Kesehatan Ibu & Anak

Ingin Memiliki Anak Cerdas? Lakukan 5 Hal Ini Sejak Dalam Kandungan!

mandidikanakhamil

Anak merupakan kebanggaan orang tua. Kehadirannya telah sangat dinantikan. Orang tua akan sangat berbangga bila memiliki anak yang sehat dan cerdas. Namun tahukan anda bahwa kecerdasan anak bisa dilatih sejak dia di dalam kandungan.

Nyatanya para orang tua memiliki kesempatan bagus untuk memberi rangsangan terhadap otak bayi sebelum proses kelahiran. Hal ini akan membawa pengaruh positif untuk pembentukan sel-sel otak. Dengan begitu kecerdasannya pun bisa meningkat. Lakukan 5 hal ini untuk meningkatkan kecerdasan buah hati anda.

  1. Jagaah asupan nutrisi saat kehamilan demi mendapatkan anak yang sehat dan cerdas

Perhatikan kandungan makanan yang dikonsumsi selama kehamilan. Utamakan jenis makanan yang mengandung protein, vitamin A, B dan C. Mengkonsumsi makanan yang mengandung Omega 3, Asam Folat, DHA, AA, vitamin B1, vitamin B6 dan zat besi juga sangat bagus untuk bayi dalam kandungan anda.

Sebisa mungkin hindari makanan yang mengandung zat berbahaya dan pengawat. Hal ini dapat berpengaruh buruk pada perkembangan otak bayi anda. Konsumsi makanan sehat dan segar akan jauh lebih baik untuk bayi anda, daripada makanan siap saji.

  1. Hindari stres saat kehamilan. Ini tidak baik untuk perkembangan bayia anda

Ketika anda hamil, sebisa mungkin hindari stres demi memiliki bayi yang cerdas. Tingkat stres yang tinggi dapat menurunkan potensi untuk memiliki bayi cerdas. Bukan itu saja, stres bisa menyebabkan resiko hipertansi, kelahiran prematur atau berat badan bayi yang rendah. Istirahat cukup, rajin olahraga dan mengatur pola makan akan membuat anda bisa meminimalisir stres.

  1. Rajin melakukan komunikasi dengan bayi saat masih dalam kandungan bisa meningkatkan kecerdasannya

Nyatanya bayi di dalam rahim tidak hanya diam saja. Dia bisa mendengar, melihat, menendang, memindahkan dan menghisap ibu jarinya. Bahkan bayi yang belum lahir bisa mendengarkan suara ibunya sejak 10 minggu terakhir kehamilan. Melakukan komunikasi dengan bayi sangat baik untuk merangsang kecerdasan bayi, khususnya keterampilan berbahasanya. Pikiran Ibu diketahui memiliki pengaruh terhadap perkembangan janin. Otak bayi dipengaruhi oleh kejadian di luar rahim. Oleh karena itu, rajin-rajinlah melakukan komunikasi yang baik dengan bayi di dalam kandungan.

Anda juga dapat melibatkan anggota keluarga lainnya. Dengan begini ia merasa disayangi. Anda juga dapat bercerita tentang apa yang akan dia temui setelah dia lahir.  Anda dapat mulai memperkenalkan aneka macam bentuk, warna, bunyi atau berbagai macam mainan menarik yang akan dia miliki begitu lahir. Mengajak bayi dalam kandungan bermain merupakan salah satu cara efektif untuk merangsang pertumbuhan otaknya.

  1. Rajin memperdengarkan musik pada bayi akan membawa manfaat baik

Pada awal minggu ke 25, bayi yang berada di dalam kandungan dapat mendengarkan suara-suara yang berasal dari luar. Memperdengarkan musik yang sesuai sangat bagus untuk perkembangan otak bayi Anda dapat memperdengarkan musik klasik atau lagu anak-anak. Hal ini akan memberikan efek yang menenangkan untuk bayi. Buah hati anda pun jadi lebih rileks. Bayi pun bisa belajar membedakan berbagai jenis suara dan membantu memori auditori mereka.

  1. Lakukan terapi sentuhan untuk membuat bayi anda cerdas!

Terapi sentuhan sangat efektif dilakukan menjelang usia kandungan mencapai 8 minggu. Gerakan menepuk maupun mengusap-usap dengan lembut dan berirama  bisa dilakukan ibu kapan saja. Hal ini akan menciptakan kontak batin antara ibu dan bayi dalam kandungan. Bukan itu saja terapi sentuhan akan merangsang perkembangan bayi. Ketika bayi dalam kandungan sudah mulai besar, dia akan mulai mendorong kaki dan tangannya ketika merasakan sentuhan dari ibunya. Ini merupakan respon atas rangsangan yang diterimanya. Simulasi sentuhan ini dapat meningkatkan kecerdasan bayi anda.

