Kesehatan Ibu & Anak

Setiap Orangtua Mewarisi Empat Hal Ini Pada Anaknya

adult-baby-child-1776135 (1)

Bunda pasti sering mendapati, si kakak mirip ayah, atau si adik mirip Bunda. Bahkan ada juga anak yang dianugerahi wajah gabungan kedua orangtuanya. Ya, faktor genetik disini berperan sebagai pelaku utama yang membuat seorang anak telihat mirip bahkan serupa dengan orangtuanya. Lebih jauh lagi, orangtua tak hanya mewarisi kemiripan wajah lho. Ada beberapa warisan alami orangtua yang Bunda perlu tahu.

Risiko Penyakit

Tubuh manusia nan unik terdiri dari triliunan sel. Dalam setiap sel tersebut, terdapat struktur inti atau nukleus yang di dalamnya berisi kromosom. Masing-masing kromosom dilengkapi dengan untaian asam deoksiribonukleat atau DNA. Nah, gen adalah bagian dari DNA yang nantinya diturunkan dari orangtua ke anak. Bunda perlu tahu, setiap anak normalnya memiliki dua salinan gen dari kedua orangtua.

Mengutip Kompas.com, ketika nantinya DNA yang telah diturunkan ini mengalami kerusakan, maka strukturnya pun akan berubah. Kerusakan pada struktur DNA ini bisa dipicu oleh berbagai hal, salah satunya paparan bahan kimia.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan munculnya penyakit pada tubuh. Sayangnya, struktur DNA yang rusak tersebut bisa menurun pada anak. Terlebih jika gen tersebut cukup kuat, sehingga akan mengalahkan gen lainnya yang tidak membawa penyakit. Otomatis saat dilahirkan, kemungkinan besar anak sudah memiliki risiko penyakit keturunan yang dialami oleh orangtuanya.

Ciri Fisik

Bentuk wajah merupakan ciri fisik. Dan kemiripan tersebut memang dipengaruhi oleh genetik dari orangtuanya. DNA itu sendiri menyumbang sebanyak 23 pasang kromosom untuk masing-masing tubuh anak.

Dengan kata lain, ayah dan ibu akan menyumbang masing-masing 23 kromosom, yang akhirnya membentuk 46 buah kromosom total alias 23 pasang kromosom. Untuk itu, tak hanya wajah, mungkin rambut, bentuk kuku, bahkan warna kulit pun merupakan wariasan dari orangtua.

Tinggi Badan

Mengutip dari Genetics Home Reference, para peneliti meyakini bahwa sekitar 80 persen tinggi badan seorang anak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Atau dengan kata lain, tubuh anak bisa tinggi atau pendek yakni karena mewarisi “bakat” dari orangtuanya. Ada berbagai variasi gen yang bertugas untuk menentukan ukuran tinggi badan anak. Itu sebabnya, tentu ada anak yang tubuhnya tinggi semampai, tapi ada juga yang biasa saja atau cenderung pendek. Hal tersebut biasanya akan dengan mudah terjawab ketika melihat postur tubuh orangtuanya.

Dalam arti, fisik tubuh anak yang tinggi sebenarnya diperoleh karena diturunkan dari orangtua dengan fisik yang serupa. Namun, lain lagi ceritanya ketika antar saudara kandung ternyata memiliki tinggi badan yang berbeda. Ini bisa dikarenakan adanya kombinasi gen kedua orangtua yang berbeda, sehingga ukuran tinggi badan antara kakak dan adik biasanya juga tidak sama.

Ukuran Payudara

Bun, tahukah bila ukuran payudara pun diwariskan? Sebuah penelitian yang dimuat dalam BMC Medical Genetics, menemukan bahwa variasi genetik orangtua, khususnya ibu, menentukan ukuran payudara anak perempuannya.

Artinya, anak perempuan yang lahir dari seorang ibu dengan payudara besar, kemungkinan akan memiliki ukuran payudara yang besar pula. Sebaliknya, jika ibu dari anak perempuan memiliki ukuran payudara yang sedang atau bahkan kecil, kemungkinan pertumbuhan ukuran payudara anaknya juga tidak terlalu besar.

Nah, fakta ini didukung dari hasil penelitian dari jurnal Twin Research and and Human Genetics, bahwa sekitar 56 persen besar kemungkinannya ukuran payudara diturunkan dari orangtua ke anak. Hasil tersebut didapat dengan membandingkan ukuran cup bra pada sekitar 16.000 wanita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kesalahan yang Umum Dilakukan Orangtua Saat Menyuapi Anak

baby-baby-eating-chair-973970 (4)

Proses memberikan makan pada si kecil seharusnya menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Hanya saja, sebagai orangtua, ada kalanya Bunda mengabaikan beberapa hal yang akhirnya justru merugikan si kecil. Baik kebiasaan maupun asupan makanan yang diberikan, bisa jadi pemicu si kecil jadi bermasalah dengan kebiasaan makannya kelak. Untuk itu, perhatikan lagi ya Bun apa-apa saja yang sebaiknya tak dilakukan saat menyuapi si kecil.

