Mom Life

Empat Hal yang Sebaiknya Tak Perlu Dikomentari Agar Tak Jadi Pemicu ‘Mom-Shaming’  

daughter-family-fun-35024 (2)

Bully bukan hanya dihadapi anak-anak dan remaja di lingkungan pergaulan mereka. Banyak ibu yang mengalami bully atau lebih sering dikenal dengan istilah mom-shaming. Mereka yang melontarkan bully-an juga tak lain adalah para ibu.

Bagaimanapun, kondisi ini jadi masalah serius yang harus dihentikan. Apalagi semakin banyak bentuk mom-shaming yang ditemui di sekitar kita. Dari banyak kasus, ada empat jenis mom-shaming ini yang paling sering terjadi.

Padahal, antara ibu satu dengan ibu yang lain bukankah lebih baik saling memberi dukungan? Bahkan sebagai ibu, kitapun harus lebih menjaga sikap dan tutur kata ya Bun. Jangan sampai menyakiti perasaan Ibu lain karena perilaku kita yang tak sengaja melakukan mom-shaming.

Baik Bersalin Normal maupun Operasi, Para Ibu Sama-sama Menanggung Sakit dan Bertaruh Nyawa dalam Melahirkan

Kendati setiap ibu tentunya mendambakan persalinan normal, pada akhirnya banyak ibu yang harus melahirkan bayi dengan proses operasi. Banyak faktor atau keinginan pribadi yang mungkin mendasari para ibu ini untuk memilih operasi caesar sebagai metode persalinan, dan sejatinya tidak ada yang terlihat lebih hebat atau lebih baik.

Sebab yang perlu dihargai adalah perjuangan ibu tersebut sehingga mampu melahirkan bayinya dengan selamat. Bukan tentang metode yang dijalaninya. Sebagai ibu, tentu bunda sudah selayaknya turut memberi dukungan dan tak usah menilai ibu lainnya hanya karena berbeda cara bersalinnya.

Urusan Produksi ASI, Tak Perlu Diinterupsi

Para ibu yang baru memiliki bayi pun tak lepas dari ancaman mom-shaming. Situasi ini terjadi saat sang ibu menyusui anak. Padahal, kondisi setiap ibu tentu berbeda ya Bun. Ada ibu yang lancar menyusui Si Kecil dan produksi ASI-nya melimpah. Namun, ada juga yang mengalami kesulitan karena masalah kesehatan atau produksi ASI-nya hanya sedikit, tak peduli sudah seberapa keras usahanya dalam memompa ASI.

Lantaran situasi ini, mau tak mau mereka pun harus memilih susu formula sekalipun mereka mengerti jika ASI adalah nutrisi terbaik untuk buah hati. Pemberian susu formula alias sufor akhirnya menjadi perdebatan dan ibu yang produksi ASI-nya sedikit jadi target mom shaming para ibu lain. Haruskah demikian? Pantaskah kita mengkritik seorang ibu yang tidak bisa menyusui bayinya, padahal kita tidak tahu apa masalah dan kesulitan yang ia hadapi?

Soal Pola Asuh, Masing-masing Ibu Punya Caranya Sendiri

Selain melahirkan dan menyusui, ada ibu yang juga diserang berbagai sentimen negatif oleh ibu lainnya lantaran cara pengasuhan anak yang sedikit berbeda dari ibu pada umumnya atau kelihatan keluar dari tradisi dan budaya. Padahal, seorang ibu boleh mengadopsi gaya pengasuhan dari berbagai sumber referensi untuk memastikan Si Kecil mendapatkan yang terbaik di masa tumbuh kembangnya itu.

Melakukan mom-shaming terhadap ibu baru yang masih perlu banyak adaptasi dengan pola pengasuhan yang tepat untuk anaknya sejatinya tindakan tak terpuji lho Bun. Justru mungkin sebagai Bunda yang sudah lebih dulu memiliki pengalaman dalam mengasuh anak, ada baiknya untuk membagikan ilmu dan pengalaman mengenai pengasuhan anak bayi.

Ibu yang Bekerja pun Sering Jadi Target Mom-shaming

Bagi seorang ibu, terlebih mereka yang baru memiliki anak, kerap kali muncul sebuah perdebatan tentang mana yang lebih baik, menjadi ibu rumah tangga atau membagi waktu dengan berkarier alias bekerja? Perdebatan ini seakan tak pernah usai.