1 Comment

1 Comment

  1. Keke Naima

    May 30, 2017 at 1:14 pm

    Mengontrol stress kadang jadi hal paling sulit karena butuh kerjasama keluarga terdekat. Semoga para ibu hamil terhindar dari stress. Kasihan anaknya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Keke Naima

    May 30, 2017 at 1:14 pm

    Mengontrol stress kadang jadi hal paling sulit karena butuh kerjasama keluarga terdekat. Semoga para ibu hamil terhindar dari stress. Kasihan anaknya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Sesibuk Apapun, Lebih Baik Jangan Berikan ASI Lewat Dot ya Bun

dot

Sebagian Bunda, terutama untuk Bunda yang bekerja, mungkin mungkin sering memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan menggunakan dot. Hati-hati Bun, ternyata hal ini ada dampaknya lho. Menurut konselor laktasi, dr Ameetha Drupadi CIMI, memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan dot kurang baik. Si kecil bisa mengalami situasi bingung puting karena tak bisa membedakan mana puting ibunya dan mana dot dari botol susu.

Saat bayi mengalami bingung puting, yang terjadi justru si kecil akan terbiasa dengan dot nantinya. Efek jangka panjangnya dapat merusak momen menyusui, bahkan ASI bisa tidak keluar, karena anak tidak mau menyedot dari puting ibunya.

“Penggunaan dot itu merusak menyusui, karena akhirnya dia nyaman sama botol, bukan sama ibunya. Padahal seharusnya kan sama Ibunya,” kata dr Ameetha. Ia menyarankan supaya media dot diganti dengan media lainnya seperti gelas, sloki, atau sendok saja Bun. Sementara untuk ibu yang tidak bekerja sebaiknya langsung menyusui saja tanpa perlu memerah ASI.

Ketua Asosiasi Konsultan Laktasi Internasional Indonesia (AKLII), dr Asti Praborini pun mengatakan hal serupa. Menurutnya, pemberian ASI perah memang tidak boleh menggunakan dot. Hal ini, karena dapat menyebabkan masalah menyusui, masalah pada Ibu, maupun masalah pada bayi.

“Penggunaan dot atau empeng dapat menimbulkan bingung puting, yaitu bayi tidak mau menyusu lagi ke payudara ibu karena mekanisme hisapan yang berbeda antara mengisap dot dan memerah payudara. Hal ini juga yang menyebabkan produksi ASI ibu lambat laun akan menurun akibat tidak efektifnya isapan bayi ke payudara setelah bayi mengenal dot,” kata dr Asti seperti dikutip detik.com.

Ia juga menjelaskan kalau bahwa dot juga sangat rentan akan kontaminasi. Karet pada dot, bisa jadi media tumbuhnya kuman. Di lain sisi, banyak zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari. Kalau sampai terakumulasi dalam tubuh bayi, yang ada justru memicu menurunnya daya tahan tubuh bayi dan bayi rentan terkena infeksi penyakit, walaupun dot berisi ASI lho Bun.

Mengutip haibunda.com, dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan gelas atau sendok. Anak yang terlanjur mengenal dot juga akan sulit disapih dari dot saat beranjak besar, sehingga akan memengaruhi sisi psikologisnya bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 tahun, terlebih jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan memengaruhi kemandirian dan pengambilan keputusan sang anak di masa depan.

Khususnya untuk ibu yang bekerja, pergilah ke klinik laktasi untuk diajarkan manajemen laktasi ya Bun. Di sana Bunda akan diberi informasi mengenai perah ASI, penyimpanan dan penyajian ASI perah, ASI perah segar, pemberian dengan gelas, dan semua tips agar tetap lancar menyusui walaupun ibu bekerja. Pengasuh pun akan diajarkan untuk melakukan pemberian ASI perah pada bayi dengan gelas.

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Keke Naima

    May 30, 2017 at 1:14 pm

    Mengontrol stress kadang jadi hal paling sulit karena butuh kerjasama keluarga terdekat. Semoga para ibu hamil terhindar dari stress. Kasihan anaknya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bunda Sedang Hamil? Perhatikan Kondisi Berat Badan Supaya Bayi Tak Lahir Prematur

paintt

Persalinan premature jadi masalah pada kehamilan yang umumnya ditakuti para ibu. Biasanya, persalinan dikatakan kalau terjadi persalinan di bawah usia kehamilan 37 minggu. Banyak ibu yang khawatir lantaran bayi yang dilahirkan prematur seringkali lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk berat lahir rendah, gangguan pernapasan, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran serta masalah lainnya.

