Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bukan Tak Lagi Sayang, Tapi Bunda Harus Berhenti Melakukan Ini Ketika Buah Hati Beranjak Remaja

blond-friends-people-55811

Banyak orangtua yang terus memanjakan buah hati mereka lantaran anaknya belum dianggap cukup dewasa. Padahal, kebiasaan memanjakan anak pun tak baik nih Bun. Sebab biasanya anak jadi terus bergantung dan merasa selalu ada yang bisa diandalkan. Padahal ada baiknya, sebelum si kecil memasuki usia 13 tahun, mulailah dengan melatihnya untuk mengurus keperluannya sendiri, Bun.

Misalkan dengan memintanya untuk menyiapkan buku, kemudian mengatur jadwal harian, serta membuat anggaran pengeluaran untuk uang sakunya. Dikutip dari Redtri, jika sudah memasuki usia 13, biarkan ia bertanggung jawab atas dirinya dan menerima konsekuensi logis atas apa yang dilakukan dan tidak dilakukannya. Berikut ini hal-hal yang tak perlu Bunda lakukan saat anak menginjak remaja.

Membangunkannya di Pagi Hari Untuk ke Sekolah

Ada kalanya anak sangat sulit dibangunkan di pagi hari untuk memulai aktivitasnya. Biasanya si anak pun tak kunjung bangun, bahkan cenderung sukar sekali untuk beranjak dari tempat tidur. Nah, akhirnya, orangtua biasanya akan membangunkan anak dengan memangginya secara keras atau masuk ke dalam kamar anak untuk membangunkannya.

Padahal Bun, kebiasaan membangunkan anak itu ternyata kurang baik karena akan membuat anak terus bergantung. Untuk itu, Bunda perlu memberikan tanggung jawab pada anak untuk bangun sendiri. Biarkan anak memanfaatkan alarm untuk membangunkannya tepat waktu. Bila ia telat, diamkan dulu Bun. Tentu akan ada konsekuensi dari sekolah atau hal lain yang jadi dampaknya. Hal ini akan jadi pelajaran berharga baginya.

Memintanya Mengerjakan Tugas

Saat anak masih kecil tentu Bunda pernah membantunya mengerjakan tugas yang diberikan oleh para guru. Bahkan justru Bunda yang mengerjakan tugas itu. Nah, saat remaja, Bunda tak disarankan untuk melakukan hal tersebut.

Justru sebaiknya segera dihentikan. Biarkan anak mengerjakan tugas tersebut sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Sangat penting mendidik anak untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Tanggung jawab dan konsekuensi bakal dirasakan saat remaja dan saat orangtua tak bisa selalu membantunya.

Mengantarkan Keperluan Sekolahnya yang Tertinggal

Semasa anak masih di bangku TK atau SD, sering kali anak melupakan barangnya. Orangtua pun karena merasa kasihan lalu mengantarkannya ke sekolah. Jika sering terjadi sebaiknya biarkan anak mendapatkan efeknya. Biarkan anak menyadari bahwa ia kurang persiapan dan ceroboh bahkan merasa ada yang bisa diandalkan membuat anak jadi terlena. Kerap melupakan kewajiban justru akan jadi bumerang bagi si anak.

Mencucikan Pakaiannya

Faktanya, masih banyak ibu yang tetap mencucikan pakaian anak mereka. Termasuk pakaian dalam, bahkan ketika mereka sudah beranjak remaja. Padahal kebiasaan ini salah besar. Pakaian adalah hal kebutuhan mendasar bagi mereka. Ajarkan ia mencucinya, bisa menggunakan mesin atau sekadar mengucek ringan.

Latih juga ia menggunakan setrika. Pastikan ia sudah bisa mencuci dan menyeterika sebelum ia remaja. Kalau tak dibiasakan, yang ada ia bisa merajuk kalau pakaian yang ingin dikenakannya belum dicuci atau diseterika. Itu adalah kewajiban mereka sendiri. Mulai sekarang biarkan anak mencuci pakaiannya sendiri di akhir pekan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Social News

Kehangatan Keluarga Adalah Hak Setiap Anak

WhatsApp Image 2019-05-26 at 7.24.13 AM(2)

Lebih dari setengah populasi warga yang tinggal di kota-kota besar akan kembali ke keluarga saat mudik lebaran untuk bisa kembali kepada keluarga mereka. Setidaknya 9 dari 10 anak yang tinggal di Panti Asuhan juga memiliki harapan yang sama untuk bisa kembali tinggal di keluarga. Hal ini dikarenakan lebih dari 90% anak yang berada di panti asuhan setidaknya masih memiliki salah satu orang tua. Adanya gerakan Save the Children pun guna mendukung harapan anak-anak untuk bisa kembali pada keluarganya.

“Save the Children percaya bahwa keluarga merupakan tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh dan berkembang, hal ini dibuktikan dari beberapa penelitian kami bahwa anak-anak yang berada di dalam pengasuhan keluarga meskipun berada di dalam keluarga yang mengalami kondisi kesulitan ekonomi bisa mendapatkan kasih sayang, perlindungan dan perhatian yang tidak bisa tergantikan dibandingkan lembaga pengasuhan yang terbaik sekalipun”, ujar Didiek Eko Yuana, Central Area Senior Manager Save the Children saat ditemui dalam Kegiatan Kampanye “Kembali Pulang, Kembali ke Keluarga” di Gedung Da’wah Muhamadiyah.

