Kesehatan Ibu & Anak

Benarkah Normal Jika Bayi Mendengkur? Ketahui Penyebab Dan Cara Mengatasinya Bun

adorable-21998_640

Pada umumnya mendengkur terjadi pada orang dewasa yang sedang tidur. Namun bagaimanakah jika seorang bayi tidur mendengkur? Ini tentu jadi pertanyaan tersendiri bagi para orangtua. Bahkan bisa saja hal ini membuat Bunda begitu cemas.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi saat bayi sedang mendengkur? Perlu Bunda ketahui bahwa suara-suara yang timbul saat bayi tertidur sebenarnya bukanlah sebuah dengkuran.

Belum Sempurnanya Sistem Pernafasan Pada Bayi Bisa Menjadi Penyebab Timbulnya Suara Mirip Dengkuran Tersebut

Suara mirip dengkuran itu terjadi karena belum sempurnanya sistem pernafasan pada bayi. Suara tersebut berasal dari selaput dan cairan yang berada di sekitar saluran pernafasan. Selaput dan cairan tersebut kemudian bergetar saat bayi sedang tertidur. Hal inilah yang menjadikan bayi seperti mendengkur saat dia sedang tidur Bun.

Namun Bunda tidak perlu khawatir karena biasanya suara tersebut akan hilang seiring dengan bertambahnya usia anak. biasanya ketika anak sudah bisa menelan ludahnya sendiri maka secara otomatis suara seperti dengkuran tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Apa lagi saat gigi si kecil sudah mulai tumbuh, maka otomatis suara seperti dengkuran tersebut akan semakin berkurang. Hal ini disebabkan pada masa itu tubuh si kecil telah memproduksi saliva dalam jumlah yang banyak.

Saat Bayi Mengeluarkan Suara Mirip Dengkuran Karena Saluran Pernafasannya Tersumbat Ingus, Atasi Dengan Nasal Aspirator dan NaCl Fisiologis 0,9% Bunda

Untuk mengatasi saluran pernafasan bayi yang tersumbat Bunda bisa menggunakan nasal aspirator atau penyedot ingus dan NaCl fisiologis yang bisa diperoleh di apotek. Bila ingus bayi padat, berikan NaCl fisiologis 0,9% dengan cara memasukkan sedikit bagian pipet yang telah terisi NaCl fisiologis 0,9% ke dalam hidung bayi, lalu teteskan dengan lembut. NaCl fisiologis 0,9% ini berfungsi untuk mengencerkan ingus agar mudah dikeluarkan Bun!

Setelah itu Bunda bisa memasukkan nasal aspirator khusus untuk bayi ke dalam hidung si kecil, tapi jangan terlalu dalam. Saat memasukkan, ujung karet yang berfungsi sebagai penyedot harus dalam keadaan ditekan, kemudian lepas perlahan saat sudah berada di dalam hidung. Lakukan dengan lembut agar hidung buah hati tak iritasi ya Bun! Bila Bunda menggunakan nasal aspirator terbaru, maka Bunda tinggal memasukkannya ke dalam hidung di kecil dengan lembut dan tekan tombol pelan-pelan.

Bunda Juga Bisa Menggunakan Uap Air Hangat

Cara lain yang bisa digunakan untuk mengatasi sumbatan pernafasan pada bayi adalah dengan menggunakan uap air hangat. Udara yang lembab akibat dari uap air panas akan bermanfaat untuk menghilangkan sumbatan pada hidung. Caranya ajaklah si kecil untuk berdiri di depan shower air hangat atau di dekat bak yang berisi air hangat. Lakukan cara ini setiap hari, terutama saat si kecil akan tidur.

Singkirkan Benda-benda Penyebab Alergi Dari Sekitar Si Kecil Agar Tak Menyumbat Saluran Pernafasannya

Benda-benda yang berdebu adalah salah satu faktor yang menyebabkan tersumbatnya saluran pernafasan pada bayi. Selain itu, bulu binatang juga bisa menyumbat  saluran pernafasan. Untuk itu, Bunda perlu menyingkirkan benda-benda yang dapat menyebabkan alergi agar tak menyumbat saluran pernafasan si kecil.

Bila Suara Mirip Dengkuran Itu Tak Kunjung Hilang Padahal Anak Sudah Bisa Menelan Ludahnya Sendiri, Maka Bunda Harus Segera Membawanya Ke Dokter

Mungkin Bunda bertanya-tanya sampai kapankah dengkuran tersebut akan terjadi? Pada saat anak sudah bisa menelan ludahnya sendiri seharusnya suara mirip dengkuran itu sudah tak terjadi. Namun jika dengkuran anak tak juga kunjung reda juga, maka Bunda harus segera membawanya ke dokter. Dokter akan mengecek saluran pernafasan bayi dan memastikan apakah benar ada sumbatan pada saluran pernafasannya atau tidak. Jika dianggap memerlukan penanganan khusus, maka dokter pun akan segera memberikan perawatan yang dibutuhkan untuk si kecil.

