Parenting

Bahaya untuk Anak, Setop Kebiasaan Menggelitik

baby-babysitter-babysitting-1116050

Sebagai orangtua, seringkali kita gemas oleh si kecil dan ingin sekali menggelitik mereka supaya memancing mereka tertawa terbahak-bahak karena tawa anak kecil memang lucu ya Bun. Tapi tahukah Bunda, ternyata menggelitik merupakan kebiasaan buruk yang harus dihentikan?

Ada efek negatif yang akan merugikan anak bahkan memancing anak sampai tertawa sangat geli itu tak dianjurkan nih Bun. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari situs Brightside pada Selasa, 25 Juni 2019.

Si Kecil Jadi Tak Nyaman

Bunda perlu tahu, hanya karena seorang anak tertawa, bukan berarti mereka senang lho saat digelitik. Anak-anak, terutama yang geli, tidak bisa berhenti tertawa ketika digelitik. Bahkan jika mereka benar-benar membencinya.

Tawa karena geli ini seperti ilusi. Anak seperti menikmatinya padahal sebenarnya tidak. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan di University of California pada 1997, para ilmuwan menemukan bahwa menggelitik tidak menciptakan perasaan bahagia yang sama seperti yang diciptakan ketika seseorang menertawakan lelucon lucu. Menggelitik hanya menciptakan ilusi lahiriah bahwa seseorang sedang tertawa.

Ia Justru Tak Bisa Mengontrol Dirinya Loh Bun

Tahukah Bunda, digelitik kehilangan kendali dirinya. Perjuangan untuk mendapatkan kendali bisa jadi hal sangat sulit bagi anak dan bisa meninggalkan kenangan yang tidak menyenangkan seumur hidup. Ketika orang dewasa menggelitik anak-anak, mereka kebanyakan bermaksud bersenang-senang.

Menurut Dr. Richard Alexander, Profesor Biologi Evolusi di University of Michigan, menggelitik bisa menjadi bentuk dominasi dan tawa yang mengikuti adalah cara untuk menunjukkan kepatuhan. Kalau dibiasakan, si kecil akan memiliki sifat penurut atas dominasi seseorang yang dilihatnya lebih dominan. Ia jadi tak percaya diri dan tak tahu cara menunjukkan dominasinya.

Dan Si Kecil Bisa Kesulitan Bernapas

Menggelitik dapat menyebabkan tawa yang tidak terkendali dan sulit untuk dihentikan. Tawa yang disebabkan oleh gelitik terus-menerus dapat mencapai titik di mana orang yang digelitik tidak lagi dapat bernapas dengan benar. Bila hal ini terjadi, tentu membahayakan si kecil sebab ia jadi mengalami sesak napas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bunda Bijak Harus Belajar Membuat Anak Mengerti Konsep Berbagi

baby-children-cute-264109 (1)

Anak-anak seringkali belum paham betul dengan konsep berbagi. Hal ini yang kemudian memicu munculnya pertengkaran karena hal sepele. Sebagai ibu dengan dua atau tiga anak, kondisi semacam ini pasti selalu dirasakan. Artis Angel Karamoy pun mengamini hal serupa. Ibu dua anak ini pun berbagi tips agar anaknya tak bertengkar dan berebut mainan.

Orangtua Harus Obyektif

Angel bilang hal yang pertama orang tua lakukan adalah harus melihat secara objektif, mana yang benar dan yang salah.

“Jangan kita main menuduh anak kita yang benar atau anak orang lain yang salah. Jadi pokoknya kita harus tahu dahulu nih akar permasalahannya,” kata Angel Karamoy. Saat anak bertengkar, ada baiknya orangtua memang harus bersikap netral dan tidak berpihak. Bunda harus jadi penengah dan negosiator ulung antara sang kakak dan adik.

Tunjukkan dengan Cara yang Sabar

Tips selanjutnya, Bunda harus memberi pengertian ke mereka dengan cara yang sabar. Tak boleh main tangan, jangan memberikan sanksi yang terlalu berat untuk anak-anak, apalagi menegur mereka di depan umum.

“Mereka pasti akan merasa malu dan gengsi dan yang terakhir memberikan anak-anak kita pengertian bahwa mereka harus sabar dan harus sportif terutama harus berbagi dengan yang lain,” ujar Angel Karamoy.

