Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Bila Si Kecil Alami Tiga Gejala Demam Ini, Pastikan Ia Dapatkan Perawatan Serius

adult-art-baby-235243

Demam sering terjadi sebagai gejala suatu penyakit. Mulai dari yang kondisinya ringan seperti flu sampai penyakit memang membutuhkan bantuan dan perawatan dokter segera. Demi mencegah sekaligus membantu Bunda membedakan mana gejala demam biasa dan demam yang disebabkan oleh suatu kondisi berbahaya, Bunda perlu tahu beberapa gejala demam yang perlu perawatan serius.

Mulanya, kenali gejalanya dulu ya Bun. Demam terjadi ketika suhu tubuh lebih tinggi atau berada tidak pada tingkat normal seperti biasanya. Mengalami demam, menandakan bahwa tubuh sedang bekerja aktif melawan peradangan dari infeksi.

Gejala demam biasanya disertai oleh tanda-tanda seperti tubuh yang berkeringat, sakit kepala, atau nafsu makan yang berkurang. Kendati demam sering disepelekan sebagai gejala flu, Bunda perlu tahu, ada banyak penyakit yang berbahaya yang juga menyebabkan kondisi ini terjadi.

Untuk itu, gejala demam yang perlu diwaspadai adalah saat seseorang didera mengalami demam berikut ini:

Demam Tinggi Mendadak

Berbeda dengan biasa, demam tinggi mendadak terjadi disebabkan oleh penyakit demam berdarah (DBD). Hal yang membedakan demam DBD dengan dengan demam biasa adalah demam ini dapat mencapai 40 derajat celcius. Gejala demam ini sangat tinggi dibanding demam biasa. Demam biasa akan disertai gejala batuk dan pilek, sementara demam berdarah tidak demikian. Demam DBD bisa terjadi selama dua atau tujuh hari dengan diikuti gejala lain, seperti:

  1. Sakit kepala parah diikuti sakit pada bagian belakang mata
  2. Nyeri otot dan sendi yang parah dan kelelahan
  3. Mual dan muntah
  4. Muncul ruam kulit, yang muncul dua hingga lima hari setelah timbulnya demam
  5. Perdarahan ringan (seperti hidung berdarah, gusi berdarah, atau mudah memar)

Bila si kecil atau anggota keluarga Bunda ada yang mengalami gejala tersebut, maka harus ditangani dengan segera. Sebab, bila terlambat mendapat penanganan akan terjadi komplikasi pada getah bening dan pembuluh darah, perdarahan dari hidung dan gusi, pembesaran hati, kegagalan sistem peredaran darah atau bahkan kematian.

Demam yang Hilang Timbul dalam Beberapa Jam

Demam semacam ini sekilas semacam demam akibat malaria. Hanya saja, malaria biasanya ditandai dengan demam dan kedinginan. Tubuh akan menggigil dan suhu tubuh mencapai 40 derajat celcius bahkan berkeringat. Gejala demam yang muncul biasanya hilang timbul alias paroksimal.

Bahkan kadang seseorang yang mengalami demam semacan ini merasa sehat namun akan demam lagi dalam beberapa jam ke depan. Tergantung dari jenis parasit yang menyerang. Periode kambuhnya demam bisa terjadi sekitar 8 hingga 10 jam, 48 jam, atau 72 jam.

Demam seperti ini harus segera ditangani ya Bun. Bila tidak segera diobati, akan terjadi komplikasi seperti perubahan pada urin yang menjadi lebih gelap karena pecahnya sejumlah sel darah merah, gagal ginjal, anemia, dan edema paru.

Demam Disertai Nyeri Sendi Parah

Kondisi ini disebut dengan chikungunya dan disebabkan oleh gigitan nyamuk yang sama dengan demam berdarah. Namun tak hanya demam, tapi juga disertai nyeri sendi yang parah. Nyeri yang terjadi pada sendi sangat melemahkan, biasanya akan berlangsung selama beberapa hari atau juga berminggu-minggu seiring berkembangnya virus di dalam tubuh. Selain itu, ada beberapa gejala lain yang menyertainya, seperti:

  1. Sakit kepala
  2. Mual dan muntah
  3. Kelelahan
  4. Ruam pada sendi yang terasa nyeri

Dikutip dari World Health Organization, sebagian besar pasien sembuh sepenuhnya, tetapi dalam beberapa kasus nyeri sendi dapat bertahan selama beberapa bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Kendati jarang terjadi kasus komplikasi, penyakit ini bisa menyerang mata, syaraf dan jantung serta keluhan gangguan pencernaan. Komplikasi serius tidak umum, tetapi pada orang tua, penyakit dapat meningkatkan risiko kematian.

