Parenting

Bunda, Apakah Si Kecil Sudah Mulai Berbohong? Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?

people-2942909_640

Jika anak sudah mulai berbohong, bagaimana cara kita mengatasinya? Ya, setiap orangtua pasti mendambakan seorang anak yang tumbuh dengan segala kecerdasan yang dimilikinya. Selain itu, kita juga tentu menginginkan kepribadian anak yang baik dan berkarakter. Namun, nyatanya sekarang ini banyak sekali para anak yang sudah mulai berbohong pada orangtuanya.

Lalu sebagai orangtua, bagaimana kita seharusnya menyikapinya? Dalam artikel ini akan dijelaskan tentang bagaimana sikap kita sebagai orangtua ketika mendapati anak sudah mulai suka berbohong. Nah, jika Bunda ingin tahu penjelasannya, maka simak artikel ini sampai selesai.

Tahukah Bunda, Jika Anak Usia 2 Tahun pun Sudah Bisa Mulai Berbohong pada Orangtuanya?

Kita sebagai orangtua pasti akan sangat bahagia jika tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal, tanpa ada masalah yang berarti. Idealnya memang begitu, namun yang namanya anak tentu ada pasang surutnya dalam perkembangan dan perilaku sehari-harinya. Salah satu masalah yang kerapkali dihadapi oleh para orangtua adalah anak yang suka berbohong.

Problema anak berbohong bisa terjadi pada usia berapa pun. Bahkan anak usia dua tahun pun sudah bisa mulai berbohong pada orangtuanya. Tentu saja kebohongan yang dilakukan oleh anak usia dua tahun dengan anak balita atau diatasnya akan berbeda.

Hanya Saja pada Anak Usia 2 Tahun, Kebohongannya Masih Sederhana, Sebab Dia Belum Bisa Membedakan Fantasi dan Realita

Untuk anak usia dua tahun kebohongannya masih sederhana. Seperti yang telah kita tahu, bahwa anak usia dua tahun masih belum bisa membedakan  apa itu fantasi, dan apa itu realita. Pada usia ini anak belum paham konsep berbohong dan berkata jujur. Jadi, Bunda jangan panik atau cemas ketika anak mulai mengarang cerita.

Mengapa anak usia dua tahun terlihat seperti berbohong ketika sedang bercerita? Karena imajinasinya sedang aktif-aktifnya, si kecil sedang berkembang sangat pesat sehingga apa yang ada dalam pikirannya menurut dia itu nyata. Seperti dia melihat ikan berenang di bak mandi, atau melihat ada Doraemon di kolong tempat tidurnya. Kesannya memang seperti berbohong, tetapi itulah cara anak untuk mengembangkan imajinasinya. Jadi, kita cukup mendengarkan saja apa yang dicelotehkan oleh si kecil, karena dia tidak bermaksud berbohong tetapi sedang mengembangkan imajinasinya.

Jika Anak dengan Usia Lebih dari 2 Tahun Masih Menunjukkan Indikasi Berbohong, Bunda Harus Ekstra Dalam Mendidiknya. Meski Begitu, Tetap Bersikap Tenang ya, Bun!

Sekali lagi Bunda harus tetap tenang, anak balita atau TK sudah mulai memahami perbedaan antara khayalan dan kenyataan, tetapi belum sepenuhnya mengerti. Sikapi kebohongan anak dengan mengingatkan diri sendiri bahwa anak berbohong adalah sebuah bukti bahwa dia sedang belajar memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu, buah hati juga sedang memahami mana yang khayalan dan mana yang nyata.

Setelah Itu, Cari Tahu Mengapa Anak Berbohong

Jika kebohongan anak terjadi karena ia ingin merasa penting dan dihargai, coba penuhi keinginan si kecil itu. Buat anak merasa lebih istimewa dan dan dihargai dengan selalu memuji upayanya berkata jujur atau ketika ia sudah berbuat baik. Dengan begitu maka anak akan terpacu untuk berkata jujur dan berbuat baik karena akan mendapatkan penghargaan dari Bunda sebagai orangtuanya yang begitu disayanginya.

Pelan-pelan Jelaskan Tentang Pentingnya Kejujuran pada Anak

Anak TK sudah paham jika berbohong itu tidak baik, namun dalam kenyataannya ia masih sangat sulit untuk mempraktekannya. Bunda bisa membantu dengan menjelaskan padanya, mengapa jujur itu penting dan berbohong bisa menyebabkan masalah serius untuk kedepannya. Bunda bisa mencari buku atau cerita tentang anak yang berbohong dan akibatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bunda Termasuk Tipe Ibu yang Mana? Apa Termasuk Ibu Tradisional?

home

Jadi orangtua bukanlah pekerjaan mudah Tak ada buku, seminar, atau sekolah yang secara pasti ada demi memberikan informasi detail mengenai bagaimana caranya jadi orangtua. Baik jadi ayah maupun jadi ibu.

