Parenting

Bun, Lakukan Hal Ini yuk Kalau Si Kecil Kecanduan Nonton YouTube

pexels-photo-821948

Mulai banyak orangtua yang mengeluhkan buah hatinya kecanduan nonton video di YouTube nih, Bun. Berawal dari memberi kemudahan akses untuk buah hati, akhirnya hasrat si kecil yang sudah terlanjur senang menonton film kartun, tutorial game, hingga video menarik lainnya pun jadi sukar dikendalikan. YouTube bak pisau bermata dua. Alih-alih menonton hiburan bagi buah hati, si kecil justru bisa saja sewaktu-waktu menonton konten berbahaya jika tak diawasi.

Sementara untuk orangtua pekerja, pasti rasanya sulit jika harus mengontrol anak-anak melihat video di YouTube setiap harinya. Apalagi, saat anak sudah beranjak besar, pasti mereka risih jika harus didampingi Bunda dan Ayah terus menerus. Tapi bagaimanapun situasinya, apabila si kecil sudah kecanduan YouTube, hal tersebut harus diatasi lho Bun.

Mengutip Yahoo, melihat video berlebihan dapat menyebabkan anak mengalami insomnia, gangguan konsetrasi, kegagalan berinteraksi sosial di dunia nyata, dan obesitas. Centers for Disease Control and Prevention menyebut, lebih dari sepertiga anak Amerika di bawah 19 tahun, mengalami kelebihan berat badan karena tidak melakukan cukup aktivitas fisik.

Bahkan para  ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa video yang memicu rasa takut akan memengaruhi perkembangan otak anak-anak. Donna Volpitta, Ed.D, pendiri Center for Resilient Leadership, mengungkap jika menonton video yang memicu rasa takut dapat menyebabkan otak menerima sedikit dopamin. Dopamin diproduksi di dalam tubuh untuk mendorong penguatan, dan menciptakan keinginan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang.

“Anak-anak yang berulang kali mengalami emosi penuh tekanan atau ketakutan, mungkin kurang mengembangkan bagian korteks prefrontal otak dan lobus frontal mereka, bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif, seperti membuat pilihan sadar dan perencanaan ke depan,” kata Donna.

Selama lima tahun terakhir, bahkan terjadi peningkatan kasus anak-anak yang menderita kecemasan akibat menonton video YouTube. Bahkan para peneliti melihat kecenderungan anak-anak jadi kehilangan nafsu makan, sulit tidur, menangis dan ketakutan. Melihat adanya dampak negatif setelah menonton YouTube, maka American Academy of Pediatrics pun menyarankan agar orangtua membatasi tontonan anak-anak.

Terlebih untuk usia di bawah 18 bulan, disarankan untuk  menghindari media berbasis layar kecuali video-chatting ya Bun. Tunggu buah hati sampai usianya cukup. Sedangkan umur 18 hingga 24 bulan, kalau Bunda sudah mengizinkan mereka menonton tayangan video, maka harus dengan pendampingan orang tua sehingga mereka menonton konten berkualitas tinggi.

Sementara anak berusia 2 – 5 tahun, si kecil boleh saja diizinkan menonton video, namun harus tetap dipilihkan orangtuanya selama satu jam perhari ya Bun. Sedangkan yang berusia 6 tahun ke atas, harus menerima batasan yang konsisten pada penggunaan media. Tetap prioritaskan tidur dan kegiatan fisik daripada menonton Youtube.

Jika Bunda dan Ayah tidak segera mengambil tindakan, dapat menyebabkan anak rentan mengalami perubahan suasana hati. Mereka akan lebih mudah menangis, bersedih, mengeluh, dan mengekspresikan ketakutan. Selain itu, si kecil juga cenderung menarik diri dari aktivitas sosial.

Jika anak susah dipisahkan dari YouTube, sebaiknya segera buat perjanjian dengan mereka. Ajak anak bicara, dan buat panduan melihat YouTube. Bahkan kalau perlu membuat kesepakatan, tulis saja Bun, sehingga anak tidak akan mendebat apa yang telah disetujui. Taktik lain yang bisa Bunda dan Ayah terapkan adalah mengatur waktu dan ruang dalam menggunakan gadget. Misal, saat makan dilarang menyentuh ponsel. Atau, tidak boleh membawa masuk gadget ke dalam kamar tidur anak-anak.

