Parenting

Anak Takut Ketika Bertemu dengan Orang Baru? Ini 10 Cara Supaya Si Kecil Tak Takut pada Orang Baru

anak takut

Bun, rasa takut anak pada orang asing memang biasanya akan hilang saat usianya memasuk 18 bulan. Tapi kadang ada juga tipikal balita yang sampai usianya melewati 2 tahun, ia belum bisa terlepas dari fase takut ke pada orang asing. Begini, pada dasarnya anak takut pada orang asing adalah hal normal. Hal ini pun terjadi karena anak-anak hanya tahu orang terdekatnya adalah keluarga.

Karenanya, bila mungkin Bunda pernah mengajak si kecil bertemu dengan teman atau kerabat yang belum pernah ditemuinya, ia akan bereaksi dengan menangis, rewel, atau bahkan jadi sangat pendiam, takut, dan bersembunyi. Nah Bun, demi mengatasi si kecil agar tak jadi anak yang selalu takut pada orang asing, mungkin Bunda perlu melakukan sepuluh hal sederhana ini.

Bantulah Si Kecil agar Merasa Nyaman

Berikan kesempatan padanya untuk bertemu orang baru ya Bun. Bunda bisa menggendong dan memperkenalkannya ke teman Bunda yang mungkin belum pernah ditemuinya. Kalau suasananya nyaman, si kecil pun akan merasa nyaman dengan kehadiran orang yang baru ditemuinya itu.

Berikan Benda Kesayangannya

Seandainya yang harus ditemuinya kali ini adalah saudara jauh dan kebetulan belum pernah bertemu dengan si kecil, cobalah Bunda pakai trik membawa benda atau mainan kesayangan si kecil. Mintalah pada kerabat Bunda tersebut untuk berkenalan dan menghabiskan waktu dengan si kecil dengan melibatkan mainannya itu.

Bila Bunda Harus Meninggalkan Si Kecil di Daycare, Beritahukan apa yang terjadi

Kalau Bunda terpaksa harus meninggalkannya bersama orang yang belum dikenalnya sebagai pengasuh di daycare, maka beritahukan hal tersebut pada si kecil. Jelaskan baik-baik padanya siapa orang yang baru dilihatnya dan apa yang terjadi. Misalnya, jelaskan kalau orang itu adalah pengasuh yang Bunda percaya. Terpenting, beritahukan juga kapan Bunda akan kembali.

Cobalah Bagikan Situasi Ini Kepada Orang yang Akan Bunda Temui 

Sebelum mengajak si kecil bertemu dengan kerabat atau teman Bunda, lebih baik ungkapkanlah padanya kalau sii kecil butuh waktu untuk menyesuaikan diri bila bertemu orang baru. Mintalah pada mereka untuk tak terlalul agresif dan menghormati ruang pribadi si kecil yaitu dengan tidak terburu-buru mengajaknya berkenalan.

Kalaupun Sang Kerabat Hendak Menggendong si Kecil, Mintalah untuk Menunggunya

Demi kenyamanan si kecil, mintalah teman atau kerabat Bunda yang tak dikenal bayi untuk sedikit menunggu sebelum menggendongnya.  Bayi biasanya lebih rileks ketika orang mendekat perlahan dan tenang serta tidak terburu-buru menggendongnya.  Biarkan bayi merasa nyaman sebelum kontak dengan orang lain ya Bun.

Perkenalan bertahap

Kalau bayi memang kesulitan menyesuaikan diri dengan orang baru, bunda bisa mencari alternatif dengan melakukan perkenalan bertahap. Misalnya, perkenalkan satu orang di hari ini. Di hari berikutnya, ajak bayi berinteraksi dengan orang itu selama beberapa menit. Tingkatkan durasi si kecil bersama orang tersebut agar mereka perlahan bisa menjadi akrab.

Bersikaplah Hangat Kepada Orang Tersebut di Depan Si Kecil

Bayi atau balita biasanya menerima petunjuk dari Bunda dan perilaku orangtuanya. Karenanya, perlakukan orang yang familiar dengan Anda tapi tidak familiar bagi bayi dengan hangat. Setidaknya tunjukkanlah kalau Bunda merasa nyaman dengan orang tersebut sehingga si kecil pun ikut merasa nyaman.

