Hiburan Anak

hati-hati dengan Tontonan Anak. Perhatikan 9 Hal dalam Memilih Tontonan TV yang Aman Untuk Anak

TVitupasif

Tontonan bagi anak bisa menjadi tuntunan. Oleh karena itu Orang tua harus cerdas dan bijak memilih tontonan yang tepat untuk anak.

Menurut Dr Frieda Mangunsong, M.Ed, Associate Professor dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, film adalah salah satu media yang mampu mempengaruhi anak-anak bahkan sejak mereka bayi sekalipun. Dari film, anak-anak bisa mendapatkan berbagai hal mulai dari meniru kata-kata, mengenal warna, benda, gerakan, musikalitas, ritme dan banyak hal.

“Anak-anak menyukai film karena dalamnya terdapat banyak sekali unsur. Ada tema dan pesan, kaya akan gambar dan warna, tampilan kata-kata, gerakan visual dan adegan-adegan yang menghibur,” ungkap Frieda. Menurut Frieda, tayangan media juga dapat memberikan model-model tertentu bagi anak-anak mulai dari kekerasan, kecerdasan, kepemimpinan, keceriaan, kejenakaan.

Oleh karens itu, penting bagi orang tua memilih tontonan untuk anak.

1. Ikut Menonton Bersama Anak

Untuk mengetahui acara TV mana yang bagus untuk ditonton anak, mana yang tidak, itu adalah keputusan Anda. Maka selalu dampingi anak setiap kali dia menonton TV. Jika apa yang Anda tonton tidak baik untuknya, Anda bisa mengganti channel atau menghentikan kegiatan menonton televisi.

2. Tetapkan Tayangan dan Jam Nonton

Jika Anda sudah punya jadwal tontonan yang cocok untuk anak, tetapkan jadwal itu. Buat peraturan tegas, jangan sampai anak menonton di luar jam dan acara yang ditentukan. Kalaupun ingin menonton tayangan lain, kembalilah ke poin 1. Semua ini dilakukan untuk kebaikan anak-anak Anda.

3. Orang tua harus selektif memilih tontonan yang sesuai dengan umur anak

Menurut Psikolog Tika Bisono, anak belum dapat memilah tontonan yang baik dan buruk sehingga orang tua harus selektif memilih tontonan yang sesuai dengan umur anak. Jika orang tua melepaskan anak menonton tayangan televisi tanpa pengawasan, pikiran anak dapat dirusak oleh tontonan tidak baik, ditambah lagi anak suka meniru apa yang dilihatnya.

4. Jangan Terlalu Sering Nonton

Menonton terlalu sering tidak baik. Masih banyak media informasi dan hiburan lain yang lebih bermanfaat. Misalnya membaca buku bersama, saling bercerita tentang apa yang terjadi hari itu (tentang teman-temannya di sekolah barangkali), atau kegiatan apapun yang lebih mengasah kreativitas anak.

5. Hindari Tontonan Menjelang Tidur

Hindari juga menonton di waktu menjelang tidur. Hal ini diperlukan agar anak punya jam tidur yang teratur dan tidak merengek jika acara yang ditonton belum selesai. Biasakan hal ini, karena makin malam tayangan TV, biasanya diisi dengan acara yang ditujukan untuk penonton yang lebih dewasa.

6. Pilih Tontonan yang Baik

Selain tontonan yang kurang mendidik, TV juga menghadirkan tontonan yang baik bagi si kecil, misal siraman rohani atau film kartun yang mendidik dan acara lainnya yang mengandung unsur perjuangan negara atau pengetahuan lainnya.

7. Hati-hati dengan judul tontonan anak,  Menurut bapak empat anak ini, tidak semua tayangan film cocok ditonton untuk anak

Irfan Hakim sangat selektif dalam memilih tontonan untuk anaknya. Menurut bapak empat anak ini, tidak semua tayangan film cocok ditonton untuk anak.

“Ada beberapa film yang memang dibatasi untuk anak-anak seperti Cinderella, karena tidak semua judul anak-anak pantes untuk ditonton sama anak-anak,” ucap Irfan

8. Wulan Guritno memilih layanan TV kabel yang bisa mengontrol tontonan anaknya

Aktris Wulan Guritno mengaku sangat selektif memilih tontonan bermutu bagi anak-anaknya. Ia juga memilih layanan TV kabel yang bisa mengontrol tontonan anaknya.