Bun, penting sekali memahami berbagai gejala demam yang terjadi. Sebab bila terjadi karena adanya penyakit yang sifatnya tertentu, tentu hal yang paling tepat adalah mendapatkan penanganan dan perawatan dari dokter lebih cepat sehingga memudahkan pengobatan yang dilakukan. Karenanya jika muncul gejala-gejala yang disebutkan seperti di atas, segera lakukan pemeriksaan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bila Menyapih Dirasa Susah, Mungkin Metodenya Ada yang Salah Bunda

adorable-baby-black-and-white-2015884

Bun, kegiatan menyapih untuk Bunda tentu menjadi momen yang berat. Terlebih bagi para Bunda yang baru pertama memiliki anak. Belum lagi proses menyapih pun sangat menguras fisik, pikiran, hingga emosi. Momen seperti tak tega pada buah hati, akhirnya membuat Bunda kian mengulur waktu proses menyapih si kecil.

Biasanya, anak sudah bisa mulai disapih di usia empat tahun dua bulan. Bagi Bunda yang sedang kebingungan mencari cara menyapih yang tepat, berikut ini ada metode yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Tapi yang terpenting menurutnya, anak tidak boleh dipaksa terlalu keras untuk disapih, dan Bunda juga harus siap. Jika Bunda masih belum tega, maka tandanya Bunda belum siap

Pastikan Bunda Melakukan Proses Tersebut Secara Perlahan dan Bertahap

Cara pertama yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan mengurangi frekuensi menyusu anak. Misalnya, jika biasanya si kecil akan menyusu setiap 2 atau 3 jam sekali. Cobalah memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam. Cara ini mungkin akan sulit di awal, yang penting Bunda harus konsisten. Prinsipnya, jangan menawarkan dan jangan mengomelinya juga Bun saat ia masih kesulitan melepaskan kebiasaan menyusu dari payudara Bunda. Intinya, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Pastikan Komunikasi dengan Anak Berjalan Dua Arah

Apapun cara yang Bunda terapkan saat proses menyapih, yang penting jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan dengan si anak ya Bun. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.

Alihkan Perhatian Si Kecil Semampu Bunda

Menyapih si kecil butuh skill dan keteguhan dari Bunda. Salah satunya keahlian mengalihkan perhatian si kecil. Misalnya, ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara.

Bila ia mengeluhh haus, Bunda bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang Bunda berikan lewat gelas. Atau, Bunda juga bisa memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Satu hal yang penting, hindari penggunaan dot ya Bu.

Bunda Juga bisa Melibatkan Ayah Dalam Proses Ini ya 

Bun, jangan lupa untuk melibatkan ayah dalam proses bonding dengan buah hatinya. Selama ini si kecil mungkin bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak.  Di momen semacam inilah ayah bisa membantu mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.

Dan yang Paling Penting, Usahakan Kondisi Si Kecil Memang Sudah Siap untuk Disapih

Yang terpenting, hindari proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Bunda juga sebaiknya tunda dulu proses menyapih.  Jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

Memang kita akan menemukan banyak sekali dilema dan pertimbangan matang saat hendak menyapih anak, namun bila saatnya sudah tepat dan metode Bunda pun diterima anak, maka si kecil akan mengerti bahwa memang saat itulah yang tepat untuk tak lagi menyusu dari Bundanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Lima Bahan Alami Ini Siap Menghilangkan Biang Keringat pada Si Kecil

adorable-21998_640

Keringat berlebih dan tak terekskresi ternyata bisa menimbulkan biang keringat. Kondisi ini tentu membuat si kecil tak nyaman. Penyebab utama dari biang keringat ini yaitu keringat yang tersumbat oleh bakteri Staphylococcus epidermidis hidup di permukaan kulit.

Bakteri ini mampu mengeluarkan zat lengket yang bisa menyatu dengan keringat dan sel-sel kulit mati. Hal ini dapat membuat saluran keringat tersumbat. Nah, ruam kecil berwarna merah dan menonjol yang menimbulkan rasa gatal dan sensasi menyengat atau perih pada kulit. Tersebut yang kerap disebut biang keringat.

