Parenting

Bun, Harus Ekstra Sabar ya Menghadapi Si Kecil yang Sering Terbangun di Malam Hari

paint

Saat si kecil sudah menginjak usia satu tahun, mungkin sebagian orangtua mengira kalau masa-masa begadang akan segera berakhir. Padahal tidak selalu demikian, masih ada tantangan yang harus Bunda atasi dimana balita akan susah tertidur lelap dan masih suka bangun pada dini hari lho Bun.

Mereka tak hanya terbangun dan menangis sembari membangunkan orangtuanya, kadang justru ada balita yang sampai berteriak dan mengigau dengan suara yang keras.  Nah, demi mengantisipasi munculnya stress pada orangtua, Bunda ketahui dulu penyebab si kecil sukar tertidur lelap di malam hari.

Ia belum Bisa Beranjak dari Kebiasaannya Saat Bayi yaitu Saat Ingin Menyusu

Kalau si kecil masih menyusu, mungkin ia ingin melakukan hal tersebut di saat-saat larut seperti saat dirinya masih bayi. Bunda perlu tahu, menyusui di malam hari biasanya sedikit berkurang saat si batita semakin besar. Karenanya, saat si kecil mungkin sudah tak menyusu lagi, ia tetap ingin berada di dekat sang ibu dan terus ingin menempel di dada ibunya.

Bisa Jadi Ia Juga Lapar atau Haus di Malam Hari

Pertumbuhan balita sangat pesat lho Bun baik secara fisik maupun psikis. Kinerja otak mereka pun jauh lebih besar daripada orang dewasa. Yup Bun, otak balita membutuhkan glukosa dua kali lebih banyak daripada otak dewasa.

Untuk itu mereka cenderung sering bangun di malam hari dan merasa lapar karena secara kimiawi, tubuhnya memerintahkan untuk mengasup kembali sumber glukosa. Karenanya, lebih baik Bunda berikan makanan yang padat gizi saat makan malam dan susu sebelum tidur.

Jika mereka masih sering bangun tengah malam, berikan makanan kecil yang bergizi seperti yogurt dengan kandungan lemak penuh, alpukat, atau roti isi selai kacang. Jangan lupa, sikat kembali gigi mereka sebelum tidur lagi.

Atau Bisa Jadi Mereka Sedang Dalam Masa Tumbuh Gigi nih Bun

Banyak orang tua mengira bahwa problem tumbuh gigi pada anak akan berakhir saat ia memasuki usia satu tahun. Padahal, ada beberapa gigi seperti gigi taring dan—terutama—gigi geraham yang akan tumbuh setelah si kecil melewati usia satu tahun. Gejalanya mulai dari gusi kemerahan, bengkak dan rasa nyeri lainnya yang akhirnya memang membuat si anak kecil jadi susah tidur. Bagaimanapun, Bunda memang dituntut jadi ekstra sabar.

Bisa Jadi Si Kecil Justru Sedang Sering Merasakan Mimpi Buruk

Balita di atas 3 tahun sedang memiliki imajinasi berlebihan, sehingga apa yang terjadi selama seharian akan tertancap di otaknya. Entah itu tontonan di televisi, atau pembicaraan seru tentang monster, hantu dan semacamnya.

Hal semacam ini yang bisa memicu munculnya mimpi buruk dalam benak mereka, Bun. Di lain sisi, tidak ada yang bisa mencegah mimpi buruk, tetapi orang tua bisa mengurangi kemungkinan tersebut dengan tidak memberi tontonan atau membicarakan—apalagi menakut-nakuti—tentang monster, hantu dan ‘kawan-kawannya’.

Kalaupun ia terbangun karena mimpi buruk, Bunda bisa hibur si kecil dan mengatakan kalau makhluk menyeramkan yang ada dalam mimpinya itu tidak ada.

Lantaran hal ini, si kecil bisa saja bisa tertekan. Karenanya Bun, cobalah lebih sering untuk memberikan mereka ketenangan batin sepanjang hari dan yakinkan mereka bahwa kita selalu ada untuk mereka. Ciuman, pelukan dan ungkapan sayang punya kekuatan maha dahsyat untuk menghilangkan rasa gelisah.