Paling penting adalah mengontrol diri sendiri. Bunda dan Ayah jangan bermain gadget di depan anak, kalau ingin mereka sembuh dari kecanduan nonton.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cerita Donna Agnesia Urus Tiga Buah Hati yang Beranjak Remaja

donna

Bun, sebagai seorang ibu, tentu kita punya tantangan masing-masing dalam menjalankan peran ya. Nah, hal ini juga yang dirasakan oleh Donna Agnesia. Perempuan yang menikah dengan Darius Sinathrya ini dikaruniai tiga orang anak yaitu Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya.

Sebagai wanita karier sekaligus ibu dengan tiga anak, Donna pun dituntut untuk dapat membagi waktu. Bagi Donna, salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu bekerja adalah memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, meskipun tak bisa mendampingi selama 24 jam.

“Saya pergi keluar rumah, saya pastikan anak-anak di rumah kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak pernah kehilangan kasih sayang, walaupun papa mamanya sibuk bekerja,” kata Donna Agnesia seperti dikutip dari Kumparan, Selasa (25/6).

Donna mengatakan seorang ibu harus bisa menguasai banyak hal. Bukan hanya pintar mengatur keuangan dan anak, tapi juga bisa melihat bakat dan masa depan anak-anaknya.

“Aku juga masih belajar terus jadi ibu yang sempurna, paling enggak buat anak-anak saya dan oh ya, happy mom, happy life. Happy mom, happy kids,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, sosok seorang ibu pun harus mampu menjadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ayah untuk anak-anaknya. Ia pernah merasakan peran sebagai ayah ketika Darius meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama.

Kendati demikian, tanggung jawab untuk mengurus buah hati bukan hanya ada di tangan ibu saja. Kehadiran ayah juga penting untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

“Saya bilang ke Darius, ‘kita punya dua anak laki-laki, tapi di rumah isinya perempuan semua, butuh figur laki-laki. Jadi, kalau kamu lagi punya waktu di rumah manfaatkanlah itu untuk quality time sama anak-anak’,” ujar Donna.

Darius pun selalu menanamkan cara menjadi laki-laki yang baik kepada anak-anaknya ketika mereka sedang berkumpul bersama.

“Supaya anak bisa jadi laki-laki yang baik dan membangun keluarga, enggak bisa salah satu. Anak-anak bahagia itu, kalau melihat orang tuanya akur, rukun, gitu kan anak-anak jadi rasakan di keluarga,” tutup Donna Agnesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tips Me Time untuk Ibu Muda Ala Cynthia Riza

cynthia rizaa

Sebagai seorang ibu, ada baiknya Bunda tak hanya bekerja, tapi juga merawat diri sendiri atau melakukan self-care. Setelah bekerja seharian, entah di kantor atau merapikan rumah, maka Bunda punya hak istimewa yaitu melakoni me time guna relaksasi atau membuat seorang ibu jadi lebih percaya diri. Nah, salah satu ibu muda yang selalu menyediakan waktu untuk me time yakni Cynthia Riza, influencer sekaligus istri Giring Ganesha.

Cynthia bercerita setiap hari ia bangun setidaknya 1 jam sebelum suami dan anak-anaknya. Tujuannya, agar ia punya quality time untuk diri sendiri di pagi hari.

“Aku bangun jam 5 setiap hari. Biasanya aku siapin sarapan dulu, keperluan sekolah anak setelah semua beres baru aku mandi, pakai make-up, bangunin suami deh. Jadi aku bangunin suami udah cantik dan wangi. Merawat diri di pagi hari itu penting buat bikin mood enak sepanjang hari,” papar Cynthia.

Tak hanya di pagi hari, Cynthia juga meluangkan waktu untuk “mandi mewah” setiap sore. Yang dimaksud mandi mewah adalah mandi tanpa diteriaki anak sehingga ia tak perlu buru-buru. Tentu momen seperti itu langka ya, Moms, bagi para ibu. Namun karena dukungan suami dan anak-anaknya, Cyntia bisa menikmati mandi mewah ini setiap sore.

“Setiap hari aku butuh quality time di mandi sore aku. Anak-anak sudah tahu, kalau mama mandi sore, butuh 15 menit minimal, jangan diganggu dulu. Biasanya aku mandi sambil dengerin musik, nyanyi lagu kesukaan, kadang juga luluran. Keluar juga, sudah happy lagi,” cerita Cyntia.

