Parenting

Bun, Lakukan Hal Ini yuk Kalau Si Kecil Kecanduan Nonton YouTube

pexels-photo-821948

Mulai banyak orangtua yang mengeluhkan buah hatinya kecanduan nonton video di YouTube nih, Bun. Berawal dari memberi kemudahan akses untuk buah hati, akhirnya hasrat si kecil yang sudah terlanjur senang menonton film kartun, tutorial game, hingga video menarik lainnya pun jadi sukar dikendalikan. YouTube bak pisau bermata dua. Alih-alih menonton hiburan bagi buah hati, si kecil justru bisa saja sewaktu-waktu menonton konten berbahaya jika tak diawasi.

Sementara untuk orangtua pekerja, pasti rasanya sulit jika harus mengontrol anak-anak melihat video di YouTube setiap harinya. Apalagi, saat anak sudah beranjak besar, pasti mereka risih jika harus didampingi Bunda dan Ayah terus menerus. Tapi bagaimanapun situasinya, apabila si kecil sudah kecanduan YouTube, hal tersebut harus diatasi lho Bun.

Mengutip Yahoo, melihat video berlebihan dapat menyebabkan anak mengalami insomnia, gangguan konsetrasi, kegagalan berinteraksi sosial di dunia nyata, dan obesitas. Centers for Disease Control and Prevention menyebut, lebih dari sepertiga anak Amerika di bawah 19 tahun, mengalami kelebihan berat badan karena tidak melakukan cukup aktivitas fisik.

Bahkan para  ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa video yang memicu rasa takut akan memengaruhi perkembangan otak anak-anak. Donna Volpitta, Ed.D, pendiri Center for Resilient Leadership, mengungkap jika menonton video yang memicu rasa takut dapat menyebabkan otak menerima sedikit dopamin. Dopamin diproduksi di dalam tubuh untuk mendorong penguatan, dan menciptakan keinginan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang.

“Anak-anak yang berulang kali mengalami emosi penuh tekanan atau ketakutan, mungkin kurang mengembangkan bagian korteks prefrontal otak dan lobus frontal mereka, bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif, seperti membuat pilihan sadar dan perencanaan ke depan,” kata Donna.

Selama lima tahun terakhir, bahkan terjadi peningkatan kasus anak-anak yang menderita kecemasan akibat menonton video YouTube. Bahkan para peneliti melihat kecenderungan anak-anak jadi kehilangan nafsu makan, sulit tidur, menangis dan ketakutan. Melihat adanya dampak negatif setelah menonton YouTube, maka American Academy of Pediatrics pun menyarankan agar orangtua membatasi tontonan anak-anak.

Terlebih untuk usia di bawah 18 bulan, disarankan untuk  menghindari media berbasis layar kecuali video-chatting ya Bun. Tunggu buah hati sampai usianya cukup. Sedangkan umur 18 hingga 24 bulan, kalau Bunda sudah mengizinkan mereka menonton tayangan video, maka harus dengan pendampingan orang tua sehingga mereka menonton konten berkualitas tinggi.

Sementara anak berusia 2 – 5 tahun, si kecil boleh saja diizinkan menonton video, namun harus tetap dipilihkan orangtuanya selama satu jam perhari ya Bun. Sedangkan yang berusia 6 tahun ke atas, harus menerima batasan yang konsisten pada penggunaan media. Tetap prioritaskan tidur dan kegiatan fisik daripada menonton Youtube.

Jika Bunda dan Ayah tidak segera mengambil tindakan, dapat menyebabkan anak rentan mengalami perubahan suasana hati. Mereka akan lebih mudah menangis, bersedih, mengeluh, dan mengekspresikan ketakutan. Selain itu, si kecil juga cenderung menarik diri dari aktivitas sosial.

Jika anak susah dipisahkan dari YouTube, sebaiknya segera buat perjanjian dengan mereka. Ajak anak bicara, dan buat panduan melihat YouTube. Bahkan kalau perlu membuat kesepakatan, tulis saja Bun, sehingga anak tidak akan mendebat apa yang telah disetujui. Taktik lain yang bisa Bunda dan Ayah terapkan adalah mengatur waktu dan ruang dalam menggunakan gadget. Misal, saat makan dilarang menyentuh ponsel. Atau, tidak boleh membawa masuk gadget ke dalam kamar tidur anak-anak.

