Parenting

Dear Calon Ibu; Begini Ciri Tempat Tidur yang Aman dan Nyaman untuk Bayi!

pexels-photo-266061

Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Termasuk dalam hal memilihkan tempat tidur untuk bayi. Apa lagi sebagian besar bayi memang akan menghabiskan waktunya di atas tempat tidur.

Dengan demikian, maka Bunda pun harus memilih tempat tidur yang aman dan nyaman untuk bayi. Mengingat bayi yang baru lahir bisa tidur selama 16-20 jam dalam sehari. Lantas bagaimana kriteria tempat tidur yang aman dan nyaman untuk bayi? Simak ulasan di bawah ini Bun!

Pilih Tempat Tidur Dengan Jarak Antar Bilah Kurang Dari 6 Cm Agar Kepala Bayi Tak Terselip Di Antara Bilah

Saat memilih tempat tidur untuk bayi Bunda juga harus memperhatikan keamanan bayi. Salah satunya dengan memperhatikan jarak antar bilah. Tentu akan sangat berbahaya bila kepala bayi terselip di antara bilah tempat tidurnya. Oleh karena itu, sebaiknya Bunda mengantisapasi hal itu dengan memilih tempat tidur yang jarak antar bilahnya kurang dari 6 cm.

Sebaiknya Hindari Tempat Tidur yang Bilahnya Bisa Dinaikan atau Diturunkan

Tempat tidur seperti ini sebaiknya Bunda hindari, karena terkadang bisa saja terjadi kesalahan ketika merakitnya dengan desain bilah yang semacam itu. Apabila salah dalam merakit, maka bayi bisa terjepit atau terjatuh pada saat sedang berpegangan pada bilah yang kurang kokoh.

Perhatikan Baut, Sekrup, Paku, dan Bahan-bahan Material Lainnya

Pastikan material tersebut terpasang dengan kencang supaya tempat tidur bayi bisa berdiri dengan kuat dan kokoh. Akan lebih baik jika Bunda rutin mengeceknya demi memastikan keamanan bayi. Sebab bukan tak mungkin jika pemasangan baut, sekrup, dan paku pada tempat bayi yang tidak sempurna bisa berakibat fatal pada buah hati.

Sangat Dianjurkan untuk Membeli Tempat Tidur yang Baru demi Kenyamanan dan Keamanannya

Perlu Bunda ketahui bahwa tempat tidur yang telah lama dibuat terkadang menggunakan cat yang mengandung bahan beracun, seperti halnya timah. Nah, untuk menghindari resiko tersebut, sebaiknya Bunda membeli tempat tidur yang baru. Apa lagi bayi dikenal suka menggerogoti benda-benda yang ada di dekatnya. Jangan sampai keputusan Bunda untuk tidak membeli tempat tidur baru, justru jadi berdampak fatal bagi buah hati!

Perhatikan Juga Matras Yang Akan Digunakan Bayi

Untuk tempat tidur bayi sebaiknya menggunakan matras yang didesain khusus. Beberapa produsen ada yang menjual tempat tidur tanpa diberi matras.Ketika Bunda memilih matras, maka pilihlah matras yang didesain khusus untuk bayi. Matras yang didesain untuk bayi pada umumnya sangat kuat, kokoh, serta keras untuk mencegah terjadinya SIDS (sudden infant death sydrome) atau sindrom kematian bayi mendadak, dan mampu menopang tulang punggung bayi. Tetapi hindari pula menggunakan matras yang terlalu empuk.

Sesuaikan Luas Matras dengan Ukuran Bayi

Sebaiknya Bunda juga memberikan matras yang sesuai dengan ukuran bayi, Dengan begitu si kecil akan merasa nyaman. Usahakan jangan sampai ada celah sedikit pun antara matras dengan bilah. Pastikan telah melepas plastik sebelum memasang matras ya Bun!

Barang-barang yang Lembut pun Sebaiknya Dihindari

Meski terlihat lucu dan menggemaskan, barang-barang yang lembut seperti boneka berbulu halus, selimut, sprai, dan bantal yang lembut sebaiknya dihindari  dengan tujuan untuk mencegah SIDS. Barang dengan tekstur lembut bisa menjadikan bayi sulit bernafas karena memiliki resiko menutupi wajah si kecil.

Setelah Itu, Sebaiknya Bunda Menidurkan Bayi Dalam Posisi Terlentang Untuk Mencegah Terjadinya SIDS

Mama, sebaiknya bayi tidur dalam posisi terlentang, hal itu untuk menghindari kesulitan bernafas yang bisa mengakibatkan SIDS. Untuk mencegah terjadinya SIDS pada bayi sebaiknya tempat tidur bayi diletakan di kamar Bunda. Sehingga sewaktu-waktu bayi menangis atau memerlukan pertolongan, Bunda bisa dengan cepat menanganinya.

