Parenting

Anak Takut Ketika Bertemu dengan Orang Baru? Ini 10 Cara Supaya Si Kecil Tak Takut pada Orang Baru

anak takut

Bun, rasa takut anak pada orang asing memang biasanya akan hilang saat usianya memasuk 18 bulan. Tapi kadang ada juga tipikal balita yang sampai usianya melewati 2 tahun, ia belum bisa terlepas dari fase takut ke pada orang asing. Begini, pada dasarnya anak takut pada orang asing adalah hal normal. Hal ini pun terjadi karena anak-anak hanya tahu orang terdekatnya adalah keluarga.

Karenanya, bila mungkin Bunda pernah mengajak si kecil bertemu dengan teman atau kerabat yang belum pernah ditemuinya, ia akan bereaksi dengan menangis, rewel, atau bahkan jadi sangat pendiam, takut, dan bersembunyi. Nah Bun, demi mengatasi si kecil agar tak jadi anak yang selalu takut pada orang asing, mungkin Bunda perlu melakukan sepuluh hal sederhana ini.

Bantulah Si Kecil agar Merasa Nyaman

Berikan kesempatan padanya untuk bertemu orang baru ya Bun. Bunda bisa menggendong dan memperkenalkannya ke teman Bunda yang mungkin belum pernah ditemuinya. Kalau suasananya nyaman, si kecil pun akan merasa nyaman dengan kehadiran orang yang baru ditemuinya itu.

Berikan Benda Kesayangannya

Seandainya yang harus ditemuinya kali ini adalah saudara jauh dan kebetulan belum pernah bertemu dengan si kecil, cobalah Bunda pakai trik membawa benda atau mainan kesayangan si kecil. Mintalah pada kerabat Bunda tersebut untuk berkenalan dan menghabiskan waktu dengan si kecil dengan melibatkan mainannya itu.

Bila Bunda Harus Meninggalkan Si Kecil di Daycare, Beritahukan apa yang terjadi

Kalau Bunda terpaksa harus meninggalkannya bersama orang yang belum dikenalnya sebagai pengasuh di daycare, maka beritahukan hal tersebut pada si kecil. Jelaskan baik-baik padanya siapa orang yang baru dilihatnya dan apa yang terjadi. Misalnya, jelaskan kalau orang itu adalah pengasuh yang Bunda percaya. Terpenting, beritahukan juga kapan Bunda akan kembali.

Cobalah Bagikan Situasi Ini Kepada Orang yang Akan Bunda Temui 

Sebelum mengajak si kecil bertemu dengan kerabat atau teman Bunda, lebih baik ungkapkanlah padanya kalau sii kecil butuh waktu untuk menyesuaikan diri bila bertemu orang baru. Mintalah pada mereka untuk tak terlalul agresif dan menghormati ruang pribadi si kecil yaitu dengan tidak terburu-buru mengajaknya berkenalan.

Kalaupun Sang Kerabat Hendak Menggendong si Kecil, Mintalah untuk Menunggunya

Demi kenyamanan si kecil, mintalah teman atau kerabat Bunda yang tak dikenal bayi untuk sedikit menunggu sebelum menggendongnya.  Bayi biasanya lebih rileks ketika orang mendekat perlahan dan tenang serta tidak terburu-buru menggendongnya.  Biarkan bayi merasa nyaman sebelum kontak dengan orang lain ya Bun.

Perkenalan bertahap

Kalau bayi memang kesulitan menyesuaikan diri dengan orang baru, bunda bisa mencari alternatif dengan melakukan perkenalan bertahap. Misalnya, perkenalkan satu orang di hari ini. Di hari berikutnya, ajak bayi berinteraksi dengan orang itu selama beberapa menit. Tingkatkan durasi si kecil bersama orang tersebut agar mereka perlahan bisa menjadi akrab.

Bersikaplah Hangat Kepada Orang Tersebut di Depan Si Kecil

Bayi atau balita biasanya menerima petunjuk dari Bunda dan perilaku orangtuanya. Karenanya, perlakukan orang yang familiar dengan Anda tapi tidak familiar bagi bayi dengan hangat. Setidaknya tunjukkanlah kalau Bunda merasa nyaman dengan orang tersebut sehingga si kecil pun ikut merasa nyaman.