Anti Makan Berantakan

Saat menyuapi si kecil dan suapan tersebut luber kemana-mana, pasti Bunda segera mencari lap basah dan membersihkannya sesegera mungkin. Rasanya jangan sampai si kecil terlihat kotor karena sisa makanan yang berantakan ke sisi-sisi wajah atau bahkan bajunya. Padahal, kebiasaan ini justru sebaiknya dikurangi. Biarkan si kecil bereksplorasi dengan kondisi ‘kotor’ yang muncul saat ia makan. Ia akan belajar tentang apa yang dikonsumsinya dari situ.

Untuk itu, tak usah khawatir atau takut kotor, justru biarkan si kecil makan sendiri saat usianya sudah cukup mampu untuk memegang sendok sendiri. Di masa-masa eksplorasi, berikan varian menu yang semakin beragam. Sembari mengajarinya tentang makanan, Bunda juga bisa mengajarinya untuk belajar bersih-bersih sendiri setelah makan.

Proses Menyuapi yang Terlalu Lama

Banyak sekali orangtua yang memilih untuk memanjakan buah hati mereka dengan selalu menyuapinya saat makan. Padahal, Bunda disarankan melatih si kecil untuk makan sendiri sejak usia 8-9. Baru kemudian di usia 12 bulan, ia sudah benar-benar memilih untuk makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Jangan takut si kecil justru tak mau makan, bersabarlah dalam membimbingnya dan biarkan si kecil berproses.

Memilih Makanan yang Terlalu Sehat untuknya

Orangtua selalu terperangkap pada pemikiran bahwa bayi dan anak-anak harus diberikan makanan terbaik dan menyehatkan. Di lain sisi, tren makanan sehat pun semakin berkembang, dan menekankan bahwa golongan makanan sehat adalah buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

Padahal makanan tersebut rendah lemak dan lebih cocok untuk orang dewasa yang tengah menjalankan diet sehat. Untuk itu, lebih bijaklah untuk urusan memberikan makanan pada si kecil ya Bun. Di usianya, mereka membutuhkan asupan lemak untuk tumbuh kembangnya.

Membiarkan Si Kecil Menggigit Makanan atau Mengonsumsi Minuman orang Dewasa

Mungkin Bunda sama sekali tak sadar ada beberapa kebiasaan orang dewasa yang justru membahayakan si kecil. Misalnya membiarkan ia menyeruput sedikit kopi atau atau memberikannya sepotong brownies. Padahal, ada bahaya yang mengintai. Kafein, soda, yang mungkin terkandung dalam minuman, akan mengancam kesehatannya.

Serta makanan manis akan membahayakan kesehatan giginya. Bahkan kalau si kecil sudah terlanjur menyukai rasanya, tak menutup kemungkinan ia akan meminta makanan itu lagi. Untuk itu, lebih berhati-hati ya Bun saat memberikan makanan atau snack pada si kecil. Di usianya, tak semua makanan disarankan untuk dikonsumsi. Terutama yang tinggi gula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ajar Si Kecil Agar Ia Semakin Berani Latihan Jalan

active-adorable-baby-1776134

Karena takut jatuh, biasanya bayi enggan untuk memulai latihan berjalan. Tenang Bun, ada beberapa tips yang dapat Bunda manfaatkan untuk mengajari si kecil latihan berjalan dengan aman dan menyenangkan. Apalagi bila usianya sudah menginjak 9 bulan, si kecil pun harusnya mulai latihan berjalan.

Bagaimanapun, kunci utama kesuksesan belajar berjalan adalah kepercayaan diri Si Kecil. Kegagalan saat berlatih, seperti jatuh atau terantuk oleh benda keras, seringkali menurunkan kepercayaan dirinya. Yuk Bun pakai cara ini.

Pastikan Si Kecil Mampu Berdiri dengan Stabil ya Bun

Beri Si Kecil kesempatan berdiri tanpa takut terjatuh dengan menyediakan pegangan. Bun, langkah ini dapat dimulai ketika ia berusia sembilan bulan. Untuk permulaan, ia dapat mencoba berpegangan pada kepala tempat tidur, kemudian ajak ia berdiri di atas matras sambil berpegangan pada meja ketika ia bosan dengan tempat tidurnya. Lakukan latihan ini selama satu jam per hari sampai ia bisa stabil berdiri.

Biarkan Dulu Ia Melangkah dengan Berpegangan

Setelah Si Kecil mampu berdiri dengan stabil, letakkan mainan di atas meja atau kepala tempat tidur, dan minta ia untuk melangkah dan meraihnya. Agar ia tidak langsung terjatuh ke lantai, duduklah di belakangnya dengan kedua kaki Anda menahan Si Kecil ya Bun. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menopangnya ketika ia kehilangan keseimbangan.

Ajaklah Ia Berjalan Sembari Bergandeng Tangan

Nah, baru ketika ia sudah lebih percaya diri dengan kemampuan berjalannya, giliran Bunda melatihnya berjalan dengan menggandeng satu tangannya dan biarkan tangan yang satunya berpegangan pada meja ya Bun.

Di Fase Terakhir, Temani Ia Berjalan Tanpa Berpegangan

Ketika si kecil sudah memiliki keseimbangan yang lebih baik lagi, maka mulailah melatihnya berjalan tanpa berpegangan ya Bun. Bunda dapat mengulurkan tangan Bunda kepadanya sambil berjalan mundur. Teruslah mendorongnya untuk berjalan meraih tangan Bunda. Meski pada fase ini kontrol Bunda semakin sedikit, tetaplah lindungi anak agar kepalanya tidak terbentur ya, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top