Parenting

Bunda Merasa Anak Memiliki Prilaku buruk? Ini Tips Mengubah Prilaku Buruk Anak

test2222

Anak-anak tak selalu bertingkah lucu dan menggemaskan. Ada kalanya mereka justru berperilaku buruk entah karena merasa bosan atau  hanya demi menarik perhatian orangtuanya. Sebagian Bunda pun yang merasa kesal akhirnya memberikan peringatan agar si kecil tak terus menerus mempertahankan perilakunya yang merepotkan dirinya dan orang sekitar.

Memang Bun, tugas kita selain merawat, tentunya harus bisa mendisiplinkan mereka agar membuat mereka jadi pribadi yang baik nantinya. Bila si kecil mulai marah atau merengek, cobalah cari akar permasalahannya ya Bun.

Bila Si Kecil Ngambek atau Marah-marah

Menurut psikolog Charlotte J. Patterson yang juga penulis ‘Child Development’,  saat anak marah atau ngambek karena suatu hal kepada Anda, sebenarnya si kecil hanya ingin menunjukan responnya. Berarti kalau Bunda mendapati buah hati tetiba marah, cobalah cari tahu apa kemauan si buah hati. Mungkin dia sedang lapar, lelah, atau menginginkan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Cara mengatasinya, coba sampaikan mengenai konsekuensi bila dia tak mau berhenti ngambek pada Bunda.

“Dengan sebuah hukuman yang diberikan kepada si kecil, ia jadi mengerti kalau prilakunya itu tidak membawa keuntungan buat dirinya,” ujar Charlotte. Ia menyarankan agar Bunda tak usah menggunakan hukuman yang tidak terlalu berat, misalnya dengan menyuruh anak ke pojok hukuman atau melarangnya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai akibat kenakalannya.

Bila Si Kecil Tak Berhenti Merengek

Setiap anak pasti pernah merengek, apalagi kalau keinginannya tak dituruti. Seorang psikolog Mary-Elain Jacobsen menyarankan agar Bunda tak selalu menuruti rengekan si kecil saat ia meminta sesuatu yang tak Bunda izinkan. Mendisiplin anak merupakan bentuk kasih sayang orangtua demi masa depan si kecil.

Demi mengatasi hal ini, sebaiknya Bunda cobalah menyiapkan sesuatu untuk si buah hati, seperti membuat sebuah permainan, teka-teki, atau mengajaknya ngobrol sambil bercanda supaya si kecil lupa akan permintaannya. Kalau masih merengek juga, berikan hukuman ringan pada anak dan tetap konsisten dengan aturan Anda.

Saat Si Kecil Ketahuan Memukul Teman atau Saudaranya

Kalau Bunda memiliki anak lebih dari satu dan jaraknya tak begitu jauh, pernahkah Bunda mendapati buah hati Bunda tiba-tiba bertengkar dan mereka saling memukul? Bun, hal semacam ini tak boleh dibiarkan berlama-lama karena justru bisa membuat si kecil jadi memiliki perilaku yang kasar.

Menurut Dokter Lori J. Warner, seorang psikolog di rumah sakit Beaumont dan direktur The Hands-On Parent Education Center (HOPE), mengatakan kalau Bunda cukup perlu memahami apa maksud si kecil dan alasan mereka berlaku kasar.

Komunikasikan hal ini kepadanya Bun. Terpenting, ajarkan kepada anak-anak bahwa memukul atau melakukan tindakan kasar lainnya merupakan sikap buruk yang dapat mencelakai orang lain.

Si Kecil Ketahuan Menggunakan Kata-kata Kasar

Dr. Charlotte mengungkapkan, “Anak-anak seringkali mendengar perkataan yang terucap dari orang-orang di sekitarnya dan ingin tahu apa artinya. Jadi apabila perkataan yang mereka dengar adalah yang buruk, maka mereka akan mencoba memakai kata tersebut di depan orang terdekatnya untuk tahu bagaimana respon orang tersebut.”

