Kesehatan Ibu & Anak

Penyakit-penyakit Ini Akan Sering Menyerang Anak Saat Masih Balita. Agar Tak Panik, Kenali Ciri Dan Cara Penanganannya Bunda

child (5)

Masa balita pada anak merupakan masa dimana dirinya rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna. Sebab sistem imun yang sempurna baru akan tercapai saat usianya menginjak 5 tahun.

Selain itu faktor lingkungan juga mempengaruhi anak terserang penyakit, seperti asap rokok dan bakteri atau paparan kuman yang bisa saja tersentuh olehnya. Untuk itu kita perlu tetap waspada dan memahami apa saja penyakit yang bisa menyerang anak saat mereka masih balita.

Demam, Bila Hal Ini Terjadi Ketahui Penyebabnya Agar Bunda Bisa Memberikan Penanganan Tepat

Ketika suhu tubuh si kecil melebihi kondisi normal, itu berarti bahwa dia sedang demam, demam pada anak terutama saat mereka balita dapat disebabkan oleh banyak faktor. Bisa jadi karena mengalami dehidrasi, kelelahan sehabis bermain, tumbuh gigi atau sebagai respon dari tubuhnya setiap kali usai imunisasi.

Pertolongan pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memberinya obat penurun demam, karena demam yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kejang pada anak. Namun apabila si kecil pernah memiliki riwayat kejang dan panasnya tidak kunjung turun meskipun sudah diberi obat penurun panas, kita bisa langsung membawanya ke dokter untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Batuk, Jika Batuk Si Kecil Tidak Sembuh Dalam Waktu 2-3 Hari Segera Bawa Ke Dokter Bun!

Penyebab batuk yang paling umum di alami oleh anak adalah kemungkinan selesma, atau dikenal juga sebagai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Atau disebabkan oleh udara di lingkungan sekitar, debu dari luar atau asap rokok yang secara tidak sengaja telah dihirup oleh sang anak sehingga mengotori saluran pernafasannya dan menyebabnya batuk-batuk.

Jika gejala batuk yang dialaminya tidak sembuh dalam waktu 2-3 hari, kita harus membawanya ke dokter untuk diberikan obat yang dibutuhkan. Selanjutnya Bunda harus memerhatikan asupan nutrisi yang diterimanya dan kondisi udara di lingkungan sekitar.

Tak Hanya Menyerang Orang Dewasa, Flu Juga Bisa Menyerang Balita

Sebagian besar Flu yang menyerang balita sebagian besar disebabkan oleh virus yang jumlahnya ratusan, sering ditandai dengan gejala hidung berair, tersumbat dan sering disertai dengan batuk dan demam. Selain virus, flu juga bisa disebabkan oleh bakteri yang disertai demam pada anak.

Cairan yang keluar dari hidung anak sering membuat nafasnya tersumbat kita bisa memberinya obat tetes hidung atau menyedot cairan yang ada di hidungnya dengan alat khusu untuk membantunya bisa bernafas tanpa merasa sesak akibat cairan karena flu yang di alaminya.

Diare Pada Anak Bisa Disebabkan Oleh Infeksi Bakteri Atau Alergi Makanan

Penyakit yang satu ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus atau sang anak memiliki alergi pada makanan dan obat tertentu. Bila frekuensi BAB yang dialami anak menjadi lebih sering dan fesesnya lebih encer (berair), itu berarti ia mengalami diare.

Penyakit ini tidak berbahaya asalkan kita mampu menjaga kecukupan asupan cairan dan nutrisi anak. Diare umumnya hanya menyebabkan dehidrasi ringan seperti mulut yang sedikit kering, lebih sering haus, dan berkurangnya urin. Jika diare yang dialaminya tidak kunjung membaik lebih dari 24 jam sebaiknya kita membawa anak langsung ke dokter anak.

Campak Yang Ditandai Dengan Munculnya Bercak-bercak Merah Pada Seluruh Bagian Tubuhnya

Virus campak atau morbili ini biasanya ditandai dengan timbulnya bercak-bercak merah pada tubuh anak di seluruh bagian tubuhnya. Sebelumnya anak akan mengalami demam tinggi yang naik turun dan bahkan kadang disertai oleh diare sebelumnya akhirnya bercak-bercak merah akan menyerang tubuh si kecil, dan jika sudah keluar semua demamnya akan berangsur turun dengan sendirinya.