“Saya tidak semata-mata pasang Parabola untuk bisa mendapatkan beragam hiburan, pokoknya harus punya fungsi Parental Lock,”

9. Adegan Kekerasan di TV Bikin Masalah Tidur pada Balita

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa keluarga yang disarankan untuk beralih dari acara TV yang mempertontonkan kekerasan dalam beberapa bulan, anak-anaknya memiliki kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan keluarga yang tidak menerima saran tersebut.

“Orang tua cukup mengubah tontonannya di rumah agar anak dapat tidur lebih nyenyak,” kata Michelle Garrison, penulis utama studi tersebut dari Seattle Children’s Research Institute, seperti dilansir foxnews/

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Membuat Jadwal untuk Anak, Jangan Pisahkan Waktu Bermain dan Belajar Ya Bunda

4-Ketika-Waktu-Bermain_-Ayah-dan-Bunda

Bunda pasti ingin si buah hati tumbuh jadi anak yang disiplin. Wajar jika kemudian berusaha menanamkan sikap disiplin tersebut sedari dini. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah dengan membuatkan jadwal untuknya. Kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan bermain, kapan waktunya belajar dan sejumlah jadwal lainnya.

Tentunya membuat jadwal semacam ini tak salah. Tapi tahukah Bunda, khusus untuk si buah hati yang masih usia dini seharusnya jadwal bermain dan belajarnya tidak dipisah.

Meski Belajar itu Penting, Rasa Bahagia Anak Jauh Lebih Penting

1-Meski-Belajar-Itu-Penting-namun-Rasa-Bahagia

Kenapa demikian? Menurut Dr. Sofia Hartati., M.Si Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sangatlah penting untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak, memperkenalkan anak pada banyak hal, dan juga memberikan asupan nutrisi yang baik dan lengkap.

Namun, Dr. Sofia Hartati menambahkan, perlu diingat walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting bagi anak di usia dini. Untuk itu, sebisa mungkin belajar anak dilakukan sambil bermain.

Salah satu cerita menarik tentang belajar sambil bermain ini dialami sendiri oleh Albert Einstein. Salah satu peristiwa yang menginspirasinya terjadi ketika dia berusia 4 tahun dan ayahnya memberinya alat kompas untuk dimainkan. Einstein selama berjam-jam bermain dengan memutar-mutar kompas tersebut sambil penasaran kenapa jarumnya selalu menunjuk ke arah utara. Rasa penasaran dan kagumnya inilah yang dibawa Einstein hingga dewasa dan membuatnya menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.

Jika Bunda Menjadikan Satu Waktu Bermain dan Belajar, Minat Belajar Anak Bisa Meningkat

3-Jika-Bunda-Memisahkan-Waktu-Bermain-dan-Belajar

Berbeda dengan kita yang dewasa, si kecil justru akan lebih bisa konsentrasi jika waktu belajar dan bermainnya dijadikan satu. Beberapa penelitian menyebutkan soal ini. Salah satu yang sering menyuarakannya adalah Nancy Carlsson Paige, profesor bidang pendidikan dari Lesley University di Cambridge.

Menurutnya emosi anak akan lebih cepat berkembang jika ia tidak dikhususkan waktunya untuk belajar dan dibiarkan lebih banyak bermain. Dengan menjadikan satu waktu belajar dan bermain anak tidak akan mudah stres dan minat belajar dan konsentrasinya akan terus meningkat ketika ia dewasa kelak.

Pilih Permainan yang Mendukung Metode Belajar Sambil Bermain ini ya Bunda

5-Pilih-Permainan-yang-Mendukung-Metode-Belajar-

Nah, untuk mewujudkan pola bermain sambil belajar tentunya dibutuhkan perangkat dan mainan yang bisa mendukung hal tersebut. Permainan itu harus memberikan pengalaman yang menyenangkan sambil membantu si kecil belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge Indonesia ini menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Serunya lagi, permainan yang ada pada Kodomo Challenge akan melibatkan peran Bunda sebagai teman bermain bersama si kecil.

Keterlibatan Bunda dalam permainan si kecil ini penting. Menurut hasil penelitian Kathy Hirsh-Pasek and Roberta Michnick Golinkoff, peneliti pendidikan anak usia dini sekaligus pengarang buku best seller Becoming Brilliant: What Science Tells us About Raising Successful Children, keinginan anak untuk bermain meningkat jika ada orang dewasa yang ikut bermain bersamanya. Nah, sejalan dengan hal tersebut permainan yang ada di Program Edukasi Kodomo Challenge ini akan secara aktif melibatkan Ayah atau Bunda untuk ikut bermain bersama buah hati

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar Free Trial Kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari Free Trial Kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket Free Trial Kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan Free Trial Kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk, Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmati quality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top