Kalau bicara soal ibu, kita masing-masing punya cerita dan pengalaman pribadinya mengenai sosok ibu di dalam benaknya. Bunda sendiri, akankah Bunda tipe ibu yang akan meneruskan pola asuh yang sama dari orangtua Bunda untuk diturunkan ke anak-anak? Sebab ternyata tak semua ibu berlaku demikian. Ini dia tipe-tipenya, Bun.

  1. Ibu Tradisional

Kenapa dikatakan ibu tradisional? Karena ibu yang satu ini selalu mengutamakan nilai-nilai yang sudah mengakar dalam hidupnya dan mengusungnya sebagai pedoman saat dirinya jadi ibu. Ibu tradisional punya jiwa yang hangat dan jadi pengasuh yang baik. Tak lupa, mereka adalah tipe-tipe ibu yang suka bekerja keras dan perfeksionis.

Mereka selalu mengutamakan kepentingan anak. Tipe ibu semacam ini ditandai dengan hobinya yang suka membuatkan makanan kesukaan anak-anaknya. Yup! Ibu tipe tradisional adalah mereka yang mampu membuat anak merasa menjadi pusat perhatian, serta merasa dicintai dan dipuja tanpa pamrih.

  1. Ibu sekaligus Teman bagi Buah Hati

Ibu yang satu ini adalah tipe perempuan yang sejatinya tak ingin membuat jarak dengan si kecil. Bunda dengan tipikal ini berusaha rileks dan mengikuti apa yang sedang disenangi buah hatinya sehingga seringkali si kecil lebih sering menganggap ibunya sebagai kakak daripada ibu yang konvensional.

Menariknya, ibu semacam ini sanggup menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya sehingga buah hatinya merasa dimengerti dan tak harus berpura-pura hanya demi mendapatkan perhatian ibunya. Tapi Bunda harus hati-hati, sebab ada risiko anak jadi rentan membantah karena menganggap ibunya sebagai teman.

  1. Ibu yang Bebas

Bunda yang satu ini selalu luwes dan mendambakan buah hatinya bisa mandiri. Bunda selalu punya prinsip kalau setiap orang berhak mendapatkan me time, termasuk dirinya maupun buah hatinya. Di lain sisi, Bunda dengan tipe ini selalu mendorong anaknya untuk berani berpendapat dan membuat keputusan.

Mereka adalah tipikal Bunda yang yakin bahwa seorang ibu yang baik seharusnya membiarkan kebebasan dan kemandirian anaknya. Dengan prinsip yang sudah dibangun, akhirnya Bunda pun bisa memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kepribadiannya, dan menciptakan kehidupannya sendiri. Bunda pun bisa mendorong mereka untuk belajar dari kesalahan dan mengakui pencapaian yang dilakukannya. Di lain pihak, Bunda pun juga masih bisa menikmati kegiatan Bunda.

  1. Ibu Mata-mata

Sampai anak dewasa, ada lho tipikal ibu yang selalu tak bisa memberikan hukuman atau time out pada buah hatinya. Satu-satunya cara yang baik adalah berusaha untuk mempengaruhi anaknya. Kadang, atau bahkan sering, tipikal ibu semacam ini tak secara langsung memberikan nasihat atau berkomunikasi dengan anak, namun selalu menyimpan apa keinginan anak dalam hati.

Bun, mungkin kelak Bunda bisa selalu terlibat dalam kehidupan buah hati bahkan bisa dengan jeli memperhatikan perkembangan dan kesehatan jiwa raganya. Tapi yang harus diperhatikan, Bunda jangan sampai terbentur dengan kondisi dimana Bunda berusaha menyeimbangkan antara selalu ada di sisinya dan membiarkannya membuat keputusan sendiri.

  1. Ibu yang Komplet

Mungkin ibu dengan karakter yang satu ini yang paling sering muncul sebagai karakter di film-film keluarga. Mereka muncul sebagai karakter yang kuat yang membuat keluarga jadi harmonis. Bun, jadi ibu yang komplet sejatinya bisa lho dilakukan oleh ibu manapun. Kuncinya yaitu belajar dari kesalahan dan tak ragu untuk memperbaiki.

