Berbicara dengan bayi yang belum bisa merespon kembali omongan kita, mungkin dianggap sebagian orang konyol dan tidak terlalu penting, tetapi penting bagi saya”. 

Bagi Ibok Retno berbicara dan berkomunikasi dengan anak adalah sesuatu yang harus dibangun sedari kecil. Tanpa perduli Kirana akan mengerti atau tidak, yang ia tetap berlaku seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang yang sudah paham. Sehingga, apapun yang Kirana sampaikan sejak bayi, entah menangis atau apa saja yang dikatakannya, membuat sang Ibu berusaha menerka apa yang Kirana mau secara tepat.

Dan ini juga bisa bunda lihat pada beberapa postingan di Instagram milik sang ibu, ada banyak vidio yang tengah memperlihatkan bahwa Ibok Retno memang selalu menjalin komunikasi yang baik dengan kirana, termaksud memberinya pemahaman akan berbagai macam ekspresi. “Kirana happy nggak?” , jadi salah satu ungkapan yang kerap ia pakai untuk mengetahui sejauh mana sang anak menyukai apa yang sedang dilakoni. Sehingga Kirana tumbuh jadi anak yang terbuka, dan tak segan untuk membuka suara akan hal yang dirasakannya.

Selalu Menghargai Segala Bentuk Kegiatan yang Kirana Lakukan 

Kirana2

Memang kala bunda ingin si kecil tumbuh sesuatu gambaran yang kita inginkan, ada banyak hal yang perlu kita contohkan secara langsung. Bukan hanya lewat kata-kata yang mungkin masiH susah dimengerti olehnya. Maka menurut ibok Retno menghargai segala karya tangan Kirana adalah salah satu upaya yang dipakai hingga kini ia tumbuh jadi anak yang selalu ingin tahu, dan mencoba banyak hal-hal baru.

Misalnya si Kecil mungkin akan menggambar sebuah awan, namun hasil yang ia peroleh sama sekali tak menyerupai bentuk awan. Dengan tak menurunkan semangatnya, alangkah baiknya bunda memberinya pujian dan sembari memberi tambahan. “Kalau menggambar awan lebih bagus itu begini kak,…” Bukan perkara hasil yang si kecil dapatkan, tapi bagaimana ia berusaha untuk melakukan.

Tidak Buru-buru Marah, Ibok Retno Selalu Menyampaikan Nasihat dengan Cara yang Menarik

Kirana4

Ya, Ibok Retno juga manusia biasa sama seperti bunda-bunda di rumah. Bahkan pada laman bio instagramnya pun ia berkata masih sering marah-marah. Namun lebih daripada itu, dari beberapa tulisan yang ia sampaikan pada buku “Happy Little Soul” dapat disimpulkan, bahkan marah-marah jadi perbuatan yang jauh darinya. Sesekali mungkin iya, tapi lebih seringnya tidak loh bun.

Dan menariknya, dogeng jadi salah satu media yang kerap dipakai untuk menyampaikan hal-hal baik yang ingin diajarkan. Yap, Ibok lebih memilih mengarang sendiri dongeng sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan pada Kirana.

Sedari Kecil Kirana Sudah Diajarkan Untuk Membaca Buku

Perlu bunda tahu, tak hanya untuk pengetahuannya kelak. Mengajak anak membaca buku jadi salah satu cara jitu yang akan mempengaruhi sebagian besar pertumbuhan dan kemampuan si kecil. Dan hal itu pulala yang jadi salah satu kiat Ibok Retno untuk mendidik dan merawat Kirana sejak kecil.

Sebab sejak bayi Kirana sudah dibacakan buku oleh sang ibu. Mulai dari buku softbook, buku feel and touch (sentuh rasa), buku pop up, dengan cara yang menarik. Seperti mengubah-ubah suara. Dan hal lain yang tak kalah penting utnuk dipahami, ini bukan perkara si kecil paham atau tidak akan isi buku yang kita bacakan. Lebih kepada proses pendekatan dalam hal mengenalkan suara dan ekspresi yang ditunjukkan kita sebagai orang tua kepada dirinya.

