Parenting

Ayah, Jangan Hanya Diam Saja, Lakukan Hal Ini Saat Kakak Cemburu Pada Adiknya

pexels-photo-1470109

Yang namanya orangtua tak bisa disebut ibu saja, ada sosok ayah yang jelas sama-sama punya peran yang sangat krusial dalam tumbuh-kembang si kecil. Terlebih dalam hal menghadapi si kecil yang sedang ‘butuh perhatian’ lebih seiring kehadiran sang adik.

Rasa kekhawatiran dari si kakak kalau orangtuanya kelak hanya akan fokus pada adiknya yang baru lahir memang cukup buat dilema. Maka kali ini keberadaan ayah sangat diperlukan demi membuat dirinya tak terbelenggu oleh rasa cemburu yang dirasakannya sendiri.

Sekalipun bunda memang tak akan membagi perhatiannya, tak ada salahnya ayah membantu bunda dalam hal mengurus sang kakak mengingat bunda pun pasti kewalahan mengurusi rumahtangga, kehamilan, serta kerewelan buah hatinya.

Ajari Si Kakak Arti Pentingnya Toleransi

Mengutip dari tempo.co, Ayah bisa mengajari si kakak soal pentingnya toleransi serta pengendalian stres dan emosi. Hal ini penting supaya kakak tak lagi menganggap adik sebagai “ancaman” apalagi “lawan” dalam hal mendapatkan perhatian orangtua.

Ayah pulalah yang bisa mendampingi si kakak belajar berbagi, termasuk dengan sang adik. Ayah juga perlu mempersiapkan mental sang kakak sejak adiknya masih dalam kandungan. Dengan demikian, dia terlatih menerima kehadiran adiknya sejak dini.

Mungkin Ini Saatnya Ayah Lebih Banyak Lagi Melibatkan Diri Dalam Aktivitas Bersama Si Sulung

Cara lain adalah melibatkan diri dalam aktivitas si sulung. Ayah bisa mulai melakukan tugas yang biasanya dilakukan bunda, seperti memandikan si sulung, menemaninya belajar, menonton televisi bersama, bermain, juga mengisi akhir pekan.

Lakukan hal ini pelan-pelan saja si sulung tak memprotes menyikapi perubahan dalam keluarganya. Sekalipun lingkungan di Indonesia cenderung patriarikis, jangan sampai hal tersebut menghambat para ayah yang ingin terlibat banyak dalam hal pengasuhan anak.

Lagipula ada dampak positif dengan melakukan kegiatan ini. Para psikolog mengungkapkan, peran ayah dalam pengasuhan sejatinya bisa menjauhkan anak dari sikap agresif, cemas, nakal, dan sukar berinteraksi di lingkungan. Untuk itu, melawan stigma demi buah hatinya sepertinya perlu dilakukan.

Ayah Bisa Jalin Kedekatan dengan Sang Kakak dengan Terus Menanyakan Aktivitasnya, Dengan Begini, Ia Akan Tetap Merasa Diperhatikan

Kepada para ayah, jangan lupa untuk tetap rutin menanyakan kehidupan sekolah dan aktivitas sosial si sulung ya. Anak yang dekat dengan sang ayah cenderung punya hubungan yang baik di sekolah daripada anak-anak yang mengalami hal sebaliknya.

Meski ayah hanya ikut mengasuh dalam hal-hal sederhana, seperti membaca untuk sang anak, pergi bermain, dan tertarik pada perkembangan akademik anak, maka peran tersebut sudah sama seperti sosok bunda dalam pengasuhan anak.

Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph Canada pada tahun 2007 mengungkapkan jika peran ayah dalam pola pengasuhan bisa memberikan pengaruh yang kuat untuk perkembangan anak, baik secara sosial, emosi, fisik, dan kognitif.

Terutama Bila Kakak Pertama adalah Anak Laki-laki, Peran Ayah Jelas Selalu Dibutuhkan Terutama Jelang Perubahan Status dari Anak Satu-satunya kemudian Menjadi Kakak

Terutama bila ayah memiliki seorang anak laki-laki, jelas peran ayah akan membantu mereka untuk menemukan identitas gender sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab pada keluarga dan adik-adiknya, sehingga ketika tumbuh dewasa dan contoh yang positif dalam kehidupan mereka.

Sedangkan untuk anak perempuan, peran ayah sangat membantu dalam pertumbuhan mental sehingga mereka cenderung lebih jauh dari masalah kesehatan mental ketika tumbuh dewasa.

Maureen Black, PhD, peneliti dan profesor pediatrik di University of Maryland School of Medicine mengungkapkan, “Kami menemukan bahwa anak-anak yang pola asuhnya melibatkan ayah memiliki masalah yang lebih sedikit,” ujar Maureen. Dalam penelitian tersebut, anak-anak terutama anak sulung yang bisa dekat dan akrab pada ayahnya lebih matang saat berbicara dan berkelakuan lebih santun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kesalahan yang Umum Dilakukan Orangtua Saat Menyuapi Anak

baby-baby-eating-chair-973970 (4)

Proses memberikan makan pada si kecil seharusnya menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Hanya saja, sebagai orangtua, ada kalanya Bunda mengabaikan beberapa hal yang akhirnya justru merugikan si kecil. Baik kebiasaan maupun asupan makanan yang diberikan, bisa jadi pemicu si kecil jadi bermasalah dengan kebiasaan makannya kelak. Untuk itu, perhatikan lagi ya Bun apa-apa saja yang sebaiknya tak dilakukan saat menyuapi si kecil.