Bun, bila si kecil pernah tak sengaja mengucapkan kata-kata kasar tapi dia sendiri tak tahu maksudnya, jangan langsung memarahinya. Lebih baik langsung memberitahunya kalau kata tersebut tidak boleh digunakan. Mereka harus belajar bahasa yang boleh digunakan, kata yang baik, bahkan nada yang pantas saat berbicara dengan yang lebih tua.

Berbohong

Ada kalanya si kecil pun berbohong pada orangtuanya. Misalnya, ia berpura-pura main sepanjang waktu padahal mereka tak sekadar bermain melainkan mungkin saja melakukan sesuatu yang dilarang orangtuanya. Kebohongan kecil ini akan berlanjut menjadi kebohongan besar suatu saat nanti jika Bunda diamkan.

Karenanya, sudah saatnya Bunda harus membimbingnya untuk selalu berkata jujur. Berikan contoh pada anak bahwa kejujuran membawa dampak positif, sedangkan kebohongan akan membawa celaka.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Ternyata Kemampuan Mengeja Tidaklah Sama dengan Membaca

reading

Membaca dan mengeja itu dua kegiatan yang berbeda. Bunda harus memahami hal mendasar ini dulu sebelum mengenalkan huruf pada si kecil. Banyak orangtua yang sering merasa membaca dan mengeja itu sama. Padahal, yang perlu diajarkan kepada anak adalah membaca, bukan mengeja. Terbaru, presenter sekaligus sekaligus Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, menjelaskan kenapa membaca dan mengeja itu berbeda. Ketika anak sudah bisa mengeja, belum tentu dia bisa membaca lho, Bun.

“Membaca adalah upaya untuk menemukan makna,” kata Najwa Shihab seperti dikutip dari haibunda.com. Saat anak bisa mengeja tulisan tapi ia belum menemukan makna tulisan tersebut, berarti si kecil belum sampai tahap membaca.

Bun, di fase ini, Bunda tak usah terburu-buru. Kalaupun ia baru mampu mengeja, maka Bunda tinggal pelan-pelan membimbingnya untuk bisa menemukan makna kata yang diejanya. Bagaimana caranya?

Pertama, mulailah dengan mengenalkan huruf padanya. Mintalah si kecil untuk mengucapkannya setelah Bunda. Kemudian ajarkan si kecil untuk menghapal urutan huruf mulai dari A hingga Z. Bunda bisa mengakali dengan mengajarinya lima huruf setiap harinya.

Setelah si kecil mengerti dan paham deretan huruf abjad dan cara melafalkannya, maka selanjutnya adalah mengenalkan huruf vokal dan konsonan. Cobalah berikan contoh dan ajarkan si kecil cara melafalkannya. Tak usah terburu-buru ya Bun, yang penting si kecil tak merasa jenuh dan mudah bosan.

Saat si kecil sudah menguasai tahapan ini, Bunda bisa mengajarkannya membaca kata demi kata. Dalam hal in bantulah kembali mengejanya huruf per huruf demi memudahkan si kecil. Saat melatih si kecil mengucapkan kata, sebaiknya pilihlah kata-kata yang mudah diingat dan biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Bunda bisa memulainya dengan dua suku kata terlebih dahulu seperti gigi, kuku, bola, dan semacamnya. Baru secara bertahap, Bunda bisa menaikkan tingkat kesulitannya.

Nah, agar suasana belajar lebih menarik lagi, Bunda bisa menerapkan belajar mengeja dengan lagu. Cara ini banyak dipakai oleh orangtua supaya mereka tak mudah bosan. Belajar mengeja dengan lagu akan membuat si kecil lebih mudah diingat. Yuk Bun, cobalah berkreasi dengan mengarang lagu-lagu yang mudah diingat atau mengubah lirik lagu anak yang sudah ada.

