Hiburan Anak

Bun, Si Kecil yang Menonton Sesame Street Lebih Pintar dalam Mengenal Huruf

Bun, serial televisi, Sesame Street, ternyata efektif membantu anak-anak balita mengenali huruf alias melek huruf dan angka. Hal itu dibuktikan dalam sebuah studi yang baru-baru ini dirilis. Menurut penelitian berjudul Early Childhood Education by Television: Lessons from Sesame Street, yang dipublikasikan di American Economic Journal, serial televisi asal Amerika Serikat ini mampu membantu perkembangan kognitif anak-anak.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak balita tidak sekolah yang menonton Sesame Street memiliki lonjakan nilai tinggi bahkan sebanding dengan anak yang mengikuti sekolah formal lho Bun.

“Sebuah uji coba kontrol acak skala kecil (RCT) yang dilakukan pada waktu itu menunjukkan bahwa pertunjukan tersebut memiliki dampak yang substansial dan langsung pada skor tes melek hurufdan angka pada usia tiga dan empat,” ujar para peneliti seperti dikutip dari Todays Mama.

Sesame Street sendiri adalah serial televisi yang memadukan antara hiburan dan pendidikan untuk anak-anak usia balita. Awalnya, tayangan ini hadir guna memberi kesempatan bagi anak-anak usia dini yang tak bisa bersekolah mendapat tontonan mendidik. Rupanya program ini berjalan dengan sangat baik.

Serial televisi yang diisi karakter Elmo, Big Bird, Cookie Monster ini mampu memberikan penontonnya peningkatan dalam aspek pendidikan. Termasuk peningkatan yang cepat dan dampaknya besar dalam nilai ujian. Peningkatan ini paling jelas terjadi pada anak laki-laki.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tabungan Habis untuk Lebaran, Haruskah Berhutang untuk Biaya Sekolah Buah Hati?

cash-cent-child-1246954

Tahun ajaran baru tiba, hal ini tentu disambut penuh semangat oleh anak-anak. Tapi belum tentu semangat yang sama menghampiri para orangtua. Bayangkan, tahun ini orangtua harus dihadapkan pada agenda kalau tahun ajaran baru dimulai tak lama setelah libur lebaran.

Tak sedikit dari para orangtua yang tabungannya sudah menipis karena sudah dipakai untuk keperluan lebaran. Lantas andaikata tabungan habis sebelum waktunya, bolehkah orangtua berhutang demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Mengutip detikFinance, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan sejatinya tak masalah orang tua mengambil utang untuk biaya sekolah anak. Asalkan, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya bulanan sekolah si anak.

“Sepanjang memang mereka mampu untuk bayar SPP-nya, karena kan yang lebih penting itu adalah SPP-nya. SPP itu kan nggak cuma di awal doang, sepanjang mereka paham penghasilannya mampu untuk bayar SPP tiap bulan, itu oke-oke saja,” kata Andy.

Biaya bulanan harus menjadi prioritas orangtua mengingat biaya ini harus dikeluarkan untuk jangka waktu panjang. Untuk biaya yang kelihatan berat namun hanya sekali dibayarkan seperti uang pangkal mungkin masih dapat diatasi dengan mengajukan pinjaman, namun untuk SPP tentu ada pertimbangan lain.

Jangan sampai, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya masuk sekolah anak dengan harga tinggi, namun tak sanggup untuk membayar biaya bulanan ke depan.

“Jadi itu yang sebenarnpya menurut saya harus lebih diperhatikan oleh para orang tua. Jadi jangan bisa bayar uang pangkalnya doang, tapi ternyata untuk bayar SPP-nya megap-megap, itu kan kasihan anaknya juga kalau nanti di tengah jalan orang tuanya nyerah untuk pindah sekolah,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top