Luangkan Waktu Bunda dengan Si Kecil dan Orang yang Ingin Bunda Kenalkan

Demi penyesuaian, yuk Bun luangkan waktu bersama si kecil dan orang yang ingin Bunda kenalkan. Cobalah dengan mulai mendudukan anak di dekatnya. Bila anak merasa tidak nyaman, pindahkan anak ke dekat Bunda. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.

Siapkan Momen Perkenalan Sebaik Mungkin, Bukan Saat si Kecil Lapar ya Bun

Siapkan semua kebutuhan bayi sebelum ia bertemu orang baru. Biasanya bayi rentan cemas kalau merasa lelah atau lapar. Karenanya, sebelum Bunda hendak mengenalkannya pada orang baru, sebaiknya gantikan dulu popok dan berikan susu padanya. Bahkan biarkan ia tidur siang sebelumnya. Bayi harus merasa bahagia dan di mood yang baik untuk menjalani transisi dengan baik.

Bawa anak ke tempat umum

Satu cara untuk membuat anak terbiasa melihat wajah baru adalah dengan mengajaknya sering keluar, Bun. Coba yuk cari waktu paling tidak sehari saja dalam seminggu dan ajak ke taman terdekat atau area bermain.

Setelah membuat anak familiar dengan tempat-tempat ini, mulai perkenalkan anak pada teman atau kerabat Bunda. Semakin banyak orang baru yang anak temui di jarak yang aman, semakin baik ia akan mengatasi rasa takutnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bunda Patut Waspada, Ancaman Penyakit Mental pun Menghantui Anak-anak

kids sad

Bun, belum lama ini dunia baru saja memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Peringatan semacam ini perlu ada lantaran masalah kesehatan jiwa masih sering jadi salah satu masalah yang suka diabaikan. Di Indonesia misalnya, masih banyak yang suka salah arti. Penderita penyakit mental dianggap kerasukan roh jahat atau dituduh kurang memiliki iman. Stigma yang salah terhadap penyakit seolah-olah menjadi tindakan diskriminatif atau terkesan menyudutkan.

Di lain sisi, Bunda juga perlu sadar kalau kalau penyakit mental tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja, namun juga bisa juga dirasakan anak-anak. Sebagai orangtua, Bunda pun harus bisa mengetahui tanda-tanda si anak mulai mengalami penyakit mental.

Si Kecil Mengalami Perubahan Perilaku

Terkadang perubahan perilaku seringkali terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Untuk mengidentifikasinya, bunda hanya perlu peka terhadap aktivitas sehari-hari si Anak. Perubahan perilaku pada anak bisa terlihat saat dirinya berada di dalam rumah.

Misalnya, si anak biasanya patuh terhadap perintah bunda, seiring berjalannya waktu dirinya lebih cenderung menentang atau mulai berperilaku kasar. Kondisi ini akan memicu hubungan orangtua dan anak kurang harmonis di dalam rumah.

Perubahan perilaku ini bisa saja menandakan kalau dirinya sedang mengalami masalah. Tak jarang permasalahan yang terjadi pada si kecil justru dipendam sendiri bahkan belum bisa diselesaikan, sehingga  ia mudah frustasi bahkan berujung depresi.

Ia Pun Juga Rentan Mengalami Perubahan Mood yang Tak Stabil

Kalau Bunda perhatikan, perubahan mood pada anak-anak cenderung berubah secara mendadak dan konstan. Ketidakstabilan ini perlu dicurigai lho Bun, apalagi saat ia belum bisa memposisikan mood dirinya sendiri di situasi yang tepat.

Si kecil bisa tiba-tiba menangis, berteriak atau bahkan merasa takut secara berlebihan tanpa alasan. Hal seperti ini tidak bisa dianggap remeh karena akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehariannya.  Bun, ketidakstabilan perubahan mood dan emosi pada anak perlu diperhatikan karena ini bisa jadi tanda apakah dirinya memiliki gejala depresi atau kelainan bipolar.

Ada Perubahan pada Si Kecil yang Terlihat dari Gejala Fisik

Bunda perlu tahu, ada tanda-tanda fisik yang diberitahukan oleh tubuh bukan hanya untuk sakit fisik saja, namun juga karena penyakit mental. Penyakit mental yang terjadi pada anak-anak bisa menyebabkan sakit kepala apalagi kalau permasalahan hidupnya belum bisa terselesaikan.

Si kecil yang menderita penyakit mental juga lebih mudah terkena berbagai penyakit semisal flu, demam atau sakit perut. Bahkan aktivitas keseharian si kecil juga akan terganggu karena dirinya memiliki kesulitan untuk bernapas hingga merasa detak jantung yang berdebar cepat.