Sebaiknya hindarilah meletakan tempat tidur bayi di dekat jendela, hal ini untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan, tertimpa besi yang menopang tirai misalnya. Selain itu penempatan tempat tidur di dekat jendela juga bisa membuat leher bayi terlilit tirai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cerita Donna Agnesia Urus Tiga Buah Hati yang Beranjak Remaja

donna

Bun, sebagai seorang ibu, tentu kita punya tantangan masing-masing dalam menjalankan peran ya. Nah, hal ini juga yang dirasakan oleh Donna Agnesia. Perempuan yang menikah dengan Darius Sinathrya ini dikaruniai tiga orang anak yaitu Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya.

Sebagai wanita karier sekaligus ibu dengan tiga anak, Donna pun dituntut untuk dapat membagi waktu. Bagi Donna, salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu bekerja adalah memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, meskipun tak bisa mendampingi selama 24 jam.

“Saya pergi keluar rumah, saya pastikan anak-anak di rumah kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak pernah kehilangan kasih sayang, walaupun papa mamanya sibuk bekerja,” kata Donna Agnesia seperti dikutip dari Kumparan, Selasa (25/6).

Donna mengatakan seorang ibu harus bisa menguasai banyak hal. Bukan hanya pintar mengatur keuangan dan anak, tapi juga bisa melihat bakat dan masa depan anak-anaknya.

“Aku juga masih belajar terus jadi ibu yang sempurna, paling enggak buat anak-anak saya dan oh ya, happy mom, happy life. Happy mom, happy kids,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, sosok seorang ibu pun harus mampu menjadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ayah untuk anak-anaknya. Ia pernah merasakan peran sebagai ayah ketika Darius meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama.

Kendati demikian, tanggung jawab untuk mengurus buah hati bukan hanya ada di tangan ibu saja. Kehadiran ayah juga penting untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

“Saya bilang ke Darius, ‘kita punya dua anak laki-laki, tapi di rumah isinya perempuan semua, butuh figur laki-laki. Jadi, kalau kamu lagi punya waktu di rumah manfaatkanlah itu untuk quality time sama anak-anak’,” ujar Donna.

Darius pun selalu menanamkan cara menjadi laki-laki yang baik kepada anak-anaknya ketika mereka sedang berkumpul bersama.

“Supaya anak bisa jadi laki-laki yang baik dan membangun keluarga, enggak bisa salah satu. Anak-anak bahagia itu, kalau melihat orang tuanya akur, rukun, gitu kan anak-anak jadi rasakan di keluarga,” tutup Donna Agnesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bermain Media Sosial Bisa Memicu Terganggunya Hormon Pertumbuhan

blurred-background-cellphone-communication-1092671

Bun, pengaruh gawai dan media sosial pada anak ternyata membawa dampak yang lebih serius. Untuk itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) Aman B. Pulungan meminta agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap pengaruh media sosial pada anak.

Terlebih akhir-akhir ini banyak pihak termasuk pemerintah yang turut meminta agar anak memanfaatkan media sosial dengan lebih sering. Padahal, dari kalangan kesehatan meminta agar paparan terhadap media sosial pada anak harus dibatasi.

“Kami dari kalangan kesehatan meminta agar orangtua membatasi anak memakai media sosial,” kata Aman seperti dikutip dari Liputan6.com, Jumat (21/6).

Menurut Aman, pembatasan yang perlu dilakukan adalah dari durasi penggunaan yang dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang si kecil lho Bun. Tahukah Bunda, terlalu lama bermain media sosial dapat berpengaruh pada hormon anak.

Ya Bun, hormon anak dapat terganggu karena penggunaan media sosial, khususnya di malam hari, bisa berdampak pada tumbuh kembang anak.

“Jadi kalau jam 8 malam ke atas, melatoninnya tinggi untuk tidur. Kalau dia melihat gawai, melatoninnya jadi turun,” kata Aman menjelaskan.

Melatonin sendiri bisa turun akibat sinar biru dari penggunaan gawai. Kondisi ini membuat anak menjadi sulit untuk tidur.

“Kalau dia tidak bisa tidur, hormon lainnya terganggu,” tambahnya.

