Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Saat Mencuci Pakaian Buah Hati yang Masih Bayi, Usahakan Jangan Cuci Pakai Mesin ya!

pexels-photo-265987

Jadi ibu memang tidak ada sekolahnya. Persiapan mental dan segala hal dilakukan saat dokter mengatakan kalau Bunda memang tengah mengandung. Setidaknya sekitar sembilan bulan, ya selama itulah Bunda harus memaksimalkan waktu untuk belajar jadi ibu yang cerdas.

Nah, perkara cerdas ini bukan hanya soal bagaimana Bunda memberi asupan terbaik bagi si kecil lho. Tapi juga tentang menumbuhkan kebiasaan berlaku higienis dan menerapkannya baik saat si kecil masih dalam kandungan maupun saat ia sudah lahir dan tumbuh di kemudian hari.

Bun, kalau bicara soal higienis, ternyata bukan hanya jaga kebersihan saat nantinya Bunda mengasuh si kecil lho. Justru pola hidup higienis pun juga wajib diterapkan saat Bunda mulai mencuci pakaian si kecil.

Mencuci Pakai Tangan Dianggap Lebih Aman untuk Pakaian Si Kecil

pexels-photo-266004 (1)

Jadi ibu memang penuh pengorbanan. Begadang untuk menenangkan si kecil, kemudian di pagi hingga siang harinya dimanfaatkan untuk merawat si kecil. Nah, soal perawatan untuk si kecil, Bunda perlu tahu satu hal. Saat mencuci pakaian milik buah hati, yang notabene masih berusia beberapa bulan atau belum genap dua tahun, ada baiknya dicuci secara manual saja menggunakan tangan ya Bun.

Sebab kalau pakai mesin cuci, bisa jadi kotoran pada pakaian tidak terangkat secara maksimal. Bahayanya, kalau justru pakaian anak terkontaminasi noda atau aroma yang tak sedap dari dalam mesin cuci.

Usahakan Jangan Mencampur Pakaian Kotor si Kecil dengan Milik Orangtuanya

pexels-photo-325867

Punya bayi berarti Bunda harus ekstra hati-hati. termasuk urusan mencuci pakaian. Tolong hindari mencuci pakaian si kecil  bareng dengan baju milik orangtuanya ya. Sebab ketakutannya ya serupa kalau Bunda mencucinya di mesin cuci.

Baju si kecil akan terkontaminasi dengan zat yang mungkin membahayakan kulitnya dan memperbesar risiko iritasi kalau zat berbahaya tersebut terlanjur menempel pada baju milik buah hati Anda. Untuk itu, sebisa mungkin cuci pakaian si kecil secara terpisah saja ya Bun.

Saat Mencuci Pakaian Milik Si Kecil, Gunakan Sabun Atau Detergen yang Ramah Anak dan Lingkungan ya Bun

pexels-photo-265987

Bunda, urusan sabun detergen pun ternyata tak bisa asal-asalan lho. Keberadaan sabun yang satu ini memang penting. Terutama untuk urusan mencuci pakaian, bukan? Hanya saja, banyak dari kita yang terlalu cuek untuk soal memilih detergen.

Ah, pakai produk A saja, atau produk B saja, karena memang bertahun-tahun sudah terbiasa pakai produk tersebut. Ya, memang sih Bun, tapi kan Bunda memakainya sebelum melahirkan si kecil. Sekarang ini sudah ada si kecil, urusan detergen pun Bunda harus bijak, janagan sampai salah pilih.

Kenapa demikian? Berdasarkan paparan dari dr Natia Anjasari, SpA dari Brawijaya Women and Children Hospital, di Jakarta, Senin (23/7) dalam acara talkshow bersama Sleek Baby, yang namanya sabun deterjen itu kandungan bahan kimianya sangat banyak.

Kalau zat tersebut menempel pada pakaian Bunda, kemudian tak sengaja terhirup atau tercium oleh si kecil, bisa ada efek sampingnya lho Bun. Bukannya menakut-nakuti, tapi akan lebih baik kalau Bunda lebih selektif untuk urusan detergen yang sekiranya bahannya ramah anak ya Bun.

Bunda Harus Cepat Tanggap Juga Urusan Ganti Popok

brothers-family-siblings-boys-50692

Di samping urusan mencuci pakaian, banyak lho Bunda yang masih sering menyepelekan soal urusan ganti popok. Ada yang beralasan menunggu ‘penuh’ atau mengatakan kalau popoknya belum lama dipakai. Padahal Bun, kulit si kecil itu masih sangat sensitif.