Hal ini bisa terjadi karena ada rasa cemas sedang dirasakan olehnya.  Bahkan di beberapa kasus, kondisi kesehatan si kecil bisa dianggap serius saat ia berusaha melukai dirinya sendiri dengan benda tajam atau usaha percobaan bunuh diri lho Bun.

Dan Berat Badan Si Kecil Tiba-tiba Menurun

Penurunan berat badan yang begitu drastis pada anak-anak tidak bisa dianggap remeh ya, Bun. Bisa saja penurunan berat badan ini dikarenakan si kecil sedang mengalami banyak masalah dan dirinya belum bisa menyelesaikannya dengan baik.

Perlu disadari kalau penurunan berat badan pada si kecil bisa terjadi karena dua hal, terkena penyakit fisik atau sedang mengalami masalah mental. Sebagai orangtua, Bunda harus peka terhadap penurunan berat badan ini karena dapat menyebabkan efek negatif yang serius untuk si kecil.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Ternyata Kemampuan Mengeja Tidaklah Sama dengan Membaca

reading

Membaca dan mengeja itu dua kegiatan yang berbeda. Bunda harus memahami hal mendasar ini dulu sebelum mengenalkan huruf pada si kecil. Banyak orangtua yang sering merasa membaca dan mengeja itu sama. Padahal, yang perlu diajarkan kepada anak adalah membaca, bukan mengeja. Terbaru, presenter sekaligus sekaligus Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, menjelaskan kenapa membaca dan mengeja itu berbeda. Ketika anak sudah bisa mengeja, belum tentu dia bisa membaca lho, Bun.

“Membaca adalah upaya untuk menemukan makna,” kata Najwa Shihab seperti dikutip dari haibunda.com. Saat anak bisa mengeja tulisan tapi ia belum menemukan makna tulisan tersebut, berarti si kecil belum sampai tahap membaca.

Bun, di fase ini, Bunda tak usah terburu-buru. Kalaupun ia baru mampu mengeja, maka Bunda tinggal pelan-pelan membimbingnya untuk bisa menemukan makna kata yang diejanya. Bagaimana caranya?

Pertama, mulailah dengan mengenalkan huruf padanya. Mintalah si kecil untuk mengucapkannya setelah Bunda. Kemudian ajarkan si kecil untuk menghapal urutan huruf mulai dari A hingga Z. Bunda bisa mengakali dengan mengajarinya lima huruf setiap harinya.

Setelah si kecil mengerti dan paham deretan huruf abjad dan cara melafalkannya, maka selanjutnya adalah mengenalkan huruf vokal dan konsonan. Cobalah berikan contoh dan ajarkan si kecil cara melafalkannya. Tak usah terburu-buru ya Bun, yang penting si kecil tak merasa jenuh dan mudah bosan.

Saat si kecil sudah menguasai tahapan ini, Bunda bisa mengajarkannya membaca kata demi kata. Dalam hal in bantulah kembali mengejanya huruf per huruf demi memudahkan si kecil. Saat melatih si kecil mengucapkan kata, sebaiknya pilihlah kata-kata yang mudah diingat dan biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Bunda bisa memulainya dengan dua suku kata terlebih dahulu seperti gigi, kuku, bola, dan semacamnya. Baru secara bertahap, Bunda bisa menaikkan tingkat kesulitannya.

Nah, agar suasana belajar lebih menarik lagi, Bunda bisa menerapkan belajar mengeja dengan lagu. Cara ini banyak dipakai oleh orangtua supaya mereka tak mudah bosan. Belajar mengeja dengan lagu akan membuat si kecil lebih mudah diingat. Yuk Bun, cobalah berkreasi dengan mengarang lagu-lagu yang mudah diingat atau mengubah lirik lagu anak yang sudah ada.

Di lain sisi, tokoh literasi Maman Suherman mengatakan, cara lain yang bisa dimanfaatkan adalah meminta anak menceritakan ulang bacaan saat si kecil sudah selesai membaca. “Jadi dia tidak cuma mengeja. Tapi dia bisa menceritakan ulang. Kalau dia bisa menceritakan ulang, berarti dia sudah menangkap pesan dari apa yang dia baca,” katanya.  Jika anak sudah bisa menceritakan ulang atau menuliskan kembali isi buku yang dia baca, berarti anak sudah bisa membaca. Kata Maman, pada dasarnya anak-anak suka ‘menemukan’ sesuatu yang baru.