Bercak merah pada tubuhnya biasanya akan mengering dan hitam lalu hilang. Untuk menangani gejala campak yang dialami anak kita bisa memberinya obat penurun panas guna menstabilkan suhu tubuhnya, tapi jika keadaannya tidak menunjukkan gejala yang membaik setelah diberi obat maka kita harus segera membawanya ke rumah sakit atau dokter terdekat.

Cacar Air Pun Biasanya Dialami Oleh Anak Dengan Usia Dibawah 10 Tahun

Penyakit yang umumnya di alami oleh anak dibawah 10 tahun ini memiliki gejala khas yang dapat kita lihat berupa bintik-bintik merah pada tubuh yang anak untuk beberapa hari kemudian berubah menjadi benjolan-benjolan berisi air yang menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan rasa gatal yang kemudian akan mengering dan menjadi koreng dan akan terkelupas dalam waktu 7-14 hari.

Penanganan khusus yang bisa kita lakukan adalah mengurangi gejalanya adalah dengan mengoleskan krim untuk membantu mengurangi rasa gatal. Jika anak juga mengalami demam berikan obat penurun demam. Pemberian vaksin akan mampu menangkal serangan cacar air secara efektif. Hal lain yang perlu kita ketahui adalah virus cacar air sangat mudah sekali untuk menular, untuk itu kita harus memastikan bahwa si kecil sudah benar-benar sembuh untuk bisa memperbolehkannya keluar rumah.

Agar Anak Tak Mengalami Gigi Berlubang Ajari Dia Untuk Merawat Giginya Bun!

Hal ini biasanya disebabkan oleh beberapa kebiasaan yang belum mampu dilakukan anak dengan teratur, ketika dia sudah memasuki masa dimana ia telah boleh monkonsumsi banyak jenis makanan tapi belum bisa membersihkan giginya dengan baik. Atau dia suka mengonsumsi coklat dan  makanan manis lainnya dengan berlebihan, minum susu dari dot hingga tertidur hal ini adalah faktor-faktor yang sering mempengaruhi gigi berlubang pada anak.

Untuk itu kita bisa membantunya untuk mencegah agar giginya tidak berlubang dengan mengawasi makanan yang dikonsumsinya dan kebiasaan yang sering dia lakukan. Penting mengajari anak untuk biasa membersihkan giginya setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Disamping itu lakukan juga pemeriksaan gigi untuknya minimal 6 bulan sekali.

Cacingan Jelas Tak Bisa Diremehkan, Sebab Bila Dibiarkan Dapat Menyebabkan Kekurangan Gizi Dan Zat Besi, Serta Menurunnya Berat Badan

Cacingan disebabkan oleh parasit cacing yang hidup di usus besar dan usus halus. Cacing bisa bertahan hidup karena mendapat nutrisi dari menyerap darah di dinding usus dan sari makanan yang di konsumsi oleh anak atau pun orang dewasa. Biasanya gejala cacingan pada anak ini ditandai dengan nafsu makan yang berkurang, badan mendadak kurus, lemah dan sering mual bahkan muntah.

Kita juga wajib memerhatikan apa yang dimakan oleh anak dan di mana biasa bermain, serta memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan tubuhnya sendiri agar terhindar dari berbagai bakteri dan kuman yang bisa mengundang gejala cacingan. Karena jika diabaikan atau tidak diobati, cacingan pada anak bisa menyebabkan kekurangan gizi, kekurangan zat besi, menurunnya berat badan dan jelas akan mempengaruhi kesehatan fisiknya.

Saat Anak Anda Kejang, Penting Untuk Tetap Bersikap Tenang Bunda

Meski belum diketahui penyebab dari kejang yang sebenarnya, tapi gejala ini biasa berhubungan dengan kondisi kesehatan tertentu yang dialami anak seperti demam tinggi atau epilepsi. Faktor genetik juga mempengaruhi terjadinya kejang pada anak. Satu dari empat anak yang mengalami kejang demam memiliki riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi yang sama.

Untuk itu hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi dan menangani kejang yang dialami anak adalah dengan tetap tenang. Jangan menahan gerakan kejang yang dialaminya dan cobalah untuk meletakknya diatas permukaan yang aman seperti karpet di lantai dan hindari untuk memberikan obat apapun kedalam mulutnya saat ia kejang. Disamping itu kita tidak perlu terlalu khawatir jika kejang yang dialaminya masih dalam batas wajar.