Luangkan Waktu Bunda dengan Si Kecil dan Orang yang Ingin Bunda Kenalkan

Demi penyesuaian, yuk Bun luangkan waktu bersama si kecil dan orang yang ingin Bunda kenalkan. Cobalah dengan mulai mendudukan anak di dekatnya. Bila anak merasa tidak nyaman, pindahkan anak ke dekat Bunda. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak.

Siapkan Momen Perkenalan Sebaik Mungkin, Bukan Saat si Kecil Lapar ya Bun

Siapkan semua kebutuhan bayi sebelum ia bertemu orang baru. Biasanya bayi rentan cemas kalau merasa lelah atau lapar. Karenanya, sebelum Bunda hendak mengenalkannya pada orang baru, sebaiknya gantikan dulu popok dan berikan susu padanya. Bahkan biarkan ia tidur siang sebelumnya. Bayi harus merasa bahagia dan di mood yang baik untuk menjalani transisi dengan baik.

Bawa anak ke tempat umum

Satu cara untuk membuat anak terbiasa melihat wajah baru adalah dengan mengajaknya sering keluar, Bun. Coba yuk cari waktu paling tidak sehari saja dalam seminggu dan ajak ke taman terdekat atau area bermain.

Setelah membuat anak familiar dengan tempat-tempat ini, mulai perkenalkan anak pada teman atau kerabat Bunda. Semakin banyak orang baru yang anak temui di jarak yang aman, semakin baik ia akan mengatasi rasa takutnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bunda yang Sedang Hamil, Ketika Tidur Usahakan Miring Ke Kiri Ya

pexels-photo-1464822

Selama kehamilan Bunda mungkin dilanda kecemasan karena khawatir terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan karena kesalahan perilaku. Karena itu kemudian Bunda berlaku sangat berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.

Setelah si kecil lahir, bukan berarti perasaan langsung lega begitu saja. Bunda lagi-lagi merasa cemas melakukan kekeliruan dalam merawat si kecil. Semua hal itu wajar dan tak perlu panik ya Bunda.

Sebab semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Namun kebanyakan dari kita tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menangani bayi yang baru lahir. Karena itu Bunda dilanda kecemasan soal hal ini.

Nah mari coba menenangkan diri ya Bunda, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi dasar penting yang wajib bunda kuasai dalam hal merawat bayi yang baru lahir. Dengan melakukannya sesuai petunjuk, si kecil akan baik-baik saja dan Bunda akan membantunya dalam perkembangannya di kemudian hari kelak.

Selama Tali Pusat Belum Puput, Harus Dirawat Ya Bunda

newborn-1399193_640

Tali pusat jadi bagian penting dari bayi ketika dalam kandungan karena organ ini menjadi sumber makanan dan mengalirkan oksigen dari Bunda. Setelah bayi lahir, tali pusat yang tadinya jadi penghubung oksigen dari bunda pada bayi akan dipotong sekitar 2 sampai 3 cm. Sisa tali pusat nantinya akan puput dengan sendirinya.

Meski akan puput secara alami, ada hal penting yang harus Bunda perhatikan ketika menanganinya. Gusti Ayu Puspita Devi S.Keb, seorang Bidan yang sudah mengedukasi lebih dari 1.000 bayi menuturkan bahwa selama tali pusat belum puput, bunda disarankan untuk tetap memastikan tali pusat tetap bersih dan kering. Sebisa mungkin mandikan bayi dengan washlap atau spons. Hindari pula memandikan bayi ke dalam bak mandi yang airnya penuh, agar tali pusat tidak terendam air.

Sebab hal ini akan mengakibatkan tali pusat basah dan lembap, yang tidak baik untuk kesehatan si Bayi. Hindari pula untuk membersihkan tali pusat dengan sabun atau cairan antiseptik lainnya. Seusai mandi, keringkan tali pusat dengan kain bersih dan balut dengan kain kasa yang steril.