Maman mengatakan, “Tiba-tiba dia menemukan sesuatu lewat bacaan, menemukan sesuatu yang dia tidak pahami menjadi paham, itu akan mendorong anak untuk tidak berhenti melakukan hal tersebut.”

Urusan membaca, tugas Bunda memang tak hanya mengajarkannya mengeja. Tapi juga mendorongnya membaca dan menemukan makna dalam tulisan. Bunda bisa melatih anak membaca dengan memintanya menceritakan kembali apa yang mereka baca.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Minder, Gagap yang Dirasakan si Kecil Bisa Hilang Asal Bunda Sabar Membimbingnya

anak bicara

Dalam masa tumbuh kembangnya, si kecil akan melewati beberapa fase. Salah satunya fase yang penting yaitu saat kemampuan berkomunikasinya meningkat. Kepintaran si kecil dalam berkomunikasi tergantung dari sistem tumbuh kembangnya. Hanya saja, banyak orangtua yang masih khawatir kalau anaknya gagap. Gagap adalah kondisi dimana seseorang melakukan pengulangan frasa atau kata. Di usia anak-anak, sejatinya hal ini wajar terjadi lho Bun.

Mengutip Nakita, sekitar 5% dari semua anak cenderung sedikit sulit berbicara di beberapa titik dalam perkembangannya, biasanya antara usia 2,5 dan 5 tahun. Gagap terjadi tanpa alasan yang jelas. Tetapi seringkali ini terjadi ketika seorang anak merasa senang, lelah, atau merasa terburu-buru untuk berbicara. Ada beberapa faktor mengapa seorang anak bisa gagap atai mengalami gangguan bicara.

Mulai dari riwayat keluarga, hal ini bisa jadi faktor terbesar si kecil seorang anak jadi cenderung gagap atau tidak. Di lain sisi, jenis kelamin pun berpengaruh. Anak laki-laki punya kemungkinan dua kali lebih besar dibanding anak perempuan muda untuk gagap. Sementara itu, anak laki-laki usia sekolah dasar memiliki kemungkinan 3-4 kali lebih gagap daripada anak perempuan.

Bunda perlu tahu, anak-anak yang terindikasi gagap dan baru mengalami kesulitan di usia 4 tahun lebih mungkin punya risiko gagap berkelanjutan. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh orangtua demi mengatasi gagap?

Kurangi Bentuk Stres atau Tekanan Saat Berkomunikasi dengan Si Kecil

Ada beberapa teknik berbeda yang bisa dipakai demi mengurangi tekanan pada anak saat sedang berbicara nih Bun. Bunda bisa memakai komentar seperti “Kamu bermain di luar hari ini di sekolah. Pasti menyenangkan!” dibanding hanya bertanya “Apa yang kamu lakukan di sekolah?”

Jangan Sungkan Mengajak Si Kecil Bicara Soal Kondisinya

Saat si kecil sadar kalau ia gagap, maka cara terbaik adalah bersikap terbuka dan membicarakannya dengan cara yang positif. Biarkan mereka tahu dan merasa tak masalah yang dialaminya. Tapi kalau ia justru merasa tak sadar dengan masalah ini, tidak perlu membahasnya lebih dahulu sampai Bunda menemui ahli patologi wicara-bahasa.

Latihlah Kesabaran Si Kecil ya Bun!

Bunda perlu memberikan waktu untuk si kecil demi menyelesaikan apa yang mereka katakan. Jangan terburu-buru atau mengganggunya. Jangan minta mereka untuk memperlambat atau mengatakan “pikirkan dulu apa yang ingin kamu katakan.” Kalimat seperti itu umumnya tidak akan menolong Si Kecil yang menghadapi kondisi gagap.

Bunda Bisa Jadi Sosok Model Bicara yang Baik

Bun, jadilah teman sekaligus model yang baik yang bisa memberikan kebiasaan bicara demi membantu si kecil yang gagap. Bunda bisa memperlambat kecepatan ketika sedang berbicara, memasukkan lebih banyak jeda di antara kalimat, dan berbicara dengan santai.

Carilah Seorang Profesional untuk Membantu si Kecil

Ada banyak cara untuk menemukan ahli patologi wicara-bahasa. Atau cobalah konsultasikan ke dokter anak supaya bisa memberikan rekomendasi. Bunda juga bisa bertanya kepada teman dan kerabat dengan anak yang juga memiliki masalah berbicara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top