Alergi, Untuk Mengatasinya Hindarkan Buah Hati Dari Hal-hal Yang Bisa Memicunya Terserang Alergi

Dan yang terakhir adalah alergi pada anak yang bisa saja menyerangnya tanpa kita sadari, entah itu disebabkan oleh makanan, minuman ataupun keadaan cuaca yang memang tidak biasa dia terima. Bisa juga disebabkan oleh faktor genetik yang memang memiliki alergi pada hal-hal tertentu, misalnya sang ayah tidak bisa memakan telur lalu hal ini juga dialami anak kita. Kita harus tetap mengawasi setiap perubahan yang terjadi akan dirinya, dan memastikan bahwa dia terhindar dari hal-hal yang bisa memicunya terserang alergi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Agar Tumbuh Jadi Pribadi yang Lebih Kreatif, Latih Si Kecil untuk Rajin Menulis Tangan ya Bun

girl-kids-training-school-159782

Tahukah Bunda, tingkat kompetensi anak-anak di Indonesia ternyata berada dalam status kritis. Kira-kira apa ya penyebabnya? Ternyata fakta ini ada korelasinya dengan kemampuan menulis anak-anak lho, Bun.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kemendikbud, ternyata tak sedikit anak yang masih kesulitan menangkap materi pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Tapi sebentar Bun, jangan terburu-buru mengkambinghitamkan guru-guru di sekolah.

Sebab bagaimanapun juga, yang namanya pendidikan bagi si kecil bukanlah semata-mata tanggung jawab guru di sekolah saja. Tapi juga jadi tugas dan kewajiban orangtua, bukan?

Diungkapkan Nurman Siagian selaku pakar edukasi anak dari Wahana Visi Indonesia, penyebab penguasaan kompetensi yang cenderung rendah lantaran kebiasaan mengekspresikan ide dan argumentasi mereka pun sangat rendah.

Sementara dari sisi pengajar, ya kompetensi guru memang turut mempengaruhi. Bahkan Nurman memaparkan, berdasarkan hasil studi, kompetensi guru yang ideal bernilai 70. Sementara nilai kompetensi guru di negeri ini baru sekitar 44,5.

“Hal ini terjadi karena sebagian besar gurunya juga masih kesulitan saat menulis RPP. Kebanyakan masih copy-paste tanpa ada proses mencerna kembali,” ujarnya. Nah, itu dari sisi guru, kalau dari sisi orangtua?

Bun, Yuk Evaluasi Sebentar, Selama Ini Si Kecil Lebih Akrab dengan Gawai Atau Alat Tulis?

kids-girl-pencil-drawing-159823

Dalam acara talkshow yang dihelat APP Sinar Dunia bertajuk “Membangun Generasi Cerdas Indonesia Melalui Kebiasaan Menulis” di Jakarta, Selasa (5/8/2018), segenap orangtua yang kebetulan mengikuti gelaran acara tersebut diajak mengevaluasi kembali sejauh mana keberadaan gawai sudah mempengaruhi aktivitas si kecil.

Foto 1

Sadar tak sadar, banyak orangtua yang cenderung mengabaikan efek gawai kedepannya. Kita merasa tak masalah menyodorkan gawai dengan durasi berjam-jam di usia anak yang sejatinya sedang dalam proses tumbuh  kembang. Sementara kalau Bunda ditanya seputar kebiasaan melatih si kecil menulis dengan alat tulis konvensional, sudahkah Bunda rajin mengajari si kecil untuk kebiasaan yang satu ini?

Jadikan Aktivitas Menulis dengan Tangan Sebagai Kebiasaan yang Berlaku Tak Hanya Ketika di Luar Kelas

pexels-photo-256468

Meski terkesan sederhana, jangan sepelekan aktivitas yang satu ini ya Bun. Sebab manfaatnya akan terasa sampai si anak dewasa. Sayangnya, orangtua selalu kompromi kalau soal tulis menulis biar menjadi tugas anak ketika di sekolah. Jangan sampai saat si kecil sudah tanggap sekali dengan teknologi, bahkan bisa mengirim pesan instan kepada anggota keluarganya, namun kemampuannya menulis dengan tangan justru dipertanyakan.