Masing-masing pihak yang pro saling membela diri dan mempertahankan argumennya. Padahal, kedua hal tersebut seharusnya tak perlu diperdebatkan, bahkan dipertentangkan. Bun, alangkah bijaknya sebagai seorang ibu, menghormati pilihan para ibu jauh lebih baik dibanding membicarakannya dari belakang. Baik mereka yang perlu bekerja, ataupun yang memilih bekerja dari rumah, cukup hargai semua itu berdasarkan hak dan pilihan masing-masing ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Tak Apa Bila Sekali Waktu Bunda Menangis di Depan Anak

kids

Sebagai orangtua, ada kalanya kita dilanda rasa kesal, marah, atau bahkan ingin menangis. Ya Bun, namanya juga manusia. Tapi ada lho orangtua yang berprinsip tak mau memperlihatkan air mata di depan anaknya. Alih-alih meluapkan emosi secara alami, Bunda biasanya terburu-buru menyeka air mata agar tak terlihat oleh anak. Padahal sejatinya menunjukkan emosi atau keadaan Bunda di depan anak itu normal lho Bun.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Ya Bun, hal ini membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami. Pemicu orangtua tiba-tiba menangis biasanya karena mungkin saat merespon kematian anggota keluarga besar. Untuk hal semacam ini, maka biarkan anak tahu emosi orangtuanya. Apalagi bila ia juga mengenal dekat sosok yang telah berpulang. Dengan menunjukkan emosi yang sama, anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik. Nah Bun, hal sama juga dirasakan oleh anak-anak, mereka yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Untuk itu, pastikan Bunda pun memberikan informasi yang cukup guna membantu mereka memahami bahwa tak ada alasan untuk takut atau bingung. Bunda dapat bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis. Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan,

“Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya. Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bagaimana Kita Tahu Kapan Saat Melahirkan itu Sudah Tiba?

female-lady-mother-59894

Untuk para Bunda yang baru pertama kali merasakan kehamilan, tentu ada perasaan gugup saat usia kehamilan memasuki trimester akhir. Menantikan proses kelahiran menjadi momen langka karena Bunda sendiri tak tahu secara pasti kapan si kecil akan lahir. Hanya saja, Bunda dapat mengetahui waktu yang tepat untuk melahirkan melalui beberapa tanda.

Tahukah Bunda, ada kalanya kita sukar mengetahui apakah kontraksi yang Bunda rasakan adalah kontraksi menjelang melahirkan atau justru kontraksi palsu. Tapi yang pasti, kapan Bunda harus melahirkan adalah ketika air ketuban pecah. Nah, sebelum air ketuban pecah, Bunda atau Ayah harus menghubungi dokter saat kontraksi terjadi tiap 5 menit dan berlangsung selama 30-40 detik. Biasanya dokter akan meminta Bunda segera ke rumah sakit.

Tetap Tenang Saat Bunda Menelpon Dokter

Mungkin Bunda akan langsung berangkat ke rumah sakit begitu merasakan tanda-tanda melahirkan. Tapi ada juga yang menghubungi dokter sebelum memutuskan berangkat ke rumah sakit. Melalui telepon, biasanya dokter akan menanyakan beberapa hal di bawah ini:

  1. Kapan terakhir kali Bunda merasakan gerakan janin di dalam kandungan?
  2. Sejak kapan kontraksi terjadi, berapa sering dan berapa lamanya?
  3. Apakah ketuban Bunda sudah pecah atau Bunda mengalami pendarahan di vagina.

Bila Kontraksi Terasa Sakit, Ayah Jangan Tinggal Diam

Berdasarkan hal itu, dokter akan menyarankan apa Bunda masih harus menunggu di rumah atau segera ke rumah sakit. Nah itu tadi tanda-tanda umum, sementara untuk tanda-tanda darurat, dimana Bunda harus langsung berangkat ke rumah sakit dan menghubungi dokter jika Bunda merasakan hal-hal ini:

  1. Terjadi kontraksi, padahal kehamilan Bunda kurang dari 37 minggu.
  2. Bunda tidak merasakan gerakan bayi sekitar 8-10 jam atau kurang dari 10 gerakan dalam 24 jam.
  3. Kontraksi terlalu menyakitkan. Segera katakan pada Ayah kalau Bunda perlu ke Rumah Sakit.