Paling penting adalah mengontrol diri sendiri. Bunda dan Ayah jangan bermain gadget di depan anak, kalau ingin mereka sembuh dari kecanduan nonton.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Sesibuk Apapun, Lebih Baik Jangan Berikan ASI Lewat Dot ya Bun

dot

Sebagian Bunda, terutama untuk Bunda yang bekerja, mungkin mungkin sering memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan menggunakan dot. Hati-hati Bun, ternyata hal ini ada dampaknya lho. Menurut konselor laktasi, dr Ameetha Drupadi CIMI, memberikan susu atau ASI perah pada bayi dengan dot kurang baik. Si kecil bisa mengalami situasi bingung puting karena tak bisa membedakan mana puting ibunya dan mana dot dari botol susu.

Saat bayi mengalami bingung puting, yang terjadi justru si kecil akan terbiasa dengan dot nantinya. Efek jangka panjangnya dapat merusak momen menyusui, bahkan ASI bisa tidak keluar, karena anak tidak mau menyedot dari puting ibunya.

“Penggunaan dot itu merusak menyusui, karena akhirnya dia nyaman sama botol, bukan sama ibunya. Padahal seharusnya kan sama Ibunya,” kata dr Ameetha. Ia menyarankan supaya media dot diganti dengan media lainnya seperti gelas, sloki, atau sendok saja Bun. Sementara untuk ibu yang tidak bekerja sebaiknya langsung menyusui saja tanpa perlu memerah ASI.

Ketua Asosiasi Konsultan Laktasi Internasional Indonesia (AKLII), dr Asti Praborini pun mengatakan hal serupa. Menurutnya, pemberian ASI perah memang tidak boleh menggunakan dot. Hal ini, karena dapat menyebabkan masalah menyusui, masalah pada Ibu, maupun masalah pada bayi.

“Penggunaan dot atau empeng dapat menimbulkan bingung puting, yaitu bayi tidak mau menyusu lagi ke payudara ibu karena mekanisme hisapan yang berbeda antara mengisap dot dan memerah payudara. Hal ini juga yang menyebabkan produksi ASI ibu lambat laun akan menurun akibat tidak efektifnya isapan bayi ke payudara setelah bayi mengenal dot,” kata dr Asti seperti dikutip detik.com.

Ia juga menjelaskan kalau bahwa dot juga sangat rentan akan kontaminasi. Karet pada dot, bisa jadi media tumbuhnya kuman. Di lain sisi, banyak zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari. Kalau sampai terakumulasi dalam tubuh bayi, yang ada justru memicu menurunnya daya tahan tubuh bayi dan bayi rentan terkena infeksi penyakit, walaupun dot berisi ASI lho Bun.

Mengutip haibunda.com, dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan gelas atau sendok. Anak yang terlanjur mengenal dot juga akan sulit disapih dari dot saat beranjak besar, sehingga akan memengaruhi sisi psikologisnya bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 tahun, terlebih jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan memengaruhi kemandirian dan pengambilan keputusan sang anak di masa depan.

Khususnya untuk ibu yang bekerja, pergilah ke klinik laktasi untuk diajarkan manajemen laktasi ya Bun. Di sana Bunda akan diberi informasi mengenai perah ASI, penyimpanan dan penyajian ASI perah, ASI perah segar, pemberian dengan gelas, dan semua tips agar tetap lancar menyusui walaupun ibu bekerja. Pengasuh pun akan diajarkan untuk melakukan pemberian ASI perah pada bayi dengan gelas.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Saat Anak Tantrum, Jangan Memaksanya untuk Berhenti Saat Itu Juga ya Bun

test

Bun, balita cenderung egosentris. Banyak hal yang diinginkannya. Kondisi ini pun dibarengi dengan kemampuan bahasanya yang ekspresif. Di lain sisi, dunianya pun penuh dengan eksplorasi. Ia selalu mau belajar dengan melakukan banyak observasi.

Tapi disaat seperti itu, ketika keinginan orangtua untuk menjaga keamanan anak berbenturan dengan usaha anak untuk mandiri dan kemampuan bahasanya yang terbatas biasanya  hampir tidak bisa dihindari. Akhirnya si kecil pun tantrum. Tapi Bun, ternyata tantrum itu penting lho untuk kesehatan emosional si kecil.