Jika ini terus menerus terjadi, anak akan mengalami kesulitan dalam tidur. Selain itu, akibat sistem hormonnya yang kacau, pertumbuhannya juga bisa terganggu, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Film Toy Story 4, Ajarkan Empat Nilai Hidup Pada Anak

toystory

Petualangan Woody, si boneka kayu bersama teman-temannya akhirnya kembali lagi ke layar lebar dalam film Toy Story 4. Film besutan Disney dan Pixar ini juga menghadirkan beberapa karakter baru yang tak kalah seru.

Sutradara Josh Cooley menjelaskan, pada sekuel lanjutan kali ini akan mengungkap kehidupan Woody bersama teman-teman mainannya dan pemilik barunya, Bonnie. Bila Bunda masih ingat, di akhir film sebelumnya, pemilik Woody, Andy, memberikan semua mainan bonekanya ke Bonnie. Di awal kehidupan Woody bersama Bonnie baik-baik saja. Tapi ketika sang pemilik menemukan mainan baru, Woody pun dilupakan.

Kehidupan Woody sejak awal film Toy Story memang diceritakan tak mudah dan penuh tantangan. Menariknya, film ini selalu menawarkan jalan cerita yang begitu detail dengan unsur komedi yang menghibur hampir di setiap adegan. Selain itu, banyak juga nilai moral yang bisa Bunda ajarkan ke si kecil.

Mengajarkan Si Kecil untuk Menghargai Diri Sendiri

Bila Bunda menonton trailernya, maka Bunda akan melihat ada karakter mainan baru yang muncul dan dibuat oleh Bonnie dari garpu bekas bernama Forky. Forky selalu merasa dirinya ‘sampah’ dan bukan mainan. Saat itulah Woody berusaha menunjukkan pada Forky bagaimana dia harus menghargai dirinya sebagai mainan. Woody coba menunjukkan kasih sayang Bonnie pada Forky sebagai mainan barunya.

Berbicara tentang menghargai diri sendiri, konsultan kesehatan mental, Mary Ann Benson, M.S.W.,L.S.W mengatakan menghargai diri sendiri adalah salah satu komponen yang bisa dipelajari anak sejak kecil. Cara terbaiknya, orang tua menjadi role model anak.

“Jelaskan pada mereka bahwa dirinya itu adalah individu yang penting. Jangan hanya fokus tentang apa yang menjadi pikiran orang, tapi apa yang kita rasakan,” kata Benson, dikutip dari Educate Empower Kids.

Mengajarkan Si Kecil Untuk Berani Ambil Risiko

Sepintar dan selincah apapun Woody, ia termasuk sosok yang takut mengambil risiko untuk dirinya sendiri. Baginya dia cuma punya tugas untuk membuat pemiliknya bahagia. Di akhir cerita, keberanian Woody diuji untuk mengambil risiko terbesar dalam hidupnya.

Mengutip dari Scary Mommy, penulis When Mommy Has Our Baby, Rachel Cedar, MSW mengatakan jika sebagai orang tua kita tidak boleh ragu saat anak mencoba mengambil risiko. Jika tidak didukung, anak bisa takut, selalu khawatir dan berpikir dirinya lemah.

Tentunya Mengajarkan Nilai Tentang Persahabatan

Sejak film pertamanya, Toy Story selalu menghadirkan kisah kesetiakawanan dan persahabatan. Bedanya, kali ini Woody dibantu teman lamanya Bo Peep dan teman-teman barunya Giggle McDimples, Duke Caboom, serta sepasang boneka lucu Bunny dan Ducky untuk menyelamatkan Forky dan melawan boneka bernama Gabby.

Dari film ini kita belajar bahwa teman itu begitu penting, Bun. Kata penulis buku Nobody Likes Me, Everybody Hates Me, Michele Borda, teman bisa membuat kita nyaman di lingkungan baru.

“Teman bisa buat anak nyaman dengan lingkungan baru seperti di taman kanak-kanak. Mereka bisa fokus dengan tugas belajarnya ketimbang dengan siapa mereka main,” ujar Borda dilansir Parents.

Dan Melatih si Kecil untuk Berpikir Lebih Terbuka

Adanya tokoh baru yaitu Bo Peep akan mengajarkan hal baru pada Woody. Bo Peep selama ini hidup bebas karena tidak ada pemiliknya, Bun. Selain berpetualang, Bo Peep juga membuka pikiran Woody untuk melihat dunia luar. Bahwa tanpa pemilik pun, mereka tetap bisa menghibur anak-anak lainnya.

Mengutip dari Motherly, mengajarkan anak untuk berpikir terbuka dimulai dari orang tua. Artinya kita harus mencontohkan juga ke anak. Cara Bunda melatihnya adalah sering ajukan pertanyaan, ajak mereka bereksplorasi dan ajari mereka jadi pendengar yang baik ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top