Kenali Perbedaan Kontraksi  Nyata dan Palsu

Nah, mengenai kontraksi, ketika merasakan kontraksi, jangan terkecoh dengan kontraksi palsu atau dikenal juga dengan nama Braxton Hicks. Kalau ini kehamilan pertama dan Bunda belum mengenali kontraksi sebenarnya, mungkin Bunda mengira sudah saatnya melahirkan. Tapi tidak ada salahnya kalau Bunda menghubungi dokter untuk memastikannya. Jaga kondisi tubuh Bunda di masa kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan Bunda dan janin. Klik di sini untuk mendapatkan informasi lengkap seputar nutrisi seimbang di masa kehamilan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Hadapi Karakter Anak yang Pemalu dengan Cara-cara Terbaik Bunda

beautiful-blonde-hair-child-160477

Bun, rasa malu pada anak biasa terjadi. Setidaknya 20-48 persen orang memiliki kepribadian pemalu. Bunda perlu menerima kalau kebanyakan anak pemalu memang sudah dari lahir begitu. Tapi mungkin ada beberapa pengalaman yang pernah dialami si kecil sehingga menyebabkan ia jadi pemalu sehingga mungkin si kecil perlu bantuan guna menghilangkan rasa malunya itu.

Biarkan Si Kecil Terus Bereksplorasi dengan Lingkungan Sekitarnya

Pertama, eksplorasi adalah hal yang wajib dilakukan oleh anak-anak. Sebagai orangtua pun Bunda perlu menerapkan pola asuh yang baik pada anak sejak ia masih bayi, dengan cara memberikan kesempatan untuknya untuk melakukan eksplorasi terhadap segala hal yang ia inginkan. Biarkan ia melakukan apapun yang menggugah rasa penasarannnya namun tetap dalam pengawasan Bunda. Dengan membiarkannya bereksplorasi, maka ia pun akan tumbuh jadi anak yang berkembang dan mau membangun citra dirinya.

Hindari Melabeli Anak Tersebut

Saat Bunda mengenali jika si kecil memiliki sikap pemalu, maka jangan sekalipun memberikan predikat atau label yang menyebutnya sebagai pemalu. Hal ini justru akan membuatnya berpikir bahwa ia akan selalu menjadi pemalu. Bila ia sering dikatai sebagai pemalu, bukan tidak mungkin ia menjadi sadar dan lebih malu yang akhirnya berujung pada psikologis anak yang memilih menarik diri dari lingkungannya. Ada baiknya saat anak kurang percaya diri berkembang dilingkungannya, berikan ia dorongan dan kepercayaan bahwa ia bisa melakukannya. Dengan begini anak akan lebih termotivasi untuk lebih berani.

Bawa Si Kecil Turut Serta Saat Melakukan Kunjungan

Bun, bila Bunda mampir atau hendak berkunjung ke kerabat atau teman lama, bujuk si kecil agar mau ikut bersama Bunda ya. Termasuk bila ada undangan pernikahan. Sebab dengan mengajak si kecil berkunjung ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru akan membuatnya terbiasa dengan lingkungan dan orang-orang baru sehingga ia pun jadi lebih berani dan percaya diri ya Bun.

Biarkan Si Kecil Masuk Ke Sekolah Umum ya Bun

Bun, ajak si kecil untuk membuka interaksi sesering mungkin dengan anak-anak sebayanya. Salah satu cara yang dapat Bunda pilih yaitu memasukkannya ke sekolah atau taman kanak-kanan umum. Hindari memilih home schooling sebab dengan membiarkan si kecil masuk ke sekolah biasa, Bunda mampu menumbuhkan kepercaya dirian anak yang lebih tinggi. Di sekolah, anak akan menjumpai serta mengenal berbagai karakter orang dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar rumahnya. Bila dibiasakan, ia pun akan mampu bersosiaisasi dengan teman-teman seusianya, Bun.

Pastikan Si Kecil Selalu Mendapat Dukungan dari Orangtuanya

Dukungan serta dorongan orang tua adalah hal paling penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Bila si kecil belum berhasil melakukan sesuatu, maka jangan pernah mengucilkan atau menganggapnya lemah ya Bun. Biasanya hal ini hanya akan membuat anak tertekan dan semakin tidak percaya diri. Untuk itu, tetap berikan motivasi dan kepercayaan anda bahwa anak bisa melewati dan melakukannya. Sifat pemalu atau minder yang dimiliki oleh seorang anak dapat membuat bakat dan potensi yang dimilikinya jadi tak kelihatan sebab ia enggan untuk menggalinya. Untuk itu, berikan dukungan sepanjang waktu untuk buah hati Bunda ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top