Persalinan prematur dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab. Dalam banyak kasus, penyebab persalinan prematur bahkan tidak diketahui. Karenanya, Bunda perlu tahu beberapa tBunda persalinan premature yang perlu diwaspadai. Di lain sisi, perhatikan juga hal-hal yang bisa membuat persalinan Bunda bisa premature. Mengutip PopBunda.com, ini dia 5 hal yang memicu kehamilan premature.

Berat Badan Bisa Jadi Pemicunya

Peningkatan BB selama hamil juga tetap harus terkontrol, Bun sekalipun hal tersebut wajar. Karena berat badan yang berlebihan justru bisa berisiko terserang berbagai masalah kesehatan. Beberapa di antaranya yakni komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklamsia. Kedua kondisi ini pun bisa meningkatkan risiko persalinan prematur.

Selain itu, kelebihan berat badan saat hamil juga bisa meningkatkan risiko keguguran. Tak cuma kelebihan, berat badan yang terlalu kurang juga bukan berarti bebas dari risiko. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa memiliki berat badan dengan indeks massa tubuh di bawah 20 membuat Bunda berisiko juga mengalami persalinan prematur.

Bunda Mungkin Bekerja Terlalu Keras

Tidak masalah jika Bunda memutuskan untuk tetap bekerja saat hamil, namun perhatikan juga kesehatan dan kondisi janin ya Bun. Bekerja secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, terutama jika pekerjaan membuat Bunda sering stres, kelelahan secara fisik, jadi sering melewatkan waktu makan dan terlalu banyak bergerak.

Beberapa kondisi ini jika dibiarkan dapat memberikan efek negatif pada kehamilan. Termasuk di antaranya risiko persalinan prematur, keguguran, berat lahir rendah, dan preeklampsia. Semakin besar stres, semakin besar risiko komplikasinya. Jadi, apabila Bunda memutuskan untuk bekerja saat hamil, pastikan  Bunda menjaga tubuh dengan baik. Tetap makan dan minum vitamin sesuai jadwal, pikirkan psikis Bunda serta utamakan waktu istirahat.

Gaya Hidup Selama Kehamilan Tidak Terjaga

Beberapa kebiasaan yang bisa meningkatkan risiko persalinan prematur di antaranya merokok, minum minuman beralkohol, dan menyalahgunakan penggunaan obat. Selain bisa memicu persalinan prematur, kebiasaan-kebiasaan tersebut juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat rendah dan bahkan keguguran.

Bahan-bahan kimia dan beracun yang terdapat dalam rokok misalnya, dapat menembus plasenta dan membuat janin kekurangan asupan oksigen serta nutrisi. Saat mengetahui sedang hamil, cobalah untuk menghentikan semua kebiasaan tersebut ya, Bun. Semua demi kesehatan si Kecil.

Pola Makan pun Kurang Tepat Selama Masa Kehamilan

Makan dengan tepat, kemudian seimbang dengan rutin berolahraga merupakan kunci kehamilan sehat. Jadi, pastikan Bunda memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari, ya. Selain membantu menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin, diet gizi seimbang juga dapat membantu menurunkan risiko persalinan prematur.

Nutrisi penting yang dibutuhkan Bunda selama hamil yakni asam lemak omega 3 yang penting bagi perkembangan otak janin. Selain itu, Bunda juga butuh asupan asam folat untuk membantu mencegah risiko cacat tabung saraf. Kalsium dan vitamin C juga diyakini dapat membantu mencegah persalinan prematur. Pilihlah sumber kalsium yang sehat seperti susu dan yoghurt, sementara vitamin C terdapat pada jeruk dan buah-buahan lainnya.

Pastikan Juga Selama Kehamilan, Bunda Tidak Mengalami Depresi

Stres yang bahkan berujung pada depresi juga bisa menjadi salah satu pemicu persalinan prematur. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ada dugaan kuat antara depresi dan persalinan prematur memiliki hubungan biologis. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi obat antidepresan selama kehamilan juga meningkatkan risiko persalinan prematur.

Kategori antidepresan tertentu yang digunakan untuk mengobati depresi dan gejala kecemasan yang dikenal sebagai selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), kemungkinan berhubungan dengan risiko persalinan prematur juga, Bun. Jika sebelum hamil Bunda terbiasa mengonsumsi obat antidepresan, lebih baik konsultasikan dengan dokter sebelum melanjutkannya lagi, ya.