Setelah mengetahui tips untuk mengatasi bayi yang mendengkur, maka kini Bunda tidak perlu cemas lagi. Namun tetap amati suara tersebut dan kenali perbedaannya. Jika dengkuran tersebut hilang sendiri seiring dengan bertambahnya usia, maka suara seperti dengkuran tersebut adalah hal yang wajar. Tapi jika tak kunjung hilang, bahkan setelah si kecil bisa menelan ludahnya sendiri, maka Bunda harus segera membawanya ke dokter anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bukan Hanya Jadi Rutinitas, Tidur Juga Memberi Keuntungan untuk Tumbuh Kembang Anak

pexels-photo-101523

Tidur merupakan kebutuhan setiap manusia. Baik itu balita, anak-anak, orang dewasa, sampai orang tua membutuhkan tidur untuk memberi kesempatan beberapa organ tubuh beristirahat. Jika kita perhatikan, balita atau anak-anak memiliki waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa ataupun orang tua. Hal itu dikarenakan kebutuhan tidur balita atau anak-anak memang lebih banyak.

Perlu Bunda ketahui, balita memiliki waktu tidur 12 jam setiap harinya, dan akan berkurang sesuai dengan bertambahnya usia. Namun bukan hanya jumlah jam tidur saja yang perlu diperhatikan loh, Bun. Anak membutuhkan kualitas tidur yang baik agar dapat bermanfaat bagi tubuhnya. Lantas, apa sajakah manfaat tidur untuk tumbuh kembang buah hati?

Meningkatkan Kecerdasan Anak

baby-2598005_640

Menurut Dennis Molfese, Ph.D., anak yang menggunakan waktu tidurnya dengan cukup akan membuat 3 sampai 4 bagian otaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Tapi sebaliknya, mengurangi 1 jam tidur setiap malam selama 1 minggu dapat menurunkan konsentrasinya.

Membuat Buah Hati Lebih Bahagia

pexels-photo-1131877

Anak yang memiliki waktu tidur yang cukup dengan kualitas tidur baik ternyata memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki waktu tidur yang cukup. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh University of Massachusetts, Amerika menyatakan bahwa anak yang kehilangan separuh jam tidurnya secara teratur akan menyebabkan peningkatan rasa rendah diri dan depresi. Jadi Bunda tidak perlu heran jika si kecil sepanjang hari terus uring-uringan. Bisa jadi dia kurang tidur.

Menyehatkan Jantung Si Kecil

adorable-21998_640

Apakah si kecil sering tidur mendengkur? Banyak orangtua yang menganggap bahwa anak yang tidur mendengkur karena dia kecapekan sehingga menyebabkan mendengkur saat tidur. Tapi tahukah Bunda, jika anggapan itu berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok orang di Australia.

Menurut mereka, penyebab tidur mendengkur pada anak adalah karena dia sering terbangun di malam hari. dan ternyata dengkuran tersebut memiliki manfaat bagi kesehatan jantungnya. Masih hasil penelitian dari Australia menyatakan bahwa anak yang tidur mendengkur, meskipun ringan memiliki tekanan jantung dan darah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang tiddak mendengkur saat tidur.

Anak Pun Jadi Memiliki Berat Badan yang Ideal

baby-cute-child-lying-40724

Hasil penelitian dari Harvard Medical School, Amerika menyatakan bahwa balita yang waktu tidurnya kurang dari 12 jam dalam sehari akan memiliki kemungkinan hingga 2 kali lipat memiliki berat badan berlebih saat berusia 3 tahun dibandingkan dengan balita yang memiliki waktu tidur 12 jam setiap harinya. Hasil penelitian lain juga mengatakan bahwa setiap tambahan 1 jam waktu tidur yang melampaui waktu tidur normalnya (12 jam) dapat menurunkan resiko hingga 9% memiliki berat badan yang berlebih. Itu menunjukan bahwa waktu tidur yang cukup sangat penting untuk anak.

Juga Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Buah Hati

pexels-photo-265958

Menurut direktur asosiasi Sleep Center, Jodi Mindell, di The Childrens Hospital of Philadelphia, Amerika menyatakan bahwa orang dewasa yang memiliki jam tidur kurang dari 8 jam setiap malamnya akan meningkatkan resiko terkena penyakit flu. Hal yang sama juga ternyata bisa terjadi pada anak-anak yang kurang waktu tidurnya.