Bun, memang untuk menjadi seorang ibu, banyak sekali waktu yang dikorbankan, tapi yakinlah bahwa setiap hal yang Bunda lakukan adalah bentuk sayang yang paling berharga untuk si kecil. Masa  kanak-kanak hanya sebentar, Bunda akan merindukan segala kesenangan dan kesusahannya saat si kecil beranjak dewasa.

Karenanya, nikmatilah setiap momen berharga baik suka dan duka bersama si kecil yuk Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Agar Si Kecil Tak Terbawa Pergaulan, Sedari Dini Ajarkan Ia Tentang Bahaya Rokok

adorable-baby-beautiful-35188

Saat kita masih kecil, tentu ada kalanya kita dihampiri rasa penasaran seperti apa rasanya merokok. Bukan hanya remaja, anak-anak pun biasanya punya rasa ingin tahu besar dan tak ragu untuk mencoba. Kondisi ini pun masih terjadi sampai hari ini.

Banyak anak dibawah umur yang justru jadi perokok aktif berangkat dari ketidaktahuannya dan semula hanya penasaran pada sensasi merokok. Karenanya, daripada coba-coba, yang ada malah berisiko ketagihan, ada baiknya Bunda memberikan pengertian tentang rokok dan cari cara pencegahan yang paling aman.

Sebab kalau hanya melarang, biasanya seorang anak bila dilarang bisa saja ia jadi kian penasaran. Nah, ada tujuh tips dari SayangiAnak yang Bunda boleh coba terapkan pada buah hati.

Tentunya Dari Orangtua Sebisa Mungkin untuk Tidak Jadi Perokok

Seorang anak biasanya mengambil keputusan dan perilaku dari orangtuanya. Untuk itu, ada anjuran orangtua harus lebih dulu berhenti merokok bila tak mau anaknya merokok juga. Penelitian dari University of Washington membuktikan jika anak-anak yang orangtuanya merokok biasanya punya kemungkinaan besar mulai merokok di usia yang relatif belia yaitu 13-14 tahun.

Kepada orangtua yang sekiranya masih merokok namun tak ingin putra putrinya kelak jadi perokok, sederhananya begini, percuma saja melarang anak merokok atau coba-coba jika Anda sendiri belum lepas dari kebiasaan merokok.

Selalu Ingatkan Buah Hati Mengenai Sisi Negatif Merokok ya Bun

Sama halnya dengan pendidikaan seks untuk anak, memberikan pendidikan mengenai bahaya rokok pun harus dimulai sejak dini ya Bun. Kendati anak masih duduk di bangku taman kanak-kanak atau sekolah dasar, Bunda harus terus mengingatkan anak apa saja dampak negatif merokok.

Misalnya saat Bunda sekeluarga berada di tempat umum dan ada orang yang merokok di dekat Bunda, maka beritahu bahwa merokok itu membawa sederet dampak negatif seperti merusak kesehatan, mengganggu orang lain, dan menghabiskan banyak uang.

Nah, supaya dampaknya bisa dibayangkan anak, beri contoh yang sederhana. Jelaskan bahwa harga sebungkus rokok sama dengan harga satu buah mainan favoritnya

Rutinlah Berkomunikasi dengan Buah Hati

Mencegah anak merokok bukan berarti mengekang kebebasannya lho Bun. Tak perlu melarang anak bergaul dengan teman sebaya yang orangtuanya perokok atau menonton film yang ada adegan merokoknya. Kuncinya justru membangun komunikasi dan kepercayaan antara Bunda dengan si kecil.

Dengan komunikasi yang baik, percayalah Bun, segala nasihat dan nilai yang ditanamkan pada si kecil akan terus melekat dalam benaknya, sekalipun ia nanti akan menemukan teman sekelasnya merokok atau ia sering menonton film dengan adegan merokok.

Hal ini akan sangat berguna kalau anak ditawari rokok waktu Bunda tidak ada bersamanya. Mengekang anak malah akan membuatnya mencari kesempatan di belakang Bunda.