Tapi selain bakteri, biang keringat juga bisa disebabkan karena iklim tropis dan suhu yang panas, olahraga atau aktivitas fisik yang berat, dan bed rest yang terlalu lama Bun. Hal tersebut menyebabkan tubuh mengeluarkan keringat yang bisa menyumbat pori-pori jika tak segera diatasi. Biasanya biang keringat muncul pada bagian leher, punggung, dada, tangan, paha, wajah, dan lipatan tubuh seperti siku atau ketiak. Penyakit ini bisa menimbulkan rasa tak nyaman.

Namun, demi menuntaskan masalah biang keringat, Bunda bisa menggunakan bahan alami. Nah berikuti ini bahan-bahan alami yang bisa digunakan untuk menghilangkan biang keringat secara cepat.

Es Batu

Bun, rasa gatal pada kulit saat mengalami biang keringat bisa diatasi dengan memanfaatkan es batu yang ada di freezer. Bunda hanya perlu menggosokan es batu atau menekan secara perlahan pada bagian kulit si kecil yang terkena biang keringat atau ruam. Rasa dinginnya mampu meredakan rasa gatal akibat biang keringat yang membandel. Lakukan secara rutin agar bintik-bintik merah tersebut hilang ya Bun.

Madu

Madu memang sudah lama dikenal sebagai pelembab alami yang baik untuk kulit. Saat si kecil tak nyaman dengan biang keringat yang menderanya, Bunda dapat mengoleskan madu secara langsung ke area kulit yang bermasalah. Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, cobalah mencampur madu dengan minyak jojoba. Oleskan saja ke seluruh area yang terkena biang keringat. Diamkan selama 15-20 menit, lalu bilas hingga bersih. Lakukan cara ini sebanyak tiga hingga empat kali setiap minggu agar rasa gatal mereda dan ruang hilang, ya Bun.

Lidah Buaya

Tanaman yang satu ini mudah ditemukan di pekarangan rumah. Bahkan belakangan kian banyak yang menjual gel aloe vera lho Bun. Faktanya, tanaman yang satu ini memang dipercaya sebagai obat alami yang mampu menangkis semua permasalahan kulit akibat dari biang keringat.

Cara penggunaannya yaitu dengan mengoleskan gel lidah buaya pada bagian kulit yang memiliki ruam. Langkah mudah ini bisa Bunda terapkan di rumah setiap 3 kali sehari agar rasa gatal dan ruam segera hilang.

Oatmeal

Oatmeal atau gandum juga dipercaya dapat dijadikan bahan alami untuk mengatasi biang keringat Bun. Bunda dapat  gunakan dalam campuran bathtub atau air mandi si kecil. Bunda dapat campurkan 1 sdm gula pasir yang ditambahi madu dan 3 sdm oatmeal. Aduk dan campur ketiga bahan tersebut hingga merata. Lalu oles dan gosok ramuan tersebut ke seluruh bagian kulit yang bermasalah. Diamkan beberapa menit hingga ramuan tersebut meresap dan mengering pada kulit.

Minyak Jarak

Minyak esensial berupa minyak jarak ini dipercaya mampu mengatasi banyak masalah kulit dan mengontrol produksi minyak berlebih yang menjadi salah satu alasan tersumbatnya pori-pori kulit lho Bun. Pemakaian minyak jarak caranya mudah, Bunda dapat mengoleskan 1/2 sdt minyak jarak ke area yang bermasalah sambil melakukan pijatan lembut dengan gerakan melingkar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Selain Biang Keringat, Beberapa Masalah Kulit Ini Pasti Pernah Dialami Bayi

adorable-baby-beautiful-1172937

Bun, mengurus buah hati yang terbilang masih bayi, memang tidaklah mudah. Terlebih saat bayi mengalami masalah dengan kesehatan tubuhnya. Salah satu diantaranya, bayi rentan mengalami masalah kulit lantaran kulitnya masih sangat sensitif. Bunda pun dituntut untuk selalu menjaga kebersihannya. Tapi tenang, sebagian besar masalah kulit yang dialami bayi tentu ada cara penanganannya tersendiri.

Kulit kering

Kulit kering hingga bersisik termasuk masalah yang cukup umum terjadi. Beberapa bayi bahkan bisa sampai kulitnya mengelupas dan terlalu kering. Misalnya, suhu lingkungan yang panas kering atau justru terlalu dingin sehingga memicu kulitnya kehilangan cairan.