Ya, Bunda perlu memahami yang namanya menulis dan mengetik adalah dua hal yang berbeda. Saat menulis, ada proses dimana sensor motorik si kecil akan dilatih untuk menangkap informasi, mencerna, kemudian mengingatnya. Dan hal itu tidak bisa dirasakan kalau hanya dengan mengetik.

Sebagai Orangtua, Pastikan Bunda Tahu Alasan Mengapa Si Kecil Harus Membiasakan Diri dengan Aktivitas yang Satu Ini

girl-kids-training-school-159782

Menulis kalau tidak dibiasakan akan berdampak pada pembelajarannya sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di New Dorp High School, Amerika Serikat, penyebab menurunnya kompetensi para siswa di sekolah tersebut pada periode 1988 hingga 1999 lantaran fenomena bad writing.

Ya, para siswa kesulitan mencerna pelajaran yang diterimanya dan menuangkannya dalam tulisan. Hal ini membuktikan kalau kemampuan menulis jelas penting lantaran dianggap sebagai kemampuan dasar. Bunda tentu ingin si kecil lebih berprestasi, bukan? Maka tekunlah mengajaknya latihan menulis.

Bunda Sudah Tahu Kalau Menulis dengan Tangan Nyatanya Selalu Membawa Manfaat Baik untuk Pembentukan Karakter Pada Si Kecil?

pexels-photo-207653

Faktanya, menulis tak hanya membuat si kecil menguasai huruf dan fonemik, juga memperkaya kosakata dan meningkatkan kemampuan si kecil. Di lain sisi, kebiasaan menulis pun membantu pembentukan karakter pada si kecil, Bun. Berdasarkan paparan dari Melly Kiong, praktisi Mindful Parenting, menulis merupakan cara komunikasi yang baik antara anak dengan orangtua. Terlebih jika kondisi Bunda adalah ibu sekaligus pekerja.

“Melalui aktivitas tulis menulis sederhana seperti menumbuhkan kebiasaan mengisi jurnal atau berkirim memo kecil pada orangtua setiap harinya, misalnya dengan menuliskan pencapaiannya atau hal-hal baik yang dia lakukan di hari itu, anak akan terbiasa melakukan banyak hal baik di kemudian hari,” ujar Melly.

Luangkan Waktu Bunda untuk Mencari Cara yang Tepat Agar Buah Hati Terbiasa Melakukan Aktivitas Ini

pexels-photo-236164

Kita tak bisa menutup mata bahwa kini Bunda dengan status pekerja jumlahnya cukup banyak. Fakta ini pun juga tak bisa dijadikan tolok ukur kalau ibu yang bekerja bukan berarti tak bisa mendidik anak. Bunda perlu mematahkan stigma tersebut. Saat Bunda bekerja, tetaplah si kecil yang jadi prioritas. Jangan sampai tertukar antara pekerjaan dengan panggilan sebagai ibu. Ketika si kecil yang jadi prioritas, maka Bunda akan selalu punya motivasi untuk meluangkan waktu yang Bunda miliki agar bisa dimanfaatkan bersama si kecil.

Seperti halnya yang sudah dipaparkan Melly, Bunda dapat mencontoh metode tersebut. Yaitu dengan mengajak si kecil sama-sama menuliskan jurnal harian, dimana saat Bunda tiba di rumah, si kecil pun akan tergugah membagikan pengalaman yang sudah ditulisnya. Dengan demikian, ia tak hanya antusias menanti kepulangan Bunda dari kantor, tapi juga termotivasi untuk terus membiasakan diri untuk menulis. Pelan tapi pasti, motorik si kecil pun akan bekerja dengan baik.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Tidak Diharuskan, Tapi Jika Ibu Hamil dan Menyusui Ingin Puasa, Ada Kiat yang Bisa Membantu Bunda Kuat

pexels-photo-259363

Sebenarnya, seorang ibu hamil atau menyusui diberi kelonggaran untuk tidak memaksakan diri berpuasa. Dari segi kesehatan, dokter selalu menyebutkan bahwa usia kehamilan pada trimester pertama dan ketiga, ibu hamil tidak diizinkan untuk berpuasa. Tapi, selama kita merasa kuat dan tak ada masalah kesehatan yang akan berpengaruh buruk, rasanya sah-sah saja.