Pahami Bahwa Situasi Semacam Itu Normal Adanya

Di lain sisi, Bunda perlu mengerti bahwa anak-anak di bawah usia tiga tahun biasanya belum paham dengan konsep berbagi. Sekalipun di usia 2 tahun anak sudah bisa diajari untuk berbagi. Namun, ada anak batita yang cenderung ‘pelit’. Bunda tapi tak boleh kesal, karena ini artinya memang tahap tumbuh kembang anak belum mencapai hal itu. Kondisi ini sejatinya adalah hal yang normal. Hal ini diungkapkan oleh psikolog Anna Surti Ariani yang akrab disapa Nina.

“Sebenarnya salah satu yang normal adalah ketika anak batita dia enggak berbagi. Nah kalau dia bisa berbagi, itu bagus banget, tapi bukan berarti dia nggak normal ya. Jadi justru kita pada anak yang belum mau berbagi yang penting jangan dipaksa dan ciptakan momen untuk dia berbagi,” kata Nina dikutip dari detikcom.

Orang tua perlu menciptakan momen bagi anak untuk saling berbagi misalnya saja dengan mengajak teman si anak bermain ke rumah. Kemudian, sediakan kue atau kacang di stoples misalnya, lalu minta anak untuk membagikannya ke temannya.

“Hal terpenting, ketika orang tua mau melatih anak berbagi misalnya berbagi mainan, jangan memaksa karena keinginan berbagi memang baiknya muncul dari diri sendiri. Kepekaan orang tua amat penting untuk melihat bahwa secara tidak langsung anak sudah mau berbagi,” tutur ibu dua anak ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Tips Ajarkan Anak Tetap Tenang Saat Ia Tersesat di Jalan

adorable-book-boy-1250722

Sebagai orangtua, Bunda pasti merasa senang saat memiliki anak yang aktif dan punya rasa ingin tahu yang tinggi ya Bun. Apalagi untuk si kecil yang punya hobi sekali bereksplorasi, pasti ia tak betah bila hanya bermain di lingkungan rumahnya. Saking aktifnya, kadang si kecil terlalu jauh mainnya sehingga ia pun rentan tersesat dan hilang lantaran fokus dengan apa yang dilihatnya, Bun.

Sebagai orangtua, Bunda tentu hal tersebut sampai terjadi. Namun memang hal-hal buruk tersebut perlu dicegah dan diantisipasi ya Bun. Dilansir dari The Bumps, berikut lima hal yang bisa Anda sampaikan ke anak jika suatu waktu hilang atau tersesat.

Ajarkan Si Kecil untuk Menghapal Nomor ya Bun

Saat si kecil sadar bahwa ia tersesat, maka orang yang pertama dicari tentu orangtuanya. Untuk itu, ajarkan si kecil menghapal nomor telepon Bunda atau ayahnya ya. Kendati demikian, mengajarkan si kecil untuk mengapal nomor telepon bukanlah hal yang mudah ya Bun. Elisabeth Stitt dari Joyful Parenting Coaching menyarankan untuk membantu proses penghafalan melalui sebuah lagu. Namun Bunda juga bisa menyesuaikan dengan cara lain yang dianggap lebih efektif.

Ajarkan Pula Si Kecil untuk Menghapal Nama Lengkap Bunda

Selain mengajarkan si kecil menghafal nomor telepon, maka beritahu juga ya Bun bil aia perlu tahu siapa saja nama lengkap orangtuanya. Karena bisa saja, si kecil meminta bantuan orang lain untuk mencari Bunda, sehingga hal itu bisa mempermudah pencarian.

Ajarkan untuk Berada Tetap di Satu Tempat

Biasanya, bila orangtua terpisah dengan anaknya, mereka akan kembali menelusuri jalan dan tempat yang akan dilewati. Karenanya, Bunda bisa menjelaskan ke anak betapa pentingnya untuk tetap diam di suatu tempat jika terpisah, agar mudah untuk ditemukan.

Serta, ajarkan agar si kecil tetap tenang dan tidak panik saat berpisah dengan Bunda. Melainkan harus diam di lokasi tersebut menuju tempat yang mudah terlihat ya Bun.