Sewaktu-waktu, Bunda bisa bersikap sebagai teman, tetapi juga tetap dihormati dan ditaati oleh anak. Dengan begini, Bunda pun akhirnya bisa membuat si kecil merasa bangga dengan kehadiran ibunya.. .

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Hanya Soal Jajan, Anak Juga Perlu Mengenal Uang, Tinggal Bagaimana Kebijakan Orangtua dalam Mengenalkannya

pexels-photo-1246954

Kalau tidak bijak dalam mengelola uang, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang lho Bun. Bukan hanya jajan, mengajarkan disiplin mengelola uang sejatinya memang wajib  diperkenalkan pada buah hati sejak dini.

Terlebih kalau si kecil sampai detik ini tahunya hanya menghabiskan uang ( jajan) dan orangtua sangat royal terhadap materi kepada anak. Sebab kalau si kecil tak tahu banyak hal soal uang, justru bisa jadi sumber masalah suatu hari nanti.

Menurut ahli pendidikan terkemuka di Sydney, Pauline Haycraft, masalah uang saku untuk anak memang bukan perkara mudah. Ada cara sederhana yang bisa diterapkan orangtua yaitu dengan memberikan daftar berupa hal apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan. Seperti dibawah ini ya Bun

Yang Boleh Dilakukan:

  1. Yuk Bun ajari anak mengenai nilai uang. Hal ini perlu supaya mereka mengerti mana uang yang bernilai kecil dan mana yang nilainya lebih besar supaya mereka tak mudah tertipu.
  2. Saat si kecil masih kecil, berikan uang saku dalam bentuk fisik. Biasakan hal ini sejak dini sehingga saat dewasa, yang dilihatnya bukan hanya berdasarkan nilai transfer bank. Dengan begitu, si kecil bisa melihat sendiri wujud uang yang dimilikinya.
  3. Sebaiknya berikan uang secara harian atau mingguan. Apalagi bila si kecil masih di usia sekolah dasar. Bukan hanya si kecil yang belum pandai mengelolanya, tapi karena dengan begini Bunda pun ikut melatihnya untuk lebih disiplin soal menabung.
  4. Terutama bila Bunda ingin mengenalkan konsep tidak menghamburkan uang, maka sejak dini harus dilatih untuk menabung. Dan sebaiknya berikan uang saku saat umurnya tujuh tahun atau saat menginjak kelas satu SD ya bun.

Yang Tidak Boleh Dilakukan

  1. Jangan terbiasa memberikan uang sebagai bentuk imbalan setelah si kecil melakukan tugas-tugas di rumah. Sebab kalau dibiasakan, yang terjadi justru yang tertanam di dalam benak si kecil hingga ia besar adalah mengharapkan uang saat membantu orangtuanya.
  2. Bila si kecil berperilaku buruk, jangan memberi hukuman berupa memotong uang saku si kecil. Sebagai Bunda, sebaiknya berikanlah hukuman yang lebih tepat semisal time out, atau tak membolehkan ia bermain game online, atau hukuman sejenisnya ya Bun.
  3. Mencoba memberikan uang saku bulanan bukanlah hal yang bagus kalau Bunda sejatinya belum mengajarkan cara mengelolanya. Kendati si kecil nanti beranjak remaja, tugas untuk mengajarkan dirinya mengelola uang bulanan adalah tugas Bunda sebagai orangtua.
  4. Jangan mengharapkan si kecil membeli berbagai keperluan mereka dengan uang yang diberikan ya Bun. Biar bagaimana, orangtua tetaplah yang utama dan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan si kecil.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Anak Takut Ketika Bertemu dengan Orang Baru? Ini 10 Cara Supaya Si Kecil Tak Takut pada Orang Baru

anak takut

Bun, rasa takut anak pada orang asing memang biasanya akan hilang saat usianya memasuk 18 bulan. Tapi kadang ada juga tipikal balita yang sampai usianya melewati 2 tahun, ia belum bisa terlepas dari fase takut ke pada orang asing. Begini, pada dasarnya anak takut pada orang asing adalah hal normal. Hal ini pun terjadi karena anak-anak hanya tahu orang terdekatnya adalah keluarga.

Karenanya, bila mungkin Bunda pernah mengajak si kecil bertemu dengan teman atau kerabat yang belum pernah ditemuinya, ia akan bereaksi dengan menangis, rewel, atau bahkan jadi sangat pendiam, takut, dan bersembunyi. Nah Bun, demi mengatasi si kecil agar tak jadi anak yang selalu takut pada orang asing, mungkin Bunda perlu melakukan sepuluh hal sederhana ini.