Bunda tidak boleh membiarkan kulitnya terutama di area bokong terpapar terlalu lama dengan air seni atau bahkan kotoran si kecil yang tertampung di popok. Sebab kalau didiamkan yang ada justru akan memperbesar peluang iritasi pada kulit si kecil.

Terakhir, Demi Kebaikan dan Kesehatan si Kecil, Yuk Biasakan untuk Menerapkan Pola Hidup Higienis yang Bisa Dimulai dengan Rutin Mencuci Tangan

pexels-photo-266061

Ini Bun, soal higienis juga jangan sampai disepelekan ya. Sebagai Bunda, hal paling mudah dan murah untuk urusan menerapkan pola hidup higienis adalah dengan rutin mencuci tangan. Yuk Bun, sebelum melakukan aktivitas apapun, sempatkan cuci tangan terlebih dahulu agar tak membahayakan kesehatan si kecil saat kita sedang kontak langsung entah saat mau menyusui, bermain, atau bahkan menyuapi.

Mencuci tangan tak sulit kan Bun? Kalau dari Bundanya sudah rutin cuci tangan, kelak si kecil pasti akan mengikuti cara hidup Bunda. Ke depannya, aktivitas semacam ini baik untuk pola hidupnya juga, bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Demi Mengantisipasi Hamil Anggur, Kenali Gejalanya ya, Bun

pexels-photo-806835

Kendati istilah ‘hamil anggur’ terdengar bagus, nyatanya kondisi ini sejatinya tak sebagus namanya lho, Bun. Saat ada teman atau mungkin Bunda sendiri tengah didiagnosis hamil anggur, maka itu bukan pertanda yang baik. Bunda perlu tahu, hamil anggur merupakan kehamilan yang sejatinya terjadi secara tidak normal.

Saat hamil anggur terjadi, yang terdapat di dalam rahim bukanlah janin seperti yang mungkin Bunda lihat saat USG kehamilan. Melainkan gelembung darah. Nah, penyebab hamil anggur salah satunya dipicu pertumbuhan plasenta yang abnormal.

pexels-photo-618923 (1)

Sementara itu, mengutip dari Mayo Clinic, sejatinya ada dua jenis hamil anggur yang bisa dikenali. Yaitu parsial dan komplet. Pada kehamilan anggur parsial, ada jaringan plasenta normal namun diiringi pembentukan jaringan plasenta yang abnormal. Saat itu terjadi, tak menutup kemungkinan ada pembentukan janin, hanya saja janin tak mampu  bertahan hidup sehingga ibu hamil pun mengalami keguguran.

Nah, sementara untuk kehamilan anggur yang komplet, jaringan plasenta biasanya diketahui abnormal dan bengkak bahkan membentuk kista berisi cairan. Selain itu di dalamnya tak ada pembentukan jaringan janin. Hamil anggur umumnya terjadi pada perempuan yang berumur lebih dari usia 35 tahun atau lebih muda dari usia 20 tahun. Di lain sisi, Bunda sebaiknya perlu mengenali gejala hamil anggur, ya. Diantaranya:

  1. Pendarahan pada vagina dalam 3 bulan pertama kehamilan.
  2. Terlihat gelembung-gelembung cairan seperti kumpulan buah anggur.
  3. Mual dan muntah yang lebih parah daripada kehamilan normal.
  4. Banyak tekanan atau rasa sakit di panggul.

Biasanya dokter akan tahu ibu hamil mengalami hamil anggur dengan pemeriksaan human chorionic gonadotropin (HCG) ataupun USG. Saat Bunda sedang hamil, kadar hormon human chorionic gonadotropin (HCG) meningkat. Nah, perempuan yang mengalami hamil anggur, kadar HCG-nya lebih tinggi dari biasanya.

pexels-photo-909689 (1)

Apabila seorang ibu diketahui mengalami hamil anggur, biasanya disarankan untuk melakukan kuret. Setelah itu kalau memang berencana hamil, ada baiknya konsultasi ke dokter dulu ya, Bun.

Jika seorang ibu diketahui mengalami hamil anggur, biasanya disarankan untuk dikuret. Setelah itu, jika berencana untuk hamil, ada baiknya berkonsultasi dulu dengan dokter. Dokter umumnya merekomendasikan untuk menanti selama enam hingga dua belas bulan sebelum Bunda mencoba untuk hamil lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ajak Si Kecil Mau Merawat dan Mencintai Giginya yuk, Bun!

girl-rabbit-friendship-love-160933

Sebagai orangtua, Bunda pasti tak mau si kecil mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Tumbuh kembangnya harus berjalan dengan baik. Termasuk urusan menjaga kesehatan. Makanan yang diasupnya harus bergizi seimbang, kebutuhan ASI-nya pun harus terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, mengasuh si kecil bukan hanya soal membesarkannya lho, Bun. Ada hal-hal lain berupa pembelajaran yang harus Bunda ajarkan padanya. Salah satunya perkara merawat gigi.