Selanjutnya bunda juga perlu memastikan pemasangan popok. Pastikan jika tali pusat tak akan terkena air seni dan tinja untuk menghindari infeksi pada tali pusat. Jangan pula menarik tali pusat dengan paksa, karena ini bisa menyebabkan pendarahan pada pusat. Biarkan ia kering dan puput dengan sendirinya, dengan memastikan tali pusat tetap bersih dan tidak basah.

Bayi Boleh Dipijat Dari Usia 0, Tapi…

Mother massaging her child's foot, shallow focus

Faktanya pemijatan pada bayi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir, dari usia 0 hingga 3 tahun. Namun alangkah lebih baik, jika dilakukan pada masa 6 atau 7 bulan kehidupannya. Dengan catatan, si kecil sedang dalam kondisi baik dan stabil dari segi medis.

Bunda bisa memberikan sentuhan-sentuhan lembut untuk memijatnya. Bunda juga boleh melakukannya dengan penyertaan komunikasi secara verbal kepada dirinya sebagai bentuk cinta kasih. Hal ini akan jadi salah satu cara untuk meningkatkan bonding antara bunda dan bayi.

Stimulasi ini akan jadi pengaruh baik yang akan mendukung tumbuh kembang si kecil. Mulai dari meningkatkan sistem imunitas tubuh, membantu bayi belajar rileksasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur miliknya.

Bayi Boleh Dimandikan, Tapi Jangan Terlalu Sering

279228-P5UI7Z-794

Tak ada patokan pasti, sebaiknya berapa kali bayi dimandikan dalam sehari. Ada yang 2 kali sehari, dan ada pula yang 1 kali sehari. Atau pagi hari dimandikan, sorenya cukup diseka saja.

Namun yang utama beberapa ahli pun menganjurkan untuk memandikan bayi 2 hingga 3 kali per minggu. Dan frekuensinya bisa ditingkatkan, seiring bertambahnya usia.

Caranya? Setidaknya ada 3 cara yang biasa digunakan oleh beberapa perawat, untuk memandikan bayi yang baru saja lahir. Pertama dengan memakai washlap dan diusapkan ke Bayi. Kedua memandikan bayi dengan dicelupkan ke bak mandi. Sedangkan ketiga memandikan bayi dengan dibedong menggunakan selimut. Bunda boleh memilih. Kira-kira cara mana yang paling sesuai untuk bunda lakukan pada si kecil sesuai dengan kebutuhan.

Meski tata cara memandikannya berbeda, hal lain yang perlu dilakukan dalam proses memandikan hampir serupa untuk ketiga tekniknya. Diawali dengan membersihkan area mata dari dalam keluar, mulut, dan membersihkan wajah bayi hingga ke kepala sampai ujung kakinya. Selanjutnya, bunda boleh mengeringkan bayi dengan menggunakan handuk berbahan lembut.

Hal Lain yang Juga Perlu Bunda Perhatikan Adalah Tata Cara Mengganti Popok yang Sesuai Anjuran

pexels-photo-1556706

Sekilas kegiatan ini mungkin terlihat sepele, karena dalam bayangan bunda mungkin mengganti popok hanyalah membuka dan memasang pakaian bawah pada tubunya si kecil saja. Tapi, untuk mengganti popok pada bayi baru lahir beda loh bun.

Karena setidaknya ada beberapa hal yang bunda perlu siapkan, mulai dari matras pelapis, popok yang bersih, wadah berisi air hangat, kapas untuk membersihkan bokong bayi dan baby cream.

Mulailah dengan meletakkan si kecil di atas matras dengan memastikan posisinya aman. Lepaskan popok yang ia kenakan, lalu bersihkan bagian pinggang kebawah menggunakan kapas yang dibasahi dengan air hangat dari depan ke belakang. Keringkan bagian lipatan bokongnya dengan handuk bersih dan oleskan baby cream.

Selanjutnya, pasang popok yang bersih dengan posisi menutupi bokong dan tubuh bagian depan dengan baik, lalu ikat tali popok dengan tidak terlalu longgar tapi juga tidak terlalu kencang.