Dijauhkan dari Gadget, Ibok Lebi Memilik Memberi Kirana Berbagai Macam Mainan Edukatif yang Banyak Memanjing Ijaminasinya

Kirana5

Nah selanjutnya, hal yang juga menarik perhatian dari buku kisah Ibok dan Kirana ini, ada pada halaman 87. Yap, bahkan mungkin jadi sindirin juga bagi beberapa bunda yang kerap meninggalkan buah hatinya untuk bermain sendirian, tapi ikut serta memberi pemahaman.

Begini isinya “Sebenarnya untuk mainan, entah itu dibeli atau dibuat sendiri, yang penting bagi saya sering ikut bermain bersama Kirana. Dengan ikut bermain, mainan tersebut akan bertambah manfaatnya. Misalnya menyusun balok yang dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar halus, meransang kreativitas, dan imajinasi. Ketika saya ikut bermain bersama Kirana, saya bisa sambil menyebutkan warna-warna yang ada di baloknya. Dengan begitu, dia bisa sambil belajar mengenali warna”

Hmm, kalau bunda begitu tidak ya?

Kirana Dididik dengan Berbagai Macam Kalimat Empati, “Tolong”, “Terimakasih” dan “Maaf”

Kirana7

Dari banyak vidio yang dikirimkan di Instagram, Retno selalu membiasakan sang anak untuk mengucapkan kalimat bernada sederhana yang sebenarnya akan selalu berguna. Dengan tak hanya meminta Kirana yang mengucapkannya, Ibok juga berbuat hal yang sama jika mungkin melakukan sesuatu yang salah pada Kirana.

Kirana tak lantas menangis kala sang ibu tidak mempebolehkannya memakan coklat karena memang tak bisa. Selebihnya ia hanya bertanya, mengapa ia tak bisa memakan coklat seperti anak lainnya. Untuk kemudian dibalas dengan sedikit penjelasan bahwa kirana memang berbeda, jadi coklat tak baik untuknya. Gadis kecil itu menurut, lalu mengembalikan coklat pada rak makanan tempat tadi dia mengambilnya. Untuk kemudian sang ibu berucap “Terimakasih Kirana”. Ah manis sekali ya bun!

Bahkan Kalimat “Gak papa. It’s okay. I like my self”, Jadi Kalimat Pamungkas yang Dipakai Untuk Menerangkan Dirinya yang Memang Berbeda dari Anak Seusinya

Kirana8

Sejak kecil Kirana sudah diajarkan utnuk mencintai dirinya sendiri dengan apa adanya ia. Bahkan pada saat salah seorang teman sekolahnya berkata ia adalah anak laki-laki karena berambut pendek dan tak pakai jepitan rambut.

Mendengar cerita itu dari sang anak, Retno pun memberi pengertian pada kirana dengan berkata “Kirana.. Kirana itu girl..kirana cantik with or without hair clip.. Rambut kirana pendek gegara kirana gatel kalo panjang.. Bsok kita panjangin kalo udah bsa panjang.. Kirana cantik.. Yang penting smile.. Kalo pake jepit tapi dia mukanya ga smile cantiknya ga keliatan.. Kirana cuma smile aja udah cantik kok.. Hehe kirana girl walaupun ga pake jepit.. Pake jepitpun cantik..semua girl itu cantik ” 

Dan cara Ibok Retno mengajarkan Kirana akan arti pentingnya mencintai diri sendiri, jadi salah satu teladan yang perlu kita ikuti. Ya, hal-hal yang ia bagikan baik pada sosial media atau bukunya, bisa jadi bahan evaluasi untuk kita para bunda. Sudah sejauh mana kita menjadi teman sekaligus orangtua yang baik untuk anak kita. Sebab si Gadis kecil bernama Kirana itu takkan tumbuh sercerdas itu, jika tak ada sosok Ibok Retno yang luar biasa.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Anak Bisa Jadi Korban Bila Bunda Terlalu Percaya Mitos Soal Imunisasi

adorable-baby-bed-1556706 (1)

Bun, pasti Bunda menyadari, sekarang ini banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memutuskan tak memberi imunisasi lengkap pada anak mereka karena banyak hal. Salah satunya termakan informasi palsu yang mereka dapat dari internet atau lingkungan sekitar. Nah, dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini, Bun.