Bantulah Si Kecil agar Merasa Nyaman

Berikan kesempatan padanya untuk bertemu orang baru ya Bun. Bunda bisa menggendong dan memperkenalkannya ke teman Bunda yang mungkin belum pernah ditemuinya. Kalau suasananya nyaman, si kecil pun akan merasa nyaman dengan kehadiran orang yang baru ditemuinya itu.

Berikan Benda Kesayangannya

Seandainya yang harus ditemuinya kali ini adalah saudara jauh dan kebetulan belum pernah bertemu dengan si kecil, cobalah Bunda pakai trik membawa benda atau mainan kesayangan si kecil. Mintalah pada kerabat Bunda tersebut untuk berkenalan dan menghabiskan waktu dengan si kecil dengan melibatkan mainannya itu.

Bila Bunda Harus Meninggalkan Si Kecil di Daycare, Beritahukan apa yang terjadi

Kalau Bunda terpaksa harus meninggalkannya bersama orang yang belum dikenalnya sebagai pengasuh di daycare, maka beritahukan hal tersebut pada si kecil. Jelaskan baik-baik padanya siapa orang yang baru dilihatnya dan apa yang terjadi. Misalnya, jelaskan kalau orang itu adalah pengasuh yang Bunda percaya. Terpenting, beritahukan juga kapan Bunda akan kembali.

Cobalah Bagikan Situasi Ini Kepada Orang yang Akan Bunda Temui 

Sebelum mengajak si kecil bertemu dengan kerabat atau teman Bunda, lebih baik ungkapkanlah padanya kalau sii kecil butuh waktu untuk menyesuaikan diri bila bertemu orang baru. Mintalah pada mereka untuk tak terlalul agresif dan menghormati ruang pribadi si kecil yaitu dengan tidak terburu-buru mengajaknya berkenalan.

Kalaupun Sang Kerabat Hendak Menggendong si Kecil, Mintalah untuk Menunggunya

Demi kenyamanan si kecil, mintalah teman atau kerabat Bunda yang tak dikenal bayi untuk sedikit menunggu sebelum menggendongnya.  Bayi biasanya lebih rileks ketika orang mendekat perlahan dan tenang serta tidak terburu-buru menggendongnya.  Biarkan bayi merasa nyaman sebelum kontak dengan orang lain ya Bun.

Perkenalan bertahap

Kalau bayi memang kesulitan menyesuaikan diri dengan orang baru, bunda bisa mencari alternatif dengan melakukan perkenalan bertahap. Misalnya, perkenalkan satu orang di hari ini. Di hari berikutnya, ajak bayi berinteraksi dengan orang itu selama beberapa menit. Tingkatkan durasi si kecil bersama orang tersebut agar mereka perlahan bisa menjadi akrab.

Bersikaplah Hangat Kepada Orang Tersebut di Depan Si Kecil

Bayi atau balita biasanya menerima petunjuk dari Bunda dan perilaku orangtuanya. Karenanya, perlakukan orang yang familiar dengan Anda tapi tidak familiar bagi bayi dengan hangat. Setidaknya tunjukkanlah kalau Bunda merasa nyaman dengan orang tersebut sehingga si kecil pun ikut merasa nyaman.

Luangkan Waktu Bunda dengan Si Kecil dan Orang yang Ingin Bunda Kenalkan

Demi penyesuaian, yuk Bun luangkan waktu bersama si kecil dan orang yang ingin Bunda kenalkan. Cobalah dengan mulai mendudukan anak di dekatnya. Bila anak merasa tidak nyaman, pindahkan anak ke dekat Bunda. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.

Siapkan Momen Perkenalan Sebaik Mungkin, Bukan Saat si Kecil Lapar ya Bun

Siapkan semua kebutuhan bayi sebelum ia bertemu orang baru. Biasanya bayi rentan cemas kalau merasa lelah atau lapar. Karenanya, sebelum Bunda hendak mengenalkannya pada orang baru, sebaiknya gantikan dulu popok dan berikan susu padanya. Bahkan biarkan ia tidur siang sebelumnya. Bayi harus merasa bahagia dan di mood yang baik untuk menjalani transisi dengan baik.

Bawa anak ke tempat umum

Satu cara untuk membuat anak terbiasa melihat wajah baru adalah dengan mengajaknya sering keluar, Bun. Coba yuk cari waktu paling tidak sehari saja dalam seminggu dan ajak ke taman terdekat atau area bermain.

Setelah membuat anak familiar dengan tempat-tempat ini, mulai perkenalkan anak pada teman atau kerabat Bunda. Semakin banyak orang baru yang anak temui di jarak yang aman, semakin baik ia akan mengatasi rasa takutnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top