Jika Masih Dirasa Kurang, Bunda Juga Boleh Belajar Tentang Cara Perawatan Bayi yang Baru Lahir Lainnya dari Para Ahli di Bidangnya

pexels-photo-789786

Menjadi orangtua baru atau kembali merawat bayi yang baru lahir, memang bukanlah sebuah tugas mudah. Tapi bukan berarti juga, bunda tak bisa melakoninya. Beruntungnya, kini kita ada pada masa yang bisa dengan mudah mempelajari banyak hal hanya dengan telepon genggam saja. Termasuk tata cara perawatan si kecil yang baru saja lahir.

Menariknya, untuk urusan hal terbaik dan perawatan bayi baru lahir, bunda bisa menengok beberapa video yang disajikan oleh JOHNSON’S® . Menjadi, standar dunia dalam perawatan kulit bayi selama lebih dari 125 tahun ini, kali ini JOHNSON’S® menghadirkan 125 video edukasi yang mencakup hal-hal yang “Terbaik Untuk Bayi”, dan salah satunya bagiannya adalah “Perawatan Bayi Baru Lahir” yang bisa bunda lihat disini.

Informasi yang disajikan tersebut bekerja sama dengan beberapa tenaga ahli kesehatan yang ahli di bidangnya masing-masing. Video-video ini ditujukan oleh JOHNSON’S® sebagai bentuk apresiasi kepada para ibu di seluruh Indonesia.

Bagaimana bunda? Yuk, belajar bersama-sama agar lebih paham tata cara perawatan bayi baru lahir yang benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Penyebab Anak Susah Tidur Bisa Dipicu Dari Hal Sederhana yang Ternyata Tak Bunda Sadari

pexels-photo-1296145

Anak susah tidur sering jadi beban tersendiri untuk orangtuanya. Bunda pernah berada di situasi semacam ini? Entah mengapa rasanya sukar sekali membuat buah hati tertidur di jam yang telah ditentukan. Kendati sudah membujuk atau mencoba menidurkannya, tetap saja si kecil tetap segar sepanjang malam.

Sejatinya, saat anak menginjak usia empat tahun, mereka mulai memiliki jam tidur yang normal lho Bun. Karenanya, kalau si kecil mulai kesulitan tidur, berarti ada hal yang mungkin membuatnya merasa tak nyaman untuk memejamkan mata. Apa saja ya kira-kira? Ini dia beberapa diantaranya.

Si Kecil Mengalami Masalah Kesehatan

Bunda berasumsi si kecil sehat-sehat saja, padahal di malam hari, ia justru sukar sekali terlelap. Atau, kondisinya mungkin ia sudah tertidur, namun tiba-tiba bangun di tengah malam. Jika Bunda menemukan kondisi semacam ini, sebaiknya Bunda perlu curiga ya.

Terlebih jika anak mengorok atau mengeluarkan bunyi saat berbaring, keesokan paginya lebih baik Bunda bawa si kecil ke dokter anak. Dari sekian banyak persoalan, masalah kesehatan yang seringkali memicu buah hati jadi sulit tidur adalah sleep apnea. Sleep apnea adalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh sesuatu yang mengganjal atau menghambat saluran pernapasan.

Si Kecil Mungkin Saja Mengalami Sleep Walking

Bunda wajib berhati-hati dengan masalah yang satu ini. Bayangkan saja, si kecil yang mengalami sleepwalking umumnya melakukan sesuatu secara tak sadar. Kejadian ini pun memiliki presentase yanng cukup tinggi di kalangan anak usia sekolah, sekitar 20 hingga 40 persen. Menurut dr Karen Ballaban-Gill, seorang dokter spesalis anak dan neurologist dari Children’s Hospital di Montefiore, penyebab sleepwalking adalah tahapan transisi tidur yang tak komplet.

Akibatnya otak merasa badan sudah tidur namun badan belum merasa istirahat. Karenanya, apabila si kecil mengalami sleepwalking, pastikan lantai aman dan tak ada barang berbahaya yang membuat si kecil rentan terpeleset. Di lain sisi, ada baiknya juga Bunda dan Ayah mengajak si kecil berkonsultasi ke dokter demi meredakan masalah sleepwalking-nya ini Bun.