1 Comment

1 Comment

  1. Keke Naima

    May 30, 2017 at 1:14 pm

    Mengontrol stress kadang jadi hal paling sulit karena butuh kerjasama keluarga terdekat. Semoga para ibu hamil terhindar dari stress. Kasihan anaknya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Saat Anak Tantrum, Jangan Memaksanya untuk Berhenti Saat Itu Juga ya Bun

test

Bun, balita cenderung egosentris. Banyak hal yang diinginkannya. Kondisi ini pun dibarengi dengan kemampuan bahasanya yang ekspresif. Di lain sisi, dunianya pun penuh dengan eksplorasi. Ia selalu mau belajar dengan melakukan banyak observasi.

Tapi disaat seperti itu, ketika keinginan orangtua untuk menjaga keamanan anak berbenturan dengan usaha anak untuk mandiri dan kemampuan bahasanya yang terbatas biasanya  hampir tidak bisa dihindari. Akhirnya si kecil pun tantrum. Tapi Bun, ternyata tantrum itu penting lho untuk kesehatan emosional si kecil.

Yup, tantrum pada anak jadi bagian penting untuk kesehatan emosionalnya, dan kita bisa belajar untuk jadi lebih tenang ketika menghadapinya. Berikut ini alasan kenapa tantrum penting bagi batita:

Lebih Baik Diekspresikan Daripada Dipendam

Bun, air mata mengandung kortisol, yang merupakan hormon stres. Nah, saat kita menangis, sejatinya kita melepaskan stres dari tubuh. Air mata diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kondisi emosi. Bunda a bisa lihat ketika si kecil tantrum, tak ada yang benar menurutnya.

Ia marah, frustrasi, atau merajuk. Tapi setelah tantrum berlalu, ia berada di mood yang jauh lebih baik. Sebaiknya orangtua membiarkan anak tantrum tanpa mencoba mengganggu prosesnya sampai anak tuntas.

Menangis Membantu Anak Belajar

Seorang anak yang bermain lego sewaktu-waktu bisa mulai tantrum karena kesulitan membuat konstruksi yang tinggi. Tapi setelah anak tantrum, ia duduk dan memperbaiki legonya. Ketika anak mengalami kesulitan dan kemudian ia mengungkapkan frustrasinya yaitu lewat tantrum, maka biarkan proses ini berlangsung. Tantrum akan membantunya menjernihkan pikiran sehingga bisa belajar hal baru.

Saat anak tidak bisa berkonsentrasi atau mendengarkan, biasanya ada masalah emosi yang menghambat proses ini. Agar proses belajar berjalan, anak harus senang dan rileks, dan mengekspresikan emosi jadi bagian dari proses ini.

Tantrum Membuat Anak Jadi Punya Waktu Tidur yang Lebih Baik

Masalah tidur sering terjadi lantaran orangtua mengira pendekatan  terbaik untuk tantrum adalah meminta si kecil tidur padahal tantrumnya belum selesai. Seperti orang dewasa, anak juga terbangun karena stres atau berusaha memproses sesuatu yang terjadi di hidupnya. Nah Bun, kalau Bunda memilih untuk membiarkan anak mengakhiri tantrum meningkatkan kondisi emosi dan bisa membantu anak tidur sepanjang malam.

Tantrum Membantu Menjalin Kedekatan

Mungkin sulit untuk mempercayai hal ini ya Bun. Tapi cobalah buktikan. Biarkan ia melewati badai perasaannya tanpa Bunda mencoba memperbaikinya atau mencoba menghentikannya. Bunda tak perlu banyak bicara, tapi ucapkan kata yang menenangkan. Tawarkan pelukan. Anak akan merasakan penerimaan Anda yang tanpa syarat dan merasa lebih dekat dengan Anda setelahnya.

Tantrum Membantu Perilaku Jangka Panjang Anak

Kadang emosi anak dalam bentuk lain seperti agresi, sulit berbagi, atau menolak bekerja  sama untuk tugas sederhana seperti memakai baju atau menggosok gigi. Hal ini sejatinya adalah tanda umum anak kesulitan mengontrol emosinya. Sementara itu, tantrum terjadi justru membantu anak melepaskan perasaan yang sukar diutarakannya.

Bahkan Tantrum Pun Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Buah Hati Lho Bun

Selama masa batita, anak mulai mengerti kalau mereka terpisah dari orangtua. Mereka mengembangkan rasa otonomi, menyadari kalau mereka bisa mengatakan “tidak” untuk menunjukkan kemandirian.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Keke Naima

    May 30, 2017 at 1:14 pm

    Mengontrol stress kadang jadi hal paling sulit karena butuh kerjasama keluarga terdekat. Semoga para ibu hamil terhindar dari stress. Kasihan anaknya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top