Di lain sisi, tokoh literasi Maman Suherman mengatakan, cara lain yang bisa dimanfaatkan adalah meminta anak menceritakan ulang bacaan saat si kecil sudah selesai membaca. “Jadi dia tidak cuma mengeja. Tapi dia bisa menceritakan ulang. Kalau dia bisa menceritakan ulang, berarti dia sudah menangkap pesan dari apa yang dia baca,” katanya.  Jika anak sudah bisa menceritakan ulang atau menuliskan kembali isi buku yang dia baca, berarti anak sudah bisa membaca. Kata Maman, pada dasarnya anak-anak suka ‘menemukan’ sesuatu yang baru.

Maman mengatakan, “Tiba-tiba dia menemukan sesuatu lewat bacaan, menemukan sesuatu yang dia tidak pahami menjadi paham, itu akan mendorong anak untuk tidak berhenti melakukan hal tersebut.”

Urusan membaca, tugas Bunda memang tak hanya mengajarkannya mengeja. Tapi juga mendorongnya membaca dan menemukan makna dalam tulisan. Bunda bisa melatih anak membaca dengan memintanya menceritakan kembali apa yang mereka baca.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Minder, Gagap yang Dirasakan si Kecil Bisa Hilang Asal Bunda Sabar Membimbingnya

anak bicara

Dalam masa tumbuh kembangnya, si kecil akan melewati beberapa fase. Salah satunya fase yang penting yaitu saat kemampuan berkomunikasinya meningkat. Kepintaran si kecil dalam berkomunikasi tergantung dari sistem tumbuh kembangnya. Hanya saja, banyak orangtua yang masih khawatir kalau anaknya gagap. Gagap adalah kondisi dimana seseorang melakukan pengulangan frasa atau kata. Di usia anak-anak, sejatinya hal ini wajar terjadi lho Bun.

Mengutip Nakita, sekitar 5% dari semua anak cenderung sedikit sulit berbicara di beberapa titik dalam perkembangannya, biasanya antara usia 2,5 dan 5 tahun. Gagap terjadi tanpa alasan yang jelas. Tetapi seringkali ini terjadi ketika seorang anak merasa senang, lelah, atau merasa terburu-buru untuk berbicara. Ada beberapa faktor mengapa seorang anak bisa gagap atai mengalami gangguan bicara.

Mulai dari riwayat keluarga, hal ini bisa jadi faktor terbesar si kecil seorang anak jadi cenderung gagap atau tidak. Di lain sisi, jenis kelamin pun berpengaruh. Anak laki-laki punya kemungkinan dua kali lebih besar dibanding anak perempuan muda untuk gagap. Sementara itu, anak laki-laki usia sekolah dasar memiliki kemungkinan 3-4 kali lebih gagap daripada anak perempuan.

Bunda perlu tahu, anak-anak yang terindikasi gagap dan baru mengalami kesulitan di usia 4 tahun lebih mungkin punya risiko gagap berkelanjutan. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orangtua demi mengatasi gagap?

Kurangi Bentuk Stres atau Tekanan Saat Berkomunikasi dengan Si Kecil

Ada beberapa teknik berbeda yang bisa dipakai demi mengurangi tekanan pada anak saat sedang berbicara nih Bun. Bunda bisa memakai komentar seperti “Kamu bermain di luar hari ini di sekolah. Pasti menyenangkan!” dibanding hanya bertanya “Apa yang kamu lakukan di sekolah?”

Jangan Sungkan Mengajak Si Kecil Bicara Soal Kondisinya

Saat si kecil sadar kalau ia gagap, maka cara terbaik adalah bersikap terbuka dan membicarakannya dengan cara yang positif. Biarkan mereka tahu dan merasa tak masalah yang dialaminya. Tapi kalau ia justru merasa tak sadar dengan masalah ini, tidak perlu membahasnya lebih dahulu sampai Bunda menemui ahli patologi wicara-bahasa.

Latihlah Kesabaran Si Kecil ya Bun!

Bunda perlu memberikan waktu untuk si kecil demi menyelesaikan apa yang mereka katakan. Jangan terburu-buru atau mengganggunya. Jangan minta mereka untuk memperlambat atau mengatakan “pikirkan dulu apa yang ingin kamu katakan.” Kalimat seperti itu umumnya tidak akan menolong Si Kecil yang menghadapi kondisi gagap.

