Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Supaya Tak Salah Kaprah, Autisme Bukanlah Penyakit Menular

adorable-affection-baby-1257110 (1)

Menangani anak dengan autisme tentu jadi tantangan tersendiri untuk para segelintir orangtua. Selain harus ekstra sabar, orangtua pun diminta memahami lebih dalam mengenai apa itu autisme. Pengetahuan yang dalam dan detail tentang gangguan ini setidaknya membuat orangtua jadi lebih terarahkan dalam membimbing anak-anaknya.

Agnes Yani Puspitasari, seorang terapis dari Pusat Layanan Tumbuh Kembang Efata menuturkan kepada tim SayangiAnak mengenai pentingnya pemahaman autisme bagi orangtua.

“Kita harus tahu dulu tentang autis tersebut. Autis sendiri adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan pada bidang kognitif. Bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial,” ujar Agnes.

Autisme bisa terjadi pada semua kelompok masyarakat. Tak peduli kaya atau miskin, tinggal di desa atau di kota, baik yang berpendidikan ataupun tidak, bahkan bisa terjadi pada setiap kelompok etnis di dunia. Autis sendiri bukanlah semengerikan yang selama ini bunda pikir.

Kenapa Disebut Autisme ya Bun?

Penyebutan autisme berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘autos’ yang berarti hidup di dunianya sendiri. Ya Bun, anak dengan autisme umumnya menunjukkan tanda-tanda berupa mengacuhkan suara dan kejadian yang melibatkan mereka, seperti hidup di dunianya sendiri. Mereka juga mengalami kendala dalam melakukan kontak mata serta memberikan respon yang minim saat ada orang dewasa yang memberi sentuhan kasih sayang.

Demi mengetahui seorang anak menyandang autisme, Agnes menuturkan sekarang ini pemerintah kian menggalakkan aksi deteksi dini. Dalam melakukan deteksi dini, tentunya pendekatan dari keluarga sangat diperlukan.

“Diharapkan pendekatan dari keluarga bisa melihat dari contoh-contoh yang disebutkan di atas. Misalnya, apakah anak usia dua tahun, biasanya bisa melakukan komunikasi verbal atau belum. Atau bila kesulitan kontak mata. Atau tidak merespon, orangtua bisa lebih waspada. Dari gejala tersebut, orangtua diharapkan menghubungi tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater atau bahkan terapis untuk berkebutuhan khusus,” lanjut Agnes.

Selain deteksi dini, guna mengetahui secara pasti seorang anak mengidap autisme atau tidak, perlu dilakukan beberapa assesment oleh tenaga profesional seperti psikolog klinis perkembangan anak atau psikiater, Bun.

Mulanya, anak perlu melakukan tes medis sehingga akan keluar diagnosanya. Nah, setelah dilakukan diagnosa, biasanya akan ada assesment dari tim terapis guna mengetahui tingkat perkembangan anak saat ini sehingga akan disesuaikan program apa yang paling dibutuhkan anak dengan autisme.

Bagaimana Mengenai Gejalanya?

Lebih lanjut lagi mengenai gejala autisme, sejatinya ada beberapa level Autism Spectrum Disorder yaitu autisme ringan, autisme sedang, dan autisme berat. Umumnya, anak dengan autisme ringan memiliki kemampuan bicara secara verbal yang baik. Namun ia mengalami kesulitan dalam interaksi sosial serta memunculkan perilaku yang berulang-ulang.

Selanjutnya, di level dua yakni autisme sedang adalah komunikasi verbal terbatas, dan memiliki kesulitan yang sama dengan level pertama namun ditambah gangguan emosional dan masalah sensori. Sementara untuk autisme yang berat, anak tersebut memiliki ciri-ciri autisme level satu dan dua dtiambah kemampuan komunikasi non verbal dan berbagai masalah yang cukup kompleks.

Untuk menangani beberapa level ASD tersebut diperlukan terapi yang bersifat menyeluruh, Bun. Mulai dari terapi perilaku, dimana anak dengan autisme biasanya diketahui lantaran perilakunya bermasalah. Kemudian ada terapi okupasi guna meningkatkan kemampuan motorik dan sensorinya juga kemampuan bicara.

“Jadi semuanya seperti tim, bekerja sama dan menentukan goal bersama orangtua biasanya ada jangka panjang dan jangka pendek,” lanjut Agnes.

Ya, antara orangtua dan terapis biasanya memiliki goals jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendeknya, diharapkan anak dengan autisme dapat memahami komunikasi dua arah lebih dulu sehingga mereka dapat memahami perintah dan mengutarakan apa yang diinginkan.

Lebih lanjut lagi, mereka pun dapat meminimalisir perilaku agar lebih terarah. Sementara untuk jangka panjangnya, si anak bisa mengikuti tuntutan sosial sehingga bisa berlkau seperti anak pada umumnya. Minimal dia juga bisa melakukan sesuatu yang penting untuk dirinya sendiri, seperti kemampuan bela diri, kemandirian yang dia harus penuhi nantinya.

