Mom Life

Bunda Termasuk Tipe Ibu yang Mana? Apa Termasuk Ibu Tradisional?

home

Jadi orangtua bukanlah pekerjaan mudah Tak ada buku, seminar, atau sekolah yang secara pasti ada demi memberikan informasi detail mengenai bagaimana caranya jadi orangtua. Baik jadi ayah maupun jadi ibu.

Kalau bicara soal ibu, kita masing-masing punya cerita dan pengalaman pribadinya mengenai sosok ibu di dalam benaknya. Bunda sendiri, akankah Bunda tipe ibu yang akan meneruskan pola asuh yang sama dari orangtua Bunda untuk diturunkan ke anak-anak? Sebab ternyata tak semua ibu berlaku demikian. Ini dia tipe-tipenya, Bun.

  1. Ibu Tradisional

Kenapa dikatakan ibu tradisional? Karena ibu yang satu ini selalu mengutamakan nilai-nilai yang sudah mengakar dalam hidupnya dan mengusungnya sebagai pedoman saat dirinya jadi ibu. Ibu tradisional punya jiwa yang hangat dan jadi pengasuh yang baik. Tak lupa, mereka adalah tipe-tipe ibu yang suka bekerja keras dan perfeksionis.

Mereka selalu mengutamakan kepentingan anak. Tipe ibu semacam ini ditandai dengan hobinya yang suka membuatkan makanan kesukaan anak-anaknya. Yup! Ibu tipe tradisional adalah mereka yang mampu membuat anak merasa menjadi pusat perhatian, serta merasa dicintai dan dipuja tanpa pamrih.

  1. Ibu sekaligus Teman bagi Buah Hati

Ibu yang satu ini adalah tipe perempuan yang sejatinya tak ingin membuat jarak dengan si kecil. Bunda dengan tipikal ini berusaha rileks dan mengikuti apa yang sedang disenangi buah hatinya sehingga seringkali si kecil lebih sering menganggap ibunya sebagai kakak daripada ibu yang konvensional.

Menariknya, ibu semacam ini sanggup menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya sehingga buah hatinya merasa dimengerti dan tak harus berpura-pura hanya demi mendapatkan perhatian ibunya. Tapi Bunda harus hati-hati, sebab ada risiko anak jadi rentan membantah karena menganggap ibunya sebagai teman.

  1. Ibu yang Bebas

Bunda yang satu ini selalu luwes dan mendambakan buah hatinya bisa mandiri. Bunda selalu punya prinsip kalau setiap orang berhak mendapatkan me time, termasuk dirinya maupun buah hatinya. Di lain sisi, Bunda dengan tipe ini selalu mendorong anaknya untuk berani berpendapat dan membuat keputusan.

Mereka adalah tipikal Bunda yang yakin bahwa seorang ibu yang baik seharusnya membiarkan kebebasan dan kemandirian anaknya. Dengan prinsip yang sudah dibangun, akhirnya Bunda pun bisa memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kepribadiannya, dan menciptakan kehidupannya sendiri. Bunda pun bisa mendorong mereka untuk belajar dari kesalahan dan mengakui pencapaian yang dilakukannya. Di lain pihak, Bunda pun juga masih bisa menikmati kegiatan Bunda.

  1. Ibu Mata-mata

Sampai anak dewasa, ada lho tipikal ibu yang selalu tak bisa memberikan hukuman atau time out pada buah hatinya. Satu-satunya cara yang baik adalah berusaha untuk mempengaruhi anaknya. Kadang, atau bahkan sering, tipikal ibu semacam ini tak secara langsung memberikan nasihat atau berkomunikasi dengan anak, namun selalu menyimpan apa keinginan anak dalam hati.

Bun, mungkin kelak Bunda bisa selalu terlibat dalam kehidupan buah hati bahkan bisa dengan jeli memperhatikan perkembangan dan kesehatan jiwa raganya. Tapi yang harus diperhatikan, Bunda jangan sampai terbentur dengan kondisi dimana Bunda berusaha menyeimbangkan antara selalu ada di sisinya dan membiarkannya membuat keputusan sendiri.

  1. Ibu yang Komplet

Mungkin ibu dengan karakter yang satu ini yang paling sering muncul sebagai karakter di film-film keluarga. Mereka muncul sebagai karakter yang kuat yang membuat keluarga jadi harmonis. Bun, jadi ibu yang komplet sejatinya bisa lho dilakukan oleh ibu manapun. Kuncinya yaitu belajar dari kesalahan dan tak ragu untuk memperbaiki.

Sewaktu-waktu, Bunda bisa bersikap sebagai teman, tetapi juga tetap dihormati dan ditaati oleh anak. Dengan begini, Bunda pun akhirnya bisa membuat si kecil merasa bangga dengan kehadiran ibunya.. .

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Anak Bisa Jadi Korban Bila Bunda Terlalu Percaya Mitos Soal Imunisasi

adorable-baby-bed-1556706 (1)

Bun, pasti Bunda menyadari, sekarang ini banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memutuskan tak memberi imunisasi lengkap pada anak mereka karena banyak hal. Salah satunya termakan informasi palsu yang mereka dapat dari internet atau lingkungan sekitar. Nah, dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini, Bun.

Mitos: Imunisasi Sebabkan Autisme, Lumpuh, dan Mengandung Racun. Benarkah?

Masih banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anaknya lantaran sudah banyak isu yang menyebar mengenai efek samping imunisasi. Padahal, isu tersebut hanya hoax belaka. Salah satu hoax yang paling sering didengar adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan.

Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya. Untuk itu, Bunda perlu lebih banyak lagi membaca literasi yang pasti guna mencaritahu informasi yang sebenarnya mengenai imunisasi.

Mitos: Demam Setelah Imunisasi Dianggap Berbahaya

Faktanya, kebanyakan anak akan memberi respon demam setelah imunisasi. Bahkan ada yang mengalami bengkak di area suntikan. Bunda tak usah panik dan menanggapinya berlebihan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin yang sudah diberikan pada si kecil. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Mitos: Terlambat memberi Imunisasi Sejatinya Tak Masalah

Faktanya, hal ini tentu salah kaprah. Bunda perlu menyadari, si kecil membutuhkan kekebalan dan perlindungan dari penyakit. Dan hal itu akan bekerja bila Bunda mengantarkan si kecil imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan.

Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan.

Mitos: Imunisasi Pada Saat Bayi dan Balita Sudah Cukup Sehingga Tak Perlu Vaksin Saat Remaja.

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

Mitos: Tak Usah Menambah Imunisasi, Apalagi yang Tak Disubsidi Pemerintah

Bun, sejatinya semua imunisasi tentu penting. Namun pemerintah baru menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Untuk beberapa vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu.

Di samping itu, ada pula vaksin yang belum mendapat subsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis. Padahal vaksin tersebut sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya.

“Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya,” Pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Imunisasi Penting Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati, Bahkan Cegah Jutaan Kematian

nestle

Bun, tahukah Bunda? Imunisasi telah menyelamatkan jutaan jiwa dari penyakit menular. Pemberian imunisasi yang rutin dan lengkap disertai dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orangtua perlu tahu, imunisasi memberikan perlindungan yang bersifat spesifik terhadap penyakit berbahaya. Ini karena pemberian imunisasi dapat merangsang kekebalan spesifik yang efektif mencegah penyakit berat.

Namun di luar sana masih banyak anak yang tak mendapat vaksin atau bahkan vaksinnya tidak lengkap. Risiko yang diterima anak-anak ini pun berbahaya bahkan berpotensi mematikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun serta menyelamatkan 1,5 juta nyawa apabila cakupan imunisasi global bertambah.

Menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati, maka setiap tahunnya diadakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID). Di Indonesia sendiri, momentum PID ditandai dengan adanya tema nasional “Imunisasi Lengkap, Imunisasi Sehat”. Rangkaian pelaksanaan PID akan berlangsung pada tanggal 24-30 April 2019. Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan PT Nestle Indonesia mendukung komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia sehat.

“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan agar anak mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya. Anak yang tak mendapatkan imunisasi lengkap berpotensi tak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga bisa memicu sakit berat, cacat, bahkan meninggal,” ujar dr. Soedjatmiko dari IDAI di Jakarta, Senin (22/4).