Bunda Bisa Jadi Sosok Model Bicara yang Baik

Bun, jadilah teman sekaligus model yang baik yang bisa memberikan kebiasaan bicara demi membantu si kecil yang gagap. Bunda bisa memperlambat kecepatan ketika sedang berbicara, memasukkan lebih banyak jeda di antara kalimat, dan berbicara dengan santai.

Carilah Seorang Profesional untuk Membantu si Kecil

Ada banyak cara untuk menemukan ahli patologi wicara-bahasa. Atau cobalah konsultasikan ke dokter anak supaya bisa memberikan rekomendasi. Bunda juga bisa bertanya kepada teman dan kerabat dengan anak yang juga memiliki masalah berbicara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Si Kecil Sudah Minta Hewan Peliharaan? Pilih Salah Satu Hewan Ramah Ini yuk Bun

kids

Hewan peliharaan akan jadi teman terbaik untuk buah hati Bunda. Ada banyak pilihan lho Bun selain kucing dan anjing.

Dr. Jennifer Graham, asisten profesor di Sekolah Kedokteran Hewan Cummings Universitas Tufts mengatakan, memelihara hewan peliharaan yang ukurannya relatif kecil adalah pilihan yang baik untuk anak-anak yang berusia lebih dari 5 tahun.

Hal ini akan melatih si kecil untuk bertanggung jawab karena Bunda mengajaknya untuk mengurusi hewan peliharaannya tersebut. Mengutip dari Parents, lima hewan kecil ini yang aman untuk jadi teman baik si kecil Bun.

Hamster

Hewan peliharaan yang satu ini tergolong mudah dirawat bahkan dapat dilatih. Bentuk wajahnya yang lucu serta ukurannya yang mini akan membuat si kecil tertarik untuk memeliharanya. Hamster kecil dikenal lincah, hanya saja Bunda harus tetap hati-hati karena keturunannya bisa sangat agresif.

Bun, membelikan hamster kecil untuk si kecil sejatinya tak masalah. Tetapi pastikan Bunda rutin membersihkan kandangnya serta arena bermain hamster yang biasanya ada di kandangnya.

Marmut

Hewan pengerat ini lembut dan kemungkinan menggigitnya sangat kecil. Di lain sisi, mereka bisa diajak bersosialisasi dimana mereka merasa tak keberatan ditaruh di tangan manusia selama dipegang dengan baik. Hewan ini sangat ideal untuk anak yang baru belajar merawat hewan peliharaan karena cenderung tidak frustrasi dengan perawatnya yang masih muda. Mereka tidak akan keberatan jika anak-anak ingin berinteraksi.

Kelinci

Hewan peliharaan yang satu ini baik untuk si kecil selama ada pengawasan orang dewasa ya Bun. Kelinci terbilang aman karena sifatnya yang lembut dan mudah bergaul. Menariknya, kelinci bisa hidup dari usia 8-12 tahun. Mereka pun tergolong mudah dirawat serta cukup menyiapkan pakannya saja. Kalau Bunda dan si kecil banyak waktu, bahkan Bunda bisa memberikan latihan untuk kelinci si kecil.

Landak

Mamalia berduri yang satu ini mungkin tak suka digendong atau diemong. Tapi mereka lucu, ramah, dan relatif berumur panjang dengan jangka waktu dari lima hingga tujuh tahun. Jika landak ditangani saat masih kecil, mereka akan bersosialisasi dengan baik. Kelemahannya, kita harus siap-siap mengeluarkan uang lebih untuk merawat mereka.

Gerbil

Gerbil mudah dirawat dan umur hidupnya hanya dua tahun. Makanannya pun sama dengan marmut dan tikus. Hewan ini tidak agresif jadi sangat mudah dipegang. Namun pergerakan mereka cepat sehingga tidak mudah untuk bermain lama-lama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top