Autisme dan Mitos yang Masih Sering Muncul

Dalam memahami autisme, sebagai orang dewasa, tentu jangan sampai salah informasi apalagi termakan mitos yang tak benar ya Bun. Agnes mengatakan, masih banyak mitos yang mengatakan bahwa autisme menular.

“Jadi misal ada salah satu murid yang masuk atau belajar bersama anak2 normal lainnya, beberapa orangtua memikirkan bahwa anak-anaknya akan meniru anak autism tersebut atau nanti bisa tertular, lalu kemudian berpikir mereka mengganggu dan ngamuk-ngamuk padahal itu tak benar,” ujar Agnes.

Mengenai penyebab autisme, sejatinya belum diketahui secara pasti. Para ahli pun mengatakan, ada kejadian multifaktorial dimana terjadi gangguan psikiatri, kemudian gangguan biokimia, dan adanya kombinasi makanan karena keracunann merkuri, asap timbal kendaraan, dan juga genetik. Setiap hal mengenai penyebab autisme masih diteliti dan belum bisa diakui secara pasti.

Untuk itu, yang bisa dilakukan ibu dan orang dewasanya lainnya dalam menangangi anak dengan autisme adalah dengan saling memberikan informasi tentang autisme sehingga kalau ada orang terdekat atau saudara, Bunda pun bisa menyarankan untuk segera melakukan ke tenaga profesional.

“Biasanya orangtua akan merasa down kalau kondisi anaknya autism. Saran saya, orangtua harus menenangkan diri lebih dulu untuk kemudian bersinergi pada setiap anggota keluarga agar menciptakan suasana kondusif di lingkungan keluarga sehingga semua berperan serta dalam meningkatkan perkembangan kemampuan anak,” kata Agnes.

Hal yang paling tepat dilakukan orangtua dengan anak penyandang autisme adalah memiliki karakter yang sabar, tenang, dan saling mendukung satu sama lain sehingga kelak nantinya progres si anak pun jadi lebih cepat.

“Orangtua perlu menerima keadaan sehingga setelah diagnosa, bisa membuat program2 yang membantu memaksimalkan potensi anggota keluarga yang menyandang autisme. Ini jadi perjalanan panjang karena perlu terapi yang panjang. Jadi harus sabar,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Supaya Si Kecil Mau Mendengarkan Bunda tanpa Harus Diancam

boy-child-cute-1598122

Bun, saat si kecil tak mau menuruti nasihat orangtua, biasanya hal ini membuat para orangtua kehabisan akal untuk mengendalikan si kecil. Apalagi kalau kondisi orangtua sudah lelah, misalnya baru pulang kerja atau sedang sibuk mengurus adiknya. Akhirnya, alih-alih menasehati, tak sedikit orangtua yang akhirnya mengancam sang anak. Ini karena ancaman, dianggap salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.

Sebenarnya, kita para orang tua, perlu tahu: ancaman tidak efektif untuk membuat anak menurut. Ya Bun, pasalnya ancaman hanya ampuh sesaat saja tapi tidak untuk jangka panjang.

Lagipula anak yang sering diancam kelak menjadi anak yang terbiasa diancam dulu baru mau melakukan sesuatu. Tentu kebiasaan semacam ini jadi tak mendidik si kecil, kan? Tugas orangtua tak hanya mengasuh si kecil, tapi juga menumbuhkan sifat tanggung jawab dan rasa percaya diri padanya. Lantas bagaimana solusinya, Bun?

Adele Feber, seorang penulis buku berjudul How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk menyampaikan tiga tips ini, Bun.

Berikan Pilihan Padanya dan Jangan Mengekangnya

Berikan pilihan yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya, “Rapikan mainanmu sekarang supaya kamu masih punya waktu nonton televisi sebelum tidur, atau rapikannya nanti saja tapi kamu enggak nonton televisi sama sekali.” Dengan memberikan pilihan, si kecil merasa mendapat kepercayaan sehingga ia akan percaya diri untuk melakukan hal tersebut. Selanjutnya, biarkan ia memilih dan Bunda tak perlu mengekangnya.

Beri Batasan

Bila Bunda memberikan perintah, maka berikan batasan yang jelas padanya. Batasan ini melatih kepekaan dan rasa tanggung jawabnya, Bun. Misalnya, “Ibu akan pergi ke rumah Nenek 30 menit lagi. Kamu bisa ikut kalau sekarang segera mandi dan berpakaian. Kalau kamu belum siap saat ibu akan berangkat, kamu bisa tidak bisa ikut dan main di rumah saja.”