Ajarkan Juga Si Kecil untuk Meminta Bantuan ke Ibu Lainnya

Selanjutnya, ajarkan anak untuk meminta bantuan ke ibu lain yang juga terlihat membawa anak. Menurut Keating, naluri yang dimiliki seorang ibu, biasanya akan membantu anak Bunda ke tempat yang aman atau bahkan hingga bertemu kembali dengan orang tuanya.

Ajarkan Ia untuk Tidak Jauh dari Orang yang Menolongnya

Yang tak kalah penting adalah mengajarkan anak untuk tetap berada di sisi orang yang menolongnya. Namun yang harus lebih ditekankan adalah untuk selalu berada di suatu tempat dan tidak pergi kemana-mana.
Ajarkan anak untuk selalu dekat dengan orang yang membantunya. Kemudian mintalah orang tersebut tersebut untuk menelepon Anda atau mengantarkannya ke pusat informasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Sering Puji Anak Cantik Tak Selalu Bawa Dampak Baik

bracelets-candy-child-2781197

Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan apapun yang terbaik untuk si kecil serta tak ingin menyakiti hatinya. Berbagai perlakuan manis rela ditunjukkan orangtua termasuk dengan senantiasa memuji anak kita terutama si anak perempuan dengan mengatakan ia cantik.

Sejatinya tak ada salahnya memuji anak sendiri, bukan? Namun bila terlalu sering, ternyata efeknya tak baik lho Bun. Mengutip laman Practical Parenting, memberi pujian cantik pada anak akan membuat si kecil bahwa wajah cantik adalah segalanya dan aset paling berharga, Bun. Karenanya, secara tak langsung, hal ini akan membuat Bunda mengajarkan si kecil untuk menaruh fokus pada apa yang terlihat, bukan yang ada di dalam.

Bahkan menurut laporan Forbes, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa pujian cantik dapat berdampak buruk. Ini karena ketika anak diberitahu bila dirinya cantik, maka si kecil akan mempertahankan identitas tersebut. Efeknya, ia akan menghindari permainan atau aktivitas yang menurutnya bisa menghapus identitasnya sebagai anak yang cantik. Bagaimanapun, pujian ini membawa pengaruh untuk psikologis mereka.

Apalagi ditambah dengan survei BBC pada 2011, menemukan 6 dari 8 anak berusia 8 hingga 12 tahun, merasa lebih baik jika memiliki tubuh yang kurus. Penelitian yang dilakukan oleh Girl Guiding UK ini juga menemukan bahwa para anak perempuan sering menghubungkan kebahagiaan dengan bentuk tubuh.

Jadi Bun, memuji cantik itu tak masalah, karena pujian pun sebagai bentuk apresiasi, namun sebaiknya dilakukan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan ya Bun.

“Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di dalam anak saya yakni pikirannya, hatinya, dan jiwanya,” tulis Kerri Sackville, penulis Out There – A Survival Guide for Dating in Midlife, seperti dikutip dari Practical Parenting.

Dibanding memperbanyak intensitas pujian secara fisik, justru Bunda disarankan untuk memuji si kecil yang mau melakukan keterampilan atau pekerjaan rumah sehingga membuat kemampuan atau pengetahuannya bertambah.

“Penelitian menunjukan saat anak-anak tidak memiliki masalah kepercayaan diri pada tubuhnya ketika berada di sekolah, mereka cenderung sering mengajukan pertanyaan. Sementara dalam kasus-kasus ekstrem, ada anak yang menderita dysmorphia atau gangguan kejiwaan yang mungkin tidak merasa senang pergi ke sekolah,” tambah Swinson.

Sementara itu, Dr Sandra Wheatley, psikolog dan penulis Helping New Mothers To Help Yourself memberi saran dalam hal memuji anak, yaitu dengan menambahkan aspek karakternya. Sehingga kecantikan bukanlah yang utama dan si kecil tidak akan berpaku pada penampilan saja.

“Wajar untuk mendandani anak perempuan dengan cara yang feminin dan tidak ada yang salah dengan itu, selama kecantikan (dari luar) bukan yang difokuskan,” tutup Wheatley.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top