Anti Makan Berantakan

Saat menyuapi si kecil dan suapan tersebut luber kemana-mana, pasti Bunda segera mencari lap basah dan membersihkannya sesegera mungkin. Rasanya jangan sampai si kecil terlihat kotor karena sisa makanan yang berantakan ke sisi-sisi wajah atau bahkan bajunya. Padahal, kebiasaan ini justru sebaiknya dikurangi. Biarkan si kecil bereksplorasi dengan kondisi ‘kotor’ yang muncul saat ia makan. Ia akan belajar tentang apa yang dikonsumsinya dari situ.

Untuk itu, tak usah khawatir atau takut kotor, justru biarkan si kecil makan sendiri saat usianya sudah cukup mampu untuk memegang sendok sendiri. Di masa-masa eksplorasi, berikan varian menu yang semakin beragam. Sembari mengajarinya tentang makanan, Bunda juga bisa mengajarinya untuk belajar bersih-bersih sendiri setelah makan.

Proses Menyuapi yang Terlalu Lama

Banyak sekali orangtua yang memilih untuk memanjakan buah hati mereka dengan selalu menyuapinya saat makan. Padahal, Bunda disarankan melatih si kecil untuk makan sendiri sejak usia 8-9. Baru kemudian di usia 12 bulan, ia sudah benar-benar memilih untuk makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Jangan takut si kecil justru tak mau makan, bersabarlah dalam membimbingnya dan biarkan si kecil berproses.

Memilih Makanan yang Terlalu Sehat untuknya

Orangtua selalu terperangkap pada pemikiran bahwa bayi dan anak-anak harus diberikan makanan terbaik dan menyehatkan. Di lain sisi, tren makanan sehat pun semakin berkembang, dan menekankan bahwa golongan makanan sehat adalah buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

Padahal makanan tersebut rendah lemak dan lebih cocok untuk orang dewasa yang tengah menjalankan diet sehat. Untuk itu, lebih bijaklah untuk urusan memberikan makanan pada si kecil ya Bun. Di usianya, mereka membutuhkan asupan lemak untuk tumbuh kembangnya.

Membiarkan Si Kecil Menggigit Makanan atau Mengonsumsi Minuman orang Dewasa

Mungkin Bunda sama sekali tak sadar ada beberapa kebiasaan orang dewasa yang justru membahayakan si kecil. Misalnya membiarkan ia menyeruput sedikit kopi atau atau memberikannya sepotong brownies. Padahal, ada bahaya yang mengintai. Kafein, soda, yang mungkin terkandung dalam minuman, akan mengancam kesehatannya.

Serta makanan manis akan membahayakan kesehatan giginya. Bahkan kalau si kecil sudah terlanjur menyukai rasanya, tak menutup kemungkinan ia akan meminta makanan itu lagi. Untuk itu, lebih berhati-hati ya Bun saat memberikan makanan atau snack pada si kecil. Di usianya, tak semua makanan disarankan untuk dikonsumsi. Terutama yang tinggi gula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mainan Anak

Di AS, Mainan Forky Ditarik dari Pasaran Lantaran Dinilai Tak Aman

forky

Karakter baru Forky dalam film Toy Story 4 menuai polemik baru di kehidupan nyata. Terbaru, Disney telah mengeluarkan imbauan penarikan secara sukarela mainan Forky dengan alasan masalah keamanan. Bahkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Disney melaporkan bila bagian mata Forky dapat terlepas dan menuai risiko tertelan pada anak di bawah umur tiga tahun.

Dilansir dari Aceshowbiz, Rabu, 10 Juli 2019 perusahaan akan mengembalikan dana secara penuh kepada pelanggan yang mengembalikan mainan tersebut.

“Kami mendukung pengembalian penuh mainan Forky. Tidak ada ada yang lebih penting dibanding keselamatan konsumen kami,” ujar Disney dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Twitter pada Senin, 8 Juli. “Silakan hubungi 866-537-7649 atau kembalikan barang tersebut ke toko Disney / Disney Parks Amerika Utara.”

Mainan Forky memang dijual di Toko Disney, Disney Theme Parks, shopdisney.com dan melalui toko Disney di Amazon Marketplace dari April hingga Juni dengan harga sekitar US$20 atau Rp 281 ribu. Sekitar 80.650 mainan telah terjual di AS dan Kanada. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan karena belum ada cedera yang dilaporkan.

Dalam film Toy Story 4, Forky berjuang dengan krisis percaya diri setelah Bonnie menciptakannya dari sampah. Tubuh Forky terbuat dari senpu atau sendok garpu dan ditambahkan aksesoris lain sehingga membuatnya menjadi mainan yang utuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top