Mengenalkan cara hidup higienis pun bisa dilakukan dengan membiasakan si kecil untuk rutin menyikat gigi dan mencuci tangan. Hanya saja, banyak ibu muda yang sering melewatkan sikat gigi dengan alasan gigi si kecil masih cukup bersih. Padahal, yang namanya kuman pasti tak terlihat oleh mata ‘kan, Bun? Di lain sisi, menjaga kesehatan gigi ternyata bisa dimulai dari Bunda yang peduli perihal asupan makanannya.

Kenalkan Menu Makanan Sehat dan Ajak Si Kecil Suka dengan Sayuran

pexels-photo-1073776

Peneliti Duke University mengatakan, konsumsi junk food ternyata bisa jadi penyebab kesehatan gigi pada si kecil jadi menurun. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang terbiasa tidak rajin menyikat gigi, mengonsumsi permen, soda, dan karbohidrat dalam jumlah yang tidak dibatasi akan membuat giginya cepat rusak. Karenanya, penting sekali mengubah gaya hidup semacam ini. Bunda tak mau ‘kan, gigi si kecil rusak karena Bunda kurang telaten mengajari cara hidup sehat padanya? Mulai dari sekarang, dibanding mengajaknya makan makanan cepat saji, lebih baik Bunda lebih rutin mengenalkan sayuran dan buah-buahan.

Jangan Biarkan Si Kecil Merasa Tertekan dalam Kesehariannya

pexels-photo-1118429

Bila si kecil tertekan, hal ini akan membuatnya mengalami fase bruxism, atau lebih sering disebut ‘gertak gigi’. Peneliti mengungkapkan, anak-anak yang lebih sering menggertakkan gigi justru lebih sukar bersosialisasi saat di sekolah. Penyebabnya mungkin beragam dan Bunda tak menyadarinya. Keseringan gertak gigi bisa memicu kerusakan pada giginya, lho. Untuk itu, sebisa mungkin ciptakan suasana yang nyaman ya, Bun. Biarkan si kecil memiliki waktu tidur yang teratur dan nyaman. Jangan lupa, seringlah berinteraksi dengannya supaya Bunda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si kecil.

Berikan Minuman yang Cukup Padanya Setiap Hari

girl-rabbit-friendship-love-160933

Jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi, Bun! Sebab yang namanya dehidrasi bisa jadi pemicu masalah kebersihan mulut pada si kecil. Kuman akan mudah berdatangan dan bukan tak mungkin nantinya mulut dan gigi si kecil yang jadi korbannya. Untuk itu, demi mencegah agar hal semacam ini tak terjadi, ajaklah si kecil rutin menyikat gigi dan jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi. Buatlah jadwal atau pengingat rutin yang bisa Bunda pakai untuk mengingatkan jam minum si kecil setiap harinya.

Jangan Membuatnya Takut pada Dokter Gigi seperti Anak Kecil Kebanyakan

pexels-photo-122101

Jangan membuat si kecil merasa takut dengan dokter gigi, Bun! Justru yang baik adalah membuatnya selalu mau dan nyaman kalau diajak periksa gigi secara rutin. Dengan melunakkan hati si kecil, hal ini akan lebih membantu Bunda untuk urusan menjaga kesehatan mulut dan gigi, bukan? Untuk itu, berhentilah menakut-nakuti kalau dokter gigi itu galak.

Ajaklah Si Kecil Menyikat Gigi secara Rutin

pexels-photo-298611

Carilah tips yang tepat agar membuat aktivitas menyikat gigi itu menyenangkan. Mungkin dengan memilih sikat gigi yang lucu sesuai karakter kesukaannya, menceritakan cerita favoritnya selama menyikat gigi, atau mungkin biasakan menyikat gigi dengan anggota keluarga lainnya. Saat mereka merasa nyaman dan melihat sikat gigi sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan, maka mereka pun akan terbiasa lho, Bun. Bahkan tidurnya akan jauh lebih nyenyak setelah menyikat gigi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Terbiasa Bilang ‘Hati-hati’ ke Anak Justru Bisa Mengekang Kebebasan Si Kecil Lho, Bun

pexels-photo-1089077

“Mainnya jangan jauh-jauh ya Nak. Hati-hati.”