Yup, tantrum pada anak jadi bagian penting untuk kesehatan emosionalnya, dan kita bisa belajar untuk jadi lebih tenang ketika menghadapinya. Berikut ini alasan kenapa tantrum penting bagi batita:

Lebih Baik Diekspresikan Daripada Dipendam

Bun, air mata mengandung kortisol, yang merupakan hormon stres. Nah, saat kita menangis, sejatinya kita melepaskan stres dari tubuh. Air mata diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kondisi emosi. Bunda a bisa lihat ketika si kecil tantrum, tak ada yang benar menurutnya.

Ia marah, frustrasi, atau merajuk. Tapi setelah tantrum berlalu, ia berada di mood yang jauh lebih baik. Sebaiknya orangtua membiarkan anak tantrum tanpa mencoba mengganggu prosesnya sampai anak tuntas.

Menangis Membantu Anak Belajar

Seorang anak yang bermain lego sewaktu-waktu bisa mulai tantrum karena kesulitan membuat konstruksi yang tinggi. Tapi setelah anak tantrum, ia duduk dan memperbaiki legonya. Ketika anak mengalami kesulitan dan kemudian ia mengungkapkan frustrasinya yaitu lewat tantrum, maka biarkan proses ini berlangsung. Tantrum akan membantunya menjernihkan pikiran sehingga bisa belajar hal baru.

Saat anak tidak bisa berkonsentrasi atau mendengarkan, biasanya ada masalah emosi yang menghambat proses ini. Agar proses belajar berjalan, anak harus senang dan rileks, dan mengekspresikan emosi jadi bagian dari proses ini.

Tantrum Membuat Anak Jadi Punya Waktu Tidur yang Lebih Baik

Masalah tidur sering terjadi lantaran orangtua mengira pendekatan  terbaik untuk tantrum adalah meminta si kecil tidur padahal tantrumnya belum selesai. Seperti orang dewasa, anak juga terbangun karena stres atau berusaha memproses sesuatu yang terjadi di hidupnya. Nah Bun, kalau Bunda memilih untuk membiarkan anak mengakhiri tantrum meningkatkan kondisi emosi dan bisa membantu anak tidur sepanjang malam.

Tantrum Membantu Menjalin Kedekatan

Mungkin sulit untuk mempercayai hal ini ya Bun. Tapi cobalah buktikan. Biarkan ia melewati badai perasaannya tanpa Bunda mencoba memperbaikinya atau mencoba menghentikannya. Bunda tak perlu banyak bicara, tapi ucapkan kata yang menenangkan. Tawarkan pelukan. Anak akan merasakan penerimaan Anda yang tanpa syarat dan merasa lebih dekat dengan Anda setelahnya.

Tantrum Membantu Perilaku Jangka Panjang Anak

Kadang emosi anak dalam bentuk lain seperti agresi, sulit berbagi, atau menolak bekerja  sama untuk tugas sederhana seperti memakai baju atau menggosok gigi. Hal ini sejatinya adalah tanda umum anak kesulitan mengontrol emosinya. Sementara itu, tantrum terjadi justru membantu anak melepaskan perasaan yang sukar diutarakannya.

Bahkan Tantrum Pun Meningkatkan Rasa Percaya Diri Pada Buah Hati Lho Bun

Selama masa batita, anak mulai mengerti kalau mereka terpisah dari orangtua. Mereka mengembangkan rasa otonomi, menyadari kalau mereka bisa mengatakan “tidak” untuk menunjukkan kemandirian.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

10 Cara Mendidik Anak Laki-laki Agar Tidak Manja

boys

Mendidik anak laki-laki tentu tak bisa disamakan dengan mendidik anak perempuan ya Bun. Anak laki-laki harus dilatih kemandirian sedini mungkin lho Bun. Hal ini karena kelak dirinya akan menjadi pemimpin di rumah tangganya. Walau mungkin hal ini masih terlampau jauh, tapi tak ada salahnya untuk mengajarkannya soal tanggung jawab dan menempa mentalnya agar jadi sosok anak yang kuat.

