Kesehatan Ibu & Anak

Bagaimana Kita Tahu Kapan Saat Melahirkan itu Sudah Tiba?

female-lady-mother-59894

Untuk para Bunda yang baru pertama kali merasakan kehamilan, tentu ada perasaan gugup saat usia kehamilan memasuki trimester akhir. Menantikan proses kelahiran menjadi momen langka karena Bunda sendiri tak tahu secara pasti kapan si kecil akan lahir. Hanya saja, Bunda dapat mengetahui waktu yang tepat untuk melahirkan melalui beberapa tanda.

Tahukah Bunda, ada kalanya kita sukar mengetahui apakah kontraksi yang Bunda rasakan adalah kontraksi menjelang melahirkan atau justru kontraksi palsu. Tapi yang pasti, kapan Bunda harus melahirkan adalah ketika air ketuban pecah. Nah, sebelum air ketuban pecah, Bunda atau Ayah harus menghubungi dokter saat kontraksi terjadi tiap 5 menit dan berlangsung selama 30-40 detik. Biasanya dokter akan meminta Bunda segera ke rumah sakit.

Tetap Tenang Saat Bunda Menelpon Dokter

Mungkin Bunda akan langsung berangkat ke rumah sakit begitu merasakan tanda-tanda melahirkan. Tapi ada juga yang menghubungi dokter sebelum memutuskan berangkat ke rumah sakit. Melalui telepon, biasanya dokter akan menanyakan beberapa hal di bawah ini:

  1. Kapan terakhir kali Bunda merasakan gerakan janin di dalam kandungan?
  2. Sejak kapan kontraksi terjadi, berapa sering dan berapa lamanya?
  3. Apakah ketuban Bunda sudah pecah atau Bunda mengalami pendarahan di vagina.

Bila Kontraksi Terasa Sakit, Ayah Jangan Tinggal Diam

Berdasarkan hal itu, dokter akan menyarankan apa Bunda masih harus menunggu di rumah atau segera ke rumah sakit. Nah itu tadi tanda-tanda umum, sementara untuk tanda-tanda darurat, dimana Bunda harus langsung berangkat ke rumah sakit dan menghubungi dokter jika Bunda merasakan hal-hal ini:

  1. Terjadi kontraksi, padahal kehamilan Bunda kurang dari 37 minggu.
  2. Bunda tidak merasakan gerakan bayi sekitar 8-10 jam atau kurang dari 10 gerakan dalam 24 jam.
  3. Kontraksi terlalu menyakitkan. Segera katakan pada Ayah kalau Bunda perlu ke Rumah Sakit.

Kenali Perbedaan Kontraksi  Nyata dan Palsu

Nah, mengenai kontraksi, ketika merasakan kontraksi, jangan terkecoh dengan kontraksi palsu atau dikenal juga dengan nama Braxton Hicks. Kalau ini kehamilan pertama dan Bunda belum mengenali kontraksi sebenarnya, mungkin Bunda mengira sudah saatnya melahirkan. Tapi tidak ada salahnya kalau Bunda menghubungi dokter untuk memastikannya. Jaga kondisi tubuh Bunda di masa kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan Bunda dan janin. Klik di sini untuk mendapatkan informasi lengkap seputar nutrisi seimbang di masa kehamilan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Tak Apa Bila Sekali Waktu Bunda Menangis di Depan Anak

kids

Sebagai orangtua, ada kalanya kita dilanda rasa kesal, marah, atau bahkan ingin menangis. Ya Bun, namanya juga manusia. Tapi ada lho orangtua yang berprinsip tak mau memperlihatkan air mata di depan anaknya. Alih-alih meluapkan emosi secara alami, Bunda biasanya terburu-buru menyeka air mata agar tak terlihat oleh anak. Padahal sejatinya menunjukkan emosi atau keadaan Bunda di depan anak itu normal lho Bun.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Ya Bun, hal ini membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami. Pemicu orangtua tiba-tiba menangis biasanya karena mungkin saat merespon kematian anggota keluarga besar. Untuk hal semacam ini, maka biarkan anak tahu emosi orangtuanya. Apalagi bila ia juga mengenal dekat sosok yang telah berpulang. Dengan menunjukkan emosi yang sama, anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik. Nah Bun, hal sama juga dirasakan oleh anak-anak, mereka yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Untuk itu, pastikan Bunda pun memberikan informasi yang cukup guna membantu mereka memahami bahwa tak ada alasan untuk takut atau bingung. Bunda dapat bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis. Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan,

“Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya. Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Ada Kondisi Langka Asi Keluad Dari Vagina, Kok Bisa Ya Bun?

apartment-bed-carpet-269141 (1)

Hamil dan melahirkan hingga menyusui adalah proses sakral untuk setiap perempuan. Namun pasca melahirkan perempuan harus menghadapi kenyataan lain yaitu perubahan bentuk tubuh. Umumnya berupa kenaikan berat badan sehingga perempuan yang baru melahirkan pasti terlihat lebih gemuk. Namun tidak bagi satu perempuan asal Austria. Perubahan tubuhnya cukup anomali karena ia diketahui memproduksi air susu di area vagina.