Selain itu, Giring juga mendukung Cyntia untuk merawat diri dengan memberinya waktu untuk ke salon. Dalam seminggu, ia bisa 2-3 kali pergi ke salon. Cynthia mengaku kegiatan self-care ini membuatnya lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

KPAI Ungkapkan Keuntungan PPDB dengan Sistem Zonasi Nih Bun

children-close-up-crowd-764681

Tahukah Bunda, sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ternyata masih menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Kalau Bunda melihat dan membaca berita, masih banyak bahkan ratusan orang tua rela antre untuk mendaftarkan anaknya di sekolah pilihan. Lalu, ada pula yang melakukan protes lantaran anaknya dirasa pintar namun tak bisa melanjutkan pendidikan di sekolah unggulan.

Mengenai polemik sistem zonasi ini, ternyata KPAI punya pandangannya tersendiri. Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia bidang pendidikan, Retno Listyarti justru akan ada beberapa keuntungan yang dirasakan betul oleh anak lewat sistem zonasi PPDB 2019.

“Kami dari KPAI menilai bahwa mendekatkan anak dari rumah ke sekolah adalah kepentingan terbaik bagi anak. Sebagaimana amanat pada undang-undang perlindungan anak. Bayangkan anak yang rumahnya dekat, dia sehat enggak perlu naik kendaraan, cukup jalan kaki atau sepeda,” ujarnya kepada awak media, Rabu (19/6/2019).

Anak-anak Diharapkan Jadi Lebih Sehat

Anak-anak khususnya yang ada di Jakarta terbiasa berangkat ke sekolah sejak pagi hari sebelum jam enam. Untuk yang rumahnya jauh dari sekolah, hal ini membuat anak-anak melewatkan momen sarapan. Padahal, kalau bisa bersekolah di sekolah yang dekat rumah, kesehatan anak akan jauh lebih baik karena mereka jadi lebih sempat sarapan. Dengan jarak ke sekolah yang dekat, makanan siang bisa diantar orang rumah. Dari masalah gizi, kesehatan pencernaan bisa teratasi.

“Ketiga, anak ini karena dekat rumahnya dengan sekolah. Maka temannya di sekolah sama dengan teman mainnya di rumah. Kenal orang tuanya, keluarganya, ini akan menutup akses terkait dengan tawuran. Semuanya kenal, enggak mugkin tawuran. Ini kan baik dengan anak-anak,” kata Retno.

Sistem Zonasi Dianggap Mampu Menurunkan Angka Kekerasan

Retno melanjutkan, karena dekat dengan sekolah, jadi orang tua bisa terlibat dan memantau beragam kegiatan anak. Bahkan lebih jauh lagi, sistem zonasi dapat menurunkan angka kekerasan dalam pendidikan termasuk tawuran yang rentan meresahkan.

“Ketika mereka bergaul dengan teman yang diketahui sejak kecil. Bagus untuk tumbuh kembang anak. Apalagi kan anak SD, ngapain sih jauh-jauh sekolah? Kalau SMA, taruhlah di tempat yang agak jauh misalnya, mungkin pilihannya bisa lebih. Kalau SMA, mungkin dia mau lebih jauh, pergaulan yang luas. Ini orang tua mempermasalahkan nanti anaknya kurang pergaulan. Padahal sekarang semuanya lewat gadget, enggak terbatas ruang dan waktu,” tutur Retno.

Orangtua Pun Dapat Mengawasi Anak

KPAI memandang ini lebih penting bagi tumbuh kembang anak terutama anak SD. Sekarang kalau kita lihat yang anak SD, Bun, pasti semuanya dijemput dengan mobil, motor karena sekolahnya jauh. Jika dekat rumah, menurut Retno, kita sebagai orang tua bisa awasi anak.

“Semua hal yang membahayakan anak bisa kita minimalkan. Saat anak SMA atau SMK, misalnya pakai zonasi, mau lebih jauh, kita bisa lepas. Enggak ada syaratnya kalau SD. KPAI sepakat dengan sistem zonasi. Kita harus bersabar saat ini, hasilnya belum kelihatan karena baru mulai. Tapi perlahan akan mulai kelihatan contohnya di Kota Bekasi, di sana sudah membuka tujuh sekolah baru,” ujar Retno.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top