Dan Tetapkan aturan

Buatlah aturan yang jelas dan sampaikan aturan ini di awal serta pastikan anak paham apa saja yang menjadi tugas atau kewajibannya berikut konsekuensi jika ia tidak memenuhinya. Entah mengenai jam main, atau hal-hal seputar aktivitasnya. Bila si kecil menunjukkan perilaku melanggar aturan, maka Bunda tak perlu kesal. Tetap ingatkan ia lagi dan lagi. Dengan begitu, Bunda tidak perlu lagi mengancam.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cerita Donna Agnesia Urus Tiga Buah Hati yang Beranjak Remaja

donna

Bun, sebagai seorang ibu, tentu kita punya tantangan masing-masing dalam menjalankan peran ya. Nah, hal ini juga yang dirasakan oleh Donna Agnesia. Perempuan yang menikah dengan Darius Sinathrya ini dikaruniai tiga orang anak yaitu Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya.

Sebagai wanita karier sekaligus ibu dengan tiga anak, Donna pun dituntut untuk dapat membagi waktu. Bagi Donna, salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu bekerja adalah memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, meskipun tak bisa mendampingi selama 24 jam.

“Saya pergi keluar rumah, saya pastikan anak-anak di rumah kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak pernah kehilangan kasih sayang, walaupun papa mamanya sibuk bekerja,” kata Donna Agnesia seperti dikutip dari Kumparan, Selasa (25/6).

Donna mengatakan seorang ibu harus bisa menguasai banyak hal. Bukan hanya pintar mengatur keuangan dan anak, tapi juga bisa melihat bakat dan masa depan anak-anaknya.

“Aku juga masih belajar terus jadi ibu yang sempurna, paling enggak buat anak-anak saya dan oh ya, happy mom, happy life. Happy mom, happy kids,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, sosok seorang ibu pun harus mampu menjadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ayah untuk anak-anaknya. Ia pernah merasakan peran sebagai ayah ketika Darius meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama.

Kendati demikian, tanggung jawab untuk mengurus buah hati bukan hanya ada di tangan ibu saja. Kehadiran ayah juga penting untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

“Saya bilang ke Darius, ‘kita punya dua anak laki-laki, tapi di rumah isinya perempuan semua, butuh figur laki-laki. Jadi, kalau kamu lagi punya waktu di rumah manfaatkanlah itu untuk quality time sama anak-anak’,” ujar Donna.

Darius pun selalu menanamkan cara menjadi laki-laki yang baik kepada anak-anaknya ketika mereka sedang berkumpul bersama.

“Supaya anak bisa jadi laki-laki yang baik dan membangun keluarga, enggak bisa salah satu. Anak-anak bahagia itu, kalau melihat orang tuanya akur, rukun, gitu kan anak-anak jadi rasakan di keluarga,” tutup Donna Agnesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tips Me Time untuk Ibu Muda Ala Cynthia Riza

cynthia rizaa

Sebagai seorang ibu, ada baiknya Bunda tak hanya bekerja, tapi juga merawat diri sendiri atau melakukan self-care. Setelah bekerja seharian, entah di kantor atau merapikan rumah, maka Bunda punya hak istimewa yaitu melakoni me time guna relaksasi atau membuat seorang ibu jadi lebih percaya diri. Nah, salah satu ibu muda yang selalu menyediakan waktu untuk me time yakni Cynthia Riza, influencer sekaligus istri Giring Ganesha.

Cynthia bercerita setiap hari ia bangun setidaknya 1 jam sebelum suami dan anak-anaknya. Tujuannya, agar ia punya quality time untuk diri sendiri di pagi hari.

“Aku bangun jam 5 setiap hari. Biasanya aku siapin sarapan dulu, keperluan sekolah anak setelah semua beres baru aku mandi, pakai make-up, bangunin suami deh. Jadi aku bangunin suami udah cantik dan wangi. Merawat diri di pagi hari itu penting buat bikin mood enak sepanjang hari,” papar Cynthia.

Tak hanya di pagi hari, Cynthia juga meluangkan waktu untuk “mandi mewah” setiap sore. Yang dimaksud mandi mewah adalah mandi tanpa diteriaki anak sehingga ia tak perlu buru-buru. Tentu momen seperti itu langka ya, Moms, bagi para ibu. Namun karena dukungan suami dan anak-anaknya, Cyntia bisa menikmati mandi mewah ini setiap sore.

“Setiap hari aku butuh quality time di mandi sore aku. Anak-anak sudah tahu, kalau mama mandi sore, butuh 15 menit minimal, jangan diganggu dulu. Biasanya aku mandi sambil dengerin musik, nyanyi lagu kesukaan, kadang juga luluran. Keluar juga, sudah happy lagi,” cerita Cyntia.

Selain itu, Giring juga mendukung Cyntia untuk merawat diri dengan memberinya waktu untuk ke salon. Dalam seminggu, ia bisa 2-3 kali pergi ke salon. Cynthia mengaku kegiatan self-care ini membuatnya lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top