Sering Gelisah pun Bisa Jadi Pemicunya

Bun, kondisi gelisah tak hanya dialami oleh orang-orang dewasa. Tapi juga anak-anak, kendati penyebab gelisahnya pun berbeda-beda. Kegelisahan anak-anak biasanya berasal dari ketakutan seperti tak mau tidur sendiri. Yang terpenting, yang perlu diingat adalah jangan sampai orangtua marah saat mengatasi anak yang susah tidur dan gelisah.

Bunda sebaiknya menenangkan dan bertanya tentang apa yang dikhawatirkan oleh buah hati. Kita bisa meminta anak mengatakan ketakutannya lewat tulisan atau gambar. Jika memang butuh ke dokter atau terapis, jangan sungkan untuk berkonsultasi ya, Bun.

Sudahkah Si Kecil Sering Diajak Berolahraga?

Mager alias malas gerak sejatinya bisa memicu anak jadi kian susah tidur. Coba perhatikan lagi keseharian si kecil, apakah dia tipikal yang aktif, atau justru lebih banyak waktu untuk menghabiskan waktu dengan duduk berjam-jam di depan gawai? Hati-hati Bun, hal itu bisa membuat mereka susah tidur.

Menurut dr Shariar Shahzeidi dari University of Miami, olahraga bisa memproduksi zat kimia pada otak yang bisa membuat anak lebih mudah tidur dan rileks ketika jam tidur tiba. Karenanya, pastikan anak kita berolahraga atau beraktivitas fisik setiap hari. Jika memang anak tak olahraga di sekolah, ajak mereka keluar rumah dan bermain. Yoga juga bisa menjadi pilihan untuk membuat anak tetap aktif lho. Apalagi yoga juga bisa membuat mereka tenang.

Mulailah Kurangi Waktu Bermain Gawai Pada Si Kecil

Bun, screen time yang terlalu sering dan relatif lama bisa membuat anak susah tidur. Apalagi kalau main gadget-nya menjelang waktu tidur. Untuk itu, yuk Bun atur jadwal anak main gadget sebijak mungkin supaya anak tak kecanduan.

Susah tidur juga bisa membuat anak berisiko mengalami obesitas lho. Dibanding membiarkan buah hati terlalu lama menatap gawai, lebih baik ajak anak melakukan hal yang bisa membuatnya tidur seperti baca buku dongeng atau saling bertukar cerita ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kenapa Buah Hati Wajib Tidur Tepat Waktu? Ini Dia Jawabannya Bun!

pexels-photo-1789388

Para peneliti mengungkapkan, pentingnya orangtua mengajarkan buah hati agar tidur tepat waktu akan berdampak baik pada kualitas tidurnya lho Bun. Sementara anak yang cenderung tak terbiasa tidur tepat waktu akan membawa dampak pada konsentrasinya di keesokan harinya. Lama kelamaan, hal ini pun juga membawa pengaruh terhadap kecerdasan si kecil.

Membiasakan si Kecil Tidur Lebih Awal Pertanda Bunda Bersikap Bijaksana

Bunda tentu tahu bahwa anak-anak yang masih berusia balita membutuhkan waktu tidur paling tidak selama 12 jam perhari demi perkembangan tubuh dan otak yang lebih baik. Hanya saja, masih banyak orangtua yang lalai dan tak membiasakan anak-anak tidur pada jam yang sama setiap malam.

Padahal ini perlu diterapkan agar anak-anak juga dapat terbangun pada jam yang sama keesokan harinya. Sementara untuk Bunda yang sudah terbiasa melakukan hal ini, berarti Bunda sudah melakukan hal bijak terhadap kesehatan dan pertumbuhan buah hati Bunda.

Ajarkan Si Kecil Untuk Tidur Tepat Waktu demi Peningkatan Kemampuan Kognitifnya

Para peneliti di Inggris menemukan bahwa anak-anak yang memiliki jam tidur terjadwal dan tepat waktu menunjukkan kecenderungan memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik Melansir dari Hufftington Post, lebih dari 11 ribu anak di Inggris dari berbagai usia, yaitu 3,5 dan 7 tahun dianalisa dan diuji dalam hal kemampuan membaca, matematika dan ketrampilan spasial.