Untuk Mengurangi Resiko Cedera pada Anak

pexels-photo-266061

Anak yang memiliki waktu tidur yang cukup akan memiliki resiko cedera lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang memiliki waktu tidur sedikit. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh para peneliti dari University of Rochester School of Nursing, Amerika. Anak-anak yang kurang tidur akan cenderung lebih loyo sehingga dia akan mudah terjatuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Berkaca dari Kasus Anak Denada, Bunda Perlu Tahu Apa Saja Tanda-tanda Gejala Leukimia

Cover Denada

Baru-baru ini, ada berita yang cukup menarik perhatian atas anak dari penyanyi Denada. Karena beberapa hari lalu, sang anak divonis mengidap Leukimia atau kanker darah. Sebagai seorang ibu yang memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang anak, sebelum sang putri Shakira, divonis Leukimia, konon Denada sudah merasa ada yang tak biasa pada anaknya.

“Itu kelihatan mulai dari dia pulang dari liburan. Walau dia tetap ceria, adalah beberapa tanda-tanda dan gejala yang aku lihat secara fisik. Dia lebam-lebam, dua hari setelah kita ketemu, dia demam tinggi.” papar Denada pada salah satu kesempatan wawancara dengan awak media. 

Meski berusaha untuk tetap tak menaruh curiga, kekhawatirannya pun terjawab kala mendengar Vonis yang dijatuhi Dokter beberapa hari lalu atas putrinya tersebut.

chinh-le-duc-132753-unsplash (1)

Hal ini juga jadi pengingat untuk semua orangtua, termaksud bunda-bunda di rumah. Karena berdasarkan data kesehatan, kasus kanker pada anak terus meningkat setiap tahunnya. Termaksud kanker darah atau Leukimia yang diidap putri dari Denada tersebut.

Mengutip dari data di Depertemen Kementrian Kesehatan berupa Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 (Riskesdas), data yang didapat menunjukkan jumlah kasus (prevelensi) kanker anak umur 0-14 tahun sebesar sekitar 16.291 kasus. Sementara jenis kanker yang paling banyak diderita anak di Indonesia yaitu Leukemia.

Gejala penyakit yang satu ini memang sulit dideteksi, apalagi jika sudah menyerang anak yang masih kecil. Sebab, bayi atau si kecil masih belum bisa menceritakan bagaimana gejala yang sedang dialaminya. Disinilah kita sebagai orangtua memiliki peranan yang mungkin bisa menentukan, langkah mana yang harus diambil jika hal tersebut mungkin terjadi.

larm-rmah-216854-unsplash

Jenis penyakit Leukemia sendiri, bisa terjadi karena multifaktor, mulai dari faktor genetik, zat kimia, virus, dan radiasi. Dikutip dari depkes.go.id, kanker dapat menyerang anak mulai dari usia bayi hingga usia 18 tahun. Dan beradasarkan informasi di Bidanku, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda dari Leukimia.

Demam Malam Hari,

Si kecil sering mengalami demam bahkan hingga mengeluarkan keringat pada malam hari. Sang anak juga sering mengalami demam karena darah putih yang menurun sehingga penderita mudah infeksi.

Wajah yang Terlihat Pucat

Dirinya seringkali mengalami pucat dan kelelahan. Hal ini terjadi dikarenakan, menurunnya sel darah merah dalam tubuhnya. 

Sang Rentan dan Mudah Jatuh Sakit

Kekebalan tubuhnya sering menurun, hingga lelah sedikit saja kadang ia jatuh sakit. Hal ini bisa juga disebabkan oleh sel darah putih yang menurun, sehingga ia mudah pula terkena infeksi. 

Sering Mengeluhkan Nyeri pada Beberapa Bagian Tubuhnya

Anak lebih sering mengalami nyeri-nyeri pada bagian tulang yang disebabkan karena sel darah yang terkena Leukemia masuk ke dalam selaput antara tulang dan juga otot.

Berat Badannya Berangsur Menurun Drastis

Si kecil mengalami penurunan berat badan disertai dengann gangguan kesehatan yang lebih rentan terkena infeksi

Serta yang Terakhir, Terjadi Pembengkakan

Dirinya mengalami pembengkakan pada bagian leher dan juga ketiak. Jika pada kelenjar getah bening terjadi pembengkakan harus segera diperiksakan ke dokter. Si kecil juga mengalami perut yang membesar dikarenakan limfa yang ada di bagian perut mengalami beberapa masalah.

fahri-ramdani-588932-unsplash

Gejala yang khas pada anak yang mengalami leukemia adalah seringkali terjadi mimisan yang disertai dengan bintik-bintik merah ataupun lebam yang terjadi pada beberapa bagian tubuh.

