Parenting

Dear Para Orangtua, Pantang Mengucapkan Lima Kalimat Ini Kepada Buah Hati

pexels-photo-1445704

Memiliki anak adalah anugerah terindah. Apa yang ada dalam diri buah hati, patut dijaga dan dilindungi. Termasuk juga urusan perasaannya. Sekalipun mendidik buah hati bukanlah hal yang mudah dan tak bisa dianggap remeh, bukan berarti Bunda tak bisa melakukannya, bukan?

Setiap orangtua membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra saat mendidik anaknya. Apalagi kadang anak-anak melakukan tindakan yang tak sesuai keinginan orangtua yang memicu kemarahan orangtua. Bila orangtua sudah marah, seringkali yang terjadi adalah orangtua melukai anaknya, entah lewat lisan maupun tindakan.

Tindakan semacam ini tak bisa dibenarkan tentunya. Bun, saat marah atau jengkel pada anak, ada banyak kasus dimana akhirnya orangtua mengucapkan kalimat terlarang yang seharusnya dihindari. Kenapa disebut kalimat terlarang, sebab kalimat ini pantang diucapkan karena bisa diserap sebagai informasi oleh anak.

Apa saja? Ini dia Bun.

“Jangan menangis, Jangan jadi nak yang cengeng.”

Bun, memangnya salah jika si kecil menangis? Bunda perlu ingat lagi jika menangis adalah cara ampuh yang biasa dilakukan oleh anak untuk menyalurkan emosi dan perasaannya entah itu saat takut, cemas ataupun sedih. Sementara, mengucapkan kalimat, “Jangan menangis” dan kalimat serupa lainnya akan membuat anak berpikir bahwa menangis adalah hal yang tidak wajar dan tidak pantas dilakukan.

Sebaliknya, justru lebih baik kalau Bunda meminta si kecil untuk menjelaskan emosi yang dirasakannya. Coba tanyakan, “Bagaimana perasaan kamu saat ini, Nak?” Dengan begitu, secara tidak langsung Bunda telah mengajarkan sikap simpati dan empati. Anak juga jadi bisa jujur tentang perasaanya pada dirinya sendiri.

“Bukan begitu caranya. Sini, biar mama yang kerjakan.”

Kalimat ini seringkali terucap saat Bunda melihat kinerja si kecil tak sesuai harapan atau keinginan Bunda. Misalnya, saat menyuruh untuk melipat sebuah kertas, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, kalimat terlarang orangtua ini terkadang akan terucap.

Tanpa disadari, kalimat tersebut sejatinya malah menghambat perkembangan si kecil untuk lebih aktif lho Bun. Sederhananya, anak akan merasa takut salah dan minder saat melakukan suatu pekerjaan.

Karenanya, alangkah baiknya kalau Bunda dan buah hati sama-sama melakukan pekerjaan sembari Bunda menjelaskan cara melakukannya dengan benar. Mengerjakan bersama-sama justru bisa membantu anak untuk semakin mengerti dan bisa tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.

“Kamu nakal, selalu bikin malu Mama”

Bun, si kecil akan mudah menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan lingkungannya. Bila orangtua sering berucap atau mengatakan kalau dia nakal dan selalu bikin malu, lambat laun ada kecenderungan si kecil akan jadi anak yang tak percaya diri dan berpikir kalau dirinya seperti yang diucapkan orangtuanya. Untuk itu, ubahlah kata-kata negatif tersebut menjadi kalimat yang memberikan energi positif.

Misalnya, “Jika kamu rajin belajar kamu akan mengerti banyak hal, kamu kan anak yang pintar.” Bunda juga bisamemotivasi jadi anak yang pintar. Dengan begitu, anak akan merasa lebih semangat dan termotivasi

“Mama lagi sibuk. Jangan ganggu dulu ya”

Saat mengatakan hal ini, si kecil pasti akan merasakan jika kehadiran mereka tidak berarti buat kamu. Anak juga bisa merasa terbuang dan seperti dianggap tidak diinginkan. Ini sangat bahaya untuk perkembangan mental anak.

Kadang orangtua mengalihkan perhatian anak dengan memberikan game online atau memberikan smartphone agar anak-anak sibuk sendiri. Untuk itu, langkah terbaik yang bisa Bunda lakukan adalah mengalihkan perhatian mereka dengan kegiatan positif.

Setelah waktu Bunda senggang, hampirilah dan bantulah si kecil dengan melakukan kegiatan positif seperti menggambar, berkebun, atau menari mengikuti koreo di YouTube ya Bun.