Ajarkan si Kecil untuk Selalu Menaati Peraturan

Cara pertama untuk mendidik anak laki-laki agar tak manja, yakni dengan mengajarkan ia untuk mulai menaati peraturan semenjak dini. Hal ini wajib Bunda lakukan! Tujuannya supaya si kecil bisa hidup dengan tertib dan bertanggung jawab. Dia juga harus tahu bahwa hidup itu memiliki batasan-batasan tertentu, dimana ada hal-hal yang memang tidak boleh dilakukan.

Bunda bisa mengenalkannya dengan aturan yang sederhana yang perlu dipatuhi. Misalnya, jika ingin BAB, harus bilang ke Bunda (Toilet training ini bisa diajarkan saat usianya 1,5 – 2 tahun). Kedua, latihlah buah hati untuk membereskan mainan setelah digunakan.

Selanjutnya, beritahukan kalau mengambil barang milik orang lain itu tidak boleh. Hal-hal semacam itu bisa Bunda lakukan.  Kendati mengajarkan peraturan ke anak tentunya tidak mudah. Bunda harus terus memperingatkannya dengan sabar. Karena segala sesuatu butuh proses.

Jangan Selalu Menuruti Kemauannya ya Bun…

Orang tua mana sih yang tak  ingin membahagiakan anaknya? Pastinya Bunda pun selalu berusaha untuk menyenangkan buah hatinya, kan? Tapi Bun, demi menghindari munculnya sifat manja, baiknya sih jangan selalu menuruti kemauan si kecil.

Misalnya saja, dia meminta dibelikan mainan setiap hari, sering minta diajak jalan-jalan, lalu makannya pilih-pilih. Wah, semua kebiasaan tersebut belum tentu baik, lho! Selain berpotensi membuat si kecil jadi manja, juga bikin anak jadi keras kepala.

Sebab kalau permintaannya tak dituruti, bisa saja dia marah-marah. Karenanya, Bunda harus belajar untuk tak selalu menuruti semua kemauan anak.

Ajarkan Konsep Timbal-Balik

Trik selanjutnya, untuk mendidik anak laki-laki agar tidak manja adalah dengan mengajarkan konsep timbal balik. Maksudnya, si kecil tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan hanya dengan sekedar meminta. Ajarkan ia untuk bekerja dulu.

Melakukan sesuatu yang ringan. Jika ia berhasil, maka Bunda bisa memberikannya imbalan, misalnya uang atau mainan. Konsep ini akan memberikan ia pelajaran bahwa segala sesuatu dapat diperoleh lewat kerja keras. Dia tak bisa hanya berpangku tangan kepada orang lain, tetapi harus mandiri sehingga bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ajarkan Juga Caranya Bertanggung Jawab Atas Tindakannya

Sikap bertanggung jawab juga perlu ditanamkan pada anak sejak ia kecil, Bun. Terutama bagi anak laki-laki yang kelak ia bakal menjadi pemimpin. Tentunya sikap tanggung jawab sangat diperlukan. Cara melatih si kecil agar bisa bertanggung jawab pun bisa mulai dari hal-hal sederhana.

Misalnya saja, ia harus membereskan kasur setelah bangun tidur, merapikan mainan, meletakkan pakaian kotor di tempatnya, dan sebagainya. Apabila si kecil berhasil melakukan semua hal itu, maka jangan lupa memberikannya apresiasi dengan mengatakan ‘duh pintarnya’ atau ‘terima kasih’.

Agar Jangan Jadi Sosok yang Pemarah, Ajarkan Cara Mengendalikan Emosi

Dibandingkan perempuan, laki-laki biasanya lebih sulit mengendalikan emosi. Hal ini dikarenakan laki-laki memiliki hormon testosteron yang berpengaruh terhadap perilaku agresif. Nah, Bunda tentu tak ingin si kecil tumbuh jadi sosok yang pemarah, kan?

Untuk menghindari hal tersebut, maka ajarkan ia caranya mengendalikan emosi semenjak dini. Bun, didiklah si kecil agar jadi pribadi yang ramah dan menyenangkan. Ajarkan pada dia bahwa tidak semua keinginannya bisa dikabulkan begitu saja. Dia harus menerima itu dan tidak boleh marah-marah.