Sebagai orangtua pasti Bunda sering berpesan demikian. Terutama kalau si kecil minta izin pergi bermain bersama teman-temannya. Tapi coba ingat lagi, sepertinya frasa ‘hati-hati’ tak hanya diucapkan saat si kecil di luar pengawasan Bunda. Bahkan kalau mungkin Bunda berada di dekatnya, sering lho terucap lagi kata ‘hati-hati’ itu. Mungkin sebagai orangtua, Bunda hanya takut si kecil kenapa-napa. Sampai-sampai saat buah hati Bunda sedang berlarian, main bersama teman, atau belajar menggunting kertas, reaksi pertama Bunda adalah menegaskan kata “Hati-hati ya, Nak.”

Bun, sebagai protektor bagi buah hatinya, justru ada baiknya untuk belajar mengurangi melontarkan kalimat hati-hati. Bukannya melarang, hanya saja kalau terlalu sering diucapkan kepada si kecil, dampaknya pun tak terlalu baik lho Bun, salah satunya ya si kecil jadi merasa tertekan dan dikekang.

Memberi Peringatan ‘Hati-hati’ pada Si Kecil Ternyata Bukan Kebiasaan yang Terlalu Baik

pexels-photo-69100

Sejak anak masih kecil, belum bisa bicara bahkan berjalan, semua aktivitasnya tentu dalam pengawasan orangtuanya. Tapi saat ketika bayi itu beranjak jadi anak-anak, Bunda perlu sadari kalau setiap anak yang tumbuh pun butuh kebebasan lho, Bun. Lantaran aktivitasnya bertambah, orangtua pun jadi tak bisa terus-terusan memantau aktivitas si kecil.

Tapi, bukan berarti orangtua jadi tak bisa apa-apa. Memberikan pesan atau nasehat perihal mana yang baik dan benar, jauh lebih baik dibanding menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau melontarkan peringatan. Cukup katakan saja misalnya kalau jalan di sebelah kiri. Atau kalau ada di jalan raya, jangan berlarian. Kalau memang perlu menyebrang, carilah zebra cross.

Ucapan ‘Hati-hati’ Jangan Hanya Diucapkan Tanpa Makna

pexels-photo-122101

Memang selalu ada alasan kenapa orangtua meminta anaknya untuk berhati-hati. Sejak masih kecil, baik dari kita maupun saat kita sudah jadi orangtua, nasehat semacam itu sudah sering terdengar. Orangtua tak ingin anaknya celaka atau terjebak di situasi yang berbahaya. Untuk itu, demi menciptakan suasana yang aman, banyak orangtua yang akhirnya memilih untuk membatasi gerak-gerik si kecil. Dan pada akhirnya, kata ‘hati-hati’ pun jadi sering terlontar.

Sebab ya Begitu, Kalau Terlalu Sering, Ungkapan ini Malah Kehilangan Arti

pexels-photo-424441

Tapi Bunda sering tak sadar, apa yang Bunda ungkapkan, apalagi soal kata ‘hati-hati’, mungkin si kecil mengiyakan atau mengangguk saat Bunda mengucapkan hal tersebut. Hanya saja, tak menutup kemungkinan kalau si kecil sebenarnya belum terlalu paham makna kata tersebut.

“Hati-hati yang seperti apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus berhati-hati? Apa jangan-jangan setiap benda di sekitarku memang berbahaya?” Mungkin kalimat tersebut yang akan digumamkan anak Bunda. Mereka terbiasa menerima peringatan ‘hati-hati’ tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut soal makna kata tersebut. Bahkan karena terlalu sering mendengar peringatan tersebut, yang ada si kecil jadi tumbuh jadi anak yang takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa ada risiko yang menghantui sehingga lebih memilih untuk mengamati saja dan tidak berani mencobanya.

Untuk Itu, Cobalah untuk Membimbing dan Mendampinginya, Bukan Memperingatkannya

pexels-photo-1089077

Menjadi orangtua yang bisa membimbing dan mendampingi itu menyenangkan lho, Bun. Bunda akan membuat si kecil nyaman dalam melakukan hal apa pun. Mereka jadi tak punya ketakutan tertentu hanya karena memikirkan peringatan orangtuanya yang seringkali berlebihan. Untuk itu, saat memiliki buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan, belajar jadi orangtua yang bijak akan jauh lebih baik dibanding mendikte dan melarang si kecil melakukan ini-itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top