Hal ini dikarenakan terjadi pembengkakan limfa pada anak. Nah, jika beberapa tanda tersebut terlihat pada si kecil. Jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter ya bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Orangtua Muda Perlu Tahu Caranya Membesarkan Anak Demi Tumbuh Jadi Balita yang Selalu Bahagia

pexels-photo-713959 (1)

Menjadi orangtua itu tak ada pendidikan, pelatihan, atau sekolahnya. Semua tugas selama jadi ibu dan ayah semula dilakoni dengan bermodalkan intuisi, keyakinan, dan rasa percaya kalau kita bisa jadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita. Tapi pernahkah kita memikirkan, sudah bahagiakah anak kita selama ini? Sebab di usianya, terutama untuk anak Bunda yang masih berusia balita, kebahagiaan ditentukan juga karena pola asuh orangtuanya lho. Selagi ia masih kecil dan masih membutuhkan dua tangan orangtuanya untuk selalu menjaganya, maka kebahagiaan anak adalah tanggung jawab besar setiap orangtua.

Berusaha Tidak Jaim Saat Menghabiskan Waktu Bersama Anak

Ada tipikal anak yang suka aktivitas di luar ruangan dan aktif sekali. Ia suka main sepeda, berlari kesana kemari, bahkan sering mengajak ayah ibunya untuk mau melibatkan diri dengannya alias jadi teman mainnya. Tapi sayangnya, ada tipikal orangtua yang masih merasa jaim sehingga memilih untuk membiarkan si anak main sendiri kendati buah hatinya sudah meminta agar ditemani main. Hmmm, besok-besok coba yuk Bun untuk menepis dahulu rasa malu atau jaim dan utamakan keceriaan si kecil karena puas dan senang bisa bermain dengan orangtuanya.

Menyuapi Anak Tidak Membuat Anak Lantas Jadi Manja, Justru Itu Semakin Membuatmu Akrab dengan Buah Hati

Tak usah ambil pusing perkara omongan orang yang suka bilang kalau terbiasa menyuapi anak justru bisa membuat si anak menjadi manja. Di lain sisi, menyuapi anak sebenarnya memperkuat ikatan orangtua dan kita jadi lebih sering bercengkrama dengan si kecil lho Bun. Si kecl akan merasa diperhatikan dan menemukan kawan yang tepat yang bisa selalu ada untuknya, yaitu Bunda sebagai orangtuanya. Karenanya, jangan pikirkan pendapat orang ya Bun. Kalau mau suapi si kecil, suapi saja sembari mengajaknya bercengkrama.

Mengajarkan Si Kecil Untuk Menganalisis Sesuatu Lebih Baik Dimulai Sejak Ia Masih Kecil, Bun!

Kelak saat ia dewasa, modal yang diperlukan untuk jadi sosok yang bahagia adalah bisa melihat segala sisi dengan tetap positif. Hal ini tak akan diperoleh si kecil kalau sejak dini Bunda tak mengajarkan ia untuk menganalisis sesuatu. Membuat si kecil untuk lebih peka terhadap sekitarnya ya saat usianya masih balita. Ajarkan hal-hal yang sekiranya bisa mengasah intuisinya agar lebih detail dan berempati dalam melihat sekitarnya ya Bun.

Orangtua Pun Punya Peran Mengenalkan Cara Komunikasi yang Baik pada Si Kecil

Bun, soal etika dan perilaku si kecil, ini juga jadi tanggung jawab Bunda. Mendidik si kecil agar tumbuh jadi anak yang sopan akan membuatnya disukai lingkungannya dan akhirnya membuatnya ceria dan tidak jadi anak yang minder. Mendidiknya untuk bisa berkomunikasi dengan baik, tak hanya dengan anak sebaya tapi juga dengan orang dewasa, akan membuat si kecil belajar menghargai dan menumbuhkan semangat positif dalam dirinya.

Orangtua yang Mau Anaknya Bahagia, Tak Akan Pernah Membentak Anak Mereka

Ini juga penting. Ketika anak melakukan kesalahan atau ia sedang sedih namun tak mau menceritakan sesuatu pada orangtuanya, Bunda jangan sampai membentaknya ya. Hal semacam itu hanya membuat psikologisnya jadi terganggu dan menurunkan rasa percaya buah hati ke orangtuanya. Jadilah orangtua yang hangat yang bisa mau melembutkan hati untuk terus memahami si kecil ya Bun!

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top