Agar Anak Tumbuh Kuat, Kenalkan Ia Pada Dunia Olahraga Sejak Kecil

Mendidik buah hati agar bisa tumbuh menjadi pribadi mandiri dan tak manja, tidak cukup melatih mentalnya saja. Tapi juga perlu dilatih fisiknya, Bun. Bunda bisa mengenalkannya pada dunia olahraga sejak dini. Misalnya saja, mengajaknya pergi berenang, berjalan-jalan di sore hari, bersepeda, bermain bola di lapangan, atau lainnya.

Dengan berolahraga, maka tubuh si kecil akan menjadi sehat dan kuat. Tentunya bila tubuh sehat, ia juga lebih lincah. Hal itu memberikan pengaruh positif terhadap tumbuh kembangnya sehingga ia akan mampu melakukan beragam aktivitas tanpa adanya hambatan.

Asah Kemampuannya dengan Melibatkan Ia Dalam Aktivitas Sederhana

Karena anak laki-laki kelak menjadi tulang punggung keluarga, yang mana ia harus bisa cekatan dalam bekerja, maka itu sangat penting mengasah kemampuannya semenjak dini.

Bunda bisa melibatkan ia dalam sebuah aktivitas edukatif. Misalnya melakukan permainan menyusun lego, puzzle, membaca buku, dan menggambar. Atau bisa juga mengajarkan ia cara bersepeda, bermain bola, bulu tangkis, atau olahraga jenis lain.

Selain itu, Ayah juga bisa sesekali mengajak si kecil ikut bekerja, seperti mengajak memancing, mencuci mobil di halaman, berjualan di toko, menyemir sepatu, atau hal-hal lainnya. Semua kegiatan tersebut bisa membantu mengembangkan potensi si kecil, sekaligus mengurangi sikap manja.

Ajarkan Anak Sikap Tolong-Menolong

Mendidik anak laki-laki agar tidak manja, bisa pula dilakukan dengan cara mengajarkannya sikap tolong-menolong. Sikap ini tidak hanya melatih kemandirian si kecil, tapi juga membantu menumbuhkan rasa empati serta kepeduliaan.

Bunda bisa mengajarkan si kecil bagaimana cara menolong teman-temannya yang kesusahan. Misalnya, bila ada temannya yang terjatuh hendaknya dibantu. Atau juga bisa menyisihkan uang saku untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sedangkan untuk di rumah, si kecil bisa membantu dalam hal pekerjaan rumah. Seperti meletakkan tempat makan di westafel, menyapu, menata tempat tidur, dan sebagainya.

Ajarkan Kepada Si Kecil Cara Merawat Diri Sendiri

Ketika masih bayi, anak kecil memang tidak bisa melakukan apapun. Dia butuh bantuan dari orang tuanya. Namun ketika usianya mulai bertambah, memasuki 2-3 tahun, maka di saat itu Bunda harus mulai mengajarkannya hidup mandiri.

Ajarkan kepada si kecil bagaimana cara merawat dirinya sendiri. Mulai dari sesuatu yang ringan, misalnya mencuci tangan sendiri, makan sendiri, memakai sepatu, dan sebagainya. Ajarkan semua itu dengan bertahap.

Dengan begitu, saat dewasa ia sudah terbiasa melakukan sesuatu sendiri. Tidak terlalu menggantungkan hidup pada orang lain.

Dan Didik Anak Menjadi Sosok yang Tangguh dan Tegar

Selanjutnya, untuk mendidik anak laki-laki agar tak manja, Bunda perlu mengajarkan padanya bagaimana cara menjadi pribadi yang tangguh dan tegar. Berikan penjelasan pada si kecil bahwa segala sesuatu di kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Adakalnya ia harus menerima dan bangkit dari kegagalan. Ia juga wajib belajar bersyukur.

Patut diingat, mengajarkan sikap tangguh bukan berarti Bunda menekannya, ya! Jangan menyuruh anak melakukan sesuatu yang terlalu membebani. Misalnya memaksa ia untuk selalu juara kelas. Itu tidak perlu! Cukup ajarkan ia jadi anak yang rajin belajar.

Apalagi setiap anak punya stBundar kemampuan berbeda-beda. Jadi jangan membanding-bandingkan dia dengan yang lain ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top