Kenali Teman dan Lingkungan si Kecil ya Bun

Bukan hanya berkomunikasi, Bunda pun perlu mengenal langsung teman-teman si kecil supaya dapat membantu Bunda memantau pergaulannya. Ajak teman-teman si kecil main ke rumah supaya Bunda bisa mengobrol juga dengan mereka.

Dari situpun Bunda bisa menilai apakah ada kencenderungan anak mencoba rokok bersama teman-temannya atau tidak. Kalau Bunda tak kenal dengan teman-teman si kecil, maka kelak akan susah mencaritahu dan memantau pergaulannya.

Kalau dari luar saja memang tak bisa menjamin seratus persen anak-anak bebas dari rokok. Karenanya, paling tidak Bunda tahu seperti apa teman bermain yang dipilih anak sehingga Bunda bisa membantunya mengambil keputusan yang bijak.

Ajari Si Kecil untuk Menolak Ajakan Merokok Bila Diajak Teman-temannya

Walaupun anak tidak menunjukkan kecenderungan merokok di usia dini, bekali dengan kemampuan menolak ajakan dari teman-temannya. Ada anak yang bila tak dilatih untuk mengatakan penolakan, maka ia tak bisa mengatakan “tidak” saat berada di bawah tekanan teman sebayanya.

Padahal, untuk menolak ajakan tersebut, ucapan”tidak” saja tak cukup. Jangan lupa ajari anak untuk mencari alasan kuat seperti, “Aku tidak suka bau rokok,” atau “Pamanku sakit karena merokok,”.

Bantu Buah Hati Meningkatkan Rasa Percaya Diri Si Anak

Bunda perlu tahu, anak dan remaja biasanya didorong keinginan agar merasa diterima oleh teman-temannya sehingga mereka merokok. Bisa juga karena merokok membuatnya merasa seperti orang dewasa. Ini berarti anak kurang kepercayaan diri.

Karenanya, untuk mecegah anak merokok, Bunda harus meningkatkan kepercayan diri anak. Si kecil harus tahu jika merokok bukanlah satu-satunya cara supaya ia diterima dalam pergaulan ya Bun. Ia juga harus percaya diri bahwa ada orang dan teman lain yang mau menerima dirinya apa adanya. Bunda juga bisa memercayakan tanggung jawab penting pada anak supaya ia merasa lebih dewasa, misalnya tidur di kamar sendiri.

Alihkan Perhatiannya dengan Mendorong Minat serta Bakatnya

Banyak anak merokok karena merasa mendapatkan sesuatu, misalnya kepuasan atau sensasi rileks dari rokok. Kalau begini situasinya, berarti mungkin ia merasakan ada kekosongan atau belum merasa nyaman dengan aktivitasnya sekarang.

Nah, demi mengalihkan perhatiannya, Bunda bisa mencoba dengan mendorong si anak untuk menekuni minat dan bakatnya sehingga ia jauh dari pengaruh negatif rokok di usia dini. Ajak anak untuk ikut sanggar seni atau bergabung ekstrakurikuler olahraga supaya lingkungan dan pergaulannya fokus pada kebugaran tubuh, bukan pada hal-hal yang merusak kesehatan.

Sebab, menekuni aktivitas positif lain juga bisa membantu anak mencari pelepasan stres yang sehat selain merokok.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bolehkah Bayi Mendapatkan ASI dari Ibu yang Masih Merokok?

adult-art-baby-235243

Sebagai seorang ibu, tentu kita mendambakan kesehatan yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi ada kalanya kita pun masih menomorduakan urusan kesehatan. Padahal, di usia anak yang masih balita, kesehatan Bunda pun juga berpengaruh pada kesehatan buah hati. Contoh yang paling sering dijumpai salah satunya yaitu ketidakmampuan seorang ibu untuk menghentikan kebiasaan merokok kendati ia masih harus memberikan ASI pada buah hatinya.

ASI dari seorang ibu yang masih aktif merokok tentu tak akan memberikan proteki maksimal pada buah hati. Kendati demikian, ada baiknya untuk tidak berhenti memberikan ASI lho Bun. Ini karena menyusui memberikan banyak kekebalan, yang membantu bayi melawan penyakit, dan bahkan dapat membantu menangkal beberapa efek dari asap rokok.