Sejalan dengan itu, pada salah satu kesempatan Dokter Spesialis Gizi Klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro, Diana F Suganda MKes, pernah berkata bahwa, “Selama berpuasa, ibu hamil tetap harus mengonsumsi aneka ragam pangan untuk memenuhi nutrisi janin dan bayinya.”

Nah, untuk bisa memastikan diri kuat menjalani ibadah ini, sebenarnya kita hanya perlu mengupayakan asupan nutrisi yang tetap seimbang. Supaya tak berpengaruh buruk terhadap perkembangan janin pada ibu hamil, dan tetap menjaga kualitas ASI dari ibu menyusui. Ada beberapa hal yang Bunda perlu pahami, agar tetap bisa kuat menjalani ibadah puasa. Lalu apa saja ya kira-kira, Bun?

Dimulai dengan Memastikan, Jika Bunda Sudah Mengonsumsi Karbohidrat Kompleks

a68f1a39ace1f126

Dilihat dari kandungan gizinya, karbohidrat kompleks sangat kaya akan kandungan serat yang baik untuk pencernaan dan merupakan sumber energi bagi tubuh. Bahkan untuk orang-orang yang sedang menjalani program diet, selalu disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat kompleks. Sebab ini akan membuat kita kenyang lebih lama loh, Bun. Dan beberapa sumber karbohidrat kompleks yang bisa Bunda konsumsi antara lain nasi merah, jagung, ubi, singkong, sereal, dan kentang atau roti gandum untuk sahur.

Jangan Lupa Juga untuk Menambahkan Makanan yang Memiliki Protein dan Serat Tinggi

7999c3c61c33f18c

Tak hanya baik untuk menguatkan kita menjalankan puasa, memperhatikan jenis makanan yang akan dikonsumsi jadi upaya untuk menjaga bayi dalam kandungan. Nah, untuk itu baik bumil atau ibu menyusui, haruslah mengonsumsi makanan yang mengandung protein dan serat tinggi.

Sumber protein pun beragam Bun, tergantung Bunda akan mengonsumsi jenis protein hewani atau nabati. Protein dari hewani terkandung dalam daging rendah lemak seperti daging merah, ikan, dan daging unggas, atau jenis protein nabati yang ada dalam kacang kedelai, tempe, dan tahu.

Hindari Mengonsumsi Makanan Berlemak, Seperti Santan dan Gorengan

joshua-hoehne-500546-unsplash

Jangankan kala sedang puasa, saat tak berpuasa pun dokter pasti selalu mengingatkan kita untuk tak terlalu banyak mengonsumsi makanan-makanan yang menjadi sumber lemak. Baik santan ataupun jenis-jenis gorengan.

Karena lemak jadi salah satu makanan yang sulit dicerna, dan sering kali memicu mual pada tubuh kita, apalagi jika sedang berpuasa. Maka, jika pada menu buka puasa ada gorengan, meski itu terlihat menggiurkan, sebaiknya Bunda menahan diri, demi kebaikan janin dan asupan ASI si buah hati.

Sebisa Mungkin, Sebaiknya Bunda Jangan Minum Teh dan Kopi Dulu

emre-gencer-364602-unsplash

Faktanya, biasanya tubuh akan merasa jauh terasa lebih haus beberapa saat setelah minum teh atau kopi. Situasi seperti ini, jelas akan mengganggu ibadah puasa yang akan kita jalani. Sebab kandungan kopi dan teh yang berhasil masuk ke dalam tubuh, akan memancing reaksi urine keluar. Selanjutnya, kita akan mudah merasa haus dan lemas. Bukannya berhasil menjalankan puasa sampai berbuka, bisa-bisa kita hanya akan kuat berpuasa sampai jam 12 siang saja.

Selalu Pastikan Jika Saat Sahur dan Berbuka Tubuh Mendapat Asupan Air Putih yang Cukup

f82017fd8d66a01f

Nah, beberapa orang kerap keliru dalam memenuhi apa yang tubuh butuhkan. Salah satunya, menjadikan minuman sebagai hal pertama yang dikonsumsi saat sedang ingin sahur atau berbuka. Padahal, kita salah kaprah.