Dalam penelitian tersebut, menunjukkan jika anak-anak yang tidur di jam yang berbeda-beda setiap harinya mendapatkan nilai yang lebih rendah dalam tes membaca dan matematika. Sedangkan anak-anak yang sering tidur larut menunjukkan adanya kekurangan dalam hal kemampuan kognitif. Karenanya, supaya perkembangan otaknya tetap berjalan dengan baik, pastikan si kecil tidur cukup dan waktunya pun sama setiap harinya ya Bun.

Jangan Biarkan si Kecil Terbiasa Begadang ya

Bun, kenapa si kecil perlu diajarkan untuk tidur teratur? Ini karena menerapkan jam istirahat yang sama setiap malam penting untuk menjaga ritme sirkadian untuk berfungsi dengan baik sehingga tubuh dan otak akan menjadi lebih sehat. Jam internal ini dijalankan oleh jadwal kita, cahaya serta pelepasan melatonin.

Bunda perlu tahu, penerapan jam istirahat bisa dilakukan dengan pergi tidur pada jam yang sama selama tujuh hari dalam satu minggu, hal ini agar jam internal dapat diatur secara otomatis dan tingkat melatonin meningkat pada jam yang sama setiap hari.

Dan Ini yang Perlu Bunda Lakukan Saat Jam Tidur Si Kecil Bermasalah

Menurut hasil survey, seorang anak berumur 4 tahun yang tidur kurang dari 9 jam 45 menit di malam hari ternyata memiliki bermasalah dalam hal mengontrol emosi, rasa marah, dan cenderung agresif. Sementara seorang anak dengan jam istirahat yang konsisten tidak hanya mengalami perkembangan kognitif yang lebih baik, namun juga kebiasaan dan sikap yang lebih baik.

Demi memenuhi kebutuhan tidur buah hati, Bunda perlu mengikuti anjuran National Sleep Foundation yang merekomendasikan agar anak-anak usia 1 sampai 3 tahun tidur selama 12-24 jam per hari. Anak-anak usia 3 sampai 5 tahun memerlukan tidur selama 11 hingga 12 jam per hari, sementara anak-anak usia 5 hingga 12 tahun memerlukan waktu tidur selama 10-11 jam per hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Jangan Dulu Menuntutnya Jadi Kakak yang Baik Kalau Bunda Belum Memahami Perasaan Si Sulung

pregnant-pregnancy-mom-child

Ketika menghadapi kenyataan bahwa rasa sayang orangtuanya akan terbagi, kebanyakan anak sulung akan merasa “baper”. Situasi semacam ini sebenarnya sama sekali tidak berlebihan. Bagaimanapun, ia tentu masih membutuhkan perhatian Bundanya.

Hanya saja, sudahkah Bunda mengerti dan berusaha memahami perasaannya? Sekalipun bagi orangtua, yang rasanya mendapat kepercayaan baru berupa kehadiran buah hati yang kedua atau ketiga, atau seterusnya adalah sebuah anugerah, jangan lupakan dilema si sulung ya Bun. Ia mungkin berkorban perasaan karena perlu ‘bertindak lebih dewasa’ seiring kehadiran adiknya.

Ada kalanya si sulung yang usianya jelas masih anak-anak sewaktu-waktu bertindak diluar kebiasaannya demi mendapatkan perhatian orangtuanya.

Bun, jika ia sudah menunjukkan sikap semacam ini, jadikan ini alarm bagi ayah dan Bunda bahwa sepertinya sebagai orangtua pun ada kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk itu, sebelum berusaha meredakan emosi dan suasana hatinya, ketahui dulu apa yang biasanya dipikirkan Si Sulung ketika adiknya lahir dan mendapat perhatian lebih.