“Dulu kakak bisa melakukannya, kenapa kamu tak bisa?”

Jangan pernah sekalipun membandingkan buah hati ya Bun. Ini karena membandingkan anak dengan si Kakak atau dengan teman sebayanya akan berdampak buruk untuk masa depannya. Anak akan tumbuh dengan rasa minder dan rendah diri. Selain itu, saat dewasa anak juga akan mencoba berperilaku seperti orang lain.

Biarkanlah lebih baik jika si Anak tumbuh sebagai dirinya sendiri. Untuk itu, hargailah apa yang dilakukan buah hati dibanding membuatnya merasa upayanya sia-sia karena orangtuanya membanding-bandingkan dirinya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Saat Si Kecil Diam-diam Ketahuan Membatalkan Puasa, Lakukan Hal Ini Bun

adorable-blonde-blur-1912868 (1)

Saat si kecil terbangun lebih awal untuk sahur tentu membuat Bunda bangga. Artinya, ia mau belajar untuk berpuasa ya Bun. Tapi lucunya, kadang kala justru sebelum adzam maghrib berkumandang, Bunda tak sengaja mendapati si kecil makan atau minum sembunyi-sembunyi. Saat melihat si kecil berlaku demikian, kira-kira apa yang akan Bunda lakukan?

Untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun, berpuasa masih butuh latihan. Mereka masih beradaptasi dengan ibadah wajib yang harus mereka jalani di bulan Ramadan. Untuk itu, jangan menciptakan momen yang membuat si kecil jadi merasa ngeri ya Bun. Sebab kalau Bunda langsung melontarkan omelan, yang ada mereka justru tertekan dan jadi malas berpuasa lagi.

Nah, berikut ini hal-hal yang dapat Bunda lakukan saat si kecil ketahuan membatalkan puasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bunda Tak Perlu Reaktif

Si Kecil akan terkejut bila melihat respon Bunda yang reaktif saat ia ketahuan membatalkan puasa. Tak usah mengagetkan atau membuatnya merasa sangat bersalah, justru tunjukkan ekspresi yang tenang dan diskusikan mengenai puasa tanpa mengintimdasinya ya Bun. Dengan begini ia akan tetap tenang.

Diskusi dan Komunikasi Adalah Kunci

Cobalah tanyakan dulu pada si kecil, apa yang membuat ia tak kuat. Bantu ia menemukan masalahnya ya Bun. Misalkan saja, ia merasa tak kuat berpuasa lantaran tak sempat sahur karena sulit dibangunkan. Atau ia tak kuat puasa karena menurutnya terlalu lamaa menahan rasa lapar.

Tetap diskusikan apapun masalahnya ya Bun. Hal ini akan melatih kemampuan analisisnya. Setelah ia menemukan akar masalahnya, bantu ia menemukan solusi. Misalnya saja, tidur lebih awal agar bisa bangun saat jam sahur.

Berikan Respon Pada Sanggahannya

Saat diajak berdiskusi mengenai apa yang membuat ia tak kuat, bisa saja lho Bun ia mengeluarkan beberapa kalimat sanggahan yang menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya anak yang membatalkan puasanya diam-diam.

Bila anak berkata: “Tapi si A juga membatalkan puasa. Tadi aku lihat dia, makanya aku juga ikut membatalkan.”
Jawab dengan: “Barangkali cara dia berpuasa berbeda dengan cara kamu. Dia mungkin sudah bikin kesepakatan untuk bisa membatalkan puasa di jam itu untuk kemudian dilanjutkan lagi.”
Bila anak berkata: “Si B nggak puasa. Enak banget dia bisa minum es siang-siang gitu.”
Jawab dengan: “Tidak semua orang punya kewajiban puasa. Kalau di agama kita, memang ada perintah puasa di bulan Ramadan. Lagi pula, nanti kalau sudah buka puasa, kan, kamu juga bisa minum es.”

Kuncinya, respon yang tepat diperlukan saat si kecil mencoba memberi sanggahan. Tak usah emosi, tetap tenang ya Bun.

Beritahu Mengenai Konsekuensi Logis yang Akan Dihadapinya

Bila Bunda dan si kecil sebelumnya sudah membuat kesepakatan tentang puasa, maka ini waktunya untuk menjalankan aturan dan konsekuensinya. Kesepakatan bisa saja berisi tentang pada pukul berapa ia bisa membatalkan puasa dan pada pukul berapa ia harus melanjutkan.

