Mom Life

Bun, Saat Si Kecil Menolak Tidur Sendiri, Terapkan Metode Ferber Yuk

adult-bed-bedroom-341515

Bun, membiasakan anak untuk tidur sendiri tentu bukan perkara mudah. Anak-anak seringkali merasa takut bila diminta tidur sendirian. Banyak faktor yang membuat si kecil takut. Bisa jadi karena banyak pikiran buruk yang kemudian memicu munculnya rasa takut, sehingga datang pikiran-pikiran yang buruk.

Nah, disinilah tantangan Bunda untuk melatih kemandirian si kecil. Ketakutan yang dialami si kecil membuat banyak orangtua akhirnya mencari cara agar si kecil mau tidur sendiri.

Salah satu buku terkenal yang sering menjadi panduan bagi orangtua tentang bagaimana cara melatih anak tidur sendiri adalah Solve Your Child’s Sleep Problems yang ditulis oleh Richard Ferber, seorang dokter anak. Nah berikut ini beberapa hal yang perlu disimak saat hendak menerapkan Metode Ferber seperti dikutip dari health line.

Lakukanlah Sleep Association atau Asosiasi Tidur

Berdasarkan ungkapan para ahli, asosiasi tidur adalah suatu hal yang dapat membuat anak-anak tidur nyenyak sepanjang hari. Asosiasi tidur ini berkaitan dengan benda atau perilaku yang biasanya digunakan anak saat ia tidur di malam hari. Misalnya saja anak terbiasa memeluk boneka kesayangannya sebelum tidur atau tertidur di dekat Bunda sebelum tidur di dalam ranjang bayinya.

Nah, yang jadi masalah yaitu ketika asosiasi tidur anak berhubungan dengan orangtua atau orang lain. Saat terbangun di malam hari, anak kemungkinan akan merasa kesulitan untuk tidur kembali tanpa adanya peranan dari orang tersebut. Nah, di sinilah latihan dengan metode Ferber akan dimulai.

Secara umum, konsep dasar metode Ferber adalah membuat anak yang mengalami masalah beranjak tidur, bisa menenangkan dirinya sendiri saat rasa kantuk menyerang atau ketika terjaga di malam hari alias “self-soothing”. Pendekatan ini bisa dilakukan dengan cara meninggalkan anak sendirian di ranjangnya saat ia sudah mulai mengantuk.

Nah, saat si kecil menangis, Bunda boleh menenangkannya sejenak dengan interval waktu yang meningkat. Misalnya saja per tiga, lima atau 10 menit dengan waktu “kunjungan” yang singkat yaitu satu atau dua menit saja. Metode Ferber ini akan berhasil bila dilakukan secara konsisten, setidaknya dalam empat malam berturut-turut.

Dari hasil 19 penelitian yang dilakukan pasca pendekatan ini diperkenalkan pada masyarakat, American Academy Sleep Medicine hasilnya terdapat perubahan signifikan. Anak-anak dan bayi cenderung tidak banyak terbangun di malam hari.

Tapi perlu diingat ya Bun, sekalipun metode ini telah terbukti efektif pada banyak anak, namun bisa saja metode ini belum efektif untuk anak yang lain. Kunci dari metode ini pun sejatinya bukan membiarkan si kecil menangis sepanjang malam, namun mengajarkan agar ia tetap merasa aman sekalipun sendirian di kamar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tabungan Habis untuk Lebaran, Haruskah Berhutang untuk Biaya Sekolah Buah Hati?

cash-cent-child-1246954

Tahun ajaran baru tiba, hal ini tentu disambut penuh semangat oleh anak-anak. Tapi belum tentu semangat yang sama menghampiri para orangtua. Bayangkan, tahun ini orangtua harus dihadapkan pada agenda kalau tahun ajaran baru dimulai tak lama setelah libur lebaran.

Tak sedikit dari para orangtua yang tabungannya sudah menipis karena sudah dipakai untuk keperluan lebaran. Lantas andaikata tabungan habis sebelum waktunya, bolehkah orangtua berhutang demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Mengutip detikFinance, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan sejatinya tak masalah orang tua mengambil utang untuk biaya sekolah anak. Asalkan, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya bulanan sekolah si anak.

“Sepanjang memang mereka mampu untuk bayar SPP-nya, karena kan yang lebih penting itu adalah SPP-nya. SPP itu kan nggak cuma di awal doang, sepanjang mereka paham penghasilannya mampu untuk bayar SPP tiap bulan, itu oke-oke saja,” kata Andy.

Biaya bulanan harus menjadi prioritas orangtua mengingat biaya ini harus dikeluarkan untuk jangka waktu panjang. Untuk biaya yang kelihatan berat namun hanya sekali dibayarkan seperti uang pangkal mungkin masih dapat diatasi dengan mengajukan pinjaman, namun untuk SPP tentu ada pertimbangan lain.

Jangan sampai, kata Andy, orang tua mampu membayar biaya masuk sekolah anak dengan harga tinggi, namun tak sanggup untuk membayar biaya bulanan ke depan.

“Jadi itu yang sebenarnpya menurut saya harus lebih diperhatikan oleh para orang tua. Jadi jangan bisa bayar uang pangkalnya doang, tapi ternyata untuk bayar SPP-nya megap-megap, itu kan kasihan anaknya juga kalau nanti di tengah jalan orang tuanya nyerah untuk pindah sekolah,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top