Dalam jurnal Obstetrics & Gynecology, dokter spesialis kandungan dr Richard Mayer dari Kepler University Hospital menyebut bahwa pasien wanita berusia 29 tahun tersebut awalnya datang dengan keluhan nyeri di vulva, bagian luar dari vagina, usai melahirkan. Pemeriksaan melihat ada banyak pembengkakan di area jahitan.

Mengutip dari Live Science, dokter sempat mengira bila cairan putih yang keluar dari pembengkakan vulva adalah nanah. Namun hasil pindaian ultrasound ternyata menemukan hal lebih langka, yaitu adanya jaringan yang mirip seperti jaringan penghasil susu di payudara.

Akhirnya ibu ini didiagnosis dengan kondisi jaringan payudara ektopik (EBT). Menurut dr Richard ini adalah kasus langka karena biasanya EBT ditemukan di area ketiak atau areola. Diperkirakan sekitar 1-5 persen wanita lahir dengan EBT. Menurut artikel di American Journal of Roentgenology EBT bisa diangkat lewat operasi bila menyebabkan ketidaknyamanan untuk pasien.

Pada kasus ibu asal Austria ini, pembengkakan terjadi karena jahitan di vulva menyumbat aliran susu. Dokter mencabut jahitan tersebut dan keluhan nyeri sang wanita berangsur mereda. Setelah dua minggu produksi air susu di vulva sang wanita perlahan berkurang dan ia bisa menyusui dengan normal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Kurang Minum Air Saat Hamil Picu Kelainan pada Tumbuh Kembang Janin

drink-drinking-female-1458671

Bun, saat hamil, jangan sampai Bunda kurang minum ya. Sebab minum adalah aktivitas penting yang tak boleh dilewatkan. Bunda tentu tak ingin tumbuh kembang bayi dalam kandungan bermasalah kan?

Mengutip Kumparan.com, Ketua Indonesian Hydration Working Group, Prof. Budi Wiweko menjelaskan alasan mengapa Bunda yang sedang hamil harus tetap terhidrasi.

“Kita sudah melakukan studi pada ibu hamil di tiga kota, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, dan hasilnya menyatakan ibu hamil dia butuh kurang lebih 2,5 liter setiap hari,” papar Budi.

Budi mengatakan, ibu hamil membutuhkan lebih banyak air minum untuk membantu produksi air ketuban.

“Air ketuban itu berasal dari, yang paling banyak adalah dari urinenya bayi. Dan bayi itu volume urinenya akan cukup kalau dia mendapatkan jumlah nutrisi dan cairan yang cukup dari ibunya.”

Konsumsi air putih yang banyak pun akan membantu Bunda terhindar dari oligohidramnion atau jumlah air ketuban yang terlalu sedikit. Untuk ibu yang sedang hamil, konsumsi air bisa mencapai tiga liter air setiap harinya. Bunda perlu tahu, air ketuban yang terlalu sedikit dapat pertumbuhan bayi pun terhambat.

“Kalau janin, air ketubannya berkurang, efek sampingnya bisa satu pertumbuhan janinnya bisa terhambat. Dia kan untuk tumbuh butuh bergerak dengan aktif, jadi janinnya bisa kecil,” kata Budi.

Lebih lanjut, kekurangan air ketuban pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi memiliki kelainan anatomi, bahkan hingga menyebabkan kematian. Konsumsi air pada ibu hamil bisa mendukung periode emas 1.000 hari pertama anak. Pada 270 hari pertama periode emas, anak masih berada dalam kandungan dan bergantung pada nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu.

“Selama di dalam rahim, komponen nutrisi itu menjadi komponen yang sangat penting dan salah satunya adalah air. Air itu merupakan makro nutrisi. Tentu sangat berpengaruh.”

Tapi bukan hanya ibu hamil, lho, Bun! Setelah melahirkan dan saat menyusui bayinya, Bunda juga masih membutuhkan konsumsi banyak air. Untuk itu, jangan sampai kurang minum ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top