Save the Children sendiri merupakan bagian dari gerakan global internasional yang berfokus pada anak-anak dan beroperasi di lebih dari 120 negara di dunia. Di Indonesia dan di seluruh dunia, organisasi ini memastikan kesehatan anak-anak sejak dini, kesempatan untuk belajar, dan perlindungan terhadap bahaya.

Dalam kesempatan yang sama, Peri Sopian, Kepala Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Kuncup Harapan mengungkapkan anak-anak yang berada di panti asuhan karena harapan dari orangtua mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan, ada harapan besar untuk kehidupan anak yang lebih baik dari orang tua ketika menitipkan anak-anak di panti asuhan, walaupun memisahkan anak dengan keluarga untuk mendapatkan pendidikan ataupun kehidupan yang lebih baik seharusnya merupakan sebuah pilihan yang tidak perlu dilakukan.

Semua anak memiliki hak untuk diasuh oleh orang tuanya. Bersama dengan orang tua, anak akan mendapatkan pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan perlindungan.

“Tidak bisa dipungkiri, sebaik apapun LKSA, kasih sayang dari orang tua adalah hal yang paling utama. Anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman bagi mereka,” ujar Peri.

Nur (bukan nama sebenarnya), saat ini ia berusa 16 tahun, ia sudah tinggal di LKSA lebih dari 3 tahun. Bagi Nur dengan tinggal di Panti Asuhan ia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi Nur juga mengungkapkan “Mungkin akan lebih baik jika tinggal bersama dengan keluarga, karena tidak ada anak yang tidak ingin tinggal dengan keluarganya”.

Keterpisahan anak dengan keluarganya dirasakan berat tidak hanya oleh anak tetapi juga oleh pihak keluarga. Hal ini dialami oleh SA (35), yang juga merasakan manfaat dari reuniikasi atau kembalinya anak pada keluarga dengan mengungkapkan,

“Mohon maaf sekali kepada anak saya, dulu kami terpaksa menitipkan dia ke Panti, tetapi sejak dia sudah bisa kembali tinggal ke rumah, kami begitu bahagia, dan saya begitu semangat untuk menjaga stabilitas keluarga, agar kami tidak perlu terpisah karena hal-hal yang tidak perlu.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Menatap Bayi Berlama-lama Membawa Manfaat Baik untuk Orang Dewasa

adorable-adult-baby-1588081

Bun, siapa yang tak gemas kala melihat ekspresi bayi beserta tingkah dan keluguannya. Saat ia tersenyum, tertawa, sampai mengedipkan mata, pasti orang dewasa luluh dibuatnya. Ya Bun, ternyata ada banyak manfaat besar yang didapat dengan menatap mata si kecil.

Hal ini diketahui dari studi yang berjudul berjudul Speaker Gaze Increases Information Coupling Between Infant and Adult Brains. Riset yang diterbitkan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) itu menyebutkan, kontak mata antara orang dewasa dan bayi akan membuat gelombang otak kedua belah pihak saling tersinkronisasi. Akibatnya, dengan menatap mata si bayi, kita dapat membuka kualitas komunikasi yang lebih baik dengan bayi itu.

Hal ini diakui oleh Victoria Leong, pemimpin penelitian tersebut, sinkronisasi ini dapat membuat sinyal-sinyal mengalir lebih mudah di antara dua otak.

“Mekanisme ini dapat mempersiapkan orang tua dan bayi untuk berkomunikasi, dengan menyinkronkan kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan, yang juga akan membuat pembelajaran menjadi lebih efektif,” ujar Leong yang berasal dari Departemen Psikologi University of Cambridge. Nah, bersama dengan timnya, Victoria melakukan dua kali eksperimen dan riset yang melibatkan orang dewasa dan bayi.

Pertama, para bayi diberikan tontonan video berisi orang dewasa yang sedang menyanyikan lagu anak-anak sambil menatap ke depan dan sambil menoleh atau berpaling. Nah, saat menonton video tersebut, kepala bayi dipasangi alat pemindai untuk mengukur aktivitas dalam syaraf otaknya. Menariknya, tak hanya si bayi, aktivitas otak orang dewasa yang menyanyi di dalam video itu pun sebelumnya sudah dipindai dan direkam.

Nah, hasil temuan yang didapat yaitu gelombang otak bayi dan orang dewasa ternyata akan saat tatapan orang dewasa dalam video bertemu dengan tatapan si bayi.

Kemudian pada eksperimen kedua, orang dewasa yang tadi ada di dalam video didudukkan langsung di dekat 19 bayi yang berbeda. Baik kepala bayi maupun orang dewasa sama-sama dipakaikan alat pemindai otak. Hasilnya kembali sama lho Bun. Yaitu saat tatapan antara orang dewasa dan bayi saling bertemu, aktivitas otak mereka menjadi selaras. Sementara saat mata salah satu dari mereka berpaling sehingga tatapan mereka tak lagi bertemu, aktivitas otak mereka menjadi tak lagi selaras.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top