Sementara itu, contoh konsekuensi yang bisa diambil misalnya, Bunda tidak jadi memasakkan apa yang dia inginkan untuk berbuka atau tidak jadi membelikan minuman kesukaannya. Konsekuensi tidak perlu berlebihan agar anak-anak tidak terbebani. Yang paling penting, konsekuensi itu harus ada kaitannya dengan tindakannya.

Dan Begini Caranya Agar Tak Terjadi Lagi ya Bun

Walaupun berpuasa untuk anak-anak sifatnya baru latihan, namun ia juga patut terus didorong agar bisa menjalankannya lebih baik. Untuk meminimalisir risikonya membatalkan puasa diam-diam. Untuk Bunda yang belum pernah membuat kesepakatan dengan si kecil, inilah saatnya.

Evaluasilah kekuatan si kecil menjalankan puasa. Lalu buat kesepakatan yang berisi kapan ia boleh membatalkan. Yang penting lakukan pelan-pelan hingga ia terbiasa dan lebih kuat lagi. Itu akan lebih mudah. Kesepakatan ini dapat mengakomodir kebutuhan mereka dan membuatnya lebih bahagia menjalani puasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Kenali Penyebab Sekaligus Tips Atasi Obesitas pada Anak

boy-child-drink-332091

Bun, obesitas pada anak bisa menjadi salah satu faktor yang mengkhawatirkan lho. Ini karena banyak penyakit berbahaya yang otomatis mengintai si kecil. Misalnya saja kolesterol, stroke, hingga penyakit jantung bisa lebih rentan. Di lain sisi, faktanya 216 juta anak di dunia masih mengalami obesitas. Jika didiamkan, obesitas akan mengancam tumbuh kembang anak. Untuk itu, Bunda perlu mengenali penyebab berikut juga dengan pencegahan obesitas agar si kecil dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Penyebab obesitas pada anak salah satunya adalah faktor genetik. Jadi, kalau orangtuanya mengalami obesitas dan diabetes, anaknya pun memiliki kemungkinan 50:50. Bila hal itu terjadi, maka Bunda sudah harus berhati-hati terhadap kebiasaan makan dan aktivitsa fisik si kecil. Biasakan si kecil untuk makan dan hidup sehat sedari dini.

Tak hanya itu, gawai pun bisa menjadi pemicu obesitas. Banyak orangtua yang tak menyadari hal ini. Faktanya, bermain gadget memang suatu hal yang menyenangkan. Namun berlama-lama bermain gawai justru bisa membuatnya malas beraktivitas fisik.

Anak yang sudah kecanduan gadget bisa menjadi malas bermain yang melibatkan fisiknya secara langsung. Karena pemicu diabetes ada yang tak disadari oleh orangtua, untuk Itu, yuk Bun cegah diabetes pada anak dengan melakukan tips-tips ini.

Pertama, Yuk Mulai Batasi Konsumsi Minuman Berpemanis Buatan dari Sekarang

Seperti yang dikutip dari cdc.gov, kunci mencegah diabetes pada anak adalah menyeimbangkan kalorinya. Selain memberikan makanan sehat, Bunda jangan lupa untuk memperhatikan minuman yang diberikan pada si kecil.

Sebisa mungkin batasi minuman yang mengandung pemanis buatan. Konsumsi gula fruktosa berlebih bisa membuat berat badan anak naik dengan cepat. Jadi, setiap kali akan memberikannya makanan atau minuman, perhatikan komposisinya, ya Bun. Hindari yang mengandung pemanis buatan.

Kedua, Mulailah Kurangi Penggunaan Gawai dan Bantu Ia Melakukan Beragam Kegiatan yang Aktif

Penggunaan gawai dan sejenisnya harus mulai dibatasi. Biasakan untuk membuat jadwal screen time untuk is kecil. Faktanya, kebiasaan ini bisa membuat anak malas, mulai dari malas untuk makan hingga aktivitas fisik.

Di lain sisi, bantu anak untuk melakukan berbagai aktivitas fisik seperti bermain sepak bola, lompat tali, berenang, atau bersepeda. Selain membantu pengaturan berat badan, melakukan aktivitas fisik bisa membantu menurunkan tekanan darah pada anak, meluruskan tulang, hingga mengurangi stres.