Bahkan bayi yang mendapat ASI akan memiliki kekebalan tubuh yang baik sehingga dapat membantu melindungi bayi saat memerangi penyakit. ASI yang diberikan oleh ibu perokok masih lebih baik dibandingkan dengan memberikan bayi susu formula.

Nah, bayi dengan orangtua yang merokok memiliki kemungkinan lebih rewel. Sementara, ibu yang merokok merokok kemungkinan kurang mampu mengatasi bayi kolik. Nah, ‘kolik’ adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut. Penyebab bayi kolik yaitu karena kadar hormon prolaktin yang lebih rendah. Bahkan produksi ASI nya pun jadi lebih rendah lantaran kekurangan prolaktin. Selain itu, ibu yang memiliki kebiasaan merokok bisa menambah potensi gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare pada bayi.

Selanjutnya, riset lain menyebutkan, bayi dengan ibu dan juga ayah yang merokok, memiliki potensi tujuh kali lebih besar untuk meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Lalu, anak-anak dari orangtua merokok tercatat memiliki rekor kunjungan ke dokter, 2-3 lebih banyak dibanding anak dengan orangtua tak merokok.

Biasanya keluhan yang umum muncul adalah infeksi pernafasan, atau penyakit terkait alergi. Selain itu, anak-anak yang terpapar asap pasif di rumah memiliki kadar HDL rendah. HDL adalah kolesterol baik yang membantu melindungi manusia dari penyakit arteri koroner.

Sebuah studi lain menemukan, anak yang tumbuh di rumah di mana kedua orangtuanya merokok, dapat melipatgandakan risiko anak terkena kanker paru-paru di kemudian hari. Lalu, apa pengaruh rokok terhadap ASI? Sebuah riset menunjukkan, ibu dengan kebiasaan merokok cenderung menyapih anaknya lebih awal. Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan, ibu merokok memiliki tingkat produktivitas ASI yang terus menurun. Sejalan dengan yang telah disebutkan di atas, tingkat prolaktin pada ibu yang merokok menjadi lebih rendah. Padahal, hormon ini diperlukan untuk produksi ASI.

Seperti dikutip dari kompas.com, studi yang dilakukan di tahun 2004, menunjukkan bahwa ibu merokok yang tinggal di daerah dengan kekurangan yodium ringan sampai sedang memiliki lebih sedikit yodium dalam ASI. Padahal yodium diperlukan untuk fungsi tiroid bayi. Karenanya, ibu menyusui yang merokok disarankan untuk mempertimbangkan pemakaian suplemen yodium.

Demi kesehatan si anak, pilihan untuk mencoba mengurangi banyaknya rokok yang dikonsumsi menjadi langkah yang baik untuk dilakukan ya Bun. Semakin sedikit merokok, maka hal itu pun akan memperkecil kemungkinan munculnya risiko. Sebaliknya, risiko akan terus membesar bila si ibu bisa merokok apalagi hingga 20 batang per hari.

Dengan berbagai risiko dari merokok dan hubungannya dengan bayi, maka ibu sangat disarankan untuk berhenti merokok. Namun jika hal tersebut masih sulit dilakukan, jangan berhenti menyusui selama ASI masih terus diproduksi. Selain itu jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi, apalagi menyusui sambil merokok. Menyusui sambil merokok meningkatkan risiko bayi terpapar asap rokok dan risiko tersundut.

Merokoklah segera setelah rampung memberikan ASI. Buatlah rentang waktu selebar mungkin antara merokok dan menyusui. Dibutuhkan 95 menit setelah merokok untuk menghilangkan separuh dari pengaruh nikotin yang melakat pada tubuh di ibu. Kalau memang Bunda masih belum bisa lepas dari rokok.