Minuman manis mungkin akan memuaskan dahaga saat berbuka, tapi kandungannya jelas tak baik untuk tubuh yang sedang berpuasa. Sebaliknya, cukupkan kebutuhan tubuh akan air dengan asupan air putih yang banyak. Bahkan beberapa dokter menganjurkan, ibu hamil dan menyusui sebaiknya mengonsumsi air putih setidaknya 3 liter sehari. Hal ini demi menghindarkan kita dari bahaya dehidrasi dan menguatkan tubuh untuk terus berpuasa.

Selanjutnya, Agar Tak Terlalu Lapar Bunda Baiknya Makan Sesaat Sebelum Imsak

pexels-photo-1071979

Ini mungkin jadi siasat kecil yang juga bisa membantu Bunda kuat dalam hal berpuasa, yakni memilih makan beberapa saat menjelang imsak saat sedang sahur. Sehingga, untuk bisa menjalani puasa sepanjang hari, kita tak akan merasa terlalu lapar.

Dan Pastikan Pula, Jika Bunda Mendapat Istirahat yang Cukup pada Siang Hari

pexels-photo-914905

Untuk ibu hamil yang masih bekerja dan harus berpuasa, cobalah untuk mengatur waktu istirahat yang cukup. Biasanya, beberapa perusahaan memberi keringanan saat bulan puasa berlangsung. Bunda bisa memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat sejenak. Cari posisi tidur yang baik, di tempat yang memungkinkan. Walau hanya 40 – 50 menit, ini akan memberi energi baru untuk tubuh. Dan tetap ingat, jangan terlalu memforsir diri untuk melakukan hal-hal yang berat dulu. Karena selain hamil dan menyusui, kita juga sedang berpuasa. Jadi, tidak boleh terlalu lelah ya, Bun!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Bunda Sudah Kembali Bekerja dan Si Kecil Mulai MPASI

Aulia adalah ibu bekerja dengan anak yang belum lagi menginjak usia 1 tahun. Setiap hari Aulia berangkat pukul 6.30 pagi dan baru pulang kembali pukul 18.00. Kendati begitu semangatnya tak pernah luntur untuk menyiapkan yang terbaik untuk buah hatinya.

Seiring bertambahnya bulan, aktivitas Aulia makin terasa padat. Pasalnya si kecil mulai butuh untuk mendapat asupan makanan pendamping ASI (MPASI). Otomatis Ia pun harus pintar berstrategi memenuhi kebutuhan buah hatinya ini.

Bunda juga sedang mengalami pengalaman serupa Aulia? Tak perlu panik ya Bunda. Meskipun bekerja, Bunda bisa tetap menyiapkan makanan pendamping ASI yang sehat untuk si kecil lho. Berikut ini ada beberapa tips agar para Bunda bisa menghemat waktu saat menyiapkan variasi MPASI di rumah.

Agar Lebih Yakin Ikuti Prinsip Tekstur Makanan Berdasarkan Usia Si Kecil

d28c24696d3b6b33

Buat Bunda yang baru pertama kali memiliki anak pastinya punya keraguan ketika memberikan asupan makanan tambahan. Khawatir anak tersedak atau justru khawatir anak tak berkembangan semestinya karena makanan terlalu halus.

Nah prinsipnya sederhana ya Bunda. Untuk usia 6-7 bulan, sebaiknya makanan yang diberikan masih sangat halus. Jadi setelah dihaluskan, makanan perlu untuk disaring lagi. Bentuk teksturnya harus lumat dan kental. Sementara ketika sudah masuk usia 8-9 bulan, makanan tidak perlu lagi bersifat cairan kental. Namun harus tetap berbentuk makanan lumat ya. Nantinya ketika sudah 9-12 bulan barulah diberikan makanan yang agak bertekstur kasar atau nasi yang dihaluskan sebentar dengan lauk cincang.

Berbelanja untuk Stok 2-3 Hari, Bisa Dilakukan Sambil Melewati Perjalanan Ke Kantor

scott-warman-525481-unsplash

Bagian satu ini memang perlu strategi. Mengingat waktu Bunda yang begitu padat. Apalagi buat Bunda yang tidak memiliki Asisten Rumah Tangga (ART) dan harus melakukannya sendiri.