Ketiga, Upayakan Membuat Jadwal Makan dan Ngemil yang Rutin ya Bun

Sejak dini, anak perlu diberi pemahaman soal perlunya makan secukupnya lho Bun. Nah, sebagai orangtua, ada baiknya dibantu dengan mengatur jadwal makan dan ngemilnya setiap hari. Dengan mengatur jadwal makan seperti ini, kita juga lebih mudah memonitor asupan makanan dan kalorinya dengan lebih baik sehingga si kecil pun tak menerima asupan makanan berlebih yang dapat memicu obesitas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cara Atasi Si Kecil yang Hobinya Mogok Sekolah

candid-children-cute-1720188 (1)

Dilema yang sering dialami orangtua saat si kecil memasuki usia sekolah adalah problem mogok sekolah ya Bun. Ada saja alasan si kecil menolak untuk berangkat ke sekolah. Seakan ia tak pernah kehabisan akal untuk membuat Bunda memaklumi alasannya agar akhirnya ia tak perlu ke sekolah.

Sebagai orangtua, Bunda pun tak dianjurkan untuk memaksa si kecil. Tenang, tetap ada cara untuk membuatnya mau berangkat ke sekolah lho Bun. Menurut para psikolog, salah satu alasan si kecil menolak ke sekolah sejatinya karena ia belum merasa nyaman atau didera rasa cemas karena saat di sekolah, ia merasa jauh dari orangtuanya.

Bahkan, Anxiety Disorders Associaton of America mengatakan kalau masalah mogok sekolah ini biasa terjadi pada 5% – 28 % anak usia 5 – 6 tahun dan anak usia 10 – 11 tahun. Jika anak melakukan aksi mogok untuk datang ke sekolah, bebrapa kiat yang dapat Bunda lakukan.

Perhatikan Dulu Kondisi Anak Menjelang Tidur ya Bun

Sebelum tidur, usahakan si kecil bisa tertidur dalam keadaan bahagia ya Bun. Sebab kondisi mentalnya menjelang tidur akan berpengaruh ketika anak bangun pagi . Bila ia tidur dengan perasaan nyaman, maka ia pun tak akan mengalami kesulitan tidur dan bangun pun dengan perasaan bahagia juga.

Siasati dengan Membeli Perlengkapan Sekolah yang Disukainya

Trik selanjutnya yang dapat Bunda lakukan adalah mencari tahu karakter kesukaan si kecil ya Bun. Siasati dengan membelikannya pernak pernik kebutuhan sekolah sesuai karakter favorit si kecil. Misalnya pensil, tas, buku, atau bahkan sepatu dan kaos kaki yang akan dia kenakan sehingga anak pun bisa lebih termotivasi untuk berangkat ke sekolah.

Temani Ia Supaya Rasa Cemasnya Hilang

Bun, jauh dari orangtua sekalipun hanya pergi ke sekolah sering membuat si kecil cemas atau tidak nyaman. Untuk itu, pendampingan orangtua pun diperlukan. Tak apa lho Bun menemani si kecil sembari mengatakan padanya bahwa ia akan baik-baik saja. Si kecil pun butuh adaptasi dengan lingkungannya. Bila ia sudah merasa nyaman, pelan-pelan yakinkan ia bahwa Bunda akan menjemputnya saat pulang sekolah.

Katakan Betapa Nyamannya Berada di Sekolah Karena Banyak Aktivitas yang Bisa Ia Lakukan

Bun, anak merasa ogah-ogahan ke sekolah bisa jadi karena ia merasa tak menemukan tantangan baru di sekolah. Padahal, bila ia bersosialisasi dan bereksplorasi dengan banyak hal yang ada di sekitarnya saat sedang di sekolah. Maka ia pun akan merasa nyaman untuk datang ke sekolah. Karenanya, katakan padanya ya Bun bahwa di sekolah pun ia bisa melakukan banyak aktivitas menyenangkan bersama teman-teman dan gurunya.

Jangan Memarahi Bila Si Kecil Mogok Sekolah

Salah satu hal sangat penting untuk dilakukan adalah bagaimana respon Bunda saat mengetahui anak mogok sekolah. Kesal tentu saja boleh. Tapi tidak perlu sampai mengomel terus-terusa pada si kecil ya Bun. Sebab kalau Bunda terus mengomelinya, bukannya termotivasi untuk sekolah, si kecil justru akan merasa bahwa dirinya mendapat tekanan dari orangtuanya.

Ujung-ujungnya, akan timbul perasaan bahwa datang ke sekolah hanya ia lakukan karena ingin membuat orangtuanya bahagia dan senang, bukan karena dorongan dari dalam dirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top