Tapi, sebagai orang tua, sebaiknya mengutamakan kesehatan dan kepentingan anak dibanding kenyamanan pribadi. Bagaimana pun, berhenti merokok akan jauh lebih baik bagi kondisi ibu dan bayi Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Membiarkan Si Kecil Terpapar Asap Rokok Sama dengan Melakukan Penganiayaan

ash-burning-cigar-70088

Kepada para orangtua, terutama yang masih jadi perokok aktif, ketahuilah, merokok dekat anak adalah penganiayaan terhadap anak. Begitulah ungkap Adam Goldstein, seorang dokter praktik sekaligus profesor dan direktur Tobacco Intervention Program di University of North Carolina, Amerika Serikat. Lebih lanjut lagi ia mengatakan, paparan terhadap asap rokok memicu kanker loh Bun.

Orangtua yang lalai atau sengaja mengabaikan hal ini bahkan dilakukan berulangkali dianggap melakukan penganiayaan terhadap anak. Mengutip dari Tempo.co, berdasarkan data per 2015 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 40 juta anak Indonesia merupakan perokok pasif lantaran tinggal bersama orangtua perokok atau dekat dengan orang dewasa yang merokok.

Bayangkan, satu batang rokok mengandung lebih dari 250 bahan kimia aktif yang bersifat karsinogenik alias penyebab kanker termasuk formaldehida, benzena, vinil klorida, arsenik, amonia, dan hidrogen sianida.

Belum lagi asap buangan rokok mengandung karbon monoksida lima kali lipat, tar dan nikotin tiga kali lipat, dan amonia hingga 46 kali lipat lebih banyak daripada asap yang dihirup langsung oleh perokok aktif. Ini artinya, peluang kanker bagi para perokok pasif bisa mencapai hingga 50 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang merokok.

Bunda pun perlu tahu, paru-paru anak tentunya lebih kecil dari paru-paru orang dewasa. Anak-anak juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Karenanya, anak-anak bisa menghirup lebih banyak zat-zat kimia berbahaya per berat tubuh mereka dibandingkan orang dewasa dalam waktu yang bersamaan.

Di lain sisi, sistem kekebalan tubuh anak-anak pun belum terbentuk dengan sempurna sehingga mereka lebih rentan terkena radang pernapasan. Bahkan bayi yang sering terpapar oleh asap rokok memiliki peluang yang tinggi terhadap risiko kematian akibat Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) daripada bayi yang tidak terpapar oleh asap rokok.

Berdasarkan data dari UNICEF pada tahun 2012, pneumonia yang disebabkan lantaran menghirup asap rokok menempati peringkat tertinggi kematian anak Indonesia, tercatat sebesar 14% atau sekitar 21 ribu anak yang jadi korbannya. Angka ini melebihi angka kematian akibat AIDS, malaria, dan TBC. Karenanya, Bunda perlu tahu pengaruh asap rokok bagi kesehatan buah hati Bunda. Sebab selain masalah di atas, asap rokok menyebabkan:

  1. Janin berisiko mengalami BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) saat dilahirkan. Ibu hamil yang menghirup asap rokok, atau yang merokok, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi kecil. Kondisi bayi yang mengalami BBLR berisiko tinggi terhadap berbagai macam isu kesehatan.
  2. Sejak di dalam kandungan, paru-paru bayi jadi lemah. Bayi yang terpapar bahkan menghirup asap rokok buangan semenjak lahir akan mengembangkan paru-paru yang lemah, dan bisa meningkatkan risiko berbagai macam penyakit pernapasan.
  3. Si kecil berisiko alami asma berat atau akut. Bahkan anak-anak yang tinggal seatap dengan orangtua perokok lebih rentan terhadap batuk, batuk berdahak, suara mengi, dan sesak napas dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang orangtuanya bukan perokok.
  4. Bahkan karena terlalu sering terpapar asap rokok dalam jangka waktu lama, hal ini bisa memicu kerusakan kognitif pada anak. Hal ini akan membuat kemampuan belajar anak menjadi lambat dan menurun. Kadar yang lebih tinggi dari paparan asap rokok juga terkait dengan kemampuan matematika dan penalaran visuospatial anak yang jauh di bawah rata-rata loh Bun.
  5. IQ anak pun rendah. Anak-anak yang ibunya perokok aktif (merokok 1 pak per hari selama kehamilan) menunjukkan hasil tes IQ rata-rata lebih rendah 2,87 poin daripada anak-anak normal dengan orangtua nonperokok.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top