Mitos: Imunisasi Sebabkan Autisme, Lumpuh, dan Mengandung Racun. Benarkah?

Masih banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anaknya lantaran sudah banyak isu yang menyebar mengenai efek samping imunisasi. Padahal, isu tersebut hanya hoax belaka. Salah satu hoax yang paling sering didengar adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan.

Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya. Untuk itu, Bunda perlu lebih banyak lagi membaca literasi yang pasti guna mencaritahu informasi yang sebenarnya mengenai imunisasi.

Mitos: Demam Setelah Imunisasi Dianggap Berbahaya

Faktanya, kebanyakan anak akan memberi respon demam setelah imunisasi. Bahkan ada yang mengalami bengkak di area suntikan. Bunda tak usah panik dan menanggapinya berlebihan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin yang sudah diberikan pada si kecil. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Mitos: Terlambat memberi Imunisasi Sejatinya Tak Masalah

Faktanya, hal ini tentu salah kaprah. Bunda perlu menyadari, si kecil membutuhkan kekebalan dan perlindungan dari penyakit. Dan hal itu akan bekerja bila Bunda mengantarkan si kecil imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan.

Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan.

Mitos: Imunisasi Pada Saat Bayi dan Balita Sudah Cukup Sehingga Tak Perlu Vaksin Saat Remaja.

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

Mitos: Tak Usah Menambah Imunisasi, Apalagi yang Tak Disubsidi Pemerintah

Bun, sejatinya semua imunisasi tentu penting. Namun pemerintah baru menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Untuk beberapa vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu.

Di samping itu, ada pula vaksin yang belum mendapat subsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis. Padahal vaksin tersebut sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya.

“Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya,” Pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Imunisasi Penting Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati, Bahkan Cegah Jutaan Kematian

nestle

Bun, tahukah Bunda? Imunisasi telah menyelamatkan jutaan jiwa dari penyakit menular. Pemberian imunisasi yang rutin dan lengkap disertai dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orangtua perlu tahu, imunisasi memberikan perlindungan yang bersifat spesifik terhadap penyakit berbahaya. Ini karena pemberian imunisasi dapat merangsang kekebalan spesifik yang efektif mencegah penyakit berat.

Namun di luar sana masih banyak anak yang tak mendapat vaksin atau bahkan vaksinnya tidak lengkap. Risiko yang diterima anak-anak ini pun berbahaya bahkan berpotensi mematikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun serta menyelamatkan 1,5 juta nyawa apabila cakupan imunisasi global bertambah.

Menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati, maka setiap tahunnya diadakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID). Di Indonesia sendiri, momentum PID ditandai dengan adanya tema nasional “Imunisasi Lengkap, Imunisasi Sehat”. Rangkaian pelaksanaan PID akan berlangsung pada tanggal 24-30 April 2019. Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan PT Nestle Indonesia mendukung komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia sehat.

“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan agar anak mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya. Anak yang tak mendapatkan imunisasi lengkap berpotensi tak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga bisa memicu sakit berat, cacat, bahkan meninggal,” ujar dr. Soedjatmiko dari IDAI di Jakarta, Senin (22/4).

Perlu dicatat, pemberian imunisasi pun harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang ya Bun. Hal ini guna mencegah si kecil mengalami kekurangan nutrisi. Anak yang mendapat nutrisi berikut dengan imunisasi yang lengkap akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Si Kecil Hendak Ujian, Jangan Sampai Didera Cemas Berlebihan

beautiful-beauty-bed-2072890 (1)

Sebagian ibu tengah merasakan buah hatinya sedang menghadapi Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) di tingkat sekolah dasar. Alih-alih menenangkan perasaan buah hati agar tak cemas selama menjalani ujian, rasa cemas justru bisa mendera orangtuanya. Ada Bunda yang mungkin takut bila si kecil tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik.