Pahami Perasaan Si Kakak yang Takut Bundanya Tak Sayang Lagi

“Bunda masih sayang aku, nggak, ya” Sewaktu-waktu si kecil bisa mempertanyakan hal tersebut pada dirinya sendiri lho Bun. Bunda mungkin berpikir tentu saja rasa sayang untuk dirinya tak pernah berkurang. Tapi apakah dia merasa demikian?

Mungkin ada kalanya ia mulai meragu dan pada akhirnya muncul perasaan seperti itu melihat ibunya sekarang jadi mudah marah, gampang lelah, dan selalu menyebut Si Sulung sudah besar, dan harus sayang kepada adiknya. Nah, saat menghadapi situasi yang demikian, ada baiknya Bunda selalu menyediakan waktu untuk bicara dari hati ke hati dengan si sulung.

Satu hal lagi yang penting, dalam situasi seberat apapun, jangan pernah lihatkan wajah lelah Bunda, dan jangan bicara dengan nada keras jika situasi hatinya ingin dimanjakan. Katakan kepada kakak, rasa sayang Bunda itu sama antara sang adik dan dirinya.

Mungkin Si Kakak Memang Sedang Merindukan Bunda dan Waktu-waktu Bersama

Sekalipun Bunda setiap hari berjumpa dengan si sulung, bisa saja penyebabnya pundung sewaktu-waktu karena ia sedang merindukan Bunda. Saat ia mengatakan kalau sejatinya ia merindukan ibunya, ini pertanda bahwa dia merindukan Bunda dengan segala perhatiannya.

Mulai dari Bunda yang selalu menemaninya bermain atau belajar, bahkan mendengarkan cerita tentang sekolahnya. Si Kakak tentu ingin kembali merasakan hal demikian, karena pada dasarnya dia tidak sadar pernah merasakan itu ketika kecil. Untuk itu, cobalah berikan pengertian dengan cara yang tepat saat ia mengaku benar-benar merindukan perhatian penuh dari Bunda.

Si Kakak Bingung dengan Perubahan Emosi di Dalam Rumah Baru-baru Ini

Coba yuk Bun, ingat lagi, jangan-jangan dari Bundanya yang selama ini justru memperlihatkan perubahan emosi yang besar baru-baru ini. Entah karena lelah, atau memang perhatian Bunda terfokus pada adik bayi sehingga lupa bahwa ada satu lagi buah hati Bunda yang selalu memerlukan perhatian dari orangtuanya.

Selelah apapun, ajaklah si sulung duduk berdua dan membicarakan semuanya. Jaga emosi, karena ia pun tengah mencari jati dirinya sebagai seorang kakak. Ia pasti akan mengerti situasi dan perubahan yang terjadi di dalam rumah bila Bunda menyampaikannya dengan baik-baik.

Bisa Jadi Si Kakak Rindu Dimanja dan Dipuji

Beberapa bulan pertama menjadi momen paling penting bagi anak pertama dan adiknya yang masih bayi. Pada masa-masa itu, mereka meletakkan pondasi hubungan masa depan mereka. Di masa-masa ini, Bunda harus pastikan hubungan emosi di antara keduanya menjadi kuat dan penuh kasih ya.

Pada masa-masa ini, pikirkan baik-baik kata-kata yang Bunda gunakan dan bagaimana memperlakukan si sulung. Cobalah untuk menghindari situasi yang menyebabkan kakak membenci adiknya. Pastikan semua obrolan kakak-beradik terfokus pada hal positif. Berilah banyak pujian dan nikmatilah saat-saat indah bersama mereka.

Ia Ingin Bangga dengan Statusnya Sebagai Seorang Kakak, Namun Tak Tahu Bagaimana Caranya

Jangan biarkan sang kakak merasa menjadi nomor dua karena adik yang selalu dalam gendongan Bunda. Misalnya ketika Bunda menyusui sang adik, maka cara lain untuk membuat sang kakak tak kehilangan perhatian Bunda adalah tetap menggenggam erat kakak.

Biarkan itu dilakukan setiap hari, membagi perhatian secara adil. Selain membuat hubungan kakak-adik harmonis, perasaan sang kakak pun akan tetap gembira dan dia bangga mengatakan kepada teman-teman sebayanya jika dirinya adalah kakak yang baik untuk adiknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top