Nah, hal yang paling sering jadi penyebab dari kulit bayi kering adalah mandi atau main air terlalu lama. Sabun mandi yang digunakan juga bisa jadi penyebab kulit bayi kering. Untuk mengatasinya, jangan mandikan bayi terlalu lama ya Bun. Setelah memandikan bayi, sebaiknya biasakan untuk mengoleskan pelembap untuk bayi agar kelembapan kulitnya terjaga. Pastikan juga si kecil mendapatkan cukup cairan.

Biasanya kulit kering pada bayi akan hilang setelah beberapa hari. Namun, jika kondisi ini menganggu atau membuat bayi tidak nyaman, segera diskusikan dengan dokter bayi Anda. Dokter akan memberikan perawatan yang tepat untuk kondisi ini.

Ruam Popok

Ruam popok adalah masalah kulit pada bayi yang paling umum. Kondisi ini pun ditandai dengan iritasi kulit merah mengkilap dan terasa gatal di area bokong yang tertutup popok. Pemicu masalah ini popok basah atau jarang ganti popok. Gesekan antar kulit bayi dan bahan kain popok pun bisa menyebabkan ruam lho Bun.

Namun tenang saja, ruam popok bukan kondisi serius, tapi jangan dibiarkan karena bisa berkembang menjadi infeksi jamur atau infeksi bakteri. Cara mengatasinya, gunakan krim pelembab atau lotion yang mengandung zinc untuk meredakan ruam kulit, serta mencegah iritasi semakin parah. Pastikan Bunda menjaga area bokong bayi tetap kering untuk mencegah ruam popok muncul kembali.

Biarkan bayi Bunda sejenak tanpa menggunakan popok setelah bangun tidur. Selain itu, pastikan juga popok bayi tidak terlalu ketat, tapi pas dengan bokong bayi.

Eksim

Bun, eksim termasuk masalah kulit pada bayi yang paling sering terjadi. Lantaran eksim, kulit si kecil pun menjadi kering, merah dan terasa gatal. Eksim ini biasanya muncul di wajah bayi, siku, dada, atau lengan bayi. Masalah kulit bayi ini umumnya dipicu karena reaksi alergi terhadap sabun, lotion, atau bahkan deterjen untuk mencuci pakaian bayi.

Bun, eksim pada bayi tidak ada obatnya. Tapi umumnya dapat dikendalikan dengan baik dan sering akan hilang setelah beberapa bulan atau tahun. Nah, untuk itu jangan sampai kulit menjadi kering dan gatal, serta menghindari pemicu yang menyebabkan kondisi kambuh. Gunakan pelembab kulit untuk bayi untuk mengurangi kulit kering akibat eksim pada bayi dan menjaga kulit bayi tetap lembap.

Cradle Cap

Cradle cap merupakan masalah kulit pada bayi yang ditandai dengan ruam merah di kulit kepala yang lama-lama berubah menjadi kerak kering berwarna kuning bersisik serta berminyak. Kondisi ini juga disebut dengan dermatitis seboroik, dan umum terjadi pada tiga bulan pertama usia bayi.

Cradle cap juga bisa terjadi di wajah, telinga, dan leher. Kondisi ini tergolong aman, tidak membuat gatal, dan tidak menular. Akan tetapi, adanya kerak di kepala bayi kadang membuat rambut sulit tumbuh.

Cara mengatasinya cradle cap bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga bulan. Anda bisa mencuci rambut dan kulit kepala dengan lembut menggunakan sampo khusus untuk bayi.

Biduran

Biduran menjadi penyebab kulit gatal yang ditandai dengan kemunculan bentol merah melebar, menonjol, dan menyebar pada kulit. Menurut bahasa medis, biduran disebut dengan urtikaria. Biduran dapat menyerang bagian wajah, badan, lengan, atau kaki.

Penyakit ini terjadi sebagai reaksi alergi makanan, umumnya adalah telur dan susu, tapi bisa juga karena keringat yang bergesekan dengan kulit. Tenang Bun, biduran tak membahayakan, hanya saja membuat bayi akan merasa tidak nyaman saat tidur atau sepanjang hari.

Untuk mengatasi hal ini, segera konsultasikan pada dokter demi mendapat penanganan lebih lanjut ya Bun. Dokter mungkin akan menyarankan resep antihistamin untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top