Jika sudah begitu, cepat-cepatlah mencari cara untuk mengatasi rasa cemas yang Bunda rasakan. Pasalnya, kecemasan orang tua bisa berdampak buruk bagi anak, misalnya saja, membuat anak yang tadinya tenang jadi ikut khawatir dengan kemampuannya sendiri.

Mengutip Kumparan, psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, kecemasan orang tua akan menghambat anak untuk dapat bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti. Untuk itu, yuk atasi rasa cemas Bunda dengan cara-cara berikut ini.

Curahkan Perasaan Bunda Pada Ayah Atau Teman Dekat Bunda

Bun, cobalah curahkan perasaan khawatir atau cemas Bunda pada orang yang bisa Bunda percaya. Tapi usahakan untuk tidak curhat ke sesama ibu lain yang tentunya sedang merasa cemas atau panik. Kalau Bunda berbagi kecemasan dengan ibu dari temannya buah hati, yang terjadi justru Bunda dan teman Bunda dibuat semakin khawatir. Pilihlah orang yang Bunda percaya dapat menenangkan Bunda, misalnya saja pada suami yang mungkin lebih tenang menghadapi hal ini.

Buang Energi Cemas yang Menghantui Bunda

Mungkin ini pertama kali Bunda didera rasa cemas karena buah hati akhirnya melakoni ujian. Bisa jadi rasa cemas yang Bunda alami jadi sangat besar. Nah, cobalah buang energi negatif itu. Carilah kegiatan seperti berlari, berteriak, hingga memukul atau membanting bantal ke lantai. Sekalipun kelihatannya sepele, tapi sejatinya hal tersebut dapat membantu Bunda meredakan rasa cemas lho.

Lakukan Relaksasi

Bila Bunda sudah berusaha membuang atau melepaskan setiap energi kecemasan, cobalah untuk bernapas dengan tenang. Mengatur napas adalah salah satu cara relaksasi sederhana yang paling mudah untuk mengelola dan menurunkan tingkat stres.

Bunda bisa memulai relaksasi dengan memilih duduk di lantai atau di kursi sembari mengendurkan bahu dan leher Bunda. Setelahnya, ambil napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan napas secara perlahan melalui hidung. Lakukan hal ini dengan tak usah terburu-buru. Atau bila Bunda terbiasa melakukan meditasi atau yoga, cobalah lakukan guna mengusir rasa gusar dan cemas.

Tersenyum atau Tertawa

Ada satu hal yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan membuat diri Bunda tersenyum atau tertawa. Misalnya saja, mendengarkan lagu-lagu favorit Bunda, menonton serial komedi yang selalu sukses membuat Bunda terbahak-bahak, hingga chatting dengan teman lama yang selalu punya obrolan konyol. Tapi ingat ya Bun, jangan bahas soal ujian anak tapi ya.

Dan Yakinlah dengan Kemampuan Anak

Bun, sudahkah Bunda yakin dengan kemampuan si kecil? Kali ini adalah ujian perdananya, sudah sewajarnya Bunda pun percaya dengan kemampuan mereka. Percaya bahwa anak telah berusaha melakukan yang terbaik untuk mengerjakan ujian ini.

Berdoa saja, agar ia diberikan kelancaran dalam menghadapi ujian yang akan dimulai esok hari. Selain itu, hasil ujian bukanlah tujuan utama belajar dan ujian sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk menakar kecerdasan seorang anak.

Jadi, yuk kurangi rasa cemas Bunda dan yakinlah si kecil bisa melewati ujian ini dengan baik. Bila Bunda terlalu cemas dan si kecil tahu, yang ada dia justru sukar untuk bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top