Karena itu cobalah atur durasi belanja untuk stok 2-3 hari, sehingga tidak perlu setiap hari dihabiskan buat berbelanja. Siapkan dulu listnya sebelum di hari belanja untuk mempercepat durasi belanja. Bunda perlu sedikit menyesuaikan rute perjalanan agar bisa melewati area perbelanjaan agar belanja bisa dilakukan sambil dalam perjalanan.

Menyiapkan Peralatan Tepat Akan Mempermudah Aktivitas MPASI

Alat mpasi

Agar proses memasak MPASI bisa dilakukan lebih mudah, tepat dan cepat, Bunda bisa menggunakan beberapa peralatan rumah tangga yang mendukung. Misalnya slow cooker yang dapat membantu Anda memasak bubur atau sup dengan mudah. Selain itu, blender juga bisa membantu haluskan tekstur makanan.

Bunda bisa melirik produk Philips Avent dengan Essential Steamer Blender SCF862 Baru yang memudahkan dalam membuat MPASI rumahan yang sehat. Mempunyai sirkulasi penguapan dari atas ke bawah untuk memastikan makanan matang merata, sehingga tekstur dan nutrisi makanan tetap terjaga.

Design tutup wadah nya yang cerdas sehingga semua bahan makanan aman di dalam wadah, mencegah makanan masuk ke dalam tangki air. Tangki air ekstra besar membuatnya mudah dibersihkan dan diisi ulang, memungkinkan Ibu memasak dengan uap bersih setiap saat.

Bunda Perlu Menyimpan Makanan Yang Tak Perlu Dimasak

alyson-mcphee-499812-unsplash

Memasak MPASI memang membutuhkan waktu yang lebih panjang. Namun hal ini bisa disiasati dengan memilih secara berselang-seling bahan makanan yang tak perlu dimasak. Contohnya Bunda bisa membeli buah pisang, pepaya dan juga alpukat.

Namun ingat ya Bunda, porsinya harus bergantian. Karena jika ingin membuat MPASI sendiri, Bunda harus memastikan komponen makannya diselingi dengan protein hewani atau nabati.

Kalau Mau Dimasak, Buatlah Seiring Menu Keluarga

syd-wachs-120739-unsplash

Ini salah satu siasat menghemat waktu yang paling praktis jika Bunda memutuskan membuat MPASI yang dimasak. Yaitu dengan tidak membedakan menu keluarga yang lain dengan menu si kecil. Jadi saat Bunda ingin masak untuk anggota keluarga, Bunda juga dapat sekaligus membuat MPASI.

Misalnya, anggota keluarga lain bisa disiapkan makan sayur bayam atau sup. Nah si kecil juga bisa mengkonsumsi menu yang sama. Tentunya dengan dihaluskan sesuai patokan usianya tadi. Ini bisa diberikan sekaligus sebagai makanan bergizi untuk si kecil.

Siasati Waktu Kegiatan Bersih-bersih di Malam Hari

Ibu Mpasi

Kenapa aktivitas bersih-bersih ini tidak dilakukan pagi ketika sebelum berangkat atau sore setelah pulang kantor? Ini untuk menghindari waktu yang terlalu terburu-buru. Dikhawatirkan Bunda tidak membersihkannya secara tepat karena diburu waktu.

Lagi pula ketika pulang atau berangkat kerja biasanya jadi momen si kecil sedikit rewel karena ingin menghabiskan waktu bersama kita. Biarkanlah waktu tersebut menjadi momen quality time bersamanya. Bunda bisa memanfaatkan waktu di sela-sela waktu bangunnya di malam hari untuk membersihkan peralatan setelah ia tertidur kembali.

Blender Philips

Bunda juga bisa menghemat waktu bersih-bersih ini dengan menggunakan peralatan yang melakukan berbagai tugas sekaligus. Ini untuk mengurangi jumlah item yang harus dibersihkan. Contohnya saja Philips Avent Essential Steamer Blender SCF862 tadi. Bunda tidak memerlukan wadah yang banyak serta tidak perlu pusing dengan dapur penuh tumpukan panci kotor karena dengan satu alat yang praktis dapur tetap bersih dan Bunda bisa menyambi melakukan kegiatan yang lain saat proses steamer maupun blender. Apalagi harga lebih ekonomis karena alat bisa dipakai untuk menyiapkan makanan dan minuman keluarga seperti smoothie atau jus segar.

Jadi, yuk Bunda Semangat menyiapkan MPASI untuk si kecil!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top