Perlu dicatat, pemberian imunisasi pun harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang ya Bun. Hal ini guna mencegah si kecil mengalami kekurangan nutrisi. Anak yang mendapat nutrisi berikut dengan imunisasi yang lengkap akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Si Kecil Hendak Ujian, Jangan Sampai Didera Cemas Berlebihan

beautiful-beauty-bed-2072890 (1)

Sebagian ibu tengah merasakan buah hatinya sedang menghadapi Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) di tingkat sekolah dasar. Alih-alih menenangkan perasaan buah hati agar tak cemas selama menjalani ujian, rasa cemas justru bisa mendera orangtuanya. Ada Bunda yang mungkin takut bila si kecil tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik.

Jika sudah begitu, cepat-cepatlah mencari cara untuk mengatasi rasa cemas yang Bunda rasakan. Pasalnya, kecemasan orang tua bisa berdampak buruk bagi anak, misalnya saja, membuat anak yang tadinya tenang jadi ikut khawatir dengan kemampuannya sendiri.

Mengutip Kumparan, psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, kecemasan orang tua akan menghambat anak untuk dapat bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti. Untuk itu, yuk atasi rasa cemas Bunda dengan cara-cara berikut ini.

Curahkan Perasaan Bunda Pada Ayah Atau Teman Dekat Bunda

Bun, cobalah curahkan perasaan khawatir atau cemas Bunda pada orang yang bisa Bunda percaya. Tapi usahakan untuk tidak curhat ke sesama ibu lain yang tentunya sedang merasa cemas atau panik. Kalau Bunda berbagi kecemasan dengan ibu dari temannya buah hati, yang terjadi justru Bunda dan teman Bunda dibuat semakin khawatir. Pilihlah orang yang Bunda percaya dapat menenangkan Bunda, misalnya saja pada suami yang mungkin lebih tenang menghadapi hal ini.

Buang Energi Cemas yang Menghantui Bunda

Mungkin ini pertama kali Bunda didera rasa cemas karena buah hati akhirnya melakoni ujian. Bisa jadi rasa cemas yang Bunda alami jadi sangat besar. Nah, cobalah buang energi negatif itu. Carilah kegiatan seperti berlari, berteriak, hingga memukul atau membanting bantal ke lantai. Sekalipun kelihatannya sepele, tapi sejatinya hal tersebut dapat membantu Bunda meredakan rasa cemas lho.

Lakukan Relaksasi

Bila Bunda sudah berusaha membuang atau melepaskan setiap energi kecemasan, cobalah untuk bernapas dengan tenang. Mengatur napas adalah salah satu cara relaksasi sederhana yang paling mudah untuk mengelola dan menurunkan tingkat stres.

Bunda bisa memulai relaksasi dengan memilih duduk di lantai atau di kursi sembari mengendurkan bahu dan leher Bunda. Setelahnya, ambil napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan napas secara perlahan melalui hidung. Lakukan hal ini dengan tak usah terburu-buru. Atau bila Bunda terbiasa melakukan meditasi atau yoga, cobalah lakukan guna mengusir rasa gusar dan cemas.

Tersenyum atau Tertawa

Ada satu hal yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan membuat diri Bunda tersenyum atau tertawa. Misalnya saja, mendengarkan lagu-lagu favorit Bunda, menonton serial komedi yang selalu sukses membuat Bunda terbahak-bahak, hingga chatting dengan teman lama yang selalu punya obrolan konyol. Tapi ingat ya Bun, jangan bahas soal ujian anak tapi ya.

Dan Yakinlah dengan Kemampuan Anak

Bun, sudahkah Bunda yakin dengan kemampuan si kecil? Kali ini adalah ujian perdananya, sudah sewajarnya Bunda pun percaya dengan kemampuan mereka. Percaya bahwa anak telah berusaha melakukan yang terbaik untuk mengerjakan ujian ini.

Berdoa saja, agar ia diberikan kelancaran dalam menghadapi ujian yang akan dimulai esok hari. Selain itu, hasil ujian bukanlah tujuan utama belajar dan ujian sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk menakar kecerdasan seorang anak.

Jadi, yuk kurangi rasa cemas Bunda dan yakinlah si kecil bisa melewati ujian ini dengan baik. Bila Bunda terlalu cemas dan si